Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Andika yang baru selesai mandi langsung mencari keberadaan Tasya, dia menemukan istrinya sedang duduk di ruang tamu sembari melihat ponselnya dan senyum-senyum sendiri.


Andika langsung menghampiri Tasya dan duduk di sampingnya sembari mengusap surai rambut Tasya dengan lembut "Kamu lagi apa, hmm?"


Tasya menoleh sebentar ke arah Andika sembari menunjukan layar ponselnya pada Andika "Biasa mas, aku lagi chatting sama Rara"


"Begitu ya, memangnya apa yang sedang kalian bahas? Sampai-sampai istri ku ini terlihat sangat senang"


"Rara lagi cerita hal lucu mas, kamu mau dengar engga?"


"Hal lucu ya? Boleh, coba kamu ceritakan padaku!"


"Jadi begini ceritanya mas"


Tasya menceritakan semua yang di katakan Rara dalam chat mereka berdua yang membahas tentang, Rara yang tidak sengaja kepeleset saat makan siang dan membuat makanannya terlempar dan jatuh tepat di atas kepala seorang pria.


Setelah mendengar cerita dari Tasya menurut Andika hal itu tidak begitu lucu baginya, tapi dia berusaha tertawa juga agar Tasya tidak merasa sedih dan dia jadi bisa terus melihat tawa lepas Tasya.


Tasya menghentikan tawanya dan menghapus air matanya yang terjatuh, karena kebanyakan tertawa. "Lucu kan ya mas? Emang ya Rara tuh dari dulu tidak pernah berubah"


"Tidak pernah berubah? Apa dia selalu terpeleset seperti itu?"


"Bukan selalu terpeleset mas, tapi dari saat aku bertemu dengannya. Dia selalu ceroboh dan biasanya dia terpeleset, karena engga melihat tanda lantai licin"


"Oh begitu ya, usahakan kamu jangan sampai terpeleset juga ya"


Tasya mengangguk pelan sembari tersenyum. "Oh iya mas, biar aku siapkan makanan dulu untuk kamu ya"


Saat Tasya baru ingin bangun dari duduknya, Andika langsung memegang tangannya dan menahan Tasya agar tetap berada di tempat duduknya.


"Hari ini kamu tidak perlu menyiapkan makanan, karena aku ingin mengajak kamu dinner di restoran tempat biasa. Bagaimana? Kamu mau kan?"


"Dinner mas?"

__ADS_1


"Iya, sekali-sekali aku ingin makan di luar bersama dengan kamu"


"Kemarin kan kamu udah makan siang di luar dengan ku mas"


"Makan kali ini berbeda sayang, karena ada sesuatu yang ingin aku berikan pada kamu nanti. Jadi lebih baik sekarang kamu ganti baju saja ya, supaya kita bisa sampai di sana tepat waktu" Andika mengacak rambut Tasya.


"Mas Andika ini ada-ada saja, padahal istrinya bisa masak dan juga seorang chef di restoran itu, tapi malah mau makan di restoran dengan masakan chef lain" ucap Tasya dalam hatinya sembari menatap Andika.


"Hah... Ya sudah aku ganti baju dulu ya mas"


Tasya bangun dari duduknya dan begitu juga dengan Andika yang langsung ikut berdiri dan menggenggam tangan Tasya untuk bersiap-siap bersamaan, agar nanti mereka bisa selesai secara bersamaan juga.


"Ya sudah ayo! Aku juga mau ganti baju" Andika memberikan senyumannya untuk Tasya dan langsung berjalan menuju kamar mereka.


Saat ini mereka berdua sudah selesai memilih baju untuk di gunakan dan Tasya juga sudah berada di ruang ganti untuk mengganti bajunya di sana, sedangkan Andika mengganti bajunya di dalam kamar mandi.


Berbeda dengan Tasya yang masih sibuk dengan gaun yang dikenakannya, Andika malah sudah selesai lebih dulu dengan kemeja warna putih dan setelah jas berwarna hitam yang menambah ketampanannya.


Tasya yang tiba-tiba berteriak dari dalam ruang ganti, membuat Andika langsung bergegas masuk ke dalam ruangan itu. Di saat Andika masuk ke dalam ruangan itu, Tasya sedang berdiri menghadap cermin besar dengan sudah menggunakan gaun yang senada dengan jas Andika.


