
"Mas, aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang" Tasya berdiri di hadapan Andika yang sedang duduk di sofa sembari memainkan laptopnya.
Mendengar suara Tasya membuat Andika langsung mendongakkan kepalanya melihat Tasya yang sudah rapih dengan celana jeans biru dan kemeja putih yang selaras dengan tasnya, setelah menatap Tasya beberapa menit Andika meletakkan laptopnya di atas meja dan bangun dari posisi duduknya.
"Ayo sayang" Andika langsung menggenggam tangan Tasya dan membawanya pergi menuju rumah sakit.
Saat di perjalanan Tasya terus memainkan jarinya, karena ini pertama kalinya Tasya ke dokter kandungan dan jantungnya berdetak tidak karuan karena dia merasa gugup.
Andika yang melihat ekspresi wajah Tasya yang ketakutan, langsung menggenggam tangan Tasya dan mengusapnya dengan lembut. "Kamu kenapa, hmm?"
Tasya menoleh ke arah Andika sembari menggeleng pelan. "Aku engga kenapa-kenapa kok mas, hanya saja aku takut kalau dokter kandungannya akan menyuntik ku agar aku cepat hamil"
Setelah mendengar perkataan Tasya, Andika langsung tertawa. Bahkan membuat Andika bisa tertawa lepas untuk pertama kali dan membuat Tasya menjadi kesal dengan Andika, pasalnya di saat Tasya sedang berbicara serius Andika malah menertawainya.
Andika menghentikan tawanya saat melihat ekspresi wajah Tasya. "Apa kamu takut jarum suntik?" Tasya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Kalau begitu kamu dengarkan mas ya! Kita hanya akan konsultasi saja, jadi kamu engga perlu takut akan di suntik" Andika menoleh ke arah Tasya sebentar sembari memberikan senyumnya pada Tasya.
"Beneran mas? Nanti engga akan di suntik?"
"Iya benar sayang, lagi pula dokter untuk apa menyuntik kamu tanpa alasan"
"Iya juga ya mas, jadi aku engga perlu takut lagi" Andika hanya menganggukkan kepalanya.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan Andika langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong dan mengajak Tasya untuk segera turun, karena Andika ingin cepat-cepat bisa menanyakan semua pertanyaan yang sudah berada di kepalanya.
Saat mereka sampai di depan ruangan doker Nita sudah ada beberapa orang yang menunggu nama mereka dipanggil oleh suster, tapi berhubung Andika sudah buat janji dengan dokter Nita. Jadi mereka berdua bisa langsung masuk ke dalam ruangan, tanpa harus menunggu giliran lagi.
__ADS_1
"Selamat siang Pak bu, apa yang saya bisa bantu?" dokter Nita tersenyum saat melihat Andika dan Tasya masuk ke dalam ruangan.
"Siang juga dok" Andika menjawab sembari duduk di kursi yang berada tepat di depan meja dokter, dan dirinya langsung menjelaskan maksud tujuan mereka berdua.
"Apa bapak dan ibu sebelumnya sudah memeriksakan kesehatan kalian berdua masing-masing?" Andika dan Tasya menggelengkan kepala mereka bersamaan.
"Kalau saran saya bapak dan ibu periksakan dulu kesehatan kalian masing-masing, agar nantinya kita bisa mengetahui langkah apa yang harus diambil selanjutnya untuk menjalani program kehamilan. Bagaimana pak, bu?"
Tasya langsung menoleh ke arah Andika dan raut wajahnya seperti menanyakan pendapat Andika, sama halnya dengan Andika yang melakukannya juga dan membuat mereka berdua akhirnya sepakat untuk mengikuti saran dokter.
Mereka mengikuti semua prosedur untuk memeriksakan kesehatan mereka berdua, dan sebelum mendengar hasilnya dari dokter. Tasya dan Andika memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, karena jam makan siang sudah tiba.
Saat di cafetaria Andika terus mengomel karena Tasya hanya memakan roti dan air mineral saja, padahal Andika sudah menyuruhnya untuk memakan nasi. Tapi Tasya tetap saja tidak menuruti perkataan Andika, sampai akhirnya dia lelah dan membiarkan Tasya hanya memakan itu saja.
