
Setelah puding selesai di masak, Sandra menunggu sebentar sampai hangat, lalu dia masukan ke dalam lemari es agar lebih cepat set. Sembari menunggu proses itu, Sandra memutuskan untuk bersiap dan mengganti baju rumahan yang saat ini dia pakai dengan baju yang lebih layak untuk dia gunakan keluar. Nanti, sebelum ke kantor Daven, Sandra akan menjemput Aileen terlebih dahulu dan mengajaknya kesana.
Terlihat saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 siang, itu artinya 30 menit lagi kelas Aileen selesai. Dengan segera Sandra mengambil puding buatannya dan menyusunnya kedalam sebuah kotak. Tidak lupa juga tadi Sandra membuat fla untuk pelengkap puding.
Semuanya sudah beres, Sandra langsung mengambil kunci mobilnya. Apa Sandra akan menyetir mobil sendiri? Jawabannya iya. Lalu apa Daven masih memperbolehkan Sandra untuk menyetir mobil sendiri? Jawabannya tidak tau. Karena Sandra dan Daven belum membahas masalah ini. Tapi selagi belum ada larangan dari Daven, tidak apa-apa kan kalau Sandra masih menyetir mobil sendiri?
"Bunda..." Aileen langsung bersorak girang saat dia mendapati Sandra menjemput dirinya sekolah.
Sandra yang melihat itu tersenyum.
"Jalan pelan-pelan aja sayang, nanti jatuh." Ujar Sandra mengingatkan.
Menuruti ucapan sang Bunda, Aileen memelankan langkahnya. Meski begitu, senyum masih tersungging dibibir manisnya. Sementara itu, dibelakang Aileen ada Suster Ati yang mengikuti langkah Aileen.
Begitu berada di dekat Sandra, Aileen langsung memeluk Bunda-nya itu. Setelahnya Sandra langsung membawa Aileen masuk ke dalam mobil. Kali ini gadis cilik itu ingin duduk disamping Sandra. Meski begitu, Sandra tidak lupa untuk memasangkan seat belt kepada putrinya itu.
"Kita ke kantor Daddy yuk. Aileen mau nggak?" Tanya Sandra.
"Ke kantol Daddy? Ilin mau...." Jawab Aileen dengan semangat.
Untuk mengusir sepi selama di mobil, Sandra mengajak Aileen mengobrol.
"Gimana sekolahnya? Aileen happy?" Tanya Sandra kepada Aileen.
Aileen menganggukkan kepalanya.
"Happy... Tadi Ilin nyanyi didepan temen-temen sama Miss." Jawab Aileen.
Sandra tersenyum seraya memperlihatkan wajah antusiasnya.
"Oo iya? Aileen nyanyi emangnya?" Tanya Sandra.
"Kasih Bunda." Jawab Aileen.
__ADS_1
Sandra mengerutkan dahinya. Sandra baru tau kalau ada lagi dengan judul Kasih Bunda. Karena yang Sandra tau, judulnya Kasih Ibu.
"Bukan kasih ibu?" Tanya Sandra lagi.
Aileen menggelengkan kepalanya.
"Bukan, kasih Bunda." Jawab Aileen.
"Kok Bunda baru tau judul lagu itu ya, coba Aileen nyanyiin lagi. Bunda pengen denger Aileen nyanyi deh." Ujar Sandra.
Aileen tersenyum saat mendengar kalau Sandra ingin mendengar dia menyanyikan lagu itu lagi.
"Kasih Bunda... Kepada Ilin... Tak telhingga sepanjang masa... Hanya membeli, tak halap kembali... Bagai sang sulya menyinali dunia..." Aileen benar-benar menyanyikan lagu itu dengan semangat.
Mendengar nyanyian Aileen, jujur saja Sandra merasa terharu. Saking terharunya Sandra bahkan rasanya ingin menangis. Tapi sebisa mungkin Sandra menahannya. Karena kalau Sandra menangis, Aileen pasti akan beranggapan kalau Sandra sedih. Karena diusianya ini, Aileen belum tau kalau menangis itu bukan karena sedih saja. Karena bahagia dan terharu pun bisa membuat seseorang menangis.
Untuk meramaikan, Suster Ati memberikan iringan dengan tepuk tangan.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Sandra sampai juga di kantor Persada Group. Tujuan Sandra tentu saja langsung ke ruangan Daven. Saat ini Sandra menggandeng tangan Aileen.
Begitu sampai di ruangan Daven, Aileen melepaskan genggaman tangan Sandra dan langsung masuk begitu saja.
