
Pagi tadi Sandra mendapatkan kiriman tahu susu dari Viola. Dan seperti biasa, kalau soal makanan pasti Sandra akan langsung semangat. Terlebih tahu susu ini kata Viola rasanya enak sekali. Mendengar informasi itu, Sandra tentu saja menjadi sangat tidak sabar.
"Bunda... Udah matang belum? Aku mau tahu susu nya." Ujar Sandra dengan tidak sabar. Jangan heran kalau Sandra sampai seperti ini jika menyangkut soal makanan. Sandra sendiri tidak tau kenapa, dia hanya merasa sangat excited saja. Padahal sebelum Halim Sandra tidak pernah sampai seperti ini kalau soal makanan. Satu-satunya makanan yang dulu membuat Sandra excited hanya ayam goreng kakek yang menjadi favoritnya sejak kecil.
Bunda Sya tersenyum melihat Sandra yang tampak sudah tidak sabar.
"Sabar dek, ini lagi Bunda goreng. Sebentar lagi matang kok, tunggu krispi dulu." Jawab Bunda Sya.
Sandra menunggu tahu susu matang dengan sangat tidak sabar. Dan setelah menunggu selama hampir 10 menit, akhirnya tahu susu pun selesai di goreng.
"Nanti dulu, ini masih panas dek. Nanti lidah kamu bisa-bisa melepuh." Ujar Bunda Sya mengingatkan.
Mendengar itu, Sandra menghela nafas pelan. Lagi dan lagi dia diharuskan untuk menunggu. Padahal Sandra sudah sangat tidak sabar ingin menikmati tahu susu itu. Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi. Sandra harus menurut, karena apa yang Bunda Sya katakan itu untuk kebaikan dirinya. Kalau Sandra nekat makan tahu susu itu sekarang, bisa-bisa lidah Sandra akan melepuh seperti yang Bunda Sya katakan.
Tapi Sandra tidak kehabisan ide, agar tahu susunya cepat dingin, Sandra memutuskan untuk membelahnya menjadi 2. Dengan begitu bagian dalam tahu akan cepat dingin. Bunda Sya yang melihat apa yang Sandra lakukan hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Bumil yang satu ini memang ada saja idenya.
"Gimana? Enak?" Tanya Bunda Sya saat Sandra menyuapkan tahu susu yang sudah agak lebih dingin.
Sandra yang sedang mengunyah tahu dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Heem, enak banget Bun. Rasanya creame, beda dari tahu yang biasanya." Jawab Sandra. "Ngomong-ngomong Kak Viola bawain banyak enggak Bun?" Tanya Sandra.
Bunda Sya tertawa kecil dengan kelakuan Sandra.
"Bawain banyak, itu kamu bisa puas makan tahu-nya. Kalau masih kurang nanti Bunda pesenin online. Atau kalau enggak minta tolong Pak Ahmad buat beliin ke Lembang." Jawab Bunda Sya.
Tidak lama kemudian Ayah Radit turun dan terlihat tampak segar karena baru saja mandi.
"Ada apa nih, kok bawa-bawa Lembang." Ujar Ayah Radit.
Saat ini di rumah memang hanya ada Sandra, Bunda Sya dan Ayah Radit. Karena Daven sudah berangkat ke kantor, Aileen juga sudah berangkat ke sekolah. Sementara para embak, beberapa sedang belanja ke pasar dan yang lainnya sedang bersih-bersih di lantai 2.
"Ini tahu susu dari Lembang yang Viola kasih, Yah." Jawab Bunda Sya.
Ayah Radit menganggukkan kepalanya.
"Ooo tahu susu. Ayah kira apa." Jawab Ayah Radit.
__ADS_1
Setelahnya Ayah Radit duduk di meja makan ikut bergabung bersama dengan Bunda Sya dan juga Sandra. Tidak lupa Ayah Radit juga mencicipi tahu susu yang katanya dari Viola itu. Karena nyatanya tahu susu juga salah satu makanan yang Ayah Radit suka.
