Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Merindukan


__ADS_3

Sepanjang malam Daven sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Daven benar-benar merasa gelisah karena menunggu kabar dari Sandra. Setiap 1 jam sekali Daven bahkan akan terbangun untuk mengecek ponselnya. Berharap kalau Sandra akan online dan membalas pesan darinya. Tapi, dari jam 11 malam sampai jam 5 page di mana Daven sampai 6 kali terbangun, Sandra tetap tidak membalas pesan darinya. Jangankan membalas, Sandra bahkan sama sekali tidak online. Pesan yang tadi malam Daven kirimkan masih tetap centang 1 tanpa adanya perubahan.


Tapi syukurlah, akhirnya tepat jam 5 dimana Daven baru saja menyelesaikan sholat subuh, ponselnya bergetar karena ada pesan masuk, dan itu dari Sandra.


Saking bahagianya mendapatkan pesan balasan itu, tanpa menunggu lama Daven langsung menghubungi Sandra melalui panggilan video call. Perasaan lega yang sangat luar biasa Daven rasakan saat dia bisa melihat wajah Sandra. Rasa rindu yang Daven rasakan sejak kemarin akhirnya terbayarkan pagi ini.


Dan ini adalah kali pertama Daven merasakan rasa rindu yang amat sangat kepada Sandra disaat mereka sedang berjauhan seperti ini. Padahal baru kemarin Daven berpisah dengan Sandra. Biasanya meskipun berhari-hari tidak bertemu dengan Sandra, Daven merasa biasa saja. Tidak pernah merasa rindu sampai membuatnya sangat gelisah seperti semalam.


Dan setelah selesai video call dengan Sandra, barulah Daven merasa mulai mengantuk. Sepertinya tidak apa-apa kalau Daven tidur lagi, toh rapat dengan kliennya baru akan dimulai jam 10. Dan kalau Daven kesiangan pun, nanti akan ada Beni yang membangunkannya.



Pagi ini Sandra keluar dari kamarnya dengan wajah yang bahagia. Kenapa? Ya karena pagi tadi Sandra mendapatkan kabar bahagia, yaitu kehamilannya.



Rasanya Sandra seperti tidak ingin berhenti untuk terus mengusap perutnya. Tapi, sekarang Sandra mencoba untuk menahan diri. Keluarganya belum ada yang tau mengenai kehamilannya ini, jadi Sandra tidak boleh melakukan hal yang membuat orang-orang disekitarnya curiga.



"Selamat pagi..." Sandra menyapa Ayah Radit, Bunda Sya, dan juga Aileen yang saat ini sedang menikmati sarapan mereka dengan memberikan kecupan dipipi mereka.



"Selamat pagi juga..." Jawab Bunda Sya dan Ayah Radit.



"Syelamat pagi, Bunda..." Jawab Aileen dengan semangat.



"Duduk San, sarapan dulu." Ujar Bunda Sya dengan lembut.



Kenapa Bunda Sya tidak memanggil Sandra dengan sebutan 'adek' seperti biasanya? Itu karena Sandra melarang Bunda Sya dan yang lainnya memanggil dirinya 'adek' didepan Aileen dan juga keponakannya yang lain. Hal ini karena anak seusia mereka sedang sangat suka meniru, jadi pernah Aileen dan Ariel memanggil Sandra dengan panggilan 'adek' karena yang lain memanggil Sandra seperti itu.



Sandra duduk disamping Aileen yang sedang memakan sereal-nya. Akhir-akhir ini Aileen lebih suka sarapan menggunakan seceak dibandingkan dengan nasi atau roti. Tapi tidak masalah, yang penting Aileen mau sarapan. Toh selain membawa bekal, di sekolah Aileen juga mendapatkan jatah makan siang.



"Kayanya lagi happy banget nih. Ada apa?" Tanya Ayah Radit kepada Sandra.

__ADS_1



Sandra tersenyum tipis. Apakah wajah bahagianya sangat terlihat? Sampai-sampai Ayah Radit mengetahui kalau saat ini Sandra sedang sangat bahagia.



Sandra menggelengkan kepalanya.


"Enggak ada apa-apa, Ayah. Kan setiap hari aku emang selalu bahagia." Jawab Sandra dengan senyum yang semakin melebar.



