Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Kejutan Untuk Tasya II


__ADS_3

Pagi ini Andika masih menunggu Tasya bersiap-bersiap, karena hari ini dia ingin membawa Tasya ke suatu tempat untuk memberikan kejutan yang Andika janjikan padanya beberapa hari lalu


"Mas, kok tumben sih kamu bolehin aku keluar? Biasanya kan aku harus selalu berada di tempat tidur saja"


Andika menggenggam kedua tangan Tasya sembari mengusapnya. "Bukannya kamu bilang kamu bosan selalu berada di dalam kamar terus? Jadi kali ini mas biarkan kamu untuk menghirup udara di luar, lagipula mas juga ingin memberikan kamu kejutan"


"Kejutan? Kejutan apa mas? Dan juga dalam rangka apa kamu memberikan aku kejutan mas?"


"Tidak dalam rangka apa-apa, mas memang berniat memberikan kamu sesuatu. Apa kamu lupa? Waktu itu mas pernah bilang akan memberikan kamu kejutan"


Tasya diam untuk beberapa saat untuk mencoba mengingat-ingat kembali perkataan Andika, sampai akhirnya Andika bertanya kembali apa Tasya berhasil mengingatnya atau tidak.


"Hum... Iya mas aku ingat kok sekarang mas"


"Ya udah kalau kamu sudah ingat, lebih baik kita turun ke loby sekarang saja ya dan menunggu Mario di sana" Tasya langsung mengangguk pelan dan mengambil tasnya di atas meja rias.


Walaupun hari ini Andika memperbolehkan Tasya untuk keluar, tapi bukan berarti Andika membebaskan pergerakan Tasya dan tidak melarang setiap hal yang Tasya lakukan.


Sampai saat ini Andika masih terus melarang Tasya dan bahkan lebih banyak hal yang tidak boleh Tasya lakukan, seperti melarang Tasya untuk menggunakan high heels dan juga melarang Tasya untuk berjalan terlalu cepat.


Bahkan saat mereka berdua berada di dalam lift, Andika juga terus menjaga perut Tasya saat ada orang yang masuk ke dalam lift yang sama dengan mereka berdua walaupun orang itu tidak terlalu dekat dengan Tasya.


...****************...


Saat mereka berdua sampai di depan loby apartemen untuk menunggu Mario, Tasya langsung menarik nafasnya dalam-dalam sembari tersenyum. "Hah... Akhirnya setelah sekian lama aku bisa menghirup udara segar di luar lagi" Tasya terus melakukan hal itu sampai Mario menghentikan mobilnya di depan Tasya dan Andika.


Saat Mario baru ingin membukakan pintu untuk Tasya dan Andika, tapi Andika sudah lebih dulu membuka pintu belakang mobil karena Andika ingin terus mengawasi Tasya.


"Mas, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa jalannya terlihat asing untuk ku"


"Ke suatu tempat yang pasti akan kamu suka"

__ADS_1


Di tengah pembicaraan Andika dan Tasya, Mario tiba-tiba saja menginjak pedal rem dan membuat kepala Tasya terbentur kursi di depannya. Andika yang melihat hal itu langsung panik dan menatap tajam ke arah Mario.


"Apa tuan dan nyonya baik-baik saja? Maafkan saya tuan, tadi ada kucing yang menyebrang tuan"


"Sudah, lebih baik sekarang kamu pindah ke kursi samping dan biar saya yang bawa mobilnya"


"Tapi tuan...." Andika tidak menghiraukan perkataan Mario, dia malah langsung turun dari dalam mobil dan membuka pintu tempat kemudi.


"Cepat pindah!" Mario yang melihat Andika sudah tidak bisa diajak bicara lagi langsung turun dan pindah ke kursi penumpang, begitu juga Andika yang langsung melajukan kembali mobilnya secara perlahan setelah menggantikan posisi Mario di kursi kemudi.


"Mas... Kalau jalannya seperti ini, kapan kita akan sampai di tempat tujuannya?"


"Kalau aku bawa seperti Mario, nanti yang ada malah kejadian seperti tadi. Jadi lebih baik aku bawanya seperti ini saja"


"Hem, ya sudahlah mas terserah kamu saja" Tasya langsung diam dan hanya melihat keluar jendela.


