Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Saat Berdua


__ADS_3

Tasya terus mengingat acara makan malam bersama Andika kemarin, bahkan makan malam itu menjadi sesuatu kenangan yang sangat membahagiakan untuk Tasya yang bisa membuatnya terus tersenyum sendiri saat mengingatnya.


Di saat Tasya sedang masak seperti sekarang ini Tasya terus senyum-senyum sendiri, bahkan dia juga sampai tidak menyadari Andika yang datang ke dapur dan melihat ke arahnya sebentar dengan tatapan bingung.


"Kenapa kamu sendirian masaknya? Kemana Salsa? Kenapa dia engga bantu kamu masak?"


Tasya menoleh sebentar ke samping untuk melihat Andika yang berada di depan kulkas sembari mengaduk masakannya. "Salsa tadi bantuin aku di sini kok mas, tapi sekarang Salsa lagi aku suruh antar makanan untuk Tata mas"


"Begitu ya, kenapa bukan kita saja yang mengantarkannya?" Andika bertanya sembari membuka kulkas dan mengambil buah apel yang belum di potong.


"Aku kan masih masakin makanan untuk kamu mas, lagian sama saja mau Salsa ataupun kita yang mengantarnya yang penting Tata makan dengan baik"


"Iya kamu benar" Andika menggigit buah apel yang sedari tadi di pegangnya.


"Oh iya mas, apa kamu sudah lapar? Soalnya tidak biasanya kamu datang ke dapur dan bahkan sampai makan buah apel yang belum di potong"


"Aku hanya sedikit lapar, tapi itu tidak masalah. Aku masih bisa menunggu sampai kamu menyelesaikan masakan mu"


"Kalau begitu tunggu sebentar ya mas, sebentar lagi makanannya matang"


Andika hanya menjawab dengan menganggukkan pelan kepalanya, sedangkan Tasya kembali fokus pada sup yang sudah hampir matang.


Sesaat kemudian Andika yang melihat Tasya sangat terganggu dengan rambutnya, dia langsung meletakkan apelnya di atas kulkas dan berjalan ke belakang Tasya untuk memegangi rambutnya.


Awalnya Andika ingin mengikat rambut Tasya, tapi dia tidak memiliki ikat rambut. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk memegangi rambut Tasya sampai dia selesai masak, hal yang dilakukan Andika sekarang tambah membuat Tasya merasa lebih senang lagi.

__ADS_1


"Tangan kamu bisa sakit, kalau terus memegangi rambut ku seperti itu mas" Tasya mematikan kompornya dan memindahkan sup yang baru matang ke dalam mangkuk.


"Tidak apa-apa, dari pada kamu terus ke ganggu dengan rambut mu ini. Nanti yang ada masakan mu akan selesai lebih lama lagi, jadi lebih baik seperti ini" Tasya tersenyum mendengarnya dan langsung mengambil sesuatu dari saku apronnya.


"Sudah lepaskan saja mas, lagipula aku sudah selesai masaknya dan bisa aku ikat rambut ku menggunakan ini" Tasya menunjukkan ikat rambut berwana hitam dan berukuran seperti gelang pada Andika.


Tanpa basa-basi lagi Andika langsung mengambil ikat rambut di tangan Tasya dan meletakkan di pergelangan tangannya, Andika juga langsung merapihkan rambut Tasya dan mengikatnya perlahan agar Tasya tidak merasakan sakit.


Selesai melakukan itu Andika berdiri di samping Tasya dengan memasang ekspresi wajah kesal. "Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Kalau kamu membawa ikat rambut di saku mu"


"Hehehe... Tadi aku juga lupa mas, kalau aku membawanya dan sekarang aku baru mengingatnya. Maaf ya mas, aku jadi buat kamu memegangi rambut ku sampai selesai masak"


"Ya sudah lupakan saja, tapi lain kali kalau kamu mau masak ataupun makan. Kamu harus ikat rambut kamu dulu! Kalau tidak aku akan memotong rambut mu menjadi seperti ku, paham?"


