
"Sekarang Bang Cio boleh pulang." Ujar Sandra kepada Daven.
Karena saat ini Sandra sudah selesai mengobati luka Daven. Lalu untuk apa lagi Daven ada disini kan? Karena menurut Sandra, sudah tidak ada lagi hal yang harus mereka bicarakan. Semuanya sudah jelas. Sandra tetap pada keputusannya untuk bercerai dari Daven.
"San... Apa kamu nggak bisa pikir ulang lagi? Aku nggak mau berpisah sama kamu San." Ujar Daven dengan tatapan memelas.
Sandra tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Enggak bisa Bang, kita akan tetap berpisah. Karena aku sudah memikirkannya dengan matang. Aku yakin ini adalah keputusan yang terbaik buat kita." Jawab Sandra.
Daven menggelengkan kepala dengan frustasi.
"Enggak San, keputusan ini bukan yang terbaik. Ini sama sekali nggak baik buat aku San. Aku nggak mau pisah dari kamu. Aku ingin kita tetap menjadi sepasang suami istri."
Sandra sendiri memilih untuk diam. Karena sejujurnya dia juga tidak tau harus menjawab apa ucapan Daven ini.
Dan disaat Sandra terdiam, Daven mengajukan pertanyaan lagi.
"Kalau kita berpisah, bagaimana dengan Aileen? Bukannya kamu bilang kamu sayang Aileen? Tapi kenapa sekarang kamu malah meninggalkan dia." Tanya Daven.
__ADS_1
Daven sangat berharap, dengan membawa Aileen, maka Sandra akan merubah keputusannya.
"Benar, aku memang sayang sama Aileen. Tapi, disini aku berada diposisi dimana aku harus memilih. Dan inilah keputusan aku." Jawab Sandra. "Abang tenang saja, karena aku tidak akan pernah meninggalkan Aileen. Meskipun nantinya kita berpisah, Aileen tetaplah anak aku. Kapanpun Aileen butuh aku, aku pastikan kalau aku ada bersama dia. Kalau Aileen kangen, Abang bisa bawa Aileen kesini. Karena sampai kapan rumah ini akan selalu terbuka untuk Aileen." Sambung Sandra.
Gagal, benar... Daven pikir dia sudah gagal membujuk Sandra. Karena nyatanya keputusan Sandra sudah sangat bulat. Daven hampir saja lupa kalau nyatanya Sandra sudah bukan lagi seorang gadis manja yang selama ini dia kenal. Sandra sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang dia balut dengan kelembutan sekaligus ketegasan.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu membatalkan perceraian kita? Aku mohon, kasih tau aku Sandra. Kasih tau aku kesempatan. Katakan, apapun keinginan kamu, aku akan mengabulkannya. Asal kamu tidak menceraikan aku." Kali ini Daven sudah benar-benar merasa putus asa.
Sandra terdiam, tampak sepertinya wanita itu sedang berpikir.
Tentu saja berpisah dengan Daven juga bukan suatu hal yang Sandra inginkan. Kalau ada kesempatan, Sandra tentu saja ingin terus bersama dengan Daven sampai maut memisahkan mereka. Karena sudah berkali-kali Sandra katakan, kalau dia sangat mencintai Daven. Dan perasaan cinta yang Sandra miliki ini bukan perasaan cinta baru yang masih dangkal. Sandra tau dengan pasti bagaimana dalamnya perasaan cinta yang dia miliki untuk Daven. Dan mengambil keputusan untuk berpisah tentu saja bukan keputusan yang mudah. Apakah Sandra mengambil keputusan untuk berpisah dengan Daven secara gegabah? Tidak, kalian salah. Sandra sudah memikirkan masalah ini secara matang hingga akhirnya sampai pada keputusan untuk lebih baik berpisah. Dan sekarang Daven meminta sebuah kesempatan baru dengan memberikan sebuah janji bahwa laki-laki itu akan melakukan semua hal yang Sandra inginkan. Mendengar itu, tentu saja Sandra akan mempertimbangkannya. Karena biar bagaimanapun Sandra harus memikirkan ulang untuk menimbang kembali apakah keputusan yang dia ambil sudah yang paling baik atau masih ada solusi yang bisa digunakan untuk membuat rumah tangga mereka bertahan.
Sampai akhirnya...
Kali ini Daven kembali terdiam, sejujurnya Daven masih bingung. Daven masih belum siap pergi ke psikolog untuk mengkonsultasikan trauma yang dia alami. Daven belum siap menceritakan trauma yang sebenarnya tidak ingin dia ingat ini. Tapi... Disini Daven bukan dalam posisi yang bisa memilih. Yang Sandra inginkan adalah jawaban setuju atau tidak.
"Aku setuju." Jawab Daven pada akhirnya. "Tapi aku mau... Selama proses konsultasi kamu menemani aku." Tambah Daven.
Tanpa menunggu lama, Sandra langsung menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya, aku setuju. Aku bakal temenin Bang Cio konsultasi." Jawab Sandra.
Dan ya, nyatanya hanya ini yang Sandra inginkan. Hanya solusi ini yang Sandra butuhkan. Kalau saja sejak awal Daven mau mengobati traumanya, mungkin pada akhirnya mereka tidak akan diambang perpisahan seperti ini. Dan yang paling penting, mungkin berita kehamilan Sandra akan menjadi kabar yang paling membahagiakan untuk Daven.
Tapi ya sudahlah, semua sudah menjadi bubur. Semuanya belum terlambat selagi Daven mau berubah pikiran.
Dan setelah pembicaraan itu, Sandra meminta Daven untuk pulang. Sandra meminta Daven untuk menjaga Aileen baik-baik selama dirinya jauh dari Putri kecilnya itu. Awalnya Daven ingin ikut menginap disini tapi Sandra melarangnya dengan alasan kalau Sandra masih ingin sendiri untuk menenangkan diri. Dan pada akhirnya membuat Daven memilih untuk mengalah.
Dan sebelum Daven pergi, dia memperlihatkan sesuatu kepada Sandra. Sesuatu yang sejak tadi Daven simpan di dalam dompetnya.
"Aku mau kamu pakai cincin nikah kita lagi. Dan aku mohon, mulai sekarang jangan pernah melepasnya." Ujar Daven.
Tanpa menunggu persetujuan Sandra, Daven langsung memasangkan cincin itu di jari manis sebelah kanan Sandra. Dan setelah itu, Daven langsung berpamitan. Karena Daven sudah berjanji untuk melakukan apapun yang Sandra mau.
Setelah Daven keluar dari rumah, Ayah