
Mereka semua akhirnya bisa tiba di tempat camping sebelum malam, jadinya masih bisa untuk mempersiapkan beberapa tenda yang akan di gunakan untuk tempat tidur mereka.
Tasya yang baru turun dari bus bersama dengan Andika langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya, karena udara di hutan itu masih terasa sangat sejuk.
"Yey, akhirnya kita sampai juga di sini ya mas. Aku benar-benar masih engga nyangka mas kalau kamu ngizinin aku untuk pergi, padahal kan semalam kamu ngotot banget engga bolehin"
"Semalam itu aku belum kasih izin ke kamu, karena aku belum tau keamanan hutan ini dari hewan buas"
"Oh begitu ya mas" Andika hanya mengangguk pelan.
"Maaf menyela pembicaraan kalian berdua, kalau boleh tau alasan pak Andika berminat ikut camping bersama kami semua apa hanya untuk menjaga Tasya?"
"Memangnya ada alasan lain selain menjaga Tasya dari bahaya apapun?" Andika balik bertanya pada Rara sembari menggenggam tangan Tasya, sedangkan Rara hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja"
Di saat mereka bertiga sedang berbicara, manager restoran menghampiri Andika,Tasya, dan Rara untuk memberikan tugas kepada Tasya dan Rara.
"Tasya, kamu dan Rara tolong bantu cari kayu bakar di sekitar sini saja ya! Supaya nanti malam kita bisa buat api unggun"
"Baik pak" Rara langsung menjawab perkataan managernya dan Tasya pun juga sudah bersiap melangkahkan kakinya untuk mencari kayu bakar.
Andika dengan sigap memegang tangan Tasya dan menatap tajam ke arah manager restoran. "Kenapa harus Tasya yang pergi mencari kayu bakar? Kalau sampai dia tersesat bagaimana? Kenapa anda tidak memberikan tugas itu pada pekerja pria saja?"
Tasya mendengar Andika terus-menerus memberikan pertanyaan pada managernya langsung mencoba menghentikan Andika, karena dia takut kalau Andika akan emosi dan marah pada managernya itu.
"Maafkan saya sudah menyuruh istri anda pak Andika, kalau begitu biar saya minta yang saja untuk mencarinya" Manager itu membungkukkan sedikit badannya dan melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Andika.
"Tunggu! Biar saya ikut membantu istri saya mencari kayu bakarnya" Andika kembali berbicara setelah manager itu tepat memasuki langkah ke empatnya.
Bukan hanya manager restoran yang terkejut dan langsung menghentikan langkah kakinya setelah mendengar perkataan Andika, tapi Tasya dan Rara pun juga saling bertukar pandangan.
__ADS_1
Manager itu langsung membalikkan badannya lagi dan menghadap ke Andika. "Sebaiknya jangan pak! Karena saya tidak mungkin membiarkan seorang CEO seperti anda pergi mencari kayu, sebaiknya anda dan Tasya beristirahat saja dulu"
"Iya bener yang dibilang pak Adit mas, lagian emangnya kamu yakin mas mau ikut cari kayu? Nanti kalau Mario sampai di sini dan dia panik cari kamu gimana?" Tasya berbicara berbisik pada Andika.
Andika menoleh ke arah Tasya sembari tersenyum tipis dan mengusap kepala Tasya. "Aku sudah yakin untuk ikut dan menjaga mu, lagian Mario sudah aku beritahu saat dia izin berhenti sebentar untuk mengisi bensin mobilnya sebelum kita sampai di sini.
"Oh begitu ya mas"
"Iya, jadi sekarang kita mulai mencari kayunya saja. Soalnya hari sudah hampir gelap dan akan lebih berbahaya lagi kalau berkeliaran di dalam hutan saat malam hari"
Setelah Tasya dan Rara mengiyakan perkataan Andika mereka bertiga langsung mulai mencari kayu di sekitar tempat camping, Tasya yang sedari tadi melihat Andika terus mengikutinya saja langsung meminta Andika mencari ke tempat lain agar kayunya bisa lebih cepat terkumpul.
Andika adalah orang yang tidak pernah mengubah perkataannya dan tetap pada pendiriannya, jadi dia tetap mengikuti Tasya sampai mereka selesai mengumpulkan kayu-kayunya.