Andika langsung berjalan menghampiri Tasya. "Ada apa? Kamu butuh bantuan apa?"


"Tolong bantu aku naikan resleting ini mas, soalnya aku tidak bisa menjangkaunya" Tasya menunjukkan resleting yang ada di belakang punggungnya.


Andika langsung menaikan resleting gaun Tasya sampai batasnya. "Hanya menaikan resleting saja? Aku kira ada apa tadi sampai kamu berteriak begitu"


Tasya berbalik menghadap Andika sembari nyengir "Hehehe... maaf ya mas, aku jadi buat kamu khawatir"


"Ya sudah, apa kamu sudah siap untuk berangkat?"


"Iya sudah mas" Tasya merapihkan sedikit rambutnya yang di gerai.


Andika memberikan lengan tangannya untuk di gandeng Tasya. "Kalau begitu, ayo! Kita berangkat sekarang"

__ADS_1


Mereka berdua langsung menuju mobil dengan Tasya yang menggandeng lengan tangan Andika, kali ini mereka hanya pergi berdua saja karena Andika ingin malam ini menjadi malam yang hanya ada dia dan Tasya saja.


...****************...


Saat sampai di restoran dan turun dari mobil Tasya kembali menggandeng tangan Andika untuk menuju ke ruang milik Andika, setelah pintu ruangan itu dibuka seketika Tasya langsung terkejut melihat ruangan yang sudah di hias dengan cantik dan membuat ruangan itu terlihat sangat romantis.


Sebelum mereka memulai makan malamnya, Andika membawa Tasya ketengah-tengah bunga yang sudah di bentuk menjadi bentuk hati. Lagi-lagi Tasya di buat terkejut dengan Andika yang berlutut dihadapannya, sembari memegang kotak cincin berwarna putih.


"Tasya... Sebelumnya aku ingin minta maaf dengan kamu, karena saat awal kita akan menikah aku tidak melamar mu secara benar. Walaupun kamu tidak pernah membahas hal ini pada ku, tapi aku tau kalau kamu sangat menginginkan momen ini terjadi bukan? Jadi kali ini aku akan melamar mu dengan benar"


Tasya hanya diam sembari menundukkan kepalanya untuk menatap Andika dan mendengarkan apa yang sedang di katakan Andika padanya.


"Tasya, will you marry me?"


Tanpa perlu waktu lama untuk Andika menunggu jawaban dari Tasya atas lamarannya itu, karena Tasya langsung memberikan jawabannya sesaat setelah Andika mengatakan hal itu padanya


Andika langsung memasangkan cincin baru di jari manis Tasya dan berdiri sembari memberikan senyumannya untuk Tasya sebentar, sebelum akhirnya dia memeluk Tasya dengan erat dan begitu juga dengan Tasya yang membalas pelukan Andika sama eratnya.


"Aku mencintai kamu, Tasya Adiwijaya" Andika mengatakan hal itu tepat di telinga Tasya.


"Aku juga mencintai kamu, mas Andika Dirgantara" perkataan Tasya langsung membuat senyum Andika terbit di bibirnya lagi.


Beberapa menit kemudian pintu ruangan itu di ketuk oleh seseorang, yang membuat Andika langsung melepaskan pelukannya dari Tasya dan menyuruh orang itu masuk ke dalam ruangannya.


Seorang pelayan restoran pria masuk dan langsung membungkukkan badannya pada Andika. "Permisi, tuan Andika. Saya ingin mengantarkan pesanan anda, sesuai dengan waktu yang anda minta"


"Oh, iya silahkan. Kamu bisa siapkan makanannya sekarang!"


"Baik tuan" pelayan itu langsung bergerak menyiapkan makanannya dia atas meja.


Setelah selesai pelayan itu langsung berpamitan, tapi tidak sengaja dia melihat ke arah Tasya. Awalnya dia ingin menyapa Tasya, tapi seketika dia mengurungkan niatnya dan langsung berjalan keluar setelah Andika mengiyakan izinnya karena dia takut dengan tatapan Andika.


Andika langsung membawa Tasya ke meja makan dan menarikan kursi untuk Tasya duduk, setelah Andika duduk di hadapan Tasya mereka langsung memulai makan malamnya dengan hening dan hanya ada sedikit pembicaraan saat mereka di jalan pulang sampai mereka tiba di apartemen untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2