Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Merawat Andika


__ADS_3

Setelah berbaring di tempat tidur dan di periksa dokter pribadi Andika, rasa sakit di perut Andika sudah sedikit berkurang. Walaupun begitu dokter tetap memberikan obat dan menyuruh Andika untuk beristirahat di rumah, karena Andika menolak untuk di rawat di rumah sakit.


Awalnya dokter menyarankan Andika untuk di rawat di rumah sakit karena sakit asam lambung Andika kambuh lagi, tapi Andika bersikeras menolaknya dan meminta untuk membiarkannya berada di rumah sama seperti saat Tasya ingin membawa dia ke rumah sakit setelah Mario sampai di mall.


Tasya jadi mau tidak mau harus menuruti keinginan Andika, karena walaupun sedang menahan rasa sakit Andika tetap tidak akan mau mengalah dan bahkan lebih susah untuk membujuknya di saat dia sedang sakit seperti itu.


"Mas... Mas... Udah tau kamu ada asam lambung, tapi kenapa malah terlambat makan sih mas? Apa pekerjaan kamu sebanyak itu? Sampai-sampai engga sempat untuk makan mas?"


"Lain kali tuh dahulukan makan dari pekerjaan mas, apa susahnya sih sempatin untuk makan? Dari pada kamu jadi sakit seperti ini kan, malah jadinya engga bisa bekerja juga"


"Kamu juga Mario, seharusnya kamu bisa lebih memperhatikan kesehatan mas Andika karena kamu selalu bersamanya. Lain kali kalau mas Andika sedang sibuk lagi, kamu tolong sisakan waktu lima belas menit untuk dia makan. Kalau dia menolaknya paksa saja dengan cara apapun, jangan hanya diam saja dan menuruti semua perkataan mas Andika"


Tasya terus-menerus memarahi Andika dan juga Mario, tapi semua perkataan Tasya itu malah membuat Andika senyam-senyum sendiri saat mendengarnya. Tapi itu tidak berlaku untuk Mario, karena Mario malah menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Tasya sebab menurut Mario lebih menyeramkan saat Tasya yang memarahinya dibandingkan dengan Andika.


"Maafkan saya nyonya, lain kali saya akan perhatikan lagi tentang kesehatan tuan Andika"


Saat Tasya ingin membuka suaranya lagi, Andika sudah lebih dulu membuka suaranya agar Tasya bisa berhenti memarahinya dan juga Mario.


"Sudahlah sayang, jangan marahin Mario lagi ya. Ini semua salah ku, sebenarnya tadi pagi aku belum sempat sarapan karena ingin mengantar kamu ke restoran dan saat makan siang tadi aku terjebak macet waktu ingin kembali ke kantor"

__ADS_1


"Kenapa tadi kamu malah memilih mengantarku dari pada sarapan? Coba saja tadi kamu memilih sarapan saja, pasti kamu tidak akan sakit seperti ini"


"Bagaimana bisa aku sarapan tanpa ditemani istriku? Aku ini sudah terbiasa sarapan bersama dengan kamu, tapi berhubung kamu masih marah dan tadi idak ingin sarapan lebih dulu karena ada aku. Jadinya aku juga tidak selera makan lagi"


"Maaf ya mas, gara-gara aku marah dan menolak sarapan sama kamu. Jadinya aku buat kamu merasakan sakit, maaf ya mas" Tasya menatap Andika dengan mata yang sudah berlinang air mata, karena dirinya benar-benar merasa bersalah.


Andika menggeleng pelan sembari tersenyum dan mengusap pipi Tasya. "Ini bukan salah kamu, aku sendiri yang membuat diriku sakit. Jadi jangan menyalahkan diri kamu lagi ya, lagipula aku ini laki-laki sakit segitu bukan apa-apa untuk ku"


Tasya tidak mengatakan apapun lagi selama beberapa detik dan hanya menatap Andika saja, sampai akhirnya dia membuka suaranya lagi saat Mario mengatakan akan menunggu di luar kamar Andika. Tapi Tasya langsung melarangnya dan meminta Mario tetap berada di kamar Andika, di saat Tasya berada di dapur untuk membuatkan bubur untuk suaminya.


