
Sejak saat Tasya mengetahui kebohongan Andika terhadapnya, sudah dua hari Tasya masih juga marah dengan Andika dan tidak ingin berbicara dengan Andika. Tasya hanya berbicara seadanya saja pada saat Andika bertanya padanya, bahkan bukan hanya itu saja dia juga selalu menghindar saat berada di satu ruangan bersama Andika kecuali di kamar.
Walaupun tidak berpisah kamar dengan Andika, tapi saat sudah berada di atas tempat tidur Tasya selalu berbaring dengan posisi membelakangi Andika. Sehingga Andika hanya bisa melihat wajah istrinya setelah Tasya tertidur dengan lelap, kalau tidak begitu Andika tidak akan bisa melihat wajah Tasya karena dia belum mau tidur menatap Andika.
Bahkan sama halnya seperti sekarang ini, saat Tasya yang baru keluar dari kamar dan sudah berniat untuk sarapan sebelum berangkat bekerja langsung mengurungkan niatnya saat melihat Andika yang masih berada di meja makan. Tasya akhirnya memutuskan untuk langsung berangkat ke restoran, walaupun tanpa sarapan terlebih dahulu.
Andika yang melihat Tasya melangkahkan kakinya, dia langsung membuka suaranya untuk menghentikan langkah Tasya. "Sarapan lah dulu sebelum kamu berangkat! Kalau tidak nanti kamu akan sakit"
"Tidak perlu, aku ingin langsung berangkat saja" Tasya menghentikan langkahnya dan menjawab perkataan Andika sembari berdiri membelakangi Andika.
"Kalau begitu biar aku mengantar mu ya" Andika langsung bangun dari posisi duduknya, bahkan dia juga langsung mengambil kunci mobil dan berjalan menghampiri Tasya.
"Tidak perlu, Aku bisa menggunakan bus saja" Tasya baru akan melangkahkan kakinya lagi, tapi tangannya sudah lebih dulu di genggam Andika.
"Aku tidak menerima penolakan, jadi aku akan tetap mengantar kamu sampai restoran"
Andika langsung melangkahkan kakinya dan membawa Tasya pergi ke parkiran apartemen walaupun Tasya terus memberontak dan meminta Andika untuk melepaskan tangannya, tapi Andika tetap saja membawanya dan tidak menghiraukan perkataan Tasya sama sekali.
Saat sampai di parkiran Andika meminta Tasya untuk masuk ke dalam mobilnya, tapi terus-menerus Tasya tolak dan dia hanya berdiri mematung saja di samping Andika tanpa bergerak sedikit pun kecuali menggelengkan kepalanya walaupun pintu mobilnya sudah Andika bukakan untuk Tasya.
"Sayang... Ayolah! Masuk ya ke dalam mobil ya, supaya kita bisa segera berangkat" Tasya lagi-lagi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Berhubung Andika yang sudah sangat kesal dengan penolakan Tasya yang terus-menerus terhadapnya, akhirnya Andika langsung menggendong Tasya dan memasukkannya ke dalam mobil. Begitupun juga dengan dirinya yang juga langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya, setelah dia selesai memasangkan seatbelt untuk Tasya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Tasya hanya diam dan melihat keluar jendela saja, walaupun Andika terus mengajaknya berbicara. Tasya melakukan hal itu sampai mereka sampai di restoran, bahkan Tasya hanya berpamitan seadanya saja dengan Andika agar dia bisa segera turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam restoran.
Andika yang tidak menyukai cara berpamitan Tasya langsung ikut turun juga dari mobilnya dan mengejar Tasya untuk memintanya berpamitan ulang dengan cara yang benar, tapi sayangnya Tasya tidak mau melakukan hal itu sampai dia masuk ke dalam dapur restoran.
Tasya langsung menghentikan langkahnya saat melihat Andika ikut masuk ke dapur. "Kamu mau ngapain ikut masuk ke sini juga mas?"
"Aku ingin meminta kamu untuk mengulang cara berpamitan kamu terhadap ku"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Aku akan tetap berada di sini dan mengikuti kamu terus, sampai kamu mau melakukannya"
"Ya sudah, kalau begitu lakukanlah sesukamu" Tasya melanjutkan langkah kakinya, dan begitu juga dengan Andika yang mengikuti langkah Tasya.
