Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Menenangkan Pikiran


__ADS_3

Beberapa menit setelah Tasya pergi meninggalkan ruang kerja Andika, Andika jadi kehilangan konsentrasinya dan membuatnya jadi tidak bisa kembali fokus bekerja lagi. Dalam hati Andika benar-benar merasa bersalah dengan Tasya atas perlakuannya, tapi dia juga merasa semua itu harus dia lakukan.


Sebenarnya Andika tidak ingin melakukan hal itu pada Tasya, tapi karena banyaknya pikiran yang mengganggunya membuat dia jadi berlaku dingin terhadap Tasya selama beberapa hari belakangan ini dan hal itu membuat pikiran Andika menjadi tambah tidak karuan lagi.


"Saya engga bisa begini terus, kalau pikiran ini tidak segera di hilangkan saya tidak akan bisa fokus dan bekerja secara profesional" Andika bermonolog sendiri sembari melihat berkas yang di pegangnya.


"Lebih baik sekarang saya pergi keluar dulu sebentar untuk mencari udara segar dan menenangkan pikiran saya, siapa tau setelah pikiran saya tenang saya bisa mulai bekerja kembali dan menyelesaikan semuanya dengan baik"


Setelah menambahkan perkataannya Andika langsung membereskan tumpukan map yang berada di atas mejanya dan juga mematikan laptopnya, karena di dalam laptopnya berisi data penting perusahaan.


Saat semua sudah selesai Andika keluar dari ruangannya dan menemui Laras untuk memberitahu kalau dia akan pergi keluar, karena takutnya ada orang penting yang datang mencarinya.


Baru saja Andika ingin masuk ke dalam lift karena pintunya sudah terbuka tiba-tiba Mario memanggil dan menghampirinya, membuat Andika langsung mengurungkan niatnya dan membiarkan pintu lift tertutup kembali.


"Untunglah saya masih sempat bertemu dengan anda tuan" Andika berdiri di depan Andika dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat seperti kelelahan habis berlari jarak jauh?" Andika langsung bertanya karena dia melihat Mario yang mengatur nafasnya saat sudah mengatakan perkataan barusan pada Andika.


"Ada dokumen yang harus anda tanda tangani tuan, dan tadi saya sempat ke ruangan anda. Tapi kata Laras anda baru saja pergi, makanya saya langsung coba mengejar anda ke sini"


"Begitu ya, kalau gitu letakkan saja dokumennya di atas meja saya, karena saya ingin pergi keluar dulu sebentar"


"Baik tuan, apa anda ingin saya antar tuan?"


"Tidak perlu, saya pergi sendiri saja dan kamu tolong handle pertemuan saya dengan client di restoran permata jam sepuluh pagi nanti ya" Andika kembali menekan tombol lift.

__ADS_1


"Baik tuan, saya akan laksanakan perintah anda"


"Kalau begitu saya pergi dulu ya"


"Iya tuan, hati-hati di jalan tuan“


Andika hanya menganggukkan kepalanya dan menepuk bahu Mario sebelum akhirnya dia masuk ke dalam lift, sedangkan Mario menundukkan kepalanya untuk memberi salam pada Andika sebagai tanda dia menghormati Andika.


...****************...


Awalnya Andika mengendarai mobilnya tanpa tujuan yang jelas, sampai akhirnya dia memutuskan untuk singgah di taman yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Andika berkeliling sebentar di dalam taman itu dan duduk di salah satu kursi di sana, sembari melihat orang yang berlalu lalang di depannya.


Cukup lama Andika berada di sana sampai dia melihat pasangan suami istri yang sedang bermain bola dengan anak laki-lakinya, melihat itu membuat hati Andika memiliki perasaan ingin melakukan hal yang sama seperti mereka lakukan dengan Tasya.


Tanpa sadar senyum Andika terbit di bibirnya, karena dia terus berpikir hal yang indah itu bisa terjadi juga dalam hidupnya dan tidak membuat dirinya menjadikan seperti yang sekarang ini bahkan sampai menyakiti hati Tasya.