"I-iya mas aku paham, aku akan coba mengingat terus perkataan kamu itu"


"Bagus, kalau begitu ayo kita makan sekarang!" Andika membawa mangkuk yang lumayan besar dan berisi sup hangatnya ke meja makan, sedangkan Tasya membawa mangkuk yang lebih kecil lagi.


Setelah Tasya mengambilkan makanan untuk Andika di piring, Andika langsung memulai makannya dan begitu juga dengan Tasya. Awalnya mereka makan dengan suasana hening dan hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring, tapi lama- kelamaan mereka berdua akhirnya membuka suara.


"Besok kamu ikut dengan ku ya" Andika sembari mengunyah makanannya dan melihat ke arah Tasya.


"Mau kemana mas? Kalau ke kantor kamu lagi dan nungguin kamu meeting, aku engga mau ikut mas. Soalnya aku ingin masuk bekerja besok, jadi kamu ke kantornya di temani Mario saja ya mas"


"Aku bukan mau membawa mu ke kantor, tapi besok aku akan membawa mu ke supermarket untuk belanja. Karena persediaan kopi instan ku sudah habis semua, lagipula kita akan pergi sore selesai aku pulang kantor"

__ADS_1


"Oh, ke supermarket. Ya sudah, kalau begitu kamu besok jemput aku kan mas?"


Sebagai jawaban Andika mengangkat alisnya sembari menganggukkan pelan dan setelah itu dia langsung melanjutkan makannya lagi, sedangkan Tasya sudah menghabiskannya saat mereka berbicara tadi.


Setelah Andika selesai makan Tasya langsung mencuci piring-piring dan alat masak yang tadi dia gunakan, tanpa di minta Andika membantu Tasya untuk menyusun piring yang sudah selesai di cuci.


"Beruntungnya aku bisa memiliki suami yang mau langsung membantu pekerjaan, walaupun dia seorang pebisnis kaya raya" ucap Tasya dalam hatinya sembari tersenyum sendiri lagi.


"Kalau aku perhatikan dari tadi, kenapa kamu jadi sering senyum-senyum sendiri ya?" Andika melihat ke arah Tasya dan rak piring yang ada di sisi kirinya secara bergantian.


"Soalnya saat tadi aku masuk ke dapur kamu sedang senyum-senyum sendiri, sekarang juga seperti itu. Kamu tidak lagi sakit bukan?" Andika memegang kening Tasya untuk memastikan apa Tasya baik-baik saja atau tidak.


Tasya langsung menghilangkan senyumnya setelah mendengar pertanyaan Andika. "Apaan sih kamu mas, aku ini masih sehat tau. Lagipula siapa yang senyum-senyum sendiri, aku dari tadi biasa saja kok mas dan mungkin kamu yang salah lihat kali"


"Aku tidak mungkin salah lihat, karena aku melihatnya sangat jelas"


"Tapi aku....."


Saat Tasya yang baru ingin membantah lagi perkataan Andika langsung terhenti, karena Salsa tiba-tiba datang dan langsung ingin mengambil alih pekerjaan Tasya dan Andika.


Tasya yang awalnya berdebat dengan Andika, sekarang jadi berubah dan dia jadi berdebat dengan Salsa. Karena Tasya tetap ingin melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Salsa tidak bisa membiarkan Tasya melakukan hal itu.


Andika yang sudah pusing melihat Tasya dan Salsa yang saling berebut piring, akhirnya Andika terpaksa mengeluarkan mode marahnya yang belum pernah Tasya lihat sebelumnya.


Sekarang akhirnya Tasya mau mengalah, karena Andika yang seperti itu sangat menyeramkan baginya dan sekarang Tasya dibawa oleh Andika ke ruang TV supaya Tasya beristirahat dan menyerahkan sisa pekerjaannya pada Salsa.

__ADS_1


__ADS_2