Seteleh selesai mengisi perut, mereka kembali ke ruangan dokter untuk mendengar dokter Nita membacakan hasil pemeriksaan mereka berdua karena Andika sudah sangat tidak sabaran mendengar hasilnya.
Andika langsung menoleh ke belakang untuk melihat ke arah Tasya. "Ada apa sayang?"
"Aku takut mas, aku takut kalau nanti hasilnya tidak seperti yang kita harapkan mas"
Andika membalikkan badannya ke arah Tasya sembari tersenyum dan langsung menangkup kedua pipi Tasya dengan tangannya. "Apa yang membuat kamu takut dengan hasilnya hmm?"
"Aku takut kalau hasilnya tidak baik kamu akan meninggalkan ku mas" Tasya memasang ekspresi wajah sedihnya dan menundukkan kepalanya.
"Hanya karena itu saja?"
"Iya mas, hanya itu saja. Aku benar-benar takut kalau kamu engga akan menerima ku lagi, bahkan aku juga takut kamu pergi mas"
__ADS_1
Mendengar perkataan Tasya, Andika langsung menarik Tasya ke dalam pelukannya dan mengusap surai rambut Tasya. "Semua ketakutan kamu itu tidak akan pernah terjadi, karena aku berjanji tidak akan pernah melakukan seperti apa yang kamu takuti"
"Apa yang kamu katakan itu benar mas? Kamu engga akan merubah perkataan kamu lagi kan mas?" Tasya mendongakkan kepalanya dalam pelukan Andika untuk menatapnya.
Andika langsung menganggukkan kepalanya. "Sekarang mas tanya sama kamu, kapan mas pernah merubah perkataan mas lagi atau mengingkari janji mas padamu hm?"
"Tidak pernah mas, mas Dika selalu menepati janji yang sudah di ucapkan"
"Kalau begitu, apa sekarang kamu bisa percaya dengan mas?" Tasya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
Setelah pembicaraan mereka selesai Andika tidak langsung mengajak Tasya untuk masuk ke dalam ruangan dokter, tapi dia membiarkan Tasya untuk berada di dalam pelukannya selama beberapa saat agar Tasya bisa tenang terlebih dahulu sampai akhirnya suster kembali memanggil mereka berdua.
Berhubung dokter sudah menunggu mereka berdua, jadi mau tidak mau mereka harus masuk ke dalam ruangan itu. Di saat dokter sedang membaca hasil pemeriksaan mereka berdua, Tasya terus menggenggam tangan Andika karena dirinya masih merasa gugup dan belum bisa tenang sepenuhnya.
"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja" Andika berbicara berbisik sembari tersenyum tipis dan menepuk-nepuk pelan tangan Tasya yang menggenggamnya.
Sebenarnya bukan hanya Tasya saja yang merasa gugup, Andika juga merasakan hal yang sama. Tapi dia menyembunyikannya semua perasaannya, karena dia tidak ingin Tasya tambah kepikiran tentang hal-hal negatif.
"Bagaimana hasilnya dok? Semuanya baik-baik saja bukan?"
Saat mendengar Andika membuka suaranya dokter Nita langsung meletakkan lembaran kertas yang dia pegang ke atas meja dan memasang ekspresi wajah yang sulit diartikan, walaupun begitu Andika tetap optimis dengan hasilnya.
"Sebelum saya memberitahu hasilnya, saya harap bapak dan ibu bisa menerima dengan ikhlas apapun hasilnya" Andika dan Tasya mengangguk bersama.
"Begini pak, bu. Setelah saya melihat hasil pemeriksaan bapak dan ibu, dengan sedikit menyesal saya mengatakan kalau ada sedikit masalah yang sepertinya akan menunda ibu Tasya untuk bisa hamil" dokter Nita mengatakan hal itu sembari melihat Andika dan Tasya secara bergantian.
"Apa masalahnya dok? Apa masalah itu di sebabkan oleh kesehatan saya?"
__ADS_1
"Bukan pak, tapi penyebabnya karena....." walapun mereka sudah bisa menebak penyebabnya ada di mana, tapi Andika dan Tasya tetap akan menunggu penjelasan dari dokter Nita langsung.