
Seperti biasanya Andika masih berada di dalam ruangannya dan duduk di kursinya sampai larut malam sembari pandangannya fokus menatap layar laptopnya, sampai akhirnya Mario masuk ke dalam ruangannya untuk memberitahu jadwal meeting yang harus Andika dan membuat Andika mengalihkan pandangannya ke arah Mario.
Saat Mario membacakan semuanya Andika memang terlihat memperhatikan dan mendengarkannya, tapi sebenarnya tidak karena pikirannya terus memikirkan hal lain yang membuatnya menjadi bingung harus bagaimana.
"Mario, bisa kamu duduk dulu dan bicara dengan saya sebentar? Karena ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dengan mu"
"Bisa tuan, apa yang anda ingin bicarakan dengan saya tuan?" Mario duduk di kursi depan meja Andika.
Andika tidak langsung menjawab Mario dan hanya diam selama beberapa menit, karena dia masih memikirkan harus mulai dari mana dulu untuk menanyakan pendapat Mario tentang masalah yang membuatnya pusing selama beberapa hari.
Suasana ruangan Andika seketika menjadi hening karena Mario juga tidak membuka suaranya dan malah menunggu Andika memulai pembicaraan terlebih dahulu, supaya Mario tidak terlihat seperti penasaran dengan kehidupan atasannya.
"Apa di kantor sedang ada pembicaraan yang membahas saya dan Tasya?" Andika melemparkan pertanyaan pertamanya pada Mario, dan membuat Mario langsung mencoba mengingat yang terjadi di kantor hari ini.
"Setahun saya tidak ada tuan, memangnya ada apa tuan? Apa anda mendengar ada orang yang membicarakan anda dan nyonya Tasya?"
"Tidak, tapi... Kalau di kantor tidak ada yang membicarakannya, lantas darimana Laras bisa tau masalah saya dengan Tasya?" Andika mengubah posisi duduknya menjadi menyender di sandaran kursinya sembari jarinya mengetuk meja.
"Maaf tuan, kalau saya boleh tau. Memangnya Laras mengetahui masalah tentang rumah tangga anda yang mana tuan?"
Mendengar pertanyaan Mario, Andika langsung menghela nafasnya. Dia masih ada keraguan untuk menceritakannya pada Mario, tapi kalau dia tidak cerita mungkin masalah itu akan terus berlanjut. Jadi Andika mencoba melepaskan keraguannya dan mempercayai Mario, karena mungkin Mario bisa memberikan solusi untuknya sebagai orang kepercayaannya.
"Hah... Jadi begini, setelah saya dan Tasya menemui dokter yang kamu carikan waktu itu. Sebenarnya istri saya di vonis oleh dokter akan sulit untuk hamil, karena kondisi rahimnya lemah"
"Sejak saat itu sampai detik ini saya jadi tidak fokus bekerja dan merubah perlakuan saya terhadap Tasya, karena perasaan saya sangat bercampur aduk saat melihatnya"
Saat Mario masih sedang fokus mendengarkan cerita Andika, Andika menghentikan ceritanya sebentar dan membuat Mario langsung mempertanyakan kelanjutannya pada Andika.
__ADS_1
"Masalah itu tidak ada satupun orang di kantor ini yang tau, tapi tadi sore tiba-tiba Laras mengatakan masalah itu di depan saya dan dia....."
"Dia? Dia kenapa tuan? Apa Laras akan menyebarkan masalah ini?"
"Bukan, tapi Laras menawarkan dirinya pada saya untuk mewujudkan keinginan saya memiliki anak"
Setelah mendengar yang dikatakan Andika, Mario yang terkejut tanpa sadar langsung bangun dari duduknya sembari menggebrak meja Andika. Walaupun begitu Andika tidak memarahi Mario, melainkan dia hanya menatap Mario dengan ekspresi wajah datarnya.
"Jadi dia berani mengatakan itu di depan tuan?"
Andika mengangguk sebagai jawaban untuk Mario. "Sekarang saya bingung, apa saya harus menerimanya atau tidak?"
"Tuan, apa untuk hal seperti ini anda tidak bisa menentukannya?"
