
"Loh, HP aku mana ya?"
Panik? Tidak juga, Daven hanya merasa bingung kenapa dia tidak bisa menemukan ponselnya. Sementara saat ini Daven harus segera menghubungi Sandra untuk mengetahui dimana istrinya itu saat ini berada.
Tidak menunggu lama, Daven langsung meraih telfon yang ada di atas meja kerjanya. Ponsel tidak ada? Jangan dibuat pusing, toh masih ada telfon. Lagi pula Daven sangat yakin kalau Sandra juga tidak akan pergi jauh. Karena apa? Karena barang-barang milik Sandra masih ada disini. Dugaan Daven sementara ini sih sepertinya Sandra sedang ada di cafetaria. Kenapa Daven bisa berpikir seperti itu? Tidak ada alasan khusus, hanya sekedar feeling saja.
Tut... Tut...
"Halo..." Terdengar suara Sandra menyapa telinga Daven.
"Halo sayang, kamu dimana? Ini aku udah selesai rapat." Ujar Daven.
Sandra terdiam sejenak, mungkin tidak mengira kalau nomer asing yang menelfon dirinya adalah Daven. Karena memang Sandra tidak menyimpan nomor telfon ruangan Daven. Saat masih menjadi sekretaris Daven dulu, Sandra juga tidak pernah menyimpannya. Karena biasanya telfon ruangan Daven hanya digunakan untuk menghubungi Sandra yang juga melalui telfon di ruangannya.
"Oohh Bang Cio... Ini aku lagi di cafetaria, Bang. Tadi tiba-tiba pengen makan dimsum, jadi aku turun kesini deh. Tapi tadi aku udah minta izin sama Abang lewat WA kok. Bang Cio belum baca ya?" Tanya Sandra.
Kan, sesuai dengan dugaan Daven, Sandra saat ini berada di cafetaria.
"Aku enggak tau HP aku dimana, kayanya ketinggalan di rumah. Ini makanya aku telefon kamu pakai telfon kantor." Jawab Daven. "Jadi sekarang kamu di cafetaria? Aku kesana ya." Ujarnya lagi.
Setelah Sandra mengatakan iya, sambungan telefon dimatikan oleh Daven. Dengan segera Daven keluar dari ruangannya untuk menghampiri istrinya yang saat ini sedang asik menikmati dimsum di cafetaria.
Sementara itu, saat ini Sandra tampak asik menikmati makanan-makanan yang tersaji di mejanya. Loh bukannya tadi Sandra pengennya hanya makan dimsum? Ya memang iya, awalnya Sandra memang hanya ingin makan dimsum saja. Tapi begitu sampai cafetaria dan melihat banyak sekali makanan-makanan enak, Sandra jadi kalap sendiri. Coba bayangkan, saat ini belum jam istirahat kantor, otomatis tidak banyak orang yang ada di cafetaria. Sementara Sandra saat ini sedang duduk di cafetaria dengan banyaknya makanan di atas meja.
__ADS_1
Tanpa Sandra sadari, nyatanya saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian beberapa penjual yang ada disini. Bukan apa-apa, mereka hanya takjub saja dengan banyaknya makanan yang Sandra pesan. Ya sebenarnya cukup wajar, karena saat ini Sandra sedang hamil, terlebih hamil kembar. Tapi tetap saja, mereka yakin kalau Sandra tidak akan bisa menghabiskan makanan-makanan itu.
Saat Sandra sedang menikmati es pisang ijonya, tidak lama kemudian Daven datang. Dan ya, Sandra tidak menyadari kedatangan Daven karena dia terlalu fokus dengan es pisang ijo dan juga ponselnya. Sembari makan, Sandra juga menonton film. Sangat menyenangkan bukan? Sandra seolah lupa kalau saat ini dia sedang berada di cafetaria, bukan di rumahnya sendiri.
Daven yang melihat itu tersenyum, namun sedikit menggelengkan kepala saat melihat banyaknya makanan yang tersaji diatas meja. Padahal ukuran meja cafetaria bisa dikatakan cukup besar, karena dipasangkan dengan 6 kursi. Tapi meja yang cukup untuk 6 kursi itu penuh hanya dengan makanan Sandra. Selain ada dimsum, yang mana itu adalah makanan yang tadi Sandra bilang kalau dia ingin makan itu, ada juga es pisang ijo yang sedang Sandra makan. Ada empek-empek, ada siomay bumbu kacang, ada bakso, ada jasuke, ada rujak buah, ada es jeruk, ada Boba, dan ada es krim yang saat ini sudah tampak sedikit mencair. Kira-kira siapa yang akan menghabiskan semua makanan itu nantinya? Entahlah, tapi yang jelas Daven yakin kalau Sandra tidak akan bisa menghabiskan semua makanan itu.
Tanpa kata, Daven langsung duduk di kursi kosong yang ada disamping Sandra. Dan Sandra belum juga menyadari keberadaan Daven.
Melihat Sandra yang tampak fokus dengan film di ponselnya, Daven dengan iseng mengambil es pisang ijo yang ada di depan Sandra. Hal ini membuat Sandra seketika menoleh karena terkejut ada orang yang tiba-tiba saja mengambil es pisang ijo miliknya. Saat Sandra tau kalau yang mengambil es pisang ijo miliknya adalah Daven, seketika Sandra tersenyum.
Daven menyuapkan pisang ijo kedalam mulutnya sebelum menjawab pertanyaan Sandra. Setelah tertelan, barulah Daven menjawab pertanyaan Sandra.
"Aku udah disini agak lama, tapi kamu tetap fokus sama HP sampai-sampai enggak sadar kalau aku duduk disamping kamu." Jawab Daven.
Sandra tersenyum malu-malu mendengar jawaban Daven. Sandra sendiri tidak tau kenapa dia bisa sampai tidak sadar dengan kedatangan Daven.
__ADS_1
"Ini semua kamu yang pesen?" Tanya Daven kepada Sandra.
Dengan semangat Sandra menganggukkan kepalanya.
"Iya, ini semua aku yang pesen. Tadi waktu beli dimsum tiba-tiba aku pengen ini semua juga. Kayanya tuh enak banget gitu." Jawab Sandra dengan senyum lebarnya.
Daven sendiri tetap dengan senyum yang tersungging dibibirnya.
"Yakin ini semua bisa habis? Ini banyak banget loh Yang." Ujar Daven.
Daven pikir Sandra akan menganggukkan kepalanya, tapi ternyata Daven salah. Karena Sandra menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban kalau dia sendiri pun tidak yakin bisa menghabiskan semua makanan ini.
"Aku tau ini banyak banget, dan aku juga tau kalau ini enggak akan habis kalau aku sendiri yang makan. Jadi, kita sharing aja ya Bang. Biar enggak mubazir." Ujar Sandra kepada Daven.
Nahkan, kalau sudah seperti ini maka Daven yang harus membantu Sandra menghabiskan makanan-makanan ini. Kalau soal ini sih Daven sudah tidak terkejut. Sudah biasa kalau Sandra memesan banyak makanan tapi ujung-ujungnya Daven yang diminta untuk menghabiskan.
"Kebiasaan." Ujar Daven seraya menyentil hidung Sandra pelan.
__ADS_1
Bukannya kesakitan, Sandra justru tertawa. Dan interaksi romantis antara Daven dan Sandra tentu saja menjadi tontonan para pekerja cafetaria. Mereka cukup takjub saat melihat Daven bisa selembut itu. Pancaran cinta yang sangat besar juga tampak jelas terlihat dimata keduanya, terutama dimata Daven.