
"Aaa..." Sandra mendekatkan sesendok nasi yang sudah berisi nasi dan juga lauk kearah mulut Daven.
Membuat Daven untuk sejenak terpaku. Daven ingat, selama berpacaran bahkan menikah dengan Larisa, tidak pernah sekalipun Larisa melakukan hal ini kepadanya. Biasanya jika Daven sedang sangat sibuk seperti sekarang ini, Larisa bahkan tidak sedikitpun mendekat ke arah Daven dengan alasan tidak ingin mengganggu dirinya bekerja. Bahkan pernah, Daven bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore di hari libur seperti ini, dimana saat itu Daven bahkan belum makan dan minum sedikitpun, tapi Larisa sama sekali tidak mengingatkan atau bahkan menawarinya makan. Dulu Daven pikir itu adalah wujud dimana Larisa menghargai dirinya karena tidak pernah mengganggu apapun yang sedang Daven kerjakan.
Tapi mendapatkan perlakuan seperti ini dari Sandra, entah kenapa Daven justru merasakan suatu kehangatan yang luar biasa. Sesuatu yang tidak pernah Daven rasakan selama ini. Dimana seseorang sebegitu perhatian kepada dirinya.
Dengan Sandra mau repot-repot menyuapi dirinya hanya agar Daven bisa makan, jujur ini adalah sesuatu yang sangat menyentuh hati seorang Daven.
"Aaa... Abang. Apa aku harus ngueng ngueng niruin bunyi pesawat terbang biar Abang buka mulut kaya Aileen?" Ujar Sandra saat melihat Daven hanya terdiam seraya menatapnya. Jelas saja Sandra langsung salah tingkah kalau ditatap seperti itu.
Daven tersenyum.
"Boleh, coba sambil tiruin bunyi pesawat terbang." Jawab Daven.
Yap... Sandra terkena jebakan akibat ucapannya sendiri. Tapi tidak apa-apa, demi agar Daven mau makan, apapun akan Sandra lakukan. Seperti yang sering dia lakukan kepada Aileen kalau putrinya itu sedang sulit untuk makan.
"Buka mulutnya... pesawat mau masuk...ngueng...ngueng... Aaaaa" Sandra benar-benar terlihat seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anak balitanya.
Sebenarnya Daven sudah ingin tertawa, tapi Daven coba tahan hanya dengan memperlihatkan senyumnya saja. Karena saat ini sendok sudah berada tepat didepan bibirnya, mau tidak mau Daven pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Sandra.
"Wahhh... Anak Bunda hebat, maem yang lahap ya sayang, biar cepet gede." Ujar Sandra dengan senyum lebarnya.
Setelah mengunyah dan menelannya.
"Emang punya aku kurang gede?" Ujar Daven menanggapi ucapan Sandra.
Sandra yang saat ini bahkan tidak sedang makan ataupun minum seketika langsung tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Daven. Bisa-bisanya Daven berbicara seperti itu disaat sedang makan seperti ini.
"Gimana? Kurang gede?" Tanya Daven kepada Sandra.
"Haa? Maksud Abang apa sih? Udah ah nggak usah bahas yang penting. Ini makannya habisin dulu." Ujar Sandra seraya kembali menyuapkan sesendok nasi kepada Daven.
__ADS_1
Sandra pikir pembicaraan sudah selesai karena Daven hanya diam tidak menanggapi ucapan Sandra lagi. Tapi ternyata dugaan Sandra salah. Karena begitu makanan sudah tertelan...
"Aku serius loh San? Beneran kurang gede? Kalau menurut kamu emang kurang gede nanti aku bi..."
"Udah... Udah gede. Nggak perlu di gedein lagi." Jawab Sandra memotong kalimat yang belum Daven selesaikan.
"Bagus deh, karena kalau otot aku kurang gede, aku mau mulai nge-gym lagi soalnya." Jawab Daven santai.
Sementara Sandra?
"Maksud Bang Cio, yang Abang maksud itu gede otot?" Tanya Sandra dengan wajah bingungnya.
Daven menganggukkan kepalanya.
"Iya, yang aku maksud otot. Emang apa lagi?" Tanya Daven sok polos.