"Enak..." Ucap Ayah Radit.
Siapa sih yang menyangkal kelezatan tahu susu? Rasanya hampir tidak ada. Jarang sekali ada orang yang tidak suka tahu susu. Sandra bahkan belum pernah menemukan orang yang tidak suka dengan makanan putih dan lembut ini.
"Iya kan Yah enak. Nanti kalau tahu susu yang di kulkas habis beliin lagi ya Yah." Ujar Sandra.
Dan tentu saja dijawab dengan anggukan kepala oleh Ayah Radit. Timbang tahu susu kan? Gampang.
Saat ini Sandra tengah makan siang bersama dengan Bunda Sya dan Ayah Radit. Yap, makan lagi. Sebagian besar waktu yang Sandra miliki saat ini memang dia habiskan untuk makan. Setelah tadi Sandra menghabiskan kurang lebih 15 pcs tahu susu, kini perutnya masih sangat cukup untuk diisi dengan nasi beserta lauk pauk yang lain. Apakah karena banyak makan maka berat badan Sandra bertambah drastis? Jawabannya iya, tapi percayalah, tubuh Sandra tidak segemuk yang kita kira. Meski berat badan Sandra naik sampai 17 kg, tapi tubuh Sandra masih tetap semampai. Mungkin ini karena Sandra memiliki tubuh yang tinggi, dan kebetulan dia juga hamil kembar. Jadi sebagian besar beratnya berasal dari perutnya.
Selesai makan siang, Sandra mengobrol bersama dengan Bunda Sya dan Ayah Radit. Ya, mereka memang keluarga yang sering mengobrol. Maka jangan heran kalau keluarga Santoso memiliki kedekatan yang cukup erat.
Dari informasi yang Dokter Susan berikan, tidak jarang bayi kembar akan lahir lebih awal dibandingkan dengan bayi tunggal. Salah satu alasan yang Sandra ingat, penyebabnya adalah ketuban pecah dini. Dan itu juga yang dulu terjadi kepada Aleera.
Bunda Sya menganggukkan kepalanya.
"Iya, seingat Bunda dulu Aleera melahirkan pas usia kandungan 8 bulan. Emangnya...."
Belum selesai Bunda Sya menjawab pertanyaan Sandra, tiba-tiba ponsel milik Ayah Radit berbunyi.
__ADS_1
"Kendra." Ujar Ayah Radit memberitahu Bunda Sya.
Meskipun Bunda Sya tidak meminta untuk diberitahu, tapi Ayah Radit berinisiatif sendiri untuk memberitahu. Dan ini memang sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.
"Assalamualaikum, Bang. Ada apa?" Ujar Ayah Radit.
"Wa'alaikumsalam Ayah, ini Abang mau kasih tau. Kalau sekarang Rendra ada di rumah sakit. Tadi kepala Rendra pusing terus demam tinggi, jadi Abang bawa ke rumah sakit dekat kantor." Ujar Kendra memberitahu.
"Iya, Ayah kesana sekarang." Jawab Ayah Radit dengan tenang.
Setelah itu telfon dimatikan. Kini Ayah Radit menatap Bunda Sya dan Sandra.
"Kata Kendra, Rendra pusing dan demam, jadi sekarang dia ada di rumah sakit." Ujar Ayah Radit.
Bunda Sya yang mendengar kabar kalau putranya masuk rumah sakit tentu saja sangat terkejut. Begitu juga dengan Sandra. Meski begitu, Bunda Sya tidak bertanya apa-apa, dia langsung mengajak Ayah Radit untuk bersiap dan segera ke rumah sakit.
"Adek ikut, Bun." Ujar Sandra.
Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bunda Sya. Saat ini Bunda Sya memang tampak tenang dan tidak banyak bicara. Tapi percayalah, jauh didalam hatinya saat ini Bunda Sya sedang sangat cemas. Ibu mana yang tidak cemas saat anaknya sedang sakit. Tidak ada, semua ibu pasti akan mencemaskan anak mereka.
__ADS_1