
Melihat papanya berjalan mendekatinya Tasya hanya diam saja, karena Tasya masih terkejut dengan kehadiran papanya di rumah sakit dan bahkan di saat dia sedang merindukan dan memikirkan reaksi papanya kalau mengetahui putri kandungnya sedang berada di rumah sakit karena perbuatan anak tirinya.
"Tasya....." Ferdian menepuk bahu Tasya untuk menyadarkan dia dari lamunannya.
"I-iya pah?"
"Gimana keadaan kamu sekarang? Apa sudah lebih baik?" Ferdian menatap Tasya dengan tatapan khawatir.
"Tasya baik-baik aja kok pah. Oh iya, kenapa papa bisa tau kalau Tasya ada di sini?" Tasya meletakkan piring yang dia pegang dan masih tersisa sedikit makanannya ke atas meja.
Ferdian terdiam sebentar dan menceritakan bagaimana dia bisa mengetahui putrinya berada di rumah sakit, cerita Ferdian berawal dari dia yang mendengar pembicaraan Raisa dan mamanya sampai Ferdian menelpon ke ponsel Tasya untuk memastikan kebenarannya dan menanyakan penyebabnya Tasya bisa masuk rumah sakit.
Berhubung tadi yang menjawab panggilan telpon Ferdian adalah Andika dan dia hanya mengatakan rumah sakit tempat Tasya di rawat saja. Ferdian yang belum mengetahui apapun penyebabnya Tasya masuk ke danau, akhirnya langsung bergegas ke rumah sakit untuk menemui putrinya dan bertanya kembali.
Tasya yang mendengar cerita papanya hanya diam saja, sembari terus memikirkan alasan Andika tidak memberitahu papanya tentang yang dilakukan Raisa terhadapnya.
"Kenapa mas Andika belum menceritakan ke papa ya? Apa mas Andika takut membuat papa khawatir? Atau memang sengaja mas Andika engga mau kasih tau papa?" ucap Tasya dalam hatinya sembari menatap ke arah papanya.
"Tasya... Apa kamu bisa ceritakan ke papa, kenapa kamu bisa terjatuh ke dalam danau?" Ferdian mengusap surai rambut putrinya.
"Sebenarnya penyebab Tasya bisa jatuh ke danau, itu karena....."
Saat Tasya baru akan menceritakan kejadiannya Andika kembali dari kafetaria dan membuat Tasya juga Ferdian menoleh ke arah Andika secara bersamaan, Andika yang melihat Ferdian ada di ruangan Tasya langsung merubah ekspresi wajahnya dan bahkan Andika juga terus menatap tajam ke arah Ferdian sembari meletakkan makanan Tata di atas meja.
Tasya yang melihat wajah papanya terlihat seperti orang ketakutan dan terus mengalihkan pandangannya ke arah lain, membuat Tasya harus memutar otaknya untuk mencari cara agar pandangan Andika bisa teralihkan dari papanya. Tapi saat dia sudah mendapatkan caranya, Ferdian sudah lebih dulu membuka suaranya untuk menyapa menantunya.
__ADS_1
"Andika, apa bisa papa bicara sebentar dengan kamu berdua saja?"
"Kalau begitu mari kita bicara diluar, biar Tasya bisa istirahat" Ferdian langsung mengangguk pelan sebagai jawaban dari perkataan Andika.
Sebelum pergi Andika mencium kening Tasya terlebih dulu "Aku akan ke luar sebentar bersama papa mu, jadi kamu tidur saja duluan ya"
"Iya mas, nanti setelah mengurusi Tata aku akan langsung tidur" Andika tersenyum tipis sembari memegang dan mengusap pipi Tasya dengan ibu jarinya.
Setelah izin dengan Tasya selesai Andika berjalan lebih dulu untuk membawa Ferdian ke luar dari ruangan Tasya, agar pembicaraan mereka berdua tidak bisa di dengar oleh Tasya. Sebenarnya memang ada rahasia yang di sembunyikan Andika dari Tasya, tapi Andika merasa belum saatnya Tasya mengetahui semuanya.