Saat mereka kembali ke tempat camping semua tenda sudah selesai di dirikan, Rara yang baru saja ingin mengajak Tasya memasukkan tas mereka ke dalam tenda langsung terhenti karena kedatangan Mario.
"Permisi tuan, tenda anda dan nyonya Tasya sudah selesai saya pasang. Jadi tuan dan nyonya sudah bisa beristirahat" Mario melihat ke arah Tasya dan Andika secara bergantian.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan memasang tenda saya dulu tuan"
"Iya silahkan"
Mario membungkukkan sedikit badannya pada Andika dan Tasya, saat dia baru akan membalikkan badannya untuk pergi tiba-tiba mata Mario tidak sengaja bertemu dengan mata Rara dan membuat mereka berdua jadi saling pandang.
"Loh! Kamu kan yang....." ucap Rara dan Mario secara berbarengan.
"Kalian saling kenal ya? Kalian kenal dimana dan kapan kenalnya? " Tasya melihat ke arah Rara dan Mario secara bergantian.
"Iya nyonya kami saling kenal, waktu itu kami....." Mario tidak melanjutkan lagi perkataannya karena Rara sudah lebih dulu memotongnya.
__ADS_1
"Sini lu ikut gue, biar gue ceritain ke lu"
Rara langsung menarik tangan Tasya dan membawanya untuk duduk di bawah pohon besar yang berada sedikit jauh dari Andika dan Mario, sedangkan Andika yang melihat Tasya di bawa Rara hanya bisa diam saja dan membiarkannya karena Andika juga akan meminta Mario menceritakannya.
Saat mendengar cerita Mario dan Rara di tempat yang berbeda, ternyata bukan hanya Tasya saja yang tertawa terbahak-bahak tapi Andika juga sama halnya. Karena Tasya dan Andika akhirnya tau orang yang terkena makanan Rara saat dia terpeleset dan pernah di ceritakan Rara tempo hari.
"Jadi orang itu Mario, Ra?" Tasya memastikan kembali sembari tertawa, kalau dia tidak salah mendengar nama yang di sebutkan Rara.
"Iya Sya, orang itu tangan kanannya suami lu. Makanya sekarang lu harus bantu gue supaya gue engga ketemu itu orang lagi, karena jujur gue masih malu banget ketemu dia Sya"
"Bantu lu biar engga ketemu Mario lagi? Tapi gimana caranya Ra? Secara Mario itu kan selalu menempel sama Andika dan Andika sendiri selalu nempel sama gue, jadi kayaknya bakalan susah deh Ra"
"Yah, terus gue gimana dong Sya? Engga mungkin kan gue jauh-jauh dari lu, karena di sini yang cewek kan hanya kita lu, gue, sama Tania aja dan Tania ada kekasihnya juga di sini"
"Ya udah gini aja, gimana kalau lu bersikap biasa aja di depan Mario dan seolah-olah udah lupa sama kejadian itu?"
"Engga bisa semudah itu Sya, walaupun gue pura-pura lupa pasti dia juga masih ingat kejadian itu dan kalau tiba-tiba dia bahas lagi gimana dong?"
"Ya terus gimana dong? Gue juga engga punya cara lain lagi Ra"
"Hah, gue juga engga tau harus gimana sekarang. Kalau gue dekat sama lu terus pasti akan bertemu Mario, tapi kalau gue menghindari dari mario terus gue bakalan sendirian sampai besok dong
"Gini aja deh, nanti gue coba bilang ke Andika buat suruh Mario pulang atau mengawasinya dari tempat yang sedikit jauh. Gimana?"
"Boleh deh Sya, tapi benarkah lu bakalan bilang ke Andika" Tanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sedangkan Rara langsung memeluk Tasya sembari mengucapkan kata terima kasih.
"Kalau begitu gue mau balik ke Andika dulu ya, lu mau ikut engga?"
"Engga deh Sya, gue masih mau di sini dulu sebentar lagi"
__ADS_1
"Oh ya udah, kalau gitu gue tinggal dulu ya Ra" Rara mengangguk sebagai jawaban.
Setelah mendapatkan persetujuan dari sahabatnya, Tasya langsung meninggalkan Rara yang masih duduk bersandar di batang pohon sendirian.