Tasya yang sudah merasa tidak nyaman terus-menerus di ikuti Andika, dan bahkan beberapa orang yang sudah berada di dapur juga terus mengikutinya. Akhirnya Tasya mau tidak mau berpamitan ulang dengan Andika di depan teman-temannya, tanpa terkecuali dengan Rara.
Tasya terpaksa memberikan senyumnya untuk Andika sembari menggerakkan bola matanya untuk meminta Andika keluar dari dapur, karena Tasya tidak ingin yang lain tau kalau dia sedang bertengkar dengan Andika kalau Andika berlama-lama di sana.
Bukannya langsung pergi, Andika malah membungkukkan badannya untuk berbisik di telinga Tasya sembari tersenyum miring. "Aku akan pergi setelah kamu mencium pipi ku dulu"
Tasya yang mendengar permintaan Andika langsung membulatkan matanya dan berbicara sembari mengadu gigi atas dan bawahnya karena menahan rasa kesalnya. "Jangan yang aneh-aneh deh mas! Di sini banyak teman-teman kerja ku, dan lagi pula aku juga masih kesal sama kamu. Jadi lebih baik sekarang kamu ke pergi ke kantor aja sana!"
"Itu hal mudah untuk ku" Andika kembali menegakkan badannya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Andika langsung menyuruh seluruh pekerjaannya yang berada di dapur untuk membalikan badannya agar mereka tidak bisa melihat saat Tasya mencium pipi Andika, bahkan Andika juga mengatakan kalau sampai ada yang berani bergerak atau membalikkan badannya kembali akan dirinya pecat.
"Mereka sudah tidak akan melihatnya, jadi kamu bisa mencium pipi mas sekarang. Kalau kamu tidak mau melakukannya, mas juga tidak mau pergi dari sini"
"Ish, nyebelin banget sih mas Andika! Bisa-bisanya dia manfaatkan keberadaan mereka agar aku menuruti permintaannya" ucap Tasya dalam hatinya sembari menatap Andika dengan ekspresi wajah kesalnya.
"Jadi kamu tetap tidak mau ya? Ya sudah, kalau begitu aku tetap berada di sini sampai kamu pulang kerja" Andika melipat ke dua tangannya di depan dadanya.
Tasya akhirnya mengalah dan menghela nafasnya sebelum akhirnya dia mencium pipi kanan Andika, sedangkan Andika langsung tersenyum karena merasa senang sudah berhasil membuat Tasya melakukan hal yang biasa dia lakukan walaupun sedang marah padanya.
"Semuanya sudah aku lakukan, sekarang kamu cepetan keluar dari sini!" Tasya berbicara dengan suara pelan sembari mendorong pelan Andika.
"Ya sudah, mas pergi ke kantor dulu ya. Kamu senang kerjanya, dan kalau ada apa-apa langsung hubungin mas ya" Andika tersenyum sembari mengacak rambut Tasya dan dia juga langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari dapur.
Setelah Andika sudah benar-benar menghilang dari pandangan Tasya, Tasya langsung meminta semua temannya untuk kembali bekerja. Semuanya langsung mengikuti perkataan Tasya, kecuali Rara yang malah berjalan menghampiri Tasya.
"Sya, lu lagi bertengkar ya sama pak Andika?" Rara bertanya sembari melihat ke arah pintu untuk berjaga-jaga takut Andika kembali lagi.
"Engga kok Ra, gue cuma lagi sedikit kesal aja sama dia karena bohong sama gue"
"Emangnya pak Andika bohong apaan sama lu Sya"
"Ceritanya panjang Ra, nanti deh gue ceritain ya. Mendingan sekarang kita kerja dulu, yuk!"
__ADS_1
"Ya udah, ayo Sya" Rara berjalan lebih dulu untuk mengurus pesanan yang baru saja datang dari pelanggan restoran.
Tasya masih diam di tempatnya sembari menatap ke arah pintu sampai akhirnya dia menghampiri Rara, karena Rara memanggilnya untuk meminta bantuannya.