Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Mendatangi keluarga Santoso


__ADS_3

"Bohong, Abang tau kamu bohong, dek. Katakan yang sebenarnya. Atau Abang, Mas, dan Ayah yang akan mencari tau sendiri? Dan kalau sampai terbukti Daven memang menyakiti adek. Maka Abang akan membuat Daven membayar setiap kesakitan yang dia berikan ke adek." Jawab Kendra dengan suara tak kalah datarnya.


Dan Sandra tau, kalau ucapan Kendra sama sekali tidak main-main.


Sandra menarik nafas dalam-dalam sebelum dia memberikan penjelasannya kepada keluarganya.


"Apapun yang terjadi dalam rumah tangga adek, ini adalah salah kita berdua, termasuk adek juga. Dan kalaupun Bang Cio menyakiti adek, itu juga karena adek pun menyakiti Bang Cio. Pada intinya, kita sama-sama saling menyakiti. Karena itulah pada akhirnya adek memutuskan untuk lebih baik berpisah dari Bang Cio. Karena dengan begini, kita tidak akan saling menyakiti lagi." Jawab Sandra dengan nada tegas.


Sandra tidak mau kalau keluarganya menyalahkan Daven sepenuhnya atas semua yang terjadi kepada dirinya. Karena Sandra sepenuhnya sangat sadar kalau dia juga turut andil dalam semua permasalahan rumah tangganya bersama dengan Daven. Sandra tidak akan mengelak kalau disini, dia pun juga bersalah. Bahkan awal dari permasalahan ini adalah dirinya sendiri. Kalau saja Sandra tidak dibutakan oleh cintanya kepada Daven dan bisa berpikir dengan jernih, maka ini semua tidak akan terjadi.


Sudah dibilang, Sandra juga memiliki darah seorang Santoso. Meskipun Sandra manja, dia tetap memiliki sisi tegasnya sendiri. Sandra bukanlah seorang pecundang yang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri. Kalau Sandra salah, dia akan dengan tegas mengakuinya. Dan jika sudah seperti ini, maka Ayah Radit, Kendra, dan Rendra pun tidak akan bisa berbuat apa-apa.


"Jadi, adek benar-benar tidak akan memberitahu Ayah dan juga yang lain mengenai masalah yang sebenarnya terjadi antara adek dan Daven?" Tanya Ayah Radit.


Sandra menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Sandra tidak bisa memberitahu Ayah, Bunda, Abang, dan Mas. Biarlah masalah ini adek dan Bang Cio sendiri yang menyelesaikan. Tapi... Adek mohon, kalian bisa tetap support adek. Karena... karena itu yang sangat adek butuhkan sekarang ini. Dan... Maaf kalau adek udah bikin kalian semua kecewa dengan keputusan adek." Jawab Sandra dengan mata berkaca-kaca.


Melihat itu, Kendra dan Rendra langsung memeluk Sandra.


"Kita akan selalu support adek, jadi adek jangan khawatir soal itu." Bisik Kendra dengan suara yang lebih melunak.


"Iya, adek nggak sendiri. Ada Mas dan juga Abang. Ada Bunda dan Ayah juga." Tambah Rendra.


Bunda Sya dan Ayah Radit sendiri hanya bisa menatap ketiga anak mereka dengan tatapan nanar. Disisi lain mereka sangat sedih karena apa yang sedang terjadi dengan Sandra saat ini. Tapi disisi lain mereka juga bahagia karena anak-anaknya bisa saling menjaga dan support satu sama lain.


Kini Sandra sudah lepas dari pelukan Kendra dan juga Rendra.


"Kalian nggak papa kalau adek jadi janda? Pasti adek bikin Bunda sama Ayah malu banget ya? putri kalian yang baru berumur 25 tahun jadi janda." Ujar Sandra dengan nada sumbang.


"Jangan ngomong gitu dek. Menjadi janda juga bukan keinginan adek. Dan apapun kondisi adek, adek tetaplah putri kesayangan Bunda dan Ayah. Adek juga tetap jadi adik kesayangan Bang Kendra dan Mas Rendra." Ujar Bunda Sya.


Ayah Radit yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba membuka suaranya.


"Lalu bagaimana dengan kandungan adek?" Tanya Ayah Radit.


Dibandingkan dengan yang lain, Ayah Radit lah yang paling terluka saat ini. Putri yang dia sayang sejak kecil, putri yang dia relakan untuk dinikahkan kepada seorang laki-laki lain, nyatanya justru disakiti dengan sedemikian rupa. Entah kenapa Ayah Radit bisa merasakan bagaimana sakitnya Sandra selama ini. Melalui firasat yang beberapa kali Ayah Radit rasakan, ternyata semuanya benar. Putri kesayangannya memang sedang tidak baik-baik saja. Putri kesayangannya terluka oleh seorang laki-laki yang sudah Ayah Radit percayakan untuk menjaganya.


Sandra tersenyum.