Tasya yang melihat Andika pergi bersama Ferdian hanya terdiam saja, dia tiba-tiba kepikiran tentang hal baru setelah melihat reaksi Andika saat papanya meminta untuk berbicara dengan dengan dia. Sebenarnya ada sedikit kecurigaan dalam hati Tasya, tapi dia akan mencoba untuk tidak memikirkan masalah itu lagi karena dia ingin mempercayai suaminya.
Tasya yang masih dalam lamunannya dikejutkan oleh kehadiran Tata yang tiba-tiba sudah berdiri disamping tempat tidurnya dan memanggilnya, bahkan Tata terus memanggil Tasya sejak punggung Andika dan Ferdian yang menghilang di balik pintu.
"Oh itu, papanya tante dan om Andika sayang" Tasya memberikan senyumannya pada Tata.
"Jadi itu papa tante ya, apa aku boleh memanggilnya dengan panggilan kakek?"
"Tentu boleh dong, tapi sekarang Tata harus makan dulu ya dan habis itu istirahat karena sekarang sudah jam sembilan malam" Tasya mengusap kepala Tata sembari tersenyum kembali, sedangkan Tata menjawabnya dengan anggukan kepala.
Di saat Tasya sedang menemani Tata makan sembari duduk di sofa, Andika dan Ferdian kembali masuk ke dalam kamar Tasya dan langsung duduk untuk ikut bergabung bersama Tasya dan Tata.
Ferdian menatap wajah "Tasya, papa benar-benar minta maaf ya atas perbuatan kakak mu itu. Saat pulang nanti papa akan coba menasihati kakak mu ya"
"Tidak perlu pah! Semua itu pasti akan sia-sia saja, papa juga tau kan kalau Raisa itu tidak akan bisa hanya di bilangin dengan kata-kata"
__ADS_1
"Iya kamu benar juga. Ya sudah, kalau begitu nanti papa akan pikirkan cara lain untuk membuat Raisa jera ya" Tasya hanya menganggukkan kepalanya saja.
Di saat Ferdian baru memikirkan cara untuk memberi pelajaran untuk Raisa, Andika malah sudah menyusun rencana dan bertindak lebih dulu untuk membuat Raisa tidak akan berani menyentuh Tasya lagi.
"Kakek, apa yang bernama Raisa itu adalah nenek sihir yang membuat tante Tasya tenggelam?" Tata menghentikan makannya dan melihat ke arah Ferdian.
Ferdian yang baru menyadari keberadaan Tata di sampingnya, langsung melihat ke Tasya dan Andika secara berganti dengan ekspresi wajah yang menuntut jawaban dari mereka berdua.
"Oh iya pah, ini Tata tetangga kami di apartemen. Tata ini hanya tinggal sendirian saja pah, karena orang tuanya sudah tidak ada"
"Begitu ya" Ferdian melihat ke arah Tata yang masih menatapnya.
"Tata sayang, apa tadi kamu juga bertemu dengan tante yang Raisa?" Ferdian mengusap kepala Tata sembari tersenyum.
"Yang bernama Raisa itu bukan tante kek, tapi lebih ke nenek sihir. Karena dia jahat banget sama tante Tasya, jadi kakek harus bisa membalas nenek sihir itu"
Ferdian hanya tersenyum ke Tata sembari menganggukkan kepalanya, dia benar-benar tidak menyangka kalau perbuatan Raisa kali ini bukan hanya membuat Andika marah tapi juga membuat anak kecil sangat membencinya.
"Kalau begitu papa pamit pulang dulu ya, takut mama mu mencari" Ferdian langsung bangun dari duduknya.
"Iya pah hati-hati di jalan ya, soalnya sudah malam"
"Iya sayang"
Setelah selesai berpamitan dengan Tasya dan Andika, Ferdian langsung pergi meninggalkan kamar inap Tasya. Sedangkan Tasya meminta Tata untuk menghabiskan makanannya agar mereka bertiga bisa segera istirahat, karena sepertinya Andika sudah sangat mengantuk dan bahkan dia sudah berbaring duluan di atas tempat tidur big size yang ada di dalam kamar itu.
__ADS_1