
Setelah mengetahui hasilnya, seketika Andika menjadi pendiam dan bahkan lebih cuek dari biasanya, Tasya yang melihatnya jadi ragu untuk sekedar bertanya dengan Andika karena dia tau Andika pasti kecewa dengan hasil yang dokter Nita katakan tadi.
Flashback On
"Istri saya dok? Memangnya ada apa dengan istri saya?"
Sebelum menjawab Andika, dokter Nita melihat ke arah Tasya terlebih dahulu. "Jadi begini pak, rahim ibu Tasya lemah dan itu yang membuatnya menjadi susah untuk hamil. Walaupun bu Tasya bisa hamil, bapak dan ibu harus menjaganya dengan ekstra hati-hati karena mungkin akan sering keguguran pak"
"Untuk ibu Tasya bisa hamil, bapak harus bisa sabar menunggu sampai batas waktu yang tidak di tentukan pak" dokter Nita menambahkan perkataannya.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Nita, Andika tanpa sadar melepaskan genggaman tangan Tasya padanya dan hal itu membuat Tasya terkejut dan bahkan berpikir kalau Andika tidak bisa menerima semua itu.
"Apa tidak ada cara untuk mengatasinya dok? Supaya saya bisa cepat memiliki anak"
"Tidak ada pak, saat ini yang bisa bapak dan ibu lakukan terus berusaha dengan memberikan bu Tasya makanan yang tinggi nutrisi dan berdoa saja pak"
"Baiklah dok, kalau begitu terima kasih atas bantuannya" Andika bangun dari posisi duduknya.
"Sama-sama Pak, saya doakan agar ibu Tasya bisa segera mengandung ya pak"
Andika hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja dan langsung menggenggam tangan Tasya, untuk membawa Tasya keluar dari ruangan itu dengan ekspresi wajah datarnya.
Di tengah perjalanan mereka menuju parkiran rumah sakit Tasya melepaskan genggaman tangan Andika padanya dan menghentikan langkah kakinya, karena dia merasa kakinya terasa sakit harus mengikuti langkah kaki Andika yang terlalu cepat.
"Maafin aku ya mas" Tasya berdiri sembari menundukkan kepalanya, sedangkan Andika yang tadinya masih melangkahkan kakinya langsung berhenti dan menoleh ke tempat Tasya berdiri.
"Kenapa kamu minta maaf? Semua ini bukan salah kamu, jadi kamu tidak perlu minta maaf dan lebih baik sekarang kita pulang karena masih ada yang harus aku urus" Andika melanjutkan langkah kakinya lagi dan menunggu Tasya di dalam mobil.
Setelah Tasya ikut masuk ke dalam mobil juga, Andika langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan dia hanya fokus menyetir dan tidak mengatakan apa-apa lagi pada Tasya.
Flashback Off
__ADS_1
"Eum, mas..." Tasya akhirnya mencoba memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Ada apa?" Andika menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tasya.
"Aku lapar mas, boleh engga kalau kita berhenti di restoran sebentar untuk makan?" Tasya mengubah posisi duduknya menjadi miring ke arah Andika.
"Bukannya tadi aku sudah bilang dengan mu kalau ada yang harus aku urus, jadi kamu makannya di apartemen saja"
"Tapi mas....."
"Jangan membantah perkataan ku atau memancing amarah ku Tasya, aku tidak ingin bertengkar dengan mu"
Setelah mendengar perkataan Andika, Tasya tidak lagi berbicara apapun lagi dan langsung kembali duduk seperti semula. Tapi kali ini dia mengalihkan pandangannya keluar jendela, dengan ekspresi wajah sedihnya.
"Melihat kekecewaan kamu yang begitu besar membuat aku tidak yakin mas, kalau kamu akan bisa menerima semua ini" ucap Tasya dalam hatinya dan tanpa terasa air mata jatuh di pipi kanannya.
Saat Tasya masih larut dalam pikirannya, tanpa terasa akhirnya mereka sampai di parkiran apartemen. Pada awalnya Tasya hanya diam saja dan belum turun dari mobil karena menunggu Andika membukakan pintu untuknya, tapi Andika tetap berada di tempatnya dan malah membuka suaranya.
"Kamu turun dan masuklah ke dalam lebih dulu!"
