
Sedari tadi Tasya terus mondar-mandir di ruang tamu sembari melihat jam dan ke arah pintu, karena sudah jam dua belas malam Andika belum juga kembali ke apartemen dan itu membuat Tasya jadi merasa sangat khawatir takut terjadi apa-apa dengan suaminya.
Tasya sudah mencoba menelpon ke ponsel Andika berulang kali, tapi ponselnya tidak aktif. Bahkan Tasya juga menghubungi Mario untuk menanyakan apa dirinya sedang bersama Andika atau tidak, tapi sayangnya telpon Tasya tidak ada satupun yang diangkat oleh Mario.
"Mas Dika kemana sih? Engga biasanya belum pulang jam segini" Tasya bermonolog sendiri sembari kembali melihat jam di ponsel yang sudah hampir menunjukkan pukul setengah satu malam.
"Aku engga bisa diam di sini terus, kalau aku tetap diam di apartemen saja. Aku tidak akan tau tentang keberadaan mas Dika, jadi sekarang aku harus mencari mas Dika dan menemukannya agar Tasya bisa mengetahui semuanya" Tasya menambahkan perkataannya sembari berjalan ke arah pintu.
Saat Tasya baru akan menyentuh gagang pintunya, tiba-tiba ponselnya berbunyi panggilan masuk dan membuat Tasya langsung senang karena dia mengira kalau itu telpon dari Andika.
Tasya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan seketika senyum di bibirnya menghilang, karena Tasya melihat nama pemanggil di ponselnya bukan Andika melainkan Mario.
-Pembicaraan Tasya dan Mario di telpon-
__ADS_1
"Selamat malam nyonya, maaf saya mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin memberitahu....." Belum selesai Mario menjelaskan, Tasya sudah lebih dulu memotongnya.
"Selamat malam, apa sekarang mas Dika bersama dengan mu Mario? Soalnya saya hubungi ponselnya tidak aktif.
"Tidak nyonya, tadi saat saya bertemu dengan tuan Andika di kantor. Tuan hanya menitip pesan pada saya untuk menyampaikan pada nyonya, tapi berhubung tadi di kantor sedang sibuk jadinya saya lupa untuk memberitahu nyonya. Maafkan saya nyonya"
"Iya tidak apa-apa, jadi apa yang kamu ingin sampaikan pada saya?"
"Begitu ya? Baiklah, kalau begitu terima kasih sudah memberitahu saya tentang keberadaan mas Dika"
"Sama-sama nyonya"
Tasya memutuskan sambungan telponnya dengan Mario dan duduk di sofa ruang tamu lagi dengan wajah murungnya dan meletakkan ponselnya di atas meja, karena dia sudah tau kalau Andika tidak mungkin menelponnya.
__ADS_1
"Apa harus sampai seperti ini kah mas? Biasanya langsung kamu sendiri yang selalu mengabari, tapi ini kenapa harus Mario mas?" tanya Tasya dalam hatinya sembari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Lama kelamaan Tasya mulai merasa kantuk dengan posisi seperti itu dan bahkan dia sudah mulai memejamkan matanya, sampai akhirnya Tasya tidak mengetahui apa-apa lagi kecuali mimpi yang membuatnya tersenyum dalam tidurnya.
Salsa yang terbangun untuk mengambil minum melihat Tasya tertidur dengan posisi duduk di sofa langsung menghampirinya dan berniat untuk membangunkan Tasya, agar Tasya bisa melanjutkan tidurnya di dalam kamar.
Saat Salsa sudah ingin menyentuh bahu Tasya untuk membangunkannya, Andika yang baru kembali langsung menahan Salsa dan melarangnya untuk membangunkan Tasya karena dia tidak mau tidur istrinya terganggu.
"Kamu lanjut tidur saja, biar Tasya saya yang mengurusnya" Andika berbicara pelan sembari memasang ekspresi wajah datarnya.
"Baik tuan, saya permisi" Salsa langsung pergi dari tempatnya berdiri.
Andika menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia menggendong Tasya untuk memindahkannya ke dalam kamar, karena Andika takut badan Tasya akan terasa sakit saat dia bangun nanti.
__ADS_1