
Semenjak kejadian sore itu dirumahnya,Sisi memutuskan untuk menghindari Saka,nomor Saka diblokir,yang mengantar cake kekantornya pun,asistennya.dan sekarang ia sudah tak mempekerjakan asisten bawa'an Saka,ia tidak mau asisten itu selalu melapor apapun yang ia lakukan .sekarang ia mempunyai asisten yang ia cari sendiri.karena usahanya yang semakin maju,ia mempekerjakan dua asisten sekaligus.ia berencana kalau udah lewat empat puluh hari puteranya,ia akan mencari kios kembali ,untuk memperluas usahanya.
***
Sedangkan dikantor,Saka selalu tak fokus akan pekerjaannya.Raditlah yang menjadi imbasnya.Ia selalu mencoba menghubungi Sisi,namun tak bisa.dan ia mencoba menggunakan ponsel Radit,yang saat ini berada diruangannya.
"pinjam ponsel bentar"ucap Saka.
dan Radit memberikan ponselnya,dengan melirik Saka.Tak lama ponsel Radit sudah tersambung ke nomor Sisi,yakinlah Saka bahwa nomornya sudah diblokir Sisi.
"halo....."jawab seseorang dari seberang sana.Suara yang sangat Saka kangeni.
Saka tak menjawab,ia hanya ingin mendengar suara Sisi.
"Dit?"ia mengernyitkan dahi "Dit...Radit"lalu ia menjauhkan ponsel dari telinganya.
"kenapa nelpon ,kalo nggak mau ngomong.Ganggu orang aja"gerutu Sisi.
Saka yang mendengar gerutuan Sisi dari seberang sana,menyunggingkan senyumnya.Ia begitu kangen dengan Sisi,yang selalu marah kalau ia menggodanya.
__ADS_1
Radit tampak memperhatikan Saka.
"dasar gila!"dalam hatinya.
"ni ponsel Lu...” diletakknnya diatas meja,dan langsung diambil Radit.lalu Radit ingin memeriksa ponselnya yang baru saja dipakai Saka.
"gue habis nelpon Sisi" sela Saka cepat.ia melihat Radit yang tampak memeriksa ponselnya.
karena Saka mengatakan itu,lalu ia memasukkan ponselnya ke kantong celananya.
Disaat Radit sibuk mengerjakan pekerjaannya.
Radit menghela napasnya pelan."Nggak penting banget,Lu nggak liat ada yang lebih penting? maksudnya pekerjaannya.tapi Radit berucap dalam hati.
Lalu ia mendongakkan kepalanya,melihat Saka ."Kadang si,nggak sering juga."jawabnya.
Radit tau kalau Sisi sedang menghindari Saka .
****
__ADS_1
Sudah satu bulan,Saka dan Sisi tidak bertemu.Sisi tampak biasa saja,toh dia sudah terbiasa hidup sendiri.
sekarang Radit sudah ada dirumah Sisi,ia kangen aja sama Shakell yang tambah gembul itu.
"nggak terasa ya Si,shakeel udah gede aja?"
"Iya....."jawab Sisi.ia bahagia karena anaknya tumbuh sehat,nggak rewel.Kayaknya Shakeel ngerti akan keadaan bundanya.
"Si,kamu nggak mau ngembangin usahamu,gitu?"tanya Radit.
"maunya si gitu ,Dit.Tapi Shakeel masih terlalu kecil,kesian kalo aku tinggal"kata Sisi sedih kalau ia harus meninggalkan Shakeel,walaupun ada yang mengasuh.
"kamu cari aja tempat yang kamu bisa usaha,sekaligus tempat tinggal"usul Radit.
"nanti kamu sekalian buka cafe dan resto,Kalo kamu nggak ada modal,pakek uang aku aja,itung-itung aku nanem saham diusaha kamu"kata Radit.
"boleh juga tuh Dit.kalo masalah uang,uangku cukup kok.nanti kamu bantuin aku cari tempat yang bagus ya? kata Sisi.
"sip"kata Radit.
__ADS_1
Sisi rasa uang simpanannya cukup.untuk mengembangkan usahanya.sebenarnya ia ingin kuliah kedokteran,tapi biarlah nanti ia pikirkan masalah kuliah,yang penting saat ini ia ingin memajukan usahanya dulu.ia teringat kata ayahnya dulu 'kalo kita ingin maju,kita harus berani berkorban' ya ini ia berani mengorbankan cita-citanya.