Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Ujian Pernikahan


__ADS_3

Andika yang baru saja sampai kembali di kantornya langsung segera memulai menyelesaikan semua pekerjaannya lagi yang sempat dia tunda sebentar tadi, bahkan sekarang dia sudah terlihat serius membaca dokumen satu persatu yang ada di depannya.


Saat ini bukan hanya Andika yang berada di ruangannya, tapi juga ada Mario masih yang duduk di kursi yang berada di dekat meja Andika sembari menunggu Andika selesai membaca dokumen yang tadi sempat dia minta Andika untuk menanda tanganinya.


Dokumen yang Mario berikan pada Andika adalah dokumen penting yang hanya boleh Mario yang mengurusnya, karena Mario adalah tangan kanan Andika yang sudah bekerja bersama Andika sejak dia baru memulai kariernya. Jadi Andika harus membaca dokumen itu dengan teliti, makanya memerlukan waktu lebih lama dari yang lainnya.


Melihat Andika yang fokus membaca dalam hati Mario ada sedikit kekhawatiran terhadap tuannya, karena ini pertama kalinya Mario menemukan tuannya menyendiri lagi di taman setelah dia menikah dengan Tasya. Tadinya Mario memang ingin menanyakannya pada Andika, tapi dia mengurungkan niatnya karena dia berpikir ini adalah masalah rumah tangga tuannya yang orang lain tidak berhak ikut campur tanpa diminta.


"Ini dokumennya sudah saya tanda tangani, apa ada dokumen lainnya lagi yang harus saya tanda tangani sekarang?" Andika mendorong map berwarna biru yang berada di atas meja ke dekat Mario.


"Tidak ada tuan, untuk saat ini hanya itu saja tuan"


"Baiklah... Oh iya, tadi pertemuan dengan kliennya bagaimana hasilnya? Apa semuanya lancar-lancar saja kan tanpa saya?"


"Lancar tuan, semuanya berjalan dengan lancar dan bahkan klien tadi juga sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan anda tuan"


Andika langsung tersenyum mendengar perkataan Andika. "Bagus, Bagus... Saya memang tidak salah memilih kamu untuk menjadi sekertaris pribadi saya, kalau begitu sekarang kamu bisa lanjutkan pekerjaan mu dan nanti malam saya akan mentraktir kamu"


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu" Mario bangun dari duduknya dan membungkukkan sedikit badannya, sedangkan Andika hanya mengangguk pelan.


Setelah Mario keluar dari ruangan Andika, Laras bergantian masuk dengan membawa dokumen lain di tangannya. Andika yang melihat itu langsung menghela nafasnya, karena dia akan terlambat pulang lagi.


"Pak Andika, ini ada beberapa dokumen lagi yang harus anda tanda tangani dan saya juga ingin mengambil dokumen yang sudah selesai anda tanda tangan pak"


"Baiklah, letakkan dokumen itu di sini saja dan ini dokumen yang sudah selesai saya baca dan tanda tangan"

__ADS_1


Andika menunjuk tumpukan map hijau agar Laras meletakkan dokumen yang di pegangnya diatas map itu, dan Andika menunjuk tumpukan map merah untuk dokumen yang bisa Laras bawa keluar dari ruangan Andika.


Setelah melakukan sesuai yang dikatakan oleh Andika, Laras bukannya langsung keluar dari ruangan Andika tapi dia malah masih berdiri saja di dekat Andika seperti sedang menunggu sesuatu dan membuat Andika yang melihat menjadi bingung.


"Apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan pada saya?"


"Iya pak, ada sesuatu yang saya ingin tanyakan dengan bapak"


"Cepat katakan apa yang ingin kamu tanyakan, karena saya tidak punya banyak waktu"


"Sebelumnya saya minta maaf dengan anda pak, karena ini mungkin pertanyaan sensitif untuk anda"


"Langsung ke intinya saja dan jangan berbelit-belit, karena saya tidak bisa membiarkan kamu terus berdiri di sana dan mengganggu konsentrasi saya"


Andika yang baru saja akan menandatangani dokumen yang baru selesai di bacanya langsung terhenti karena mendengar Laras mengatakan hal itu, dia tidak menyangka kalau Laras bisa mengetahui tentang masalahnya dengan Tasya.


