Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Orang Baru


__ADS_3

Saat ini Andika masih berada di dalam mobil bersama dengan Mario yang duduk di kursi kendali untuk menuju kantornya, sudah beberapa hari ini Andika selalu meminta Mario untuk berangkat ke kantor bersama dengannya dan sekalian menyetir mobilnya karena mood Andika benar-benar sedang tidak bagus.


Suasana di dalam mobil benar-benar terasa sunyi karena tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua, Mario yang biasanya berbicara beberapa kata. Tapi kali ini dia hanya diam saja karena takut kenal semprot omelan, sedangkan Andika sendiri masih fokus dengan laptopnya.


"Mario, apa hari ini pengganti Tya jadi datang untuk mengisi posisi sekertaris?" Andika membuka suaranya dan bertanya pada Mario sembari masih menatap layar laptop.


"Sepertinya jadi tuan, karena kalau dia tidak jadi datang Tya tidak bisa pergi sebelum dia menyerahkan pekerjaannya dengan orang baru" Mario menjawab pertanyaan Andika sembari melihat ke belakang menggunakan kaca spion yang berada di dekat kepalanya.


Setelah Mario memberikan jawaban untuknya, Andika langsung menutup laptopnya dan mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke luar jendela tanpa mengubah ekspresi wajah datarnya.


"Saat dia datang nanti, minta dia untuk menemui saya di ruangan saya"


"Dia siapa tuan? Orang pengganti Tya atau Tya tuan?"


Sebelum menjawab Andika menghela nafasnya terlebih dahulu. "Orang pengganti Tya itu, minta dia langsung menemui saya terlebih dahulu sebelum Tya mengajarkan semuanya pada dia"


"Baik tuan, saya akan sampaikan padanya begitu dia datang"


"Oke, terima kasih Rio"


"Sama-sama tuan"


Setelah pembicaraan itu di sela kemacetan yang membuat mobil mereka tidak bisa bergerak akhirnya sekarang mereka sampai di kantor juga, dan Mario langsung memarkirkan mobil Andika di parkiran khusus untuk mobilnya.


Mario turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Andika, Andika yang sudah keluar dari dalam mobil langsung berjalan lebih dulu menuju ruangannya. Tapi saat Andika keluar dari lift dan bertemu dengan Tya, dia langsung menghentikan langkahnya.


Tya yang melihat atasannya berdiri tepat di hadapannya membuat dia langsung menyapa Andika sembari menundukkan kepalanya, tapi bukannya menjawab sapaan Tya. Andika malah mengatakan hal lain, yang menyangkut tugas terakhir Tya di perusahaannya.


Selesai mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya, Andika melangkahkan kakinya lagi dan membuat Tya akhirnya bisa merasa lega karena saat berhadapan dengan Andika dia merasa takut dengan tatapan Andika.

__ADS_1


Saat Andika baru melangkahkan kakinya satu langkah, dia kembali berhenti dan kembali membuka suaranya pada Tya. "Oh iya satu lagi, apa orang yang akan menggantikan mu sudah datang?"


Tya yang terkejut dengan suara Andika, seketika membuat rasa taku Tya kembali lagi. "Su-sudah pak, dia sedang berada di toilet sekarang"


"Bagus, kalau begitu suruh dia ke ruangan saya setelah kembali dari toilet"


"Ba-baik pak" Andika melanjutkan langkah kakinya dan memasuki ruangan miliknya.


Baru beberapa saat dia duduk di kursinya suara ketukan pintu ruangannya sudah terdengar, Andika langsung menyuruh orang di balik pintu itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Saat pintu terbuka lebar langsung menampilkan seorang perempuan, dengan rok hitam di atas lutut dan kemeja putih.


"Bukannya saya meminta Tya untuk mencari penggantinya seorang laki-laki? Tapi kenapa malah seorang wanita yang menjadi penggantinya, kalau seperti ini Tasya pasti akan marah" ucap Andika dalam hatinya sembari melihat wanita itu berjalan menghampirinya sembari tersenyum.


"Bapak panggil saya?" tanya wanita itu yang sudah berdiri tepat di belakang kursi yang ada di depan meja Andika.


"Iya, apa kamu yang bernama Laras?"


Laras langsung mengangguk pelan. "Benar pak"


"Maaf sebelumnya, ada apa ya bapak panggil saya?"


