Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Kecemasan Tata


__ADS_3

Setelah Ferdian pamit pulang dan Andika mengantar sampai depan pintu bersama Tata, Andika langsung membawa Tata kembali ke kamarnya untuk menemui Tasya untuk membahas Tata yang masih belum ingin bercerita juga walaupun Andika sudah membujuknya sedari tadi.


Tasya yang sedang terdiam sembari memikirkan perkataan papahnya langsung menoleh ke arah pintu, karena mendengar suara pintu terbuka dan langsung memunculkan Andika yang menggandeng Tata saat masuk kembali ke dalam kamar.


Saat melihat Tata hanya berdiri di dekat pintu saja Tasya langsung memanggilnya sembari membentangkan tangannya untuk memeluk Tata, Tata langsung menghampiri Tasya dan masuk ke dalam pelukannya.


"Kalian berdua dari mana saja?" Tasya mendongakkan kepalanya untuk melihat Andika yang berdiri di sisi kiri tempat tidur.


"Kami berdua hanya dari ruang TV saja dan langsung ke sini setelah papah mu pulang"


Andika duduk di samping Tasya dan hanya memperhatikan mereka berdua.


"Tata sayang... Coba cerita sama tante, sebenarnya apa yang membuat Tata sedih? Apa Tata sedang rindu orang tua Tata?" Tasya mengusap surai rambut Tata dengan lembut, sedangkan Tata langsung melepaskan pelukannya dan menatap Tasya.


"Tante Tasya, om Andika. Apa boleh Tata bertanya dengan om dan tante?" Tata membuka suaranya sembari menundukkan kepala.


Tasya langsung tersenyum sembari memegang bahu Tata. "Tentu sayang, Tata boleh menanyakan apa saja dengan om dan tante pasti akan selalu om dan tante jawab. Jadi apa yang ingin Tata tanyakan pada om dan tante?"


"Sebentar lagi tante Tasya dan om Andika akan memiliki dedek bayi, itu berarti tante dan om tidak akan bermain dengan Tata lagi ya?"


"Siapa bilang tante dan om tidak bisa bermain bersama Tata lagi? Om dan tante akan tetap bermain bersama Tata seperti biasanya, jadi Tata tenang saja ya tante dan om Andika tidak akan meninggalkan Tata sendirian"


"Apa yang di bilang tante Tasya itu benar Ta, lagipula nanti Tata kan juga bisa bermain dengan dedek bayi yang berada di dalam perut tante Tasya. Tata mau kan main dengan dedek bayi?"


"Iya om, Tata mau main dengan dedek bayi"


Seketika wajah murung Tata berganti menjadi bahagia, karena kekhawatiran yang sejak tadi dia rasakan sudah hilang saat mendengar jawaban Tasya dan Andika.

__ADS_1


"Gitu dong senyum, Tata cantikan senyum loh dari pada murung seperti tadi. Ya kan mas?" Tasya menoleh ke arah Andika dan membuat Andika langsung menganggukkan kepalanya.


Di sela pembicaraan mereka kali ini pintu kamar Andika kembali di ketuk oleh Salsa,


kedatangan Salsa untuk mengajak Tata makan siang bersama di rumahnya karena tadi dirinya buru-buru ke pasar dan belum sempat memberikan Tata sarapan.


"Maaf tuan, saya mengganggu waktu anda dengan mbak Tasya. Saya hanya ingin memberitahu kalau makan siangnya sudah siap tuan dan sekalian saya ingin membawa Tata untuk kembali ke unitnya, karena makanan Tata sudah saya siapkan di sana tuan"


"Baiklah kalau gitu, sekalian nanti kamu temani Tata tidur siang ya"


"Baik tuan, ayo Tata kita kembali" Salsa mengulurkan tangannya sembari tersenyum pada Tata dan Tata langsung menghampiri Salsa setelah berpamitan dengan Andika dan Tasya.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, mbak Tasya" Salsa membungkukkan sedikit badannya dan langsung membawa Tata keluar setelah Andika dan Tasya menganggukkan kepalanya.


Setelah Tata dan Salsa keluar Andika juga ingin keluar sebentar untuk mengambil beberapa dokumen di ruang kerjanya untuk di bawa ke kamar, tapi Tasya langsung memanggilnya dan membuat Andika kembali menoleh ke arah Tasya.