Dengan cepat Sandra menganggukkan kepalanya.
Daven mengulum senyum.
"Bohong? Pasti kamu mikirnya yang lain ya? Iiihhh... Sandra sekarang udah bisa mesum ya ternyata." Daven tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda Sandra. Melihat wajah Sandra yang memerah karena salah tingkah sekaligus malu seperti sudah menjadi candu untuk Daven.
"Iihh... Enggak kok, aku kan juga nebaknya otot. Kenapa jadi mesum?" Sandra terlihat tidak terima dengan tuduhan yang Daven layangkan kepadanya.
Kini Daven sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Wajah Sandra benar-benar terlihat sangat menggemaskan, dan Daven menyukainya.
"Tapi kalau emang yang itu kurang besar, bilang aja. Nanti Abang coba buat gedein juga." Bisik Daven ditelinga Sandra.
"Stop... berhenti bahas gede gede. Ini abisin dulu makanannya." Ujar Sandra semakin salah tingkah.
Merasa kasihan karena wajah Sandra sudah sangat memerah, Daven memutuskan untuk menghentikan pembicaraan tadi dan kembali melanjutkan makan siangnya. Tentu saja masih dengan disuapi Sandra. Walaupun sebenarnya saat ini Daven sedang berhenti mengerjakan pekerjaannya dan pastinya bisa kalau untuk sekedar makan sendiri. Tapi sepertinya Daven lebih senang makan disuapi oleh Sandra.
__ADS_1
"Kamu sendiri udah makan, San?" Tanya Daven kepada Sandra.
Daven hanya ingin memastikan kalau Sandra juga sudah makan siang.
"Udah, Bang. Aku udah makan tadi bareng yang lain." Jawab Sandra.
Daven menganggukkan kepalanya paham.
Kemudian terjadilah obrolan-obrolan singkat diantara Daven dan Sandra, sampai akhirnya Daven menghabiskan sepiring makan siangnya.
"Ya udah kalau Bang Cio mau lanjut kerja lagi. Yang penting sekarang perut Abang udah keisi." Ujar Sandra. "Kalau gitu aku keluar dulu ya, Bang. Makasih karena udah mau habisin makanannya." Tambahnya lagi.
Bukannya harusnya Daven yang berterima kasih karena Sandra sudah mau repot-repot menyuapi dirinya? Tapi yang terjadi justru kebalikannya. Sandra malah berterima kasih kepada Daven karena dia mau menghabiskan makan siang yang Sandra suapkan.
Sandra sudah akan beranjak dari kursi dengan piring dan juga gelas kotor dinampan. Namun sebelum Sandra benar-benar beranjak dari kursinya, Daven terlebih dahulu meraih tangan Sandra hingga membuat gerakan wanita itu terhenti.
"Nanti aja keluarnya, aku masih pengen kamu disini." Ujar Daven kepada Sandra. Daven juga mengambil nampan yang ada ditangan Sandra kemudian meletakkannya diatas meja yang kosong.
Sandra mengerutkan dahinya. Merasa ada yang berbeda dengan Daven. Tanpa Sandra duga, setelah melakukan itu Daven menarik tangan Sandra hingga wanita itu terjatuh tepat dipangkuan Daven.
Tidak hanya itu, Daven bahkan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Sandra. Benar sekali, Daven memeluk tubuh Sandra yang saat ini duduk diatas pangkuannya.
"Abang kenapa?" Tanya Sandra dengan lembut.
Sandra pikir telah terjadi sesuatu dengan Daven. Mungkin masalah pekerjaan?
"Nggak papa, aku cuma pengen peluk kamu aja. Karena setiap memeluk kamu aku selalu merasa nyaman." Jawab Daven lirih.
Tanpa Daven tau, saat ini Sandra tengah tersenyum.
Sementara itu didalam hati Daven...
__ADS_1
"Aku tau selama ini aku sangat jahat sama kamu San. Aku egois, aku selalu mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaan kamu. Tapi ... Apapun itu, sekarang aku sadar kalau aku mulai mencintai kamu San. Aku ingin kamulah yang menemani aku sampai tua nanti. Aku ingin kamu selalu ada bersama denganku."