Andika hanya diam saja sembari menatap sekertaris barunya itu dan bahkan dia tidak menjawab pertanyaan yang diberikan untuknya dari Laras, sedangkan Laras yang terus di tatap Andika menjadi malu dan menundukkan kepalanya karena dia belum tau kalau Andika sudah memiliki seorang istri.


Melihat Laras yang senyum-senyum sendiri membuat Andika langsung membuka suaranya kembali, karena Andika ingin mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Laras sampai dia bisa senyum-senyum sendiri seperti itu.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu? Apa ada sesuatu yang sedang kamu rencanakan?" Andika bertanya sembari menatap tajam ke arah Laras.


Laras yang melihat perubahan Andika seketika menjadi menyeramkan langsung membuatnya menjadi gugup dan terasa sulit untuk mengeluarkan suaranya. "Ti-tidak ada pak, sa-saya tidak merencanakan apapun"


"Lalu? Kenapa kamu melakukan hal itu?" Andika menyenderkan badannya di sandaran kursi sembari melipat tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


"Saya hanya sedang merasa senang saja pak, karena akhirnya saya bisa bekerja juga setelah beberapa perusahaan menolak saya pak. Maaf kalau saya sudah berlaku tidak sopan di depan bapak dengan terus tersenyum sendiri, saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi pak"


"Baiklah, saya memaafkan kamu untuk kali ini. Sekarang mari kita bahas tentang pekerjaan kamu, pasti Tya sudah menjelaskan semuanya padamu bukan?"


"Iya pak, kak Tya sudah memberitahu saya tadi. jadi saya tinggal mempelajari beberapa hal lainnya saja lagi pak"


"Oke, kalau begitu kamu bisa lanjutkan belajar sekaligus mulai bekerja"


"Baik pak, kalau begitu saya permisi" Laras langsung bangun dari duduknya dan membungkukkan badannya sendiri, Setelah itu Laras melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Andika.


Setelah Andika melihat Laras sudah benar-benar keluar dari ruangannya, dia langsung memanggil Mario untuk segera menemuinya karena ada hal penting yang harus Mario urus untuk Andika.


Andika tidak perlu menunggu lama untuk Mario datang ke ruangannya, karena tiga menit setelah Andika menutupi telponnya Mario sudah berada di dalam ruangan Andika untuk mendengarkan permintaan Andika.


"Tuan, jadi apa yang bisa saya bantu untuk anda?"


"Saya minta kamu selidiki tentang orang baru itu! Karena tadi saya melihat dia sangat mencurigakan, jadi kamu cari informasi apapun tentang dia dan beritahukan ke saya secepatnya" Andika memberikan CV Laras yang tadi di pegangannya ke Mario.


Tanpa basa-basi lagi Mario langsung mengambilnya. "Baik tuan, saya akan segera mencari tau semuanya tentang Laras"


"Kalau begitu kamu boleh mulai mencarinya sekarang"


Mario yang mendengar hal itu langsung membungkukkan badannya dan langsung pergi dari ruangan Andika, sedangkan Andika sendiri langsung melihat ke arah fotonya dengan Tasya saat di tempat bulan madu.


...****************...


Berbeda dengan Andika yang sudah sibuk melakukan berbagai hal, Tasya malah masih berada di meja makan sembari melamun dan terus mengaduk-aduk makanannya. Saat ini Tasya benar-benar tidak memiliki selera makan, karena dia masih terus kepikiran tentang andika.


"Mbak, sebelumnya maaf kalau saya lancang, tapi apa mbak sedang ada masalah? Soalnya dari tadi saya lihat-lihat mbak terus mengaduk makanannya saja, tanpa menyicipi sedikitpun" Salsa tiba-tiba berdiri di samping Tasya sembari menepuk bahu Tasya.

__ADS_1


Tasya langsung menoleh ke arah Salsa. "Engga ada kok Sa, mbak lagi engga ada masalah apa-apa. Hanya saja mbak kenyang, jadi mbak mau langsung berangkat kerja saja ya Sa" Tasya bangun dari duduknya dan langsung pergi setelah mengambil tasnya di atas meja.


"Tapi mbak...." Salsa mencoba menghentikan Tasya agar tidak pergi sebelum sarapan, tapi sayangnya dia tidak berhasil karena Tasya tetap memilih pergi sebelum sarapan.


__ADS_2