Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Lamaran


__ADS_3

Waktu berlalu begitu dengan begitu cepat. Dan hari ini tiba dimana hari Daven datang ke rumah keluarga Santoso untuk melamar Sandra. Daven datang bersama dengan keluarga besarnya, ada Daddy Dani, Mama Laras, Aileen, Davian, dan Della. Ditambah dengan beberapa om dan tantenya.


Seperti yang sudah kemarin Daven katakan, masalah seserahan untuk acara lamaran dia serahkan semuanya kepada Mama Laras dan juga Sandra sendiri. Selain karena Daven tidak tertarik untuk melakukan hal merepotkan seperti itu, juga dengan pertimbangan agar Sandra bisa memilih sendiri barang seserahan yang sekiranya gadis itu sukai. Daripada Daven sendiri yang memilih dan nantinya Sandra malah tidak suka kan? Lagi pula saat dulu mempersiapkan lamaran dan pernikahan dengan Larisa, Daven juga membiarkan Larisa untuk menentukan sendiri apa yang dulu mendiang istrinya itu inginkan. Jadi pada dasarnya karena memang Daven tidak suka melakukan hal yang merepotkan seperti itu.


Kini, Daven sudah duduk dihadapan Ayah Radit dan Bunda Sya. Ada juga Kendra dan Rendra yang duduk disalah satu sofa. Kalau Ayah Radit terlihat lebih santai, Bunda Sya juga terlihat sangat ramah, maka tatapan intimidasi justru Daven dapatkan dari Kendra dan Rendra, 2 laki-laki berstatus Abang Sandra. Tapi meski begitu, Daven biasa saja, dia tidak merasa terintimidasi sedikitpun dengan tatapan yang Kendra dan Rendra berikan.


Padahal sebenarnya hubungan dirinya dengan kedua kakak Sandra itu cukup dekat. Tapi Daven paham, kedua laki-laki berstatus sebagai kakak dari Sandra itu pasti sedang menimbang-nimbang apakah sekiranya dia cukup pantas untuk adik kesayangan mereka atau tidak.


Menurut Daven hal seperti ini wajar saja dilakukan oleh seorang kakak. Karena jika suatu saat nanti ada laki-laki yang ingin menjadikan Della sebagai istri, Daven dan Davian pasti akan melakukan hal yang sama.


Tiba-tiba… Dari lantai atas, 2 orang perempuan cantik menuruni tangga. Ya, siapa lagi kalau bukan Sandra. Sandra turun digandeng oleh Aleera, istri dari Kendra. Untuk sejenak, Daven merasa terpukau dengan kecantikan yang Sandra pancarkan. Rasanya bohong sekali kalau ada orang yang mengatakan bahwa Sandra tidaklah cantik. Wajah cantik dan tubuh semampai milik Sandra tentu saja menjadi pusat perhatian setiap orang jika melihat gadis itu. Tidak terkecuali dengan Daven. Bahkan Davian pun sejenak merasa terpesona. Namun dengan segera Davian mengalihkan pikiran itu.


"Sadar Dav, Sandra calon istri kembaran lo." Ujar Davian dalam hati.


Tapi meski Sandra cantik, hati Daven masihlah milik dari Larisa. Secantik apapun gadis lain, tetaplah Larisa yang pemenangnya. Sejauh ini, tidak tau kalau nanti. Kalau Tuhan berkehendak, Daven bisa apa coba?


Dengan tersenyum malu-malu, Sandra duduk diantara Bunda Sya dan Ayah Radit.


Setelah beberapa pembicaraan singkat antar anggota keluarga, kini tibalah Daven mengutarakan tujuan utamanya datang ke kediaman keluarga Santoso. Apalagi kalau bukan melamar Sandra.

__ADS_1


“Mungkin sebelumnya keluarga kita sudah saling mengenal sejak lama. Om dan Tante juga bersahabat dengan orang tua saya bahkan jauh sebelum saya dan yang lainnya lahir ke dunia. Saya, Davian, dan Della juga bersahabat dengan anak-anak Om dan Tante. Singkat saja, disini saya tidak akan berbicara terlalu panjang lebar, karena tujuannya memang hanya 1. Benar, kedatangan saya dan juga keluarga datang ke sini adalah untuk melamar Sandra, melamar putri tunggal Om Radit dan Tante Sya untuk saya jadikan pendamping hidup saya yang inshaallah akan menjadi pendamping hidup saya sampai akhir nanti. Dan juga menjadikan Sandra sebagai ibu untuk anak saya, Aileen.” Untuk sejenak Daven berhenti untuk mengambil nafas. Ini bukan pertama kalinya dia melamar seorang gadis, tapi tetap saja rasanya sama. Daven merasa gugup. Padahal kalau dipikir-pikir, lamaran yang sedang dia lakukan ini sekedar formalitas saja karena Sandra menginginkannya. Katakan saja Daven jahat, karena Daven tidak akan menyangkalnya. Karena nyatanya memang benar, Daven melakukan lamaran ini tidak tulus atas dasar keinginan hatinya sendiri. “Mungkin saya bukan laki-laki hangat dan romantis. Saya juga mengakui bahwa saya memiliki banyak kekurangan. Tapi disini saya berjanji akan berusaha untuk membahagiakan Sandra dan tidak akan menyakitinya, jadi apakah Om Radit dan Tante Sya berkenan memberikan Sandra untuk menjadi pendamping hidup saya?”


Membahagiakan Sandra? Benar, meskipun Daven tidak mencintai Sandra, tapi dia akan berusaha membahagiakan Sandra, entah bagaimana caranya nanti. Dan mengenai Daven yang tidak akan menyakiti Sandra, itu juga benar. Daven tidak akan pernah dengan sengaja menyakiti Sandra. Sekali lagi, meskipun Daven tidak mencintai Sandra, dia akan memperlakukan Sandra dengan baik nantinya.


“Om tidak bisa menjawabnya Daven, mengenai keputusan apakah Sandra mau menjadi pendamping hidup kamu atau tidak, itu ada ditangan dia. Jadi…” Ayah Radit menggenggam dengan lembut tangan Sandra. “Apa adek mau menjadi pendamping hidup Daven?” Tanya Ayah Radit.


Sandra tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


“Iya, aku mau jadi menjadi pendamping hidup Bang Cio.” Jawab Sandra.


Dan malam ini, resmi sudah Sandra berstatus menjadi calon istri dari Daven, laki-laki yang sejak kecil bahkan sudah Sandra cintai. Bahagia? Jelas Sandra merasa sangat bahagia. Untuk sejenak lupakan dulu mengenai fakta-fakta yang sebenarnya terjadi dibalik ini semua. Sandra hanya ingin menikmati perasaan bahagia yang saat ini sedang dia rasakan.


“Jadi kapan pernikahan kalian akan dilangsungkan?” Tanya Ayah Radit to the point. Bukankah tujuan lamaran malam ini karena Sandra dan Daven ingin segera melangsungkan pernikahan?


“Kalau Om mengizinkan, 3 bulan dari sekarang saya ingin menikahi Sandra.” Jawab Daven dengan tenang.


Sandra memelotokan matanya terkejut, Sandra pikir tidak akan secepat ini.


“Apa nggak terlalu cepat Bang?” Tanya Sandra.

__ADS_1


Kini Daven mengalihkan tatapannya kepada Sandra.


“Enggak, 3 bulan cukup untuk kita menyiapkan pesta pernikahan. Jadi, kamu setuju kan?” Jawab Daven kalem.


Dan akhirnya mau tidak mau Sandra menganggukkan kepalanya setuju.


“Iya, aku setuju.”




Sepulangnya Daven dari rumah keluarga Santoso, kini hingga jam menunjukkan pukul setengah 2 dini hari, Daven masih belum juga bisa memejamkan matanya. Sejak tadi yang Daven lakukan hanya duduk di sofa yang ada di balkon kamarnya sembari menatap langit malam yang sama sekali tidak terdapat bintang ataupun bulan. Hawa dingin yang menusuk kulit tubuhnya, sama sekali tidak membuat Daven ingin segera beranjak dari sana. Dan sekarang diasbak yang tergeletak diatas meja, sudah terdapat lebih dari 10 batang putung rokok. Diantara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan Daven, juga masih ada sebatang rokok yang masih menyala terselip disana.



“Larisa, tolong datanglah ke mimpi aku sekali saja. Katakan bahwa apa yang aku lakukan ini adalah sebuah keputusan yang tepat sayang.” Daven bergumam sembari menatap potret Larisa yang ada di ponselnya dengan sendu.


__ADS_1


Meski semua orang mengatakan bahwa dengan menikahi Sandra adalah keputusan yang tepat, tapi tetap saja jauh didalam lubuk hati Daven terdalam, dia masih memiliki sedikit keraguan. Bukan meragukan Sandra. Mengenai Sandra, Daven yakin kalau gadis itu adalah yang terbaik untuk menjadi ibu sambung dari Aileen. Kebaikan hati Sandra selama ini tentu saja tidak akan pernah diragukan oleh siapapun. Bahkan, mungkin Sandra terlalu baik untuk laki-laki pengecut seperti dirinya. Daven akui kalau dirinya adalah seorang pengecut karena dia melamar Sandra dengan berakting seolah dia memang mencintai gadis itu. Tapi ini bukan sepenuhnya salah Daven kan? Sandra juga bersalah, karena Sandra lah yang menginginkan semua ini terjadi.


__ADS_2