
Apa yang terjadi antara Sandra dan Daven semalam benar-benar membuat hubungan keduanya menjadi agak sedikit dingin dibandingkan dengan biasanya. Sandra yang biasanya banyak bicara, hari ini menjadi lebih banyak diam.
Yang sejak tadi Sandra lakukan hanya menemani Aileen bermain. Sementara Daven, laki-laki itu setelah sarapan langsung naik ke kamar dan sampai sekarang belum juga keluar. Entah apa yang sedang laki-laki itu lakukan di dalam kamar.
Kalau Mama Laras, Daddy Dani dan Della, mereka bertiga sedang pergi kondangan ke acara pernikahan anak dari kolega Persada Group. Dan kebetulan yang menikah merupakan teman sekolah Della.
"San, kamu nggak papa kan? Atau lagi nggak enak badan? Dari tadi kayaknya banyak diem nggak kaya biasanya." Ujar Davian kepada Sandra.
Davian baru saja turun dari kamarnya setelah tadi dia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dan saat melewati ruang keluarga, Davian melihat Sandra yang sedang duduk di atas sofa terlihat sedang melamun dan diam dengan tatapan kosong kearah Aileen. Sementara Aileen, balita cantik itu sedang bermain dengan suster Ati.
Sandra menoleh kearah Davian. Seketika senyum terpancar dibibir Sandra.
"Enggak Kak, aku sehat-sehat aja kok. Cuma lagi pengen diem aja. Soalnya capek kalau berisik terus." Jawab Sandra berbohong.
Seperti biasa, yang paling peka dan langsung menyadari perubahan Sandra adalah Davian. Jadi tidak salah kalau Sandra menjuluki Davian dengan sebuah Rendra kedua. Kalau dipikir-pikir, akan lebih cocok kalau Rendra lah yang menjadi kembaran Davian. Dibandingkan dengan Daven, antara Rendra dan Davian memiliki banyak kecocokan sifat. Terutama mengenai kepekaan dan sifat perhatian mereka.
"Bohong dosa loh. Coba kasih tau Kakak, kamu kenapa hem?" Tanya Davian dengan lembut.
Sandra justru tertawa. Tawa yang dia gunakan untuk menutupi kebenaran yang ada.
"Haha... Kak Dav apaan sih. Aku tuh beneran nggak papa. Aku cuma lagi pengen diem aja, bukan karena ada apa-apa atau sakit." Jawab Sandra.
"Beneran?" Tanya Davian memastikan.
"Iya, beneran Kak Dav." Jawab Sandra yakin.
"Ya udah anggep aja sekarang kakak percaya sama omongan kamu." Ujar Davian.
Davian masih dengan pendapatnya kalau memang sebenarnya sedang terjadi sesuatu dengan Sandra. Karena perubahan sikap Sandra hari ini terlalu mencolok dimata Davian.
"Iihh... Udah dibilangin aku nggak papa Kak. Kok Kak Dav nggak percaya juga sih? Aku harus apa coba biar Kak Dav percaya?"
Davian mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab ucapan Sandra.
"Ya udah kalau kak Dav nggak percaya. Aku sih nggak masalah, karena emang aku nggak papa kok." Ujar Sandra.
Hening... Davian tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapi ucapan Sandra. Sampai akhirnya.
"Daven nggak nyakitin kamu kan San?" Tanya Davian.
Sandra seketika langsung menoleh kearah Davian.
"Ha? Enggak, kenapa kak Dav jadi bawa-bawa Bang Cio. Bang Cio sama sekali nggak nyakitin aku kok." Jawab Sandra mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Kalau Daven sampai nyakitin kamu. Langsung aja bilang ke Kakak, biar Kakak yang hajar dia." Ujar Davian.
Dilihat dari wajahnya saat ini, sepertinya Davian benar-benar serius dengan ucapannya.
"Sesama saudara nggak boleh saling berantem apalagi saling menyakiti loh kak." Sandra menanggapi ucapan Davian dengan santai.
"Boleh aja, kalau saudaranya br*ngsek karena berani nyakitin perempuan, itu boleh banget kalau buat dihajar." Jawab Davian
Sandra tertawa.
"Haha... Iya deh iya, Kak Dav jangan serius-serius gitu dong. Aku takut tau lihat Kak Dav kaya gini. Janji deh kalau misal Bang Cio sampai nyakitin aku, aku bakal langsung lapor ke Kak Dav biar kakak yang hajar Bang Cio."
Davian tersenyum. Tanpa bisa ditahan, tangannya mengusap dengan lembut puncak kepala Sandra.
"Anak pinter, kalau kaya gini baru namanya adek Kak Davian." Ujar Davian.
