
Saat ini Tasya sudah berada di parkiran kantor Andika lagi dan berjalan masuk ke dalam kantor Andika sembari membawa kotak makan, berhubung dia sudah mengetahui letak ruangan Andika jadinya Tasya tidak perlu meminta resepsionis atau yang lainnya mengantar dirinya sampai ruangan Andika.
Tasya yang baru sampai di depan ruangan Andika dan melihat kursi sekertaris Andika yang kosong langsung melihat ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan sekertaris Andika, karena dia ingin menanyakan apa Andika berada di ruangnya atau tidak.
Awalnya Tasya ragu untuk masuk ke dalam ruangan Andika sebelum bertanya pada sekertaris Andika, karena Tasya takut Andika masih bertemu dengan clientnya. Setelah berpikir lama akhirnya Tasya memilih untuk mencoba masuk kedalam dari pada dia menunggu di sana tanpa kepastian.
Di saat Tasya baru akan mengetuk dan membuka pintu ruangan Andika dirinya tiba-tiba terlonjak kaget, karena sekertaris Andika sudah berada di belakangnya sembari menyapa Tasya. "Maafkan saya bu, sudah membuat ibu terkejut dengan kehadiran saya" sekertaris Andika langsung menundukkan kepalanya saat melihat Tasya terlonjak kaget.
"Iya, tidak apa-apa. Oh iya, apa pak Andika ada di dalam ruangannya? Dan apa tamunya juga sudah pergi?"
"Pak Andika ada di dalam ruangnya bu, tapi untuk tamu pak Andika sudah pergi atau belum saya kurang tau bu. Soalnya tadi saya pergi ke kamar mandi, apa ibu mau saya memeriksanya?"
"Tidak perlu! Biar saya saja yang akan memeriksanya langsung, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu"
"Baik, kalau begitu saya permisi lanjutkan pekerjaan saya dulu ya bu" Tasya mengangguk pelan, sedangkan sekertaris itu langsung membungkukkan badannya dan kembali ke kursinya.
Tasya juga langsung mengetuk pintu ruangan Andika sekali dan membukanya, saat Tasya masuk ke dalam ternyata Andika masih bersama dengan clientnya. Karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Andika, Tasya berniat ingin kembali keluar dari ruangan itu. Tapi Andika justru memanggil namanya, di saat Tasya baru akan melangkahkan kakinya.
Berhubung Andika memintanya untuk mendekat padanya, jadi mau tidak mau Tasya menghampiri Andika dengan masih memegang kotak makan di tangannya dan dia berdiri tepat di samping Andika.
"Nah... Pak Dito, perkenalkan ini istri saya yang tadi saya ceritakan pada bapak. Sayang, perkenalkan ini pak Dito client ku dari luar negeri"
__ADS_1
"Pak Dito ini orang hebat loh sayang, padahal usianya masih berada dua tahun di bawah aku. Tapi pak Dito sudah bisa menyaingi diriku, bahkan kami sama-sama bangun bisnis ini dengan usaha kami sendiri" Andika menambahkan perkataannya sembari melihat ke arah Tasya yang juga melihat ke arahnya.
Setelah Andika menyelesaikan perkataannya Tasya dan Dito langsung menoleh ke arah yang sama secara bersamaan, Tasya yang melihat wajah Dito tiba-tiba langsung mengenali wajah yang ada di depannya itu.
"Kalian berdua saling kenal? Kok aku baru tau ya?" Andika melihat ke Tasya dan Dito bergantian.
"Sebenarnya kami belum saling kenal mas, hanya saja tadi pak Dito yang menolong mengambilkan tas aku dari pencopet mas"
"Pencopet? Kamu di copet? Kapan? Dimana? Kenapa kamu engga kasih tau mas?" Andika terus melemparkan pertanyaan yang membuat Tasya bingung harus menjawab yang mana dulu.