"Dari mana kamu tau tentang hal itu?" Andika menatap Laras dengan tatapan tajamnya dan mengeratkan genggaman tangan yang menggenggam pulpen.


"Pak Andika tidak perlu tau saya mengetahui semua itu dari mana, karena yang saya ingin tanyakan sebenarnya adalah. Apa anda memerlukan bantuan saya untuk memiliki anak pak? Kalau bapak ingin, saya bisa membantu anda"


Seketika Andika langsung mengeraskan rahangnya dan masih menatap Laras dengan tajamnya, bahkan tanpa berkata apa-apa karena dia benar-benar terkejut dengan apa yang Laras tawarkan padanya.


Walaupun begitu Andika tidak memarahi Laras dan menunggu apa yang akan Laras lakukan selanjutnya, kalau dia tidak memberikan jawaban apa-apa padanya dalam waktu lama.


"Pak Andika... Jadi bagaimana? Apa bapak setuju dengan tawaran saya?" Laras berjalan mendekati Andika.

__ADS_1


Mata Andika terus mengikuti pergerakan Laras sembari tersenyum miring padanya. "Punya keberanian yang cukup besar juga kamu ya, sampai-sampai berani menawarkan hal itu pada saya. Kenapa kamu menawarkan hal itu pada saya? Memangnya apa imbalan yang kamu harapkan dari saya?"


"Saya sengaja menawarkan itu pada anda karena saya ingin pak Andika merasa bahagia mendapatkan yang sangat bapak inginkan itu, dan untuk imbalannya menikahlah dengan saya pak" Laras memegang tangan Andika sembari memberikan senyumnya.


"Menikah dengan mu? Tapi kamu tau kan? Kalau saya ini sudah memiliki istri, jadi bagaimana mungkin saya menikahi mu?"


"Itu kan hal mudah pak, anda bisa saja menceraikan istri anda itu atau anda tetap bisa menikah dengan saya walaupun masih ada istri anda itu"


Andika yang mendengar hal itu langsung terkejut, dia tidak habis pikir dengan perkataan sekretaris barunya itu. Awalnya dia berpikir setelah Raisa sudah lama tidak mengganggunya dengan Tasya tidak akan ada orang lainnya lagi yang membuatnya pusing, tapi nyatanya dia salah Andika malah dihadapkan dengan Laras.


"Begitu ya? Kalau begitu, saya akan pikirkan lagi nanti ya dan sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya dulu! Karena saya masih harus menyelesaikan pekerjaan saya".


"Baiklah pak, saya akan tunggu jawaban dari anda" Andika mengangguk pelan dan Laras langsung berjalan keluar dari ruangan Andika sembari tersenyum.


"Lihat saja nanti, pak Andika pasti akan menerima tawaran ku" Laras berdiri sebentar di depan pintu ruangan Andika dan kembali ke mejanya.


Andika yang mendapatkan tawaran seperti itu dalam hatinya ada keinginan untuk menerimanya karena menurut Andika mungkin itu jalan satu-satunya agar dia bisa mendapatkan keturunan, tapi dia juga tidak ingin kalau hal ini nantinya akan menjadi boomerang untuk rumah tangganya.


"Bagaimana ini? Kalau saya menerimanya Tasya mungkin akan terluka, tapi kalau saya tidak menerimanya dan melepaskan kesempatan ini begitu saja mungkin akan lama untuk saya mendapatkan anak" Andika bermonolog sendiri sembari menatap pintu ruangannya yang baru dilalui Laras.


"Apa saya harus meminta pendapat Mario tentang tawaran ini?" Andika menambahkan perkataannya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Mario, tapi seketika dia meletakkan kembali ponselnya itu.


"Lebih baik saya tidak menanyakan pada Mario, karena saya tidak ingin lebih banyak orang yang tau tentang masalah ini"


Andika menghilangkan dulu pikirannya tentang masalah rumah tangganya dan kembali fokus dengan pekerjaannya lagi, karena hari ini dia ingin pulang lebih awal agar Tasya tidak keburu tidur.

__ADS_1


__ADS_2