"Iya, karena saya sedang tidak bisa berpikir jernih dan makanya saya ingin menanyakan pendapat mu"
Mario terus menceramahi Andika dan tidak memberikan kesempatan untuk Andika berbicara lagi, anehnya Andika tidak marah sama sekali dengan sikap Mario terhadapnya karena dia tau semua yang dikatakan Mario ada benarnya.
Setelah menyadari Andika hanya diam saja dan menatapnya saja, Mario langsung menghentikan perkataannya dan segera meminta maaf pada Andika karena tanpa sengaja sudah berlaku tidak sopan terhadap Andika.
Andika yang melihat Mario terus-menerus mengucapkan kata maaf pada Andika dengan ekspresi wajah ketakutannya, justru hal itu membuat Andika langsung tertawa dan memerintahkan Mario untuk berhenti melakukan hal itu.
"Tuan, apa anda benar-benar tidak marah pada saya?" Mario menatap Andika dengan ragu-ragu untuk memastikan kalau Andika benar tidak marah padanya.
Andika langsung mengangguk pelan sembari masih sedikit tertawa. "Iya, lagipula untuk apa saya marah dengan mu? Bukankah semua yang kamu katakan itu benar?"
"Iya tuan, eh! Maksudnya saya bu-bukan be-begitu tuan"
__ADS_1
"Sudah, sudah... Saya mengerti yang kamu maksud, jadi akan saya pertimbangkan kembali pendapat kamu tadi dan lebih baik sekarang kita kembali ke apartemen karena ada yang saya ingin bicarakan dengan istri saya" Andika langsung merapihkan map-map yang berada diatas mejanya dan bangun dari duduknya.
"Baik tuan, kalau begitu saya akan mengantar anda terlebih dahulu dan nanti baru saya kembali lagi ke sini untuk menyelesaikan pekerjaan saya tuan"
"Tidak perlu kembali lagi ke sini! Berhubung waktu kerja kamu terbuang untuk memberikan pemahaman untuk saya, jadi kamu bisa menyelesaikan pekerjaan kamu itu besok dan saya akan memperpanjang waktunya"
"Tapi pak, saya......."
Andika langsung menatap Mario dengan tatapan tajamnya dan ekspresi wajah datarnya. "Jangan membantah! Ini perintah untuk mu! Jadi lakukan saja sesuai yang saya katakan!"
"Baiklah tuan, saya akan mengikuti perintah anda"
"Bagus, kalau begitu kita berangkat sekarang" Andika berjalan mendahului Mario, dan baru Mario kejar setelah Andika melangkahkan kakinya beberapa langkah.
Berbeda dengan saat Mario meminta maaf tadi Andika langsung tertawa, tapi sekarang Andika hanya diam saja sembari menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya. Bahkan posisi dia terus seperti itu di sepanjang perjalanan dan karena Mario berpikir Andika sedang kelelahan, jadinya dia tidak mengganggu Andika.
Sebenarnya Andika begitu karena dia sedang berpikir kembali tentang perkataan Mario dan dia juga memikirkan tentang Tasya. "Saya sudah mendapatkan pendapat dari Mario dan sekarang saya juga harus membicarakannya dengan Tasya, kalau begitu saya akan berbicara dengan Tasya malam ini juga" ucap Andika dalam hatinya.
"Tuan maaf, kita sudah sampai di apartemen" Mario memanggil Andika sembari melihat kaca spion yang mengarah tepat ke arah Andika.
Andika langsung membuka matanya dan melihat ke sekeliling dari dalam mobil, setelah memastikan mereka sudah benar-benar sampai di apartemen Andika langsung turun dari dalam mobilnya dan baru di susul oleh Mario.
"Kuncinya pegang saja dengan mu, saya masuk ke unit duluan"
"Baik tuan"
Setelah mengatakan itu Andika langsung bergegas menuju ke lift dengan sedikit berlari, karena dia sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Tasya langsung.
__ADS_1
"Keputusan ku untuk menyelesaikan masalah ini, sekarang tergantung pada pembicaraan ku dengan Tasya" Andika bermonolog sembari menekan kunci pintunya dan langsung masuk ke dalam apartemen.