
Tadi pagi Davian sudah merasa lega karena ngidam Sandra sudah tidak lagi melibatkan dirinya. Karena biasanya kalau Sandra sudah datang ke kantor, tujuannya selalu tidak lain dan tidak bukan yakni menjadikan Davian sebagai korban ngidamnya. Apa daya, Davian tentu saja tidak bisa menolak keinginan Sandra. Selain karena itu demi calon keponakannya, itu karena Davian juga takut kepada Daven. Davian dan Daven memang kembar, tapi posisi Daven yang merupakan abang ditambah Daven menyeramkan, tentu saja membuat Davian ciut nyali.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Davian. Davian yang saat ini sedang senggang langsung membuka pesan yang ternyata dari Sandra.
from Sandra
Kak Davi, nanti makan siang bareng ya. Kakak dateng aja ke ruangan Bang Cio, kita makan disini.
Tidak ada yang aneh dengan pesan Sandra kan? Oleh karena itu, dengan segera Davian menyanggupi keinginan Sandra. Cuma makan siang bareng, justru Davian malah senang karena dia ada teman makan. Biasanya kan Davian makan siang bersama Marcel dan Beni saja. Bayangkan, 3 laki-laki lajang makan siang bersama. Bukankah itu sangat menyebalkan? Ya menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi, daripada Davian makan sendirian kan?
Apa Davian tidak pernah makan siang bersama dengan Daven? Jawabannya hampir tidak pernah. Karena Daven lebih sering makan sendirian di ruang kerjanya. Terkadang Davian sendiri heran kenapa Daven memiliki kepribadian yang sangat tertutup seperti itu. Sangat berbede dengan dirinya dan Della yang cukup ceria. Tapi ya sudahlah ya, mau bagaimana lagi ya kan.
Begitu jam makan siang tiba, Davian langsung menuju ke ruangan Daven. Setelah sebelumnya memberitahu Marcel dan Beni kalau dia hari ini tidak bisa makan siang bersama dengan mereka berdua.
Sesampainya di ruangan Daven, tampak Sandra masih sibuk dengan drakor yang dia tonton. Sementara Daven masih tampak belum menyelesaikan pekerjaannya.
“Udah jam makan siang nih, ini masih mau nonton sama kerja?” Ujar Davian.
Daven menoleh kearah Davian, begitu juga dengan Sandra.
__ADS_1
Sandra seketika langsung tersenyum.
“Eehh, Kak Davi udah dateng. Sini duduk dulu, Kak. Baksonya belum dateng.” Jawab Sandra.
Mendengar itu, Davian langsung duduk disalah satu sofa yang ada di hadapan Sandra. Sementara Daven tampak kembali melanjutkan pekerjaannya. Seperti biasa, suara Daven itu harganya mahal. Jadi Daven tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyambut kedatangan Davian. Bukankah sangat menyebalkan? Tapi ya beginilah Daven. Setiap orang yang mengenal dekat Daven pasti tidak akan heran dengan sikap Daven yang seperti ini.
“Jadi makan siangnya pakai bakso? Enak nih.” Ujar Davian.
“Iya, Kak Davi suka bakso kan? Makanya aku pesenin bakso buat makan siang kita.” Jawab Sandra.
Daven yang sudah menyelesaikan pekerjaannya langsung duduk disamping Sandra. Daven tentu saja tidak mungkin membiarkan Sandra dan Davian hanya berduaan seperti. Padahal tidak benar-benar berdua kan? Masidh ada Daven juga di ruangan ini. Memang Daven saja yang sekarang jadi cemburuan.
Tidak lama kemudian seorang OB datang membawakan pesanan bakso milik Sandra. Terlihat kalau Sandra sangat antusias menerima pesanan baksonya. Sementara Daven, dengan sigap dia mengambil mangkok di pantry. Davian, sebagai tamu yang diundang dia memilih untuk duduk.
__ADS_1
Saat ini 3 mangkok bakso sudah tertata di depan Sandra, Daven dan Davian. Sandra tampak terlihat bahagia dengan bakso miliknya. Daven seperti biasa tampak datar-datar saja. Sementara Davian tampak tercengang. Bagaimana tidak, masalahnya…
“Ini kenapa bakso punya aku beda sendiri?” Tanya Davian kepada Sandra.
Masih dengan senyumnya, Sandra menjawab pertanyaan Davian.
“Ya kan diantara kita semua, Kak Davi yangpaling suka makan bakso. Jadi aku pesenin Kak Davi bakso yang paling besar.” Jawab Sandra.
Masalahnya bukan itu, iya memang sih bakso milik Davian lebih besar dibandingkan dengan milik Sandra dan Daven. Tapi bakso besar miliki Davian ini ternyata didalamnya berisi banyak sekali cabai. Sementara Davian tidak terlalu bisa makan pedas. Sangat berbeda dengan milik Sandra dan Daven yang merupakan bakso urat biasa.
Davian menghela nafas pelan.
“Iya, kalau itu aku juga tau, San. Tapi… Kenapa enggak disamain aja sama kalian? Aku enggak masalah kok baksonya sama. Ini punya aku isinya cabai semua loh.” Ujar Davian.
Benar, Sandra membelikan Davian bakso urat lava. Yang mana didalamnya sudah pasti terdapat banyak cabai. Dan rasa pedasnya sudah pasti tidak akan diragukan lagi mengingat betapa merahnya sambal didalam baksonya ini.
“Tadinya aku mau beli yang itu, tapi sama Bang Cio enggak boleh. Mau minta Bang Cio yang makan, tapi aku inget kalau Bang Cio enggak suka pedes, jadi aku pengen Kak Davi aja yang makan. Kata yang jual itu enggak pedes banget kok, itu cuma pedes biasa aja.” Jawab Sandra.
Lihat, betapa santainya Sandra mengatakan hal itu. Sementara Davian saat ini sudah merasa frustasi sendiri.
“Udahlah, tinggal makan aja, kalau nanti kepedesan, tinggal ambil es krim aja di frezer.” Ujar Daven menanggapi.
Daven memang jarang sekali berbicara, tapi sekalinya berbicara benar-benar membuat Davian merasa sangat kesal.
Akhirnya mau tidak mau Davian memakan bakso lava yang Sandra belikan untuk dirinya. Menyesal rasanya Davian menerima ajakan makan siang bersama dengan Sandra dan Daven. Kalau saja Davian tau akan begini, dia lebih memilih untuk makan siang bersama dengan Marcel dan juga Beni.
Ya, lagi-lagi Davian terjebak oleh ngidam Sandra. Lihat bagaimana saat ini Sandra dan Daven tampak menikmati bakso mereka, sementara Davian harus menahan pedas seperti ini. Begitu bakso dia habiskan, Davian langsung mengambil 2 es krim sekaligus yang sebenarnya miliki Sandra. Bodo amat, yang penting rasa pedas yang Davian rasakan segera hilang. Dan untungnya Sandra tidak marah saat Davian mengambil es krim miliknya.
__ADS_1