Dan ternyata, sejak tadi interaksi antara Sandra dan Davian dilihat oleh seseorang yang saat ini tengah berdiri diatas tangga.
__ADS_1
Siapa? Daven. Orang yang sejak tadi menatap dan juga menguping pembicaraan antara Sandra dan Davian adalah Daven.
Tapi, tetap saja tidak ada ekspresi apapun yang terlihat diwajah Daven kecuali ekspresi datarnya. Hanya tampak otot telapak tangan Daven yang terlihat mengeras karena saat ini laki-laki itu tengah mengepalkan telapak tangannya.
Tidak melanjutkan niatnya untuk turun, Daven justru berbalik arah dengan melangkahkan kakinya kembali ke kamar.
Brakk... Sandra membuka ruangan Daven dengan sedikit kasar. Bahkan Sandra tidak mengetuk pintu terlebih dahulu seperti yang biasa dia lakukan.
Daven sendiri hanya menatap Sandra datar tanpa mengatakan apa-apa.
"Maa.. maaf Pak kalau saya tidak sopan. Tapi saya mau izin untuk keluar sebentar." Ujar Sandra dengan wajah yang terlihat seperti sedang panik. Sandra berusaha untuk tetap bersikap formal. Karena biar bagaimanapun saat ini Sandra masih ada di kantor, dan statusnya bukan istri Daven, melainkan sekretarisnya.
"Keluar kemana?" Tanya Daven.
"Saya mau ke rumah sakit. Tadi Bunda telfon kalau Aleera pingsan dan sekarang di rumah sakit." Ujar Sandra menjelaskan.
Saat ini masih pukul setengah 9 dan baru sekitar setengah jam yang lalu Sandra dan Daven sampai di kantor. Tapi baru saja Bunda Sya mengabari Sandra kalau Aleera dibawa ke rumah sakit karena pingsan di kamar mandi.
"Ayo..." Ujar Daven kepada Sandra.
"Ayo kemana? Abang masih banyak kerjaan loh. Aku cuma bentar doang kok. Cuma mau mastiin keadaan Aleera doang. Aku bisa pergi sendiri kok Bang." Sandra tidak lagi menggunakan bahasa formalnya.
"Nggak papa, kerjaan bisa nanti. Kamu mau ke rumah sakit buat mastiin keadaan Aleera kan? Ya sudah aku antar." Jawab Daven datar.
Tanpa menunggu jawaban Sandra, Daven langsung berlalu begitu saja keluar dari ruangannya. Membuat Sandra mau tidak mau mengikutinya.
"Bang, padahal aku bisa pergi sendiri loh. Abang di kantor aja. Aku nggak mau ngrepotin Abang." Ujar Sandra begitu dia dan Daven berada didalam lift.
"Husstt... Diem San." Ujar Daven datar.
Yang membuat Sandra seketika langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
Kini Sandra dan Daven sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sandra duduk disamping Daven yang saat ini sedang menyetir mobil.
Setelah Daven meminta Sandra untuk diam, sampai saat ini Sandra tetap menutup mulutnya.
Daven sendiri diam-diam melirik kearah Sandra. Terlihat kalau saat ini Sandra sangat khawatir dengan kondisi Aleera.
Dan inilah alasan Daven memilih untuk ikut ke rumah sakit. Yaitu agar Sandra tidak menyetir mobil sendiri. Karena tentu saja Sandra pasti tidak akan bisa fokus menyetir dalam keadaan panik seperti ini. Itu akan sangat berbahaya.
Daven tentu tidak akan mengambil resiko dengan membiarkan Sandra menyetir mobil dalam keadaan panik.
"Jangan khawatir, aku yakin kalau Aleera pasti baik-baik aja." Ujar Daven mencoba untuk sedikit menangkan Sandra.
Sandra hanya menganggukkan kepalanya. Sampai akhirnya ponsel Sandra berbunyi karena ada panggilan telfon yang masuk.
***Bunda Sya***
"Assalamualaikum, halo Bun. Gimana keadaan Aleera? Aleera baik-baik aja kan?" Tanya Sandra begitu mengangkat panggilan telfon dari Bunda Sya.
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah Aleera baik-baik aja. Aleera hamil dek." Ujar Bunda Sya memberitahu Sandra.
Hening sejenak.
"Aleera hamil? beneran Bun?" Tanya Sandra heboh.
"Iya dek, Aleera pingsan karena kecapean. Dan sekarang dia lagi hamil."
Mendengar kabar itu Sandra langsung heboh sendiri.
"Bang, Aleera hamil. Aku bakal punya keponakan lagi." Ujar Sandra kepada Daven.
Daven sendiri hanya memberikan senyum tipisnya menanggapi ucapan Sandra.
__ADS_1