
Jangan lupa like, komentar, dan vote yah.
Selamat membaca :)
***
"Aku baru saja datang ke Demon Galaxy, aku juga baru saja ingin membuat tim," Yang Xiu berkata dengan tenang, "Kita masih harus mencari 3 orang lagi!"
"..." Gu Tianji terdiam mendengar itu.
Mencari 3 atau 4 memang mudah, tapi masalahnya adalah kualitas.
Menurut Gu Tianji, minimal adalah seorang yang mempunyai bakat untuk menerobos Realm Lord tahap 8, jika di bawah itu, maka lupakan. Namun, sosok seperti itu juga pasti sudah memiliki kelompok atau tim sendiri, bagaimana kau bisa menemukannya dalam waktu dekat?
"Apa kau ada ide, Tianji?"
Gu Tianji tampaknya sedang berpikir, "Jika tuan muda ingin mencari yang kualitas biasa-biasa saja, maka pasti ada banyak! Namun, jika kualitas luar biasa dan masing nganggur, maka kita setidaknya harus pergi ke Guard-Guard lain untuk melihat-lihat."
Gu Tianji mengatakan seolah dia memiliki kuasa atas mengambil orang-orang. Tapi Yang Xiu yakin Gu Tianji bisa melakukan itu, terlebih lagi ibu Gu Tianji adalah seorang Holy Ancestor.
'Bawahan yang berguna!' Yang Xiu tersenyum jahat dalam hatinya.
"Idemu cukup bagus, tapi aku sepertinya akan sibuk belakangan ini, jadi nanti ketika aku ada waktu, kita akan pergi!" Yang Xiu bangkit berdiri dan menyeruput anggur sampai habis.
"Baik, Tuan Muda!" Gu Tianji mengangguk, dan menyaksikan Yang Xiu berjalan pergi dari tempatnya, sepertinya pergi ke salah satu kamar di rumah ini.
***
Masuk ke salah satu kamar, Yang Xiu duduk di atas kursi panjang.
"Baiklah, mari lihat." Yang Xiu mengeluarkan manik dunia kecil milik Gu Tianji dan memasukkannya ke dalam dunia internalnya.
Di dalam manik dunia kecil milik Gu Tianji yang sekarang sudah menjadi milik Yang Xiu. Kehidupan di dalamnya cukup kuno dan sangat tertinggal, bahkan cultivator terkuat hanyalah Emperor tahap 1 saja.
Suatu hari, pada suatu waktu, tiba-tiba dunia bergetar kuat seolah terjadi gempa bumi yang dahsyat.
"Kiamat!"
"Kiamat!"
Beberapa manusia biasa berhamburan keluar dari dalam rumah mereka dan jatuh tersungkur ke tanah sambil meminta ampun kepada dewa-dewa yang mereka yakini.
Pada saat selanjutnya, seluruh isi dunia kecil itu diselimuti oleh sebuah kesadaran spiritual yang amat kuat, bahkan tidak masuk dalam logika para Emperor di dunia tersebut.
Swish!!
__ADS_1
Seketika semua makhluk, baik itu manusia, maupun monster beast menghilang dari dunia tersebut dan muncul kembali di dunia baru yang menurut mereka mirip tapi beda.
Kualitas energi spiritual di tempat tersebut jauh berbeda, itu bukan apa yang bisa mereka bayangkan.
"Ini pasti pemberian sang dewa!" beberapa yang berpikiran kuno mengatakan hal yang serupa atau mirip.
Sementara mereka yang cultivator emperor curiga bahwa ini karena adanya campur tangan dari makhluk kuat lain yang berada di luar jangkauan mereka.
Pada suatu waktu, ketika semuanya terjatuh dalam kebingungan, suara yang penuh dominasi terdengar di antara langit dan bumi.
"PERGI ...!!"
"JELAJAHI ...!!"
"KUASAI ...!!"
"DUNIA INI ... JAGALAH DENGAN BAIK!!!"
Setelah suara itu berlalu seperti suara terompet yang bising di telinga setiap orang, maka semuanya pun segera bergegas dan berpisah dari tempat mereka dikumpulkan.
Mereka para manusia terbagi dan pergi ke berbagai penjuru dunia, sedangkan para monster juga melakukan hal yang serupa.
