
Daven terus menggandeng tangan Sandra saat mereka masuk ke kantor. Para karyawan yang melihat itu tentu saja tersenyum. Karena jarang sekali Daven memperlihatkan kemesraannya dengan Sandra.
Apalagi Rani, sebelumnya dia sedikit tidak percaya dengan alasan Sandra memilih untuk resign dari kantor. Tapi setelah melihat ini, Rani jadi percaya kalau alasan Sandra memilih untuk resign memang untuk mengurus keluarga. Melihat itu, tentu saja Rani merasa ikut bahagia.
Saat ini Sandra sudah berada di ruangan Daven.
"Terus sekarang aku disini harus apa, Bang?" Tanya Sandra kepada Daven.
Daven tersenyum.
"Ya nggak ngapa-ngapain, kamu duduk disini aja temenin aku kerja." Jawab Daven. "Kamu mau apa? Biar aku minta OB buat beliin apa yang kamu mau." Tambahnya lagi.
Sandra hanya menggelengkan kepala tidak percaya dengan permintaan Daven.
"Biasanya Bang Cio nggak bisa fokus kalau lagi kerja terus ada orang lain. Ini nanti kalau aku ada disini, yang ada Bang Cio jadi nggak fokus loh." Ujar Sandra.
"Kata siapa? Kapan aku bilang gitu. Aku suka kok kalau kamu disini temenin aku kerja." Ujar Daven menyangkal tuduhan Sandra.
"Kata Abang lah. Masa kata siapa lagi di rumah juga Bang Cio nggak bisa diganggu kalau lagi kerja." Jawab Sandra.
Daven terdiam sejenak. Sebelumnya akhirnya menjawab ucapan Sandra.
"Itu kan dulu, sekarang nggak lagi. Yang itu, kamu lupain aja." Ujar Daven.
Sandra sendiri hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Ya sudah, Sandra juga tidak berniat untuk memojokkan Daven. Sandra memutuskan untuk mendudukkan dirinya di salah satu sofa.
Begitu Sandra duduk, tiba-tiba saja Daven juga berjalan menghampiri Sandra. Tanpa diduga, Daven bersimpuh di depan Sandra. Dan ini tentu saja membuat Sandra terkejut.
"Eehh... Abang kenapa..." Ucapan Sandra belum selesai saat tiba-tiba Daven memotongnya.
__ADS_1
"Soal hal buruk yang pernah aku lakuin ke kamu, lupain ya. Dan... sekali lagi aku juga minta maaf." Ujar Daven.
Sandra tidak menyangka kalau Daven akan membahas hal ini lagi.
"Apa sih Bang... Aku udah maafin kok. Lagian kita sama-sama salah. Dan... Aku nggak suka kalau Abang masih bahas ini. " Jawab Sandra.
Sandra tidak suka kalau Daven masih membahas masalah mereka kemarin. Bagi Sandra, masalah itu sudah selesai dan tidak perlu dibahas lagi. Bukankah sekarang Sandra dan Daven akan membuka lembaran baru lagi? Tapi kenapa Daven malah membahas ini lagi.
Mendengar itu, Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku nggak akan bahas lagi." Jawab Daven dengan memasang sebuah senyum.
Daven benar-benar tidak ingin membuat Sandal marah. Jika Sandra tidak suka mereka membahas hal ini, maka Daven tidak akan membahasnya lagi.
"Ya udah duduk sini aja. Jangan dibawah aku kaya gini." Ujar Sandra seraya menepuk sisi kosong sofa yang dia duduki.
Daven sendiri langsung menuruti ucapan Sandra. Dia mendudukkan dirinya di samping sang istri.
"Kok jadi makin gemes sih." Ucap Daven dengan lembut.
Dan hanya dengan itu, Daven berhasil membuat Sandra tersenyum malu-malu. Lihat, untuk membuat Sandra bahagia sangat mudah kan? Sandra tidak butuh apa-apa selain cinta dan perhatian Daven.
"Sana kerja Bang... Ini kenapa malah jadi godain aku deh."
Nyatanya Daven tidak henti-hentinya menggoda Sandra. Dan itu membuat Sandra terus tersenyum malu-malu.