"Sulplisee..." Ujar Aileen seraya berteriak.
Kalau boleh jujur, Daven terkejut dengan apa yang Aileen lakukan. Tapi saat Daven sadar kalau yang melakukan itu adalah putrinya sendiri, Daven yang tadinya mau marah akhirnya tidak jadi. Apalagi saat melihat dibelakang Aileen, ada Sandra juga. Daven tentu saja bertambah bahagia.
Aileen langsung berjalan cepat kearah Daven. Tanpa kata, gadis cilik itu langsung naik dan duduk ke pangkuan.
Melihat itu, Sandra tersenyum.
"Duduk dulu sus." Ujar Sandra kepada Suster Ati. Kemudian Sandra meletakkan puding yang dia bawa ke atas meja.
"Daddy lagi kelja ya?" Tanya Aileen kepada Daven.
Daven menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya, Daddy lagi kerja sayang." Jawab Daven dengan lembut.
Kalau Aileen melakukan hal ini disaat Daven masihlah Daven yang dulu, mungkin Daven akan langsung marah. Tapi sekarang rasanya untuk memarahi Aileen, Daven bahkan tidak mampu.
Sementara itu, Daven memberikan kode kepada Sandra untuk menghampiri dirinya. Sandra yang melihat itu pun segera menghampiri Daven.
Begitu Sandra ada disampingnya, Daven langsung meraih pinggang Sandra mengusap dengan lembut perutnya.
Celotehan-celotehan Aileen tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja gadis cilik itu minta untuk diantarkan ke tempat Uncle Davi kesayangannya. Tentu saja Suster Ati yang bertugas untuk mengantarnya.
Dan sekarang, hanya ada Sandra dan Daven saja di ruangan ini. Begitu Aileen dan Suster Ati keluar, Daven langsung menarik Sandra untuk duduk diatas pangkuannya.
"Aku nggak ganggu pekerjaan Abang kan?" Tanya Sandra kepada Daven.
Daven tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Enggak, kamu sama sekali nggak ganggu." Jawab Daven.
Sandra juga tersenyum.
"Oo iya, aku tadi bikin puding. Abang mau?" Tanya Sandra.
Daven mengerutkan dahinya.
"Bikin sendiri?" Ujar Daven balik bertanya.
Sandra menganggukkan kepalanya.
"Iya, bikin sendiri. Rasanya enak kok, tadi aku udah cobain." Jawab Sandra.
Padahal Daven mengatakan itu bukan karena dia meragukan hasil masakan Sandra. Daven mengatakan itu karena sejujurnya dia khawatir kalau membuat puding justru membuat Sandra lelah. Karena Daven tidak ingin Sandra sampai kelelahan.
"Aku percaya kalau puding buatan kamu pasti bakalan enak." Ujar Daven. "Boleh aku cobain sekarang?" Tanya Daven.
Sandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Boleh banget dong." Jawab Sandra.
Sandra beranjak dari pangkuan Daven, kemudian membuka kotak berisi puding yang dia bawa.
Melihat puding buatan Sandra, Daven yakin kalau rasanya pasti akan sangat enak.
Sandra beranjak untuk mengambil piring dan sendok di pantry Daven. Dengan segera dia memotong puding itu, dan menyiramnya dengan Fla yang juga dia buat sendiri.
Namun, kali ini fokus Daven justru kepada lengan Sandra yang terlihat memerah. Kulit Sandra yang putih terlihat sangat kontras karena adanya warna kemerahan di lengannya. Daven sendiri baru melihat karena saat ini Sandra menggunakan blouse lengan panjang.
Saat Sandra memberikan piring berisi puding itu, Daven justru kembali meletakkannya di atas meja. Kemudian menarik Sandra dengan lembut agar duduk di sampingnya. Meski bingung, tapi Sandra menurut.
Daven menyingkap lengan blouse yang Sandra gunakan. Hingga sekarang Daven bisa melihat lengan Sandra yang ternyata warna merahnya terlihat cukup lebar.
"Ini kenapa?" Tanya Daven kepada Sandra.
Sandra terdiam, sejujurnya dia sengaja menggunakan blouse berlengan panjang guna untuk menutupi warna merah di tangannya.
"Kenapa sayang?" Tanya Daven saat Sandra tidak kunjung menjawab pertanyaan.
__ADS_1
Sandra menghela nafas.
"Tadi ketumpaham sedikit cairan puding yang masih panas." Jawab Sandr jujur.