"Tata? Memangnya ada apa dengan Tata?"


Andika menatap Tasya dengan ekspresi wajah bingungnya.


"Aku berencana ingin mengangkat Tata menjadi anak kita mas dan aku juga ingin ajak dia untuk tinggal bersama kita, soalnya kalau terus sendirian seperti itu tidak bagus juga untuk pertumbuhan Tata. Gimana mas? Apa kamu setuju dengan ku mas?" Tasya berbicara sembari membenarkan duduknya.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin mengangkat Tata menjadi anak kita?"


"Sebenarnya udah lama aku ingin bilang ini ke kamu, cuma aku terus lupa saat melihat kamu sudah kelelahan dengan pekerjaan dan berhubung aku lihat kamu sekarang sedang tidak begitu banyak pekerjaan makanya aku tidak ingin menunda lagi untuk membicarakan hal itu"


"Lagi pula tadi sebelum pulang papa juga menyarankan untuk kita mengajak Tata tinggal di sini saja, karena menurut papah kasihan kalau Tata terus tinggal sendirian tidak ada yang mengawasinya setiap saat"

__ADS_1


"Menurutku apa yang papah katakan itu ada benarnya juga mas, kalau Tata tinggal bersama kita aku jadi memiliki banyak waktu untuk bisa memperhatikan Tata lebih lagi mas. Kamu setuju kan mas? Rencana ini demi kebaikan Tata juga loh mas"


Andika hanya fokus mendengarkan perkataan Tasya, bahkan sampai Tasya menyelesaikan perkataannya Andika sama sekali tidak mengeluarkan perkataan apapun dan hanya menghela nafasnya.


"Kamu tidak setuju ya dengan rencana ku mas?"


"Bukannya mas tidak setuju, tapi kamu tau kan? Kalau mengangkat anak tidak bisa sembarangan, kita harus mengurus semua yang di perlukan"


"Ya sudah kalau begitu besok kita urus saja semuanya, gimana mas?"


"Sayang... Kamu itu lagi hamil muda, kalau kamu kelelahan gara-gara mengurus itu bagaimana? Jadi lebih baik sekarang ku fokus dengan kehamilan kamu saja ya, dan jangan memikirkan hal seperti ini dulu" Andika mengusap kepala Tasya.


"Tapi mas, aku ingin Tata jadi anak kita mas. Boleh ya mas, aku mohon sama kamu" Tasya terus memohon dengan suaminya dengan mata yang sudah berlinang air mata, agar Andika mau menuruti permintaannya.


"Nanti mas pikirkan lagi, sekarang kamu istirahatlah dulu! Aku ingin menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja dan kalau butuh apa-apa kamu bisa telfon mas"


"Iya mas, tapi bener ya mas harus pikirkan rencana aku tadi"


"Iya iya nanti mas pikirkan ya" Andika tersenyum tipis dan langsung bergegas turun dari tempat tidurnya.


"Mas tinggal ya, ingat kamu jangan turun dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi" Tasya menjawab dengan anggukan kepalanya dan membuat Andika langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


...****************...


Saat ini Andika memang sudah berada di ruang kerjanya dan bahkan laptopnya pun sudah menyalah, tapi tangannya masih belum bergerak untuk mengerjakan pekerjaannya karena Andika memikirkan keinginan Tasya.


Jujur saja sebenarnya Andika senang Tasya ingin mengangkat Tata menjadi anak mereka, karena Tata anak yang baik dan terlebih lagi Andika juga menyayangi Tata. Walaupun begitu ada kekhawatiran dalam diri Andika kalau Tata menjadi anak mereka di saat Tasya sedang hamil.

__ADS_1


Andika khawatir kalau Tasya akan lebih berfokus pada Tata nantinya dan akan membuat Tasya menjadi kelelahan karena terus mengawasi Tata. Terlebih lagi Andika takut setelah melahirkan Tasya juga akan kerepotan dengan sendirinya untuk mengurus dua anak, hal itulah yang membuat Andika menjadi bimbang untuk mengiyakan keinginan Tasya.


__ADS_2