Bukan hanya Tasya yang tidak sabar untuk cepat sampai di tempat tujuan mereka, tapi Mario juga merasakan hal yang sama walaupun dia tidak bisa mengungkapkannya. Pasalnya Andika membawa mobil benar-benar sangat pelan, bahkan mirip seperti jalannya siput.


Setelah dua jam lebih menempuh perjalanan akhirnya mereka bisa sampai di tempat tujuan dan Andika memberhentikan mobilnya di halaman rumah yang dari depannya sudah terlihat sangat mewah, Tasya yang baru saja turun dari mobil pun langsung takjub melihat rumah dengan halaman yang sangat luas.


"Tunggu sebentar mas! Ini rumah siapa mas? Aku belum pernah ke rumah ini sebelumnya, apa ini rumah orang tua kamu?"


Andika menggeleng pelan sembari memberikan senyumnya. "Bukan sayang, orang tua ku kan sudah lama tiada dan rumah ini adalah rumah kita berdua yang aku baru membelinya"


"Ini beneran rumah kita mas?"


Andika hanya mengangkat kedua alisnya dan langsung membawa Tasya masuk ke dalam untuk melihat isi rumah baru mereka dan memastikan apakah Tasya menyukainya atau tidak.


Saat Tasya masih mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah itu, Andika langsung menanyakan pendapat Tasya tentang rumah itu. "Gimana sayang? Apa kamu suka sama rumahnya?"


"Iya mas... Aku suka kok sama rumah ini, tapi apa rumah sebesar ini benar-benar akan menjadi rumah kita mas?"

__ADS_1


"Iya sayang, ini akan menjadi rumah untuk keluarga kecil kita dan mulai hari ini kita akan tinggal di sini"


"Kalau kita langsung tinggal di sini, lalu bagaimana dengan barang-barang kita di apartemen mas? Kita juga kan belum berpamitan dengan Tata mas" Tasya menatap Andika dengan tatapan sayu nya.


"Kita bisa mengurus itu besok, kamu tidak keberatan kan sayang?"


"Baiklah mas, kalau gitu aku ikut perkataan kamu saja"


"Baguslah kalau begitu. Oh iya, ada satu hadiah lagi yang mas ingin berikan untuk kamu"


"Ada lagi mas? Hadiah apa lagi memangnya?"


"Ikut aku" Andika langsung membawa Tasya menuju taman belakang rumah.


Saat mereka berdua sampai di taman belakang Tasya langsung menghentikan langkahnya karena sedikit terkejut, pasalnya Tasya pikir hanya dia dan Andika saja yang ada di sana. Tapi ternyata Salsa dan Tata juga sudah berada di sana, hal itu langsung membuat Tasya menjadi penasaran.


"Mas, kenapa Tata dan Salsa bisa ada di sini juga?" Tasya memberikan pertanyaan pada Andika tanpa mengalihkan pandangannya dari Tata dan Salsa.


"Nanti akan mas jelaskan ya, sekarang kita ke sana dulu untuk menemui mereka" Andika memberikan senyumannya dan langsung melanjutkan langkahnya lagi, begitupun juga dengan Tasya.


"Om Andika, akhirnya om sampai juga di sini. Tata dari tadi sudah penasaran loh om, kenapa om Andika minta Tata dan kak Salsa berada di rumah ini dari semalam?"


"Tata sayang, apa boleh sekarang Tata panggil om dengan sebutan papah?"


"Boleh kok om, tapi kenapa Tata harus panggil om papah?"


Andika tersenyum sembari duduk di samping Tata. "Tata harus panggil om papah, karena mulai hari ini Tata adalah anak papah Andika dan mama Tasya"


Perkataan Andika seketika langsung membuat Tasya membulatkan matanya, dia benar-benar tidak percaya Andika mengikuti permintaannya untuk mengadopsi Tata. Karena waktu Tasya meminta Andika melakukannya, Andika bersikeras menolaknya.


"Mas, kamu engga lagi bercanda kan?"

__ADS_1


"Andika menoleh ke arah Tasya sembari tersenyum dan mengusap kepala Tata. "Untuk apa mas bercanda tentang masalah seperti ini, mas serius dan suratnya juga sudah di urus dengan Mario"


Tasya yang benar-benar senang mendapat dua hadiah sekaligus dalam satu hari dari suaminya langsung memeluk Andika dan tidak berhenti mengucapkan kata terima kasih pada Andika.


__ADS_2