***
Seperti kehidupan pada umumnya, kematian dan kehidupan mengalami siklus tanpa hentinya.
Era-era mulai berganti dengan era yang lebih baru. Hingga sekarang merupakan tahun ke-500 kalender Kaisi.
...
Kota West Wind.
Sebuah kota di barat dunia yang sangat jauh, namun terkenal karena ada Emperor tahap 8 yang tinggal di dalamnya beserta beberapa Emperor tahap 7.
Kota West Wind adalah kota yang ada di bawah dominasi West Wind Sect, dan beberapa kekuatan serta keluarga kelas 2 di dalamnya.
Yang dimaksud keluarga atau kekuatan kelas 2 adalah mereka yang mempunyai cultivator terkuat di antara ranah Emperor tahap 4 hingga Emperor tahap 6, sedangkan di bawah itu adalah kekuatan kelas 3, dan di atasnya adalah kekuatan kelas 1.
Suatu tempat di pinggiran kota, sebuah tenda didirikan, ini merupakan tempat penjualan mie pangsit yang cukup terkenal di pinggiran kota.
Di dalam tenda itu, seorang pemuda berambut merah duduk, pakaiannya terlihat seperti seorang dari kampung.
Dia memang Yang Xiu, yang sedang membaur dengan masyarakat di dalam dunia internalnya ini.
"Nyonya tua, aku pesan satu pangsit, dengan sambal!" Yang Xiu berkata seolah-olah dia benar-benar orang biasa.
__ADS_1
"Ah, baik! tunggulah sebentar!" seorang wanita tua berambut putih dan agak gemuk, menjawab dari tempat masak.
Selang beberapa menit berlalu, wanita tua itu datang dengan membawa semangkuk pangsit kepada Yang Xiu.
"Ini pertama kalinya aku melihat kau di sini, apa kau pendatang baru?" Wanita tua itu bertanya kepada Yang Xiu.
Yang Xiu menjawab: "Ya, karena bakatku yang buruk, aku hanya bisa mencapai ranah Golden Core tahap 1. Namun aku merasa ini sudah batasku dan aku tidak akan bisa maju lagi, jadi aku memutuskan untuk meninggalkan kampungku dan pergi menikmati sisa hidupku ini."
"Jadi begitu ..." Wanita tua itu terlihat tersenyum, "Wanita tua ini juga memiliki kultivasi yang rendah, hanya True Martial Artist ... aku benar-benar mengecewakan sang dewa, padahal energi spiritual sangat kaya di dunia ini."
Yang Xiu mengangguk, "Itu takdir, aku rasa bahkan jika dewa itu benar-benar ada, dia juga masih terikat dengan takdir."
"Haha, sudahlah." Wanita tua tersebut menggelengkan kepalanya dan pergi kembali ke tempat memasak.
Yang Xiu pun lanjut memakan pangsitnya secara perlahan-lahan.
'Lumayan enak.'
Ketika sedang sibuk dengan pangsitnya, tiba-tiba kain tenda sedikit diangkat dan seorang wanita masuk dengan perut cukup membesar.
Melihat wanita ini, Yang Xiu sedikit menyipit.
"Xiao Jia, kau datang!" Wanita tua pemilik kedai datang dan berbicara dengannya.
Xiao Jia tersenyum tipis dengan wajah lelah, "Nenek Ci. Aku pesan satu bubur hangat saja."
"Oh, baiklah." Wanita tua itu tersenyum dan pergi untuk menyiapkan semangkuk bubur hangat untuk Xiao Jia.
Ketika pemilik kedai kembali dan memberikannya bubur hangat, wanita tua itu nampak kasihan sambil melirik perut Xiao Jia.
"Nenek Ci, aku ..."
"Hmm ..." Nenek Ci sepertinya mengabaikannya dan melirik Yang Xiu yang sepertinya dari waktu ke waktu selalu melihat ke arah Xiao Jia.
"Nenek Ci?" Xiao Jia kebingungan.
"Ah, baik. Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku ingin teh."
"Baiklah, baiklah." Nenek Ci bangkit berdiri dan berjalan pergi.
« Bersambung! »
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan vote yah. Terima kasih telah membaca :)
__ADS_1