Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Datang


__ADS_3

Semalam Daven baru bisa memejamkan matanya saat jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Tadi pun Daven bisa bangun pagi karena Mama Laras yang membangunkannya. Namun karena Daven merasa pagi ini suasana hatinya sedang tidak baik, jadi dia memilih untuk tidak berangkat kantor. Dari pada nanti semua pekerjaannya malah menjadi kacau kan? Jadi Daven memutuskan untuk tidur lagi. Namun sebelum melanjutkan tidurnya lagi, Daven mengirim pesan kepada Sandra untuk memberitahu bahwa hari ini dia tidak berangkat ke kantor.


Dan sekarang, Daven bangun lagi saat jam di dinding menunjukkan pukul setengah 11 siang. Itu pun Daven terbangun karena panggilan alamnya, jika tidak mungkin Daven akan tetap tidur sampai nanti siang.


Karena sudah ada di kamar mandi dan juga karena sudah siang, jadi Daven memutuskan untuk sekalian mandi. Lagi pula tubuhnya juga sudah terasa tidak nyaman.


Hanya butuh waktu 15 menit dan sekarang Daven sudah dalam keadaan segar. Dengan rambut yang dibiarkan tetap basah dan hanya disisir asal, Daven keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang makan untuk membuat kopi. Suasana terlihat sangat sepi karena semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aileen yang saat ini berusia 2 tahun juga sudah mulai sekolah, dan seperti biasa Aileen akan sekolah ditemani oleh Suster Ati. Sementara Mama Laras? Entahlah, Daven tidak tau dimana Mama nya berada saat ini. Mungkinkah ikut ke pasar bersama asisten rumah tangganya?


Seperti biasa, kopi hitam menjadi minuman pembuka setiap Daven membuka matanya di pagi hari. Ya meskipun sebenarnya saat ini sudah tidak bisa disebut pagi lagi.


Sembari menikmati kopinya, Daven membuka ponselnya. Ternyata terdapat pesan dari Davian yang dikirimkan 10 menit yang lalu.


from Davian


Eehh, Bambang, ke kantor sekarang!!! Lo seenaknya aja nyuruh-nyuruh Sandra buat gantiin lo rapat. Kasian dia kerepotan. Mending alasannya karena lo sibuk atau sakit, lah ini cuma karena lo pengen molor doang. Buruan ke kantor sekarang!


Daven hanya membaca, dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk membalas pesan dari kembarannya itu.


Tapi, meski begitu Daven jadi kepikiran pesan Davian tadi. Setelah dipikir-pikir, benar apa yang Davian katakan. Kasihan Sandra, gadis itu kerepotan menghandle pekerjaan dirinya. Padahal alasan Daven tidak masuk kantor sangat sepele, hanya karena pagi tadi dia tidak mood berangkat ke kantor. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Daven beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamarnya. Ya, Daven memutuskan untuk berangkat ke kantor.



Dalam perjalanan menuju kantor, Daven melihat sebuah restoran junk food. Mendadak Daven teringat akan Sandra karena ini adalah restoran favorit gadis itu. Apalagi kalau bukan KFC, atau lebih sering Sandra sebut dengan ayam goreng kakek. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya Daven memutuskan untuk drive thru dan membeli ayam goreng kakek yang menjadi favorit Sandra. Dan kebetulan karena Daven juga belum sarapan, jadi dia membeli 2 paket.



Selesai dengan pesanannya, Daven kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor.



Seperti biasa, Daven masuk ke kantor dengan memasang wajah datar andalannya. Wajah datar yang justru membuat banyak karyawan wanita semakin menggilainya. Sekilas wajah Daven dan Davian memang tidak bisa di bedakan, namun semua orang bisa membedakannya melalui ekspresi dari wajahnya. Kalau wajah Daven selalu memasang wajah datar dan kaku, maka Davian lebih santai. Tidak jarang juga Davian akan memperlihatkan senyum tipisnya.


Baru saja Daven menekan tombol lift untuk menuju ruangannya, pintu lift terbuka dan didalamnya terdapat Davian juga Marcel.


“Berangkat juga lo Dave.” Ujar Davian basa-basi.