"Suatu tempat, jadi kamu turunlah sekarang! Karena aku harus segera sampai di sana"
"Baiklah mas" berhubung Tasya tidak ingin ada keributan dia antara mereka berdua juga, makanya Tasya langsung turun dari mobil dan berdiri di samping mobil Andika.
"Bahkan sekarang kamu lupa dengan perkataan kamu yang ingin menemani ku seharian, setelah pulang dari rumah sakit mas" Tasya bermonolog sendiri sembari melihat mobil Andika yang melaju pergi meninggalkan dirinya yang masih tetap berdiri di tempatnya.
Setelah mobil Andika benar-benar hilang dari pandangan Tasya, Tasya masuk ke dalam apartemen untuk kembali ke unitnya agar dia bisa segera mencari tau di internet apa ada hal lain bisa dia lakukan agar dia bisa cepat hamil.
Saat Tasya baru akan membuka pintu apartemennya dia mendengar seseorang memanggilnya dan membuatnya langsung menoleh ke arah asal suara, Salsa yang baru keluar dari dalam apartemen Tata lah yang memanggilnya sembari berjalan menghampirinya.
"Loh, mbak pulang sendiri? Tuan Andika memangnya kemana mbak?" Salsa bertanya sembari menatap Tasya bingung, karena dia tidak melihat Andika bersama dengan Tasya.
__ADS_1
"Mas Andika ya? Tadi dia bilang ada urusan sebentar, jadi mas Andika langsung pergi lagi"
"Begitu ya mbak? Tuan Andika memang selalu sibuk mbak, awalnya saya pikir tuan akan mengurangi kesibukannya setelah menikah loh mbak. Tapi ternyata saya salah dan malah tambah sibuk setelah menikah ya mbak"
"Ya... Mau bagaimana lagi? Tuan mu itu kan seorang pebisnis sekaligus pemilik perusahaan, jadi mau tidak mau dia memang selalu sibuk" Tasya memberikan senyumannya pada Salsa.
"Iya mbak benar, kalau begitu kita masuk saja yuk mbak! Tadi aku buat kue loh mbak, dan aku mau mbak cobain kuenya juga" Salsa membalas senyuman Tasya padanya, sedangkan Tasya hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan ajakan Salsa.
Tasya langsung menekan tombol angka yang ada di dekat gagang pintu dan langsung masuk ke dalam, setelah pintunya terbuka dan di ikuti Salsa di belakangnya.
"Mbak tunggu sebentar ya! Biar aku ambilkan dulu kuenya"
"Iya Sa"
Setelah Salsa pergi ke dapur Tasya duduk di sofa yang berada di ruang tamu sembari memikirkan kembali perkataan dokter Nita tentangnya, bahkan Tasya tidak menyadari kalau Salsa sudah kembali dengan membawa kue yang di buatnya.
"Mbak... Mbak Tasya, mbak engga apa-apa kan?" Salsa menepuk pelan bahu Tasya dan membuatnya langsung terlonjak kaget.
"Maaf ya mbak, saya buat mbak terkejut. Soalnya tadi saya sudah panggil mbak, tapi mbak engga menjawabnya"
"Iya engga apa Sa, kalau gitu mana kuenya?"
Salsa langsung mengambil kue yang dia letakkan di atas meja saat dia akan menyadarkan Tasya terlebih dahulu. "Ini kuenya mbak"
Tasya mengambil satu potong kue dari beberapa potongan yang Salsa berikan padanya, dan Tasya langsung memakan kue itu untuk mengetahui rasa dari kuenya.
"Gimana mbak? Enak tidak kue buatan saya? Atau ada yang kurang mbak?'
"Em... Untuk rasanya sudah enak dan teksturnya juga empuk, cuma hanya kurang manis saja dan mungkin kalau di tambah lagi gulanya sedikit saja akan lebih enak lagi rasa kuenya" Tasya tersenyum pada Salsa sebentar dan langsung menghabiskan kue di tangannya.
"Makasih ya mbak untuk sarannya, saya akan mencobanya lagi nanti. Kalau begitu saya permisi ke dapur lagi ya mbak, soalnya mau beres-beres bekas buat kue tadi"
__ADS_1
"Iya, silahkan Sa"
Salsa membungkukkan sedikit badannya dan langsung pergi dari tempatnya berada tadi, sedangkan Tasya masih duduk di tempatnya sembari menunggu Andika pulang.