Puas menggoda Sandra, barulah Daven mulai fokus dengan pekerjaannya. Dan ya, seperti biasa kalau sudah larut dengan pekerjaan, maka Daven akan lupa dengan apapun yang ada disekitarnya. Sampai akhirnya setelah satu pekerjaan sudah Daven selesaikan, dia baru sadar kalau ada Sandra bersama dengannya.
Seketika Daven langsung menoleh kearah Sandra. Dan..... terlihat kalau saat ini Sandra sudah tertidur. Karena ternyata Daven sudah larut dengan pekerjaannya selama hampir 1 jam.
__ADS_1
Dengan segera Daven menghampiri Sandra. Sandra yang tidur dengan posisi setengah berbaring pasti terasa tidak nyaman. Tapi kalau Daven lihat-lihat, Sandra justru tertidur dengan sangat nyenyak.
Tanpa membangunkan Sandra, Daven langsung mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke kamar pribadi yang memang ada di dalam ruangannya.
Dan ya, nyatanya Sandra tertidur dengan sangat nyenyak. Karena tidur Sandra sama sekali tidak terusik saat Daven memindahkannya.
Kalian tentu ingat kalau Sandra adalah tipe orang yang sulit dibangunkan kalau sudah tidur, kan?
Setelah memastikan Sandra tidur dengan nyaman, barulah Daven keluar dari kamar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tiba di meja kerjanya, Daven ingat akan Aileen. Daven lupa kalau dia belum menanyakan kabar Aileen kepada orang rumah. Karena biar bagaimanapun tadi sebelum pergi Sandra dan Daven sempat berjanji kalau mereka akan pulang dengan cepat.
Tapi kalau Aileen rewel, Bunda Sya, Ayah Radit, atau Suster Ati pasti akan memberikan kabar kepada Daven dan Sandra kan? Tapi sampai sekarang Daven sama sekali tidak mendapatkan kabar dari siapapun mengenai keadaan Aileen. Bahkan sepertinya Sandra pun juga tidak mendapatkan kabar. Itu artinya Aileen baik-baik saja?
Okez untuk memastikannya lebih baik Daven menanyakannya secara langsung. Daven memutuskan untuk menghubungi Bunda Sya. Karena kalau menghubungi Ayah Radit, jujur saja kalau Daven masih merasa sangat segan. Dan sikap Bunda Sya yang keibuan dan juga hangat membuat Daven menjadi lebih nyaman.
Tutt... Tutt...
"Assalamualaikum... Halo Dave." Terdengar suara Bunda Sya.
"Wa'alaikumsalam Bunda. Maaf, Daven ganggu ya?" Ujar Daven.
"Enggak, enggak ganggu kok Dave. Ada apa? Kok tumben telfon. Sandra sama kamu baik-baik aja kan?" Tanya Bunda Sya.
"Baik kok Bunda. Sandra dan Daven baik-baik aja. Sekarang kita lagi ada di kantor. Dan Sandra lagi tidur." Jawab Daven.
"Oo gitu,. syukur kalau kalian baik-baik aja." Ujar Bunda Sya.
"Oo iya, Aileen nggak rewel kan Bun? Soalnya tadi Sandra sama Daven janji buat pulang cepet sama Aileen. Tapi kayanya nggak bisa pulang cepet, soalnya ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan." Ujar Daven memberitahu Bunda Sya.
__ADS_1
"Aileen nggak rewel kok. Dia tadi abis mancing sama Ayah. Terus sekarang lagi diajak bobok siang sama Ayah. Kayanya sekarang udah bobok deh. Soalnya Bunda lagi masak di dapur." Jawab Bunda Sya.
Lihat, rasanya Daven semakin merasa bersalah kepada Bunda Sya dan Ayah Radit. Selama ini, meskipun Aileen hanya cucu tiri mereka, tapi mereka selalu memperlakukan Aileen dengan sangat baik. Bunda Sya dan Ayah Radit tidak pernah sekalipun membeda-bedakan kasih sayang mereka antara Aileen dengan cucu kandungnya yang lain. Sementara itu, Daven justru dengan teganya menyakiti putri kesayangan mereka. Bukankah Daven tidak tau diri? Ya, Daven baru sadar kalau dia memang tidak tau diri. Tapi Daven sudah bertekad kalau dia akan berubah menjadi lebih baik lagi untuk keluarganya, terutama untuk Sandra.