Tujuan Tasya meminta Mario berada di sana sebenarnya untuk mengawasi Andika agar tidak bekerja lagi dan juga untuk berjaga-jaga takutnya kalau nanti Andika membutuhkan sesuatu agar Andika tidak harus turun dari tempat tidurnya, karena Tasya ingin Andika benar-benar beristirahat agar dia bisa lebih cepat pulih.


"Maaf tuan, bukan saya tidak ingin mengikuti perintah anda. Tapi untuk kali ini saya akan mengikuti perintah nyonya Tasya, karena ini demi kebaikan anda juga tuan"


"Lagipula kalau nyonya Tasya tau, nanti saya akan dimarahi lagi oleh nyonya karena membiarkan tuan bekerja. Berhubung saya tidak ingin membuat nyonya marah lagi dan khawatir pada anda, jadi saya tidak akan membiarkan anda bekerja untuk saat ini" Mario menambahkan perkataannya.


"Hah, ya sudah... Kalau kamu tidak ingin mengambilkannya untuk saya, biar saya sendiri yang akan mengambilnya" Andika hendak membuka selimutnya dan bersiap untuk turun dari tempat tidur.


"Baiklah tuan, saya akan mengambilkannya untuk anda"

__ADS_1


Karena tidak ada pilihan lain akhirnya Mario langsung berjalan ke tempat laptop Andika berada dan membawakan laptopnya pada Andika, karena kalau sampai Tasya melihat Andika turun dari tempat tidurnya dan memegang laptop juga pasti Tasya akan memarahinya berhari-hari.


Lima belas menit kemudian Tasya kembali ke kamar dengan membawa bubur, saat dia masuk ke dalam Tasya malah melihat Andika yang sedang fokus dengan laptopnya dan hal itu membuatnya kembali kesal karena bukannya beristirahat Andika malah sibuk bekerja lagi.


"Mario, apa kamu sudah lupa dengan apa yang saya katakan tadi? Atau kamu tidak ingin melakukan permintaan saya, karena bukan saya yang memperkerjakan kamu ya?" Tasya meletakkan nampan yang di pegangnya ke atas meja.


"Maafkan saya nyonya, bukan saya tidak ingin menuruti perkataan anda. Saya sudah coba melarang tuan Andika untuk bekerja, tapi tuan Andika memaksa untuk turun dari tempat tidur kalau saya tidak mengambilkan laptop itu nyonya dan jadinya saya terpaksa mengambilkannya" Mario menjelaskan sembari menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Tasya.


Tasya langsung menoleh ke arah Andika dengan tatapan tajamnya. "Apa benar yang dikatakan Mario mas? Kalau benar begitu kamu harus berhenti menggunakan laptopnya mas.


"Iya itu benar, aku yang memaksa Mario untuk mengambilkan laptop ku. Karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus, jadi tidak apa-apa ya kalau aku melanjutkannya sebentar?" Andika berbicara sambil terus menatap layar laptop dan jarinya juga sibuk mengetik.


"Hah... Ya sudah, tapi kamu harus sambil makan ya mas biar setelah itu minum obat dan istirahat" Andika menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Kalau begitu maafkan saya ya Mario, karena saya sudah memarahi kamu. Dan berhubung sudah ada saya di sini yang menemani mas Andika, jadi sekarang kamu bisa beristirahat dulu di kamar tamu"


"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi dulu" Tasya mengangguk pelan.


setelah Mario keluar dari kamar itu Tasya langsung duduk di pinggir tempat tidur dan mengambil mangkok berisi bubur untuk menyuapi Andika sembari dia bekerja, bahkan setelah bubur itu habis Tasya juga langsung memberikan obat dari dokter tadi.

__ADS_1


__ADS_2