Tasya akhirnya langsung menceritakan kejadian pada Andika di hadapan Dito juga dan bahkan Tasya juga memberitau alasan kenapa dia tidak menceritakan pada Andika setelah kejadiannya, agar Andika tidak marah padanya dan bisa memakluminya.
"Jadi begitu ceritanya mas, dan sekarang aku mengerti kenapa pak Dito tidak mau menerima uang dari ku sebagai ucapan terima kasih. Ternyata pak Dito juga orang kaya, jadi dia tidak membutuhkan uang dari ku mas
"Padahal saya ingin sekali memberikan tanda terima kasih untuk anda"
"Sayang, kamu kan bisa memberikan tanda terima kasih yang lain. Tidak harus uang yang kamu berikan, bukan begitu pak Dito" Andika menoleh ke arah Dito, sedangkan Dito hanya tersenyum saja tanpa menjawab.
"Baiklah kalau begitu, gimana kalau saya mengundang anda untuk makan malam di apartemen kami. Boleh kan mas?" Andika menjawab dengan anggukan kepalanya sembari tersenyum.
"Kalau begitu saya akan menerima tawaran anda dan pak Andika, kalau begitu sekarang saya permisi dulu ya pak Andika. Pasti pak Andika juga akan makan siang dengan istri anda bukan?"
__ADS_1
"Iya Pak Dito, untuk acara makan malamnya saya kabarkan lagi nanti ya pak"
"Baik Pak" Dito langsung bangun dari posisi duduknya dan pergi keluar dari ruangan Andika.
Setelah Dito pergi Tasya langsung menyiapkan makanan yang sudah hampir dingin untuk Andika makan, karena tadi ke asyikan mengobrol Andika sampai telat makan lagi makanya Tasya langsung cepat-cepat menyuruh Andika menghabiskan makanannya.
"Eum, mas kira-kira kapan ya kita undang pak Dito untuk makan malam bersama?" Tasya mencondongkan badannya ke depan untuk mendekati Andika.
"Gimana kalau besok malam saja? Tapi apa kamu yakin ingin memasak? Kenapa tidak beli saja? Pastikan memasak untuk makan malam dengan pak Dito tidak akan sedikit, nanti kalau kamu kelelahan bagaimana?" Andika menjawab Tasya sembari merapihkan tempat bekas makannya.
"Kamu tenang saja mas, aku engga mungkin kelelahan kok mas. Lagipula aku kan juga sudah terbiasa masak banyak saat di restoran, jadi kamu engga perlu khawatir ya mas" Tasya memberikan senyumnya pada Andika yang sedang menatapnya setelah Tasya mengantakan hal itu.
"Ya sudah, kalau mau kamu kayak begitu. Mas tidak akan melarangnya, tapi kalau kamu merasa lelah dan tidak ingin memasak lagi bilang pada mas ya" permintaan Andika hanya di jawab dengan anggukan kepala saja oleh Tasya.
"Oh iya, kamu mau menunggu mas di sini sampai pulang atau kamu mau pulang duluan? Soalnya mas masih ada beberapa pekerjaan lagi yang harus diselesaikan, takutnya kamu bosan menunggu di sini"
"Engga kok mas, aku engga akan bosan menunggu mas sampai selesai dan aku ingin menunggu mas saja biar nanti kita pulang sama-sama"
"Baiklah kalau begitu, nanti kalau kamu bosan minta pada Caca untuk mengajak mu berkeliling gedung ini saja ya"
Tasya langsung mengangguk pelan. "Iya mas, sudah mas tenang saja dan fokus pada kerjaan mas saja"
__ADS_1
"Ya sudah mas lanjut kerja dulu ya sayang" Andika mengusap pipi Tasya sembari tersenyum.
Tasya menunggu Andika menyelesaikan pekerjaannya sembari terus-menerus menatap Andika dan bahkan tatapan matanya tidak bergeser sedikitpun dari wajah Andika, karena Tasya benar-benar terpesona melihat ketampanan Andika yang bertambah saat dia memakai kacamatanya dan terlihat fokus.