"Enggak gimana-gimana Ayah. Adek bakal tetap melahirkan dia dan akan merawat dia dengan penuh kasih sayang. Ayah jangan khawatir ya." Jawab Sandra dengan lembut.


Setelah memberikan penjelasan kepada keluarganya, kini Sandra memutuskan untuk kembali ke kamar dengan alasan dia lelah dan ingin istirahat.



__ADS_1


Baru saja semua anggota keluarga Santoso hendak beranjak dari ruang tamu setelah pembahasan tadi, tiba-tiba pintu rumah di ketuk.



Rendra yang kebetulan posisinya tidak jauh dari pintu, langsung membukakan pintu itu. Dan ternyata, Daven yang datang mengetuk pintu.



"Boleh aku masuk, Ren?" Tanya Daven kepada Rendra.



Dengan diam, Rendra sedikit menyingkir untuk memberikan ruang agar Daven bisa masuk.



Dan kini Daven terdiam saat melihat ternyata semua anggota keluarga Santoso ternyata sedang berkumpul di ruang tamu. Hanya saja Daven tidak melihat keberadaan Sandra.



Sebelum duduk, Daven mencium tangan Ayah Radit dan Bunda Sya terlebih dahulu.



"Jadi, apa ada yang mau kamu jelaskan Daven?" Tanya Ayah Radit kepada Daven.



"Sebelumnya, apakah Sandra ada disini, Yah?" Tanya Daven dengan sopan.



Ayah Radit menganggukkan kepalanya.


"Iya, Sandra ada disini. Sekarang dia sedang istirahat di kamarnya." Jawab Ayah Radit.



Daven terdiam mendengar jawaban Ayah Radit. Meskipun sebenarnya dalam hati dia merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa saat mengetahui Sandra memang ads di rumah ini. Setidaknya Sandra tidak benar-benar pergi jauh ke tempat yang tidak dia ketahui.



Sebelum mengatakan tujuannya datang ke rumah ini, Daven menatap Bunda Sya yang saat ini tengah menatap dengan pandangan sendu. Sementara itu, Kendra dan Rendra menatap Daven dengan tatapan tajamnya. Daven tau kalau mereka pasti sangat marah kepada dirinya.



"Disini, dihadapan Ayah Radit, Bunda Sya, Bang Kendra, dan Rendra, aku mengakui kalau aku sudah menyakiti Sandra. Untuk itu, aku datang meminta maaf kepada kalian." Ujar Daven.

__ADS_1



Benar, Daven memutuskan untuk meminta maaf sekaligus akan memberitahukan keluarga Sandra mengenai segalanya. Daven tidak ingin menjadi seorang pengecut lagi.



"Seperti apa kamu menyakiti Sandra, Daven?" Tanya Ayah Radit dengan suara datar.



Dan akhirnya, Daven benar-benar menceritakan segalanya. Semua yang dia ceritakan kepada keluarganya kembali Daven ceritakan kepada keluarga Santoso. Mengenai awal pernikahan dirinya dan Sandra, mengenai rumah tangga mereka pada tahun pertama, mengenai traumanya akan kehamilan dan juga mengenai permintaan Daven kepada Sandra untuk menggugurkan kandungannya.



Dan...



Bughh... Bughhh...



Kali ini Daven mendapatkan pukulan dari Rendra.


"Brengs\*k lo Dave. Lo nyakitin Sandra sebanya itu. Lo cowok gila dan bajing\*n. Kalau lo trauma, obatin ke psikolog. Kenapa lo malah melakukan ini dan nyakitin adek gue. Brengs\*k lo Daven..."



Bugh... Bughhh...



Rendra dengan amarahnya benar-benar membabi buta. Kendra sendiri dengan susah payah berusaha untuk menarik mundur Rendra. Sebenarnya Kendra juga sangat ingin memukuli Daven seperti yang Rendra lakukan saat ini. Tapi Kendra masih memiliki sisi kemanusiaannya. Ditambah Kendra ingat kalau saat ini Aleera sedang hamil. Jadi Kendra memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Bunda Sya sendiri sudah memohon kepada Rendra untuk berhenti memukuli Daven karena laki-laki itu sudah terlihat mengenaskan dengan darah yang mengalir di hidung dan sudut bibirnya. Sementara Ayah Radit hanya terdiam terpaku dengan tatapan kosong lurus ke depan. Entah apa yang ada dipikiran Ayah Radit saat ini. Mungkinkah Ayah Radit terlalu syok mengetahui bagaimana selama ini Daven membuat Sandra terluka? Tapi kenapa disaat seperti ini Sandra masih saja melindungi nama baik Daven di depan mereka semua. Sandra sama sekali tidak menyalahkan Daven sedikitpun.



"Berhenti Mas..." Teriakan lantang dari Sandra membuat Rendra menghentikan pukulannya kepada Daven.


.


.


.


*Kalau ada typo jangan lupa tandain ya😁*


*Jangan lupa kritik dan sarannya 😍*

__ADS_1


***Terima Kasih 😘🥰***


__ADS_2