
Sisi keluar dengan senyumannya,langkahnya terasa enteng ,berbeda ketika ia baru datang,terasa berat untuk melangkah.Ia harus sedikit berterima kasih akan kedatangan Angel,karena keberadaan Angel,membuat Saka tidak dapat berbuat apa apa.Uhh..ternyata Saka bukanlah lelaki gentle.Ia tidak dapat menentukan pilihan,bila memang ia mencintai Sisi,seharusnya ia menghindari Angel,tetapi ia tidak menghindari sama sekali,malahan menikmati.Tidak seharusnya kita manusia berharap dengan manusia,berharaplah pada sang Khalik,sesungguhnya Dia lah pemberi harapan pasti.
Kini Sisi sudah kembali lagi ke cafenya.
seorang karyawan mendekatinya setelah ia melangkah masuk.
"Bu,ada yang ingin bertemu dengan ibu"Ucap karyawannya.
Sisi mengerutkan dahi.Ia tidak pernah membuat janji dengan siapa pun itu,ia juga tidak pernah berhubungan dengan siapa pun,karena disini ia real sendiri membangun cafe,dan tidak membuat kerja sama dengan siapapun apapun bentuknya,wajar kalau ia bingung.
"itu disana orangnya"tunjuk karyawannya memecahkan pikiran Sisi.
__ADS_1
Sisi berpaling kearah dimana karyawannya menunjuk.Seseorang lelaki duduk membelakangi.Ia ragu untuk mendekat,ia tidak mengenal lelaki manapun dikota ini,kecuali Saka,Radit,dan karyawannya.ia memicingkan matanya,menilai sosok siapakah orang yang duduk membelakangi.Ia tidak dapat menilai,akhirnya ia berjalan mendekati.
"maaf,anda mencari say......."ucapan Sisi terhenti.Mulutnya masih terbuka,ia memalingkan wajahnya malas menatap orang yang berada didepannya ini.
Siapa lagi...Tyo yang ingin menemuinya.
"Si.....Mari duduk" ucap Tyo seraya menggeser kursi untuk diduduki Sisi.
Tyo menelan ludahnya,ia mengerti.Ia menghela nafas pelan.dan duduk kembali kekursinya.Baru saja Tyo menempelkan bokongnya.Sisi langsung menanyakan perihal kedatangannya.
"mau apa? langsung saja Saya sibuk! "ucap Sisi seraya melihat arloji ditangannya.Ia memalingkan wajahnya,ia tidak ingin bertatapan langsung dengan mata elang itu,yang dulu sangat ia rindukan.
__ADS_1
Tyo menelan ludahnya lagi,ia menghela nafasnya lagi,Sungguh kekuatannya menghilang melihat Sisi yang sekarang.Kemana mulut sadis Tyo dulu,yang selalu menghina Sisi.Ia sungguh benar benar merindukan gadis didepannya ini.Gadis kecilnya dulu.Ia tersenyum sendiri mengingat masa kecilnya bersama Sisi,Ia tidak dapat menyangka takdir kehidupannya sesakit ini.Ia ingin memeluknya meluapkan kerinduannya.Tapi takdir berkata lain,ternyata ia tidak bisa melakukannya.Perbuatanyalah yang menjadikan Sisi wanita yang kuat,tegar seperti yang ia lihat sekarang.
"maafkan aku" ucap Tyo,hanya itu yang dapat ia ucapkan.
Sisi menoleh,menatapnya.Sisi tersenyum tipis,tipis sekali,hingga Tyo tidak menyadarinya.
"Aku bukanlah pendendam,sudah kumaafkan.Saya permisi" jawabnya lalu berdiri meninggalkan Tyo sendiri.
Tyo hanya duduk diam,ia tidak mencegah kepergian Sisi.Ia mengusap wajahnya kasar.Sumpah demi apapun ingin sekali ia berontak meluapkan emosinya.Bukan seperti ini yang ia inginkan,ia ingin berbicara dengan Sisi,Ia ingin Sisi mendengarkan apa yang ia inginkan.Tapi Sisi pergi,tidak memberikan ia kesempatan untuk berbicara.Lama ia duduk,jarinya mengetuk ngetuk meja cafe.Cukup lama,akhirnya ia berdiri dan membenarkan pakaiannya.Ia melangkah menuju dimana ruangan Sisi berada,ia tidak ingin kedatangannya hanya sia sia tidak mendapatkan kepastian apapun.Beruntung bagi Tyo saat ini tidak ada kryawan yang berada didekat ruangan Sisi,jadi ia bisa leluasa masuk.
TERIMA KASIH YANG SUDAH MAMPIR KE TULISAN SAYA.
__ADS_1