Setelah mengantarkan Aileen sekolah, Sandra melajukan mobilnya menuju kantor. Tapi sebelum itu terlebih dahulu Sandra mampir ke supermarket untuk membeli susu kota ibu hamil, ya Sandra pikir dia perlu minum itu untuk memenuhi gizi calon anaknya. Sandra juga membeli beberapa cemilan untuk stok-nya di kantor. Mulai sekarang Sandra janji kalau dia tidak akan menunda-nunda makan lagi. Pokoknya demi baby didalam perut, Sandra akan melakukan yang terbaik.


Dan untuk memastikan kalau baby didalam perut baik-baik saja, Sandra memutuskan untuk memeriksakan kandungannya ini ke dokter kehamilan. Tapi sebelum itu, Sandra akan membuat janji terlebih dahulu.


Kira- kira ke dokter kandungan mana Sandra harus memeriksakan kandungannya? Mungkinkah ke dokter Susan? Dokter terbaik yang menangani tiga kehamilan Aleera sebelumnya. Tapi kalau nanti Dokter Susan memberitahu yang lain mengenai kehamilannya ini bagaimana? Aaa... Sandra belum siap orang lain mengetahuinya.


Setelah berpikir sesaat, akhirnya Sandra pada keputusan...


Okey... Tidak apa-apa. Karena Dokter Susan merupakan salah satu dokter terbaik di Jakarta, maka Sandra memutuskan untuk tetap memeriksakan kandungannya kepada Dokter Susan. Nanti Sandra akan meminta Dokter Susan merahasiakan kandungannya dengan alasan dia sendiri yang akan memberikan surprise kepada keluarganya.


"Okey... Masalah ini selesai." Gumam Sandra seraya tersenyum.





Ditengah pekerjaannya, tiba-tiba ponsel yang Sandra letakkan diatas meja bergetar. Ada sebuah panggilan video call dari Daven. Lagi-lagi Daven seperti bukan Daven yang biasanya. Karena jika sedang di luar kota, Daven hampir tidak pernah menghubungi Sandra di jam Kantor seperti ini. Apa mungkin Daven butuh sesuatu?



Sandra tersenyum tipis saat melihat wajah Daven di layar ponselnya.



"Lagi apa?" Tanya Daven membuka pembicaraan.



"Lagi kerja dong, mau apa lagi coba, kan ini belum masuk jam istirahat, Bang." Jawab Sandra santai.


__ADS_1


Saat ini jam masih menunjukkan pukul setengah 10 lebih 10 menit. Daven yang ada rapat jam 10 sepertinya bangun lebih awal dari pada yang dia perkiraan. Lihat saja bagaimana Daven saat ini sudah rapi dengan setelan jas-nya.



Daven menganggukkan kepalanya.


"Aku pengen pulang hari ini, tapi semua baru bisa diselesaikan besok." Ujar Daven tiba-tiba.



"Kenapa pengen cepet pulang? Biasanya sampai seminggu di luar kota Bang Cio biasa-biasa aja. Kok sekarang tumben-tumbenan kangen rumah." Jawab Sandra seraya tersenyum kecil.



"Bukan kangen rumah, tapi kangen sama kamu." Ujar Daven.



Membuat Sandra yang mendengarnya menjadi salah tingkah. Benarkah itu?



"Haha... Bang Cio ternyata sekarang udah pinter gombal. Belajar darimana? Belajar sama Mas Beni ya?" Tanya Sandra.



Daven menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak gombal, aku emang kangen sama kamu, bukan kangen rumah. Aku pengen cepet-cepet pulang biar bisa peluk kamu." Jawab Daven.



Terlihat raut wajah Daven yang serius. Sepertinya Daven berkata jujur dan memang rindu kepada Sandra.



"Ya udah, kalau kangen sama aku, cepetan pulang." Jawab Sandra santai.



Sandra merasa dia memang masih sangat mencintai Daven. Tapi setiap mengingat kalau Daven tidak ingin dirinya hamil, Sandra merasa... Entahlah, Sandra bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang saat ini dia rasakan kepada Daven.



"Secepatnya, secepatnya aku akan segera pulang." Ujar Daven seraya memperlihatkan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2