
Hari ini keluarga Santoso berduka, terutama Viola. Karena pagi tadi, Mama Nisa meninggal dunia. Tentu kabar ini sangat mengejutkan untuk semua orang. Mengingat Mama Nisa sendiri sebelumnya tidak dalam kondisi sakit. Ya, Mama Nisa meninggal mendadak diakibatkan serangan jantung.
Bersama dengan anggota keluarga yang lainnya, Sandra ke rumah Mama Nisa untuk mempersiapkan pemakaman Mama Nisa. Ayah Radit dan Kendra mengambil alih semua urusan soal pemakaman. Mengingat kondisi Viola sangat tidak memungkinkan, dan Rendra juga harus menjaga Viola.
Sejak mendengar kabar kalau Mama Nisa meninggal dunia, sudah beberapa kali Viola pingsan karena dia masih tidak menyangkal kalau Mama Nisa meninggalkan dirinya secepat ini. Sebagai saudara ipar, Sandra dan Aleera berusaha untuk menghibur Viola. Mereka berdua tidak pernah membiarkan Viola sendirian selagi Rendra sibuk mengurus pemakaman bersama dengan Ayah Radit dan Kendra.
Sementara yang lain disibukkan dengan urusan pemakaman, anak-anak dititipkan kepada baby sitter masing-masing. Karena biar kondisi yang sedang tidak kondusif tidak memungkinkan mereka untuk berada disini. Apalagi untuk Saga Dewa, baby Arora dan baby Letta yang usianya masih sangat kecil.
Setelah seharian berada di rumah Viola, malam hari setelah selesai pengajian barulah Sandra dan Daven pulang ke rumah. Begitu juga dengan Kendra dan Aleera. Sementara Ayah Radit dan Bunda Sya, mereka memutuskan untuk menginap guna menemani Viola dan Rendra. Ayah Radit dan Bunda Sya tentu saja merasa tidak tega kalau harus meninggalkan Rendra dan Viola hanya berdua saja. Biar bagaimanapun, keduanya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Sementara itu, Sandra, Daven, Kendra dan Aleera pulang ke kediaman keluarga Santoso. Mengingat anak-anak berada disana semua. Malam ini mereka akan menginap kembali disana. Mungkin sampai Ayah Radit dan Bunda Sya pulang ke rumah lagi.
"Usia manusia emang enggak ada yang tau ya Bang. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita ketemu sama Mama Nisa. Dan Mama Nisa juga dalam keadaan sehat. Tapi tiba-tiba aja sekarang Mama Nisa udah dipanggil sama yang maha kuasa." Ujar Sandra bergumam.
Meskipun Sandra bukan putri dari Mama Nisa, tapi Sandra juga merasakan sedih dan juga kehilangan yang amat sangat. Biar bagaimanapun Mama Nisa adalah orang yang baik. Selama ini Sandra juga sudah menganggap Mama Nisa seperti Mama-nya sendiri.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya, usia manusia memang enggak ada yang tau." Jawab Daven.
__ADS_1
Apa yang terjadi kepada Mama Nisa, sama dengan apa yang terjadi dengan Larisa. Dimana keduanya tiba-tiba saja meninggal secara mendadak.
Ini Daven bukan sedang mengingat atau kembali meratapi kepergian Larisa. Daven mendadak kepikiran soal itu karena memang keduanya meninggal secara tiba-tiba. Disaat kondisi mereka sebenarnya dalam keadaan sehat. Sebelum Larisa melahirkan, kondisinya bisa dikatakan sehat-sehat saja. Karena itulah Daven benar-benar syok saat Larisa meninggal dunia pasca melahirkan Aileen. Dan karena rasa tida terima-nya, Daven sampai-sampai tidak bisa mengikhlaskan kepergian Larisa selama bertahun-tahun lamanya. Hingga akhirnya Daven bisa mengikhlaskan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Dan semua itu tentu saja berkat dukungan Sandra juga. Sandra lah alasan utama Daven sampai pada akhirnya bisa ikhlas seperti ini.
Berhubung Sandra memiliki Saga dan Dewa, yang mana kedua putranya itu terkadang masih bangun tengah malam. Jadi baby Letta tidur bersama dengan Kendra dan Aleera bersamaan dengan baby Arora. Mengingat anak-anak Kendra dan Aleera yang lainnya sekarang ini sudah bisa tidur sendiri di kamar mereka. Arzan tidur bersama dengan Aidan, sementara Ariel tidur bersama dengan Aileen.
Setelah menyusui Saga dan Dewa, akhirnya ke dua bayi tampan itu tidur juga. Mungkin karena seharian ini mereka tidak bertemu dengan Sandra, jadi begitu bertemu, mereka langsung mengajak Bunda-nya bermain hingga malam cukup larut.
Begitu Sandra berbaring, Daven langsung menyusupkan tangannya pada pinggang ramping Sandra. Wajah Daven juga menyusup pada leher belakang Sandra yang tidak tertutup oleh rambut. Saat tidur, Sandra memang sering mengingat asal rambutnya ke atas, karena merasa tidak nyaman kalau rambut-rambut itu menempel pada lehernya.
__ADS_1
"Kalau kamu merasa ada yang sakit atau apapun itu, kamu harus kasih tau aku, sayang. Aku enggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa." Bisik Daven lirih.
Tidak dipungkiri kalau terkadang rasa takut akan kehilangan masih sering menyusup di dalam diri Daven. Apalagi setelah kejadian dimana Mama Nisa meninggal secara tiba-tiba bahkan tanpa sakit, Daven benar-benar takut kalau itu terjadi kepada orang-orang kesayangannya, terutama pada Sandra.
Sandra yang tau kalau saat ini Daven sedang merasa takut, mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Daven yang melingkari perutnya.
"Iya Bang, aku pasti bakal kasih tau Abang. Abang jangan khawatir ya... Sekarang tidur, ini sudah malam. Bang Cio juga pasti capek kan?" Jawab Sandra dengan lembut.
Sandra tidak ingin kalau Daven semakin larut dalam rasa takutnya. Untuk itu, Sandra meminta Daven untuk segera tidur. Setidaknya dengan begini Daven tidak akan memikirkan hal-hal yang tidak-tidak yang nantinya bisa saja mempengaruhi perasaannya.
__ADS_1