"Papah" anak itu terus-menerus mengatakan hal itu pada Andika dengan suaranya yang menggemaskan dan membuat Andika yang mendengarnya langsung membulatkan matanya.


"Aku tidak salah dengar kan? Anak ini terus memanggil ku dengan sebutan papah? Apa aku bermimpi ya?" Andika mencubit lengan tangannya dengan kencang dan seketika dia langsung merasa kesakitan.


"Kamu sedang apa sih mas? Sampai mencubit diri kamu sendiri kayak gitu"


Mendengar suara dan panggilan yang tidak asing untuknya Andika langsung menoleh ke arah sumber suara itu berasal, dan benar saja pemilik suara itu adalah Tasya yang sudah berdiri di belakang anak itu abadi melipat kedua tangannya di depan dada.


Tasya yang melihat Andika hanya melamun dan melihat ke arahnya saja langsung mengibaskan tangannya di depan wajah Andika sembari terus memanggilnya berkali-kali sampai Andika tersadar dan kembali melihat anak itu.

__ADS_1


"Kamu engga kenapa-kenapa kan mas? Kenapa kamu mencubit diri kamu sendiri tadi? Bahkan kamu juga sempat melamun dan engga menjawab panggilan anak kita mas, apa ada yang kamu pikirkan mas?" Tasya kembali bertanya di saat Andika sudah benar-benar sadar.


"Anak? Jadi anak kecil ini beneran anak ku?" Bukannya menjawab Tasya, Andika malah menjawab dengan melemparkan pertanyaan pada Tasya.


"Iya mas di Farel anak kamu, masa kamu lupa sih sama anak sendiri. Apa jangan-jangan kamu juga lupa, kalau kamu yang ajak kami berdua ke taman ini untuk piknik mas?"


"Eh! Engga kok sayang, aku mana mungkin lupa semua hal itu. Tadi aku hanya mengetes kamu saja, takutnya kamu bukan istri ku"


"Kamu ngomong apa sih mas? Udah yuk! Lebih baik sekarang kita main bola lagi sama Farel mas" Tasya menggandeng tangan Farel dan membawanya berjalan lebih dulu meninggalkan Andika yang masih duduk.


"Bagaimana bisa aku tiba-tiba memiliki anak? Bukankah Tasya sulit untuk hamil ya, dan juga bukan tadi aku sedang berada di taman sendirian?" Andika bertanya dalam harinya sembari menatap punggung Tasya dan anak kecil itu.


Saat Andika baru akan berdiri untuk menyusul Tasya dan Farel yang semakin menjauh, seketika seseorang memegang bahu Andika untuk menahan kepergiannya sembari terus memanggil namanya.


"Tuan, sadar tuan. Anda kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu di sini?" Mario terus menggoyangkan-goyangkan bahu Andika.


Setelah Mario coba memanggilnya dan menggoyangkan bahu Andika berkali-kali, akhirnya Andika sadar dan langsung menoleh ke arah Mario sebentar baru setelah itu dia melihat sekelilingnya dengan tatapan bingung.


"Yang tadi itu, jadi beneran hanya imajinasi ku saja saya? Tapi tadi terasa sangat nyata sekali" ucap Andika dalam hatinya.


"Mario? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Andika menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Seharusnya saya yang tanyakan itu pada anda tuan, kenapa anda berada di sini dan terus tersenyum sendirian?"


"Saya ke sini hanya mencari udara segar saja, ya sudah yuk! Kita kembali ke kantor sekarang" Andika bangun dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan Mario yang masih berdiri di tempatnya, karena Andika tidak ingin Mario mengetahui masalahnya.

__ADS_1


Setelah beberapa detik Mario melamun, akhirnya dia menyusul Andika yang sudah semakin menjauh dan hampir hilang dari pandangan Mario. Mereka langsung kembali ke kantor dengan mobil masing-masing, karena Mario ke taman itu setelah setelah bertemu klien jadinya dia membawa mobil sendiri.


__ADS_2