__ADS_1


Daven hanya diam menatap kembarannya dengan wajah datar.


“Sandra dimana Cel?” Tanya Daven kepada Marcel.


“Di atas Pak, Sandra nggak ikut kita makan siang, katanya mau tidur aja.” Jawab Marcel.


Marcel memang sudah tau kalau semalam Sandra dan Daven melakukan acara lamaran. Meskipun acara semalam merupakan acara private, tapi dia sudah mengetahui mengenai hubungan Sandra dan Daven sejak beberapa hari yang lalu karena Sandra sendiri yang memberitahunya. Dan karyawan kantor yang mengetahui hal ini baru Marcel saja.


Daven menganggukkan kepalanya paham, setelahnya dia langsung naik ke lift menuju ruangannya.


Setelah pintu lift tertutup.


“Kembaran lo emang nyeremin gitu ya Dav.” Ujar Marcel kepada Davian.


“Ya gitulah, nggak tau gue juga kenapa bisa punya kembaran kaya gitu.” Jawab Davian santai.


“Emang yang paling baik diantara kalian tuh Della.”


Davian menolehkan wajahnya kearah Marcel.


“Eehh, ya suka lah, secara Della cantik plus baik. Siapa juga yang nggak suka sama dia.” Jawab Marcel dengan berani.


“Serius?” Tanya Davian.


Marcel menganggukkan kepalanya dengan tegas.


“Kalau gue sih setuju Della sama lo, tapi… Lo harus izin Daven dan bokap gue dulu kalau mau deketin Della.” Ujar Davian.


Davian tau kalau Marcel sudah lama menyukai Della. Dan menurut Davian, Marcel laki-laki yang baik untuk menjadi pendamping adik kembarnya itu. Terlepas dari status Marcel yang bukan seorang konglomerat seperti Daddy Dani, itu bukan masalah. Karena yang terpenting laki-laki itu baik, bertanggung jawab, dan mau bekerja keras.


“Gue nggak berani sampai tahap itu, gue cukup sadar diri kalau gue ini siapa kan.” Jawab Marcel dengan senyum sendunya.


“Gue pastiin kalau bokap gue bakalan setuju kalau aja lo dengan jantan mau minta izin ke dia. Status atau apapun itu yang lo maksudkan, itu bukan masalah buat kita. Buat kita yang terpenting adalah lo mencintai Della dengan tulus dan bertanggung jawab.” Ujar Davian.


__ADS_1



Sesampainya Daven di ruangannya, di langsung meletakkan bungkusan ayam goreng kakek diatas meja yang sepertinya tadi luput dari perhatian Davian. Kemudian dengan langkah jenjangnya, Daven berjalan menuju ruang sekretaris, yang mana kata Marcel, Sandra tengah tidur disana.



Dan benar, saat Daven membuka pintu dan masuk, terlihat Sandra tengah tidur dengan posisi wajah yang menelungkup diatas meja. Daven yakin kalau bangun nanti pasti tubuh Sandra akan terasa pegal-pegal. Tanpa berniat untuk membangunkan Sandra, Daven justru duduk tepat dikursi yang ada di depan meja Sandra, menatap Sandra dalam diam. Hingga sampai pada akhirnya Sandra terbangun dan mengangkat kepalanya.



“Bang Cio…” Dengan suara lirih Sandra memanggil Daven dengan panggilan yang menjadi panggilan khusus Sandra untuk Daven.



“Ya.” Jawab Daven singkat.



Sandra yang sepertinya sudah sadar sepenuhnya langsung menegakkan tubuhnya.


“Pak Daven ada apa kesini? Bukannya hari ini izin nggak masuk kantor?” Tanya Sandra dengan formal.



Daven tiba-tiba saja berdiri.


“Cuci muka, lalu setelah itu langsung ke ruangan aku. Aku tunggu.” Ujar Daven tanpa mau repot menjawab pertanyaan Sandra.



“Sekarang?” Tanya Sandra dengan polos.



“Ya sekarang, masa besok.” Jawab Daven seraya berlalu begitu saja keluar dari ruangan Sandra.

__ADS_1


__ADS_2