Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Agar mudah peluk kamu


__ADS_3

Sore harinya, semua anggota keluarga datang ke rumah keluarga Santoso. Tak terkecuali dengan keluarganya Persada, beserta Viola dan juga Marcel. Mereka semua hendak menjenguk Aileen yang baru saja pulang dari rumah sakit. Tentu saja kabar Aileen yang kemarin sore dibawa ke rumah sakit diketahui oleh mereka semua.


Seperti biasa, Viola datang bersama dengan Rendra. Sementara itu, Marcel datang bersama dengan Della. Lalu Davian? Davian datang bersama dengan Daddy Dani dan Mama Laras.


Aileen yang melihat suasana rumah sangat ramai tentu saja merasa sangat bahagia. Apalagi ada Aidan, Ariel, dan juga baby Arzan. Aileen yang awalnya tidak mau lepas dari Sandra akhirnya mau lepas untuk sejenak dan bermain bersama dengan para sepupunya itu.


Dan semua orang yang ada disini juga bersikap biasa saja. Tidak ada satupun diantara mereka yang membahas mengenai masalah Daven dan Sandra. Mereka bersikap seolah memang tidak ada masalah apapun yang kemarin terjadi. Sandra bukan tidak tau kalau sebenarnya mereka semua mengetahui masalah ini.


Dan itu membuat Sandra amat sangat bersyukur karena semua mau mengertikan dirinya dan Daven.


Daven? Sebenarnya dia sudah siap kalau orang-orang akan bertanya mengenai masalah yang kemarin terjadi antara dirinya dengan Sandra. Karena sejujurnya Daven tidak ingin menjadi pengecut dengan menghindari orang-orang.


Sandra yang tadinya duduk bersama dengan Aleera, Viola dan Della, mendadak beranjak dari sana. Daven yang melihat itu seketika langsung ikut beranjak dan mengikuti Sandra. Dan ternyata Sandra berjalan menuju dapur.


"Mau ngapain San?" Tanya Daven kepada Sandra.


Sandra yang mendengar itu seketika langsung membalikkan tubuhnya. Sandra tidak tau kalau Daven mengikuti dirinya. Melihat Daven, Sandra memperlihatkan senyum tipisnya.


"Ini cuma mau ambil es batu aja. Aku pengen minum air dingin soalnya." Jawab Sandra.


Mendengar jawaban Sandra, dengan sigap Daven langsung mengambilkan gelas.


"Kamu duduk aja, aku ambilin es nya." Ujar Daven.


Setelah mengatakan itu, Daven langsung berjalan menuju lemari es dan mengambil beberapa kotak es batu. Kemudian mengisinya dengan air putih.


Saat Daven membalikkan tubuhnya, ternyata Sandra masih berdiri ditempat tadi.


"Kenapa berdiri disitu? Sini duduk." Ujar Daven.


Sandra mengikuti ucapan Daven dengan langsung mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan.


Setelah Sandra duduk barulah Daven memberikan gelas berisi air es itu kepada Sandra.

__ADS_1


"Makasih, Bang." Ucap Sandra.


Daven hanya menganggukkan kepalanya.


Sementara itu, Sandra langsung meminumnya air es pemberian Daven.


Dan ya, hanya itu saja. Tidak ada pembicaraan apa-apa diantara Daven dan Sandra.


Sandra masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya dengan Daven. Karena sejujurnya perubahan Daven ini benar-benar drastis. Daven seperti bukan Daven yang Sandra kenal sebelumnya. Selama ini Sandra sudah terbiasa dengan sikap Daven yang datar cenderung dingin. Jadi rasanya masih agak terasa aneh saat tiba-tiba Daven berubah menjadi perhatian seperti ini.


"Udah? Atau kamu pengen apa lagi? Pengen makan sesuatu?" Tanya Daven kepada Sandra.


Jujur, Daven sendiri memang terlihat kaku. Tapi Sandra bisa melihat adanya sebuah ketulusan Dimata Daven saat menawari dirinya.


Sandra menggelengkan kepalanya.


"Enggak, aku cuma pengen air es ini kok." Jawab Sandra.


Dan apa yang terjadi di dapur ini ternyata tidak luput dari seorang laki-laki yang tadinya sangat membenci Daven. Yap, orang itu adalah Rendra. Bukan berarti Rendra mengikuti Sandra dan Daven. Ini hanya karena kebetulan saja karena Rendra juga ingin ke dapur untuk mengambil cemilan karena disuruh oleh Bunda Sya.


Baru setelah Sandra dan Daven beranjak, Rendra berpura-pura seolah baru masuk. Sepertinya Sandra terlihat cukup terkejut dengan kedatangan Rendra yang dirasa tiba-tiba ini. Sementara Daven hanya terlihat datar seperti biasa.


"Mau ngapain, Mas?" Tanya Sandra kepada Rendra.


"Disuruh Bunda ambil kue." Jawab Rendra singkat.


Rendra melewati Sandra dan Daven begitu saja. Sebenarnya bukan karena Rendra masih marah. Rendra hanya masih malas untuk memulai interaksi dengan Daven. Karena sejujurnya Rendra belum bisa sepenuhnya memaafkannya Daven yang sudah menyakiti Sandra.


Setelah mendapatkan kue yang dimaksud, Rendra langsung keluar begitu saja meninggalkan Sandra dan Daven yang masih ada di dapur.


Sandra melirik kearah Daven dengan perasaan tidak enak.


"Maaf ya Bang. Kayanya Mas Rendra masih marah. Tapi nanti Mas Rendra bakal biasa lagi kok." Ujar Sandra kepada Daven.

__ADS_1


Mendengar ucapan Sandra, Daven tersenyum.


"Enggak papa. Wajar aja kalau Rendra masih marah. Karena kalau Della ada diposisi kamu pun aku sebagai Abang juga akan sama marahnya seperti Rendra. Bahkan mungkin aku nggak akan sebaik Rendra dengan hanya memberikan beberapa pukulan." Jawab Daven.


Ya, Daven sama sekali tidak masalah dengan sikap Rendra itu. Dengan Rendra juga memberikan dirinya kesempatan kedua untuk bisa terus bersama dengan Sandra saja itu sudah lebih dari cukup. Daven tidak akan meminta terlalu banyak dengan meminta Rendra untuk kembali bersikap baik kepada dirinya. Karena Daven cukup sadar diri mengenai seberapa besar luka yang sudah dirinya torehkan kepada Sandra.




Selesai makan malam, semua orang pulang ke rumah masing-masing. Rendra yang mengatakan akan mengantar Viola pulang juga sekaligus meminta izin kepada Bunda Sya kalau nanti dia akan menginap di apartemen. Dan tidak seperti biasanya, Bunda Sya langsung mengizinkan. Hal ini karena Bunda Sya tau kalau hubungan Rendra dan Daven masih menegang. Jadi Bunda Sya memberikan kesempatan kepada Rendra untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.



Sementara itu, Sandra dan Daven juga naik kamar dengan Aileen yang berada dalam gendongan Daven. Malam ini, karena Aileen baru sembuh dari demam, jadi Sandra meminta agar lebih baik Aileen tidur bersama dengan dirinya saja.



Seperti biasa, Daven membaringkan Aileen di pinggir ranjang yang memang sudah dipasangi pengaman.



"Kenapa Aileen nggak di tengah aja, Bang? Biasanya kalau anak tidur sama orang tuanya kan tidurnya ditengah. Tapi ini malah jadi aku yang tidurnya ditengah." Tanya Sandra kepada Daven.



Sandra benar-benar penasaran kenapa Daven selalu melakukan ini setiap mereka tidur bertiga.



Mendengar pertanyaan Sandra, Daven tersenyum.


"Biar aku bisa peluk kamu. Karena kalau Aileen ada ditengah, aku susah buat peluk kamunya." Jawab Daven.

__ADS_1



Apakah Daven berkata jujur? Yap, tentu saja Daven jujur. Memang ini alasan kenapa Daven selalu menidurkan Aileen di pinggir setiap mereka tidur bertiga. Agar Daven bisa memeluk Sandra dengan mudah. Tapi tenang saja, meskipun di pinggir, Aileen tetap aman kok. Karena Daven sudah memastikan semua keamanannya. Jadi tidak akan ada cerita dimana Aileen jatuh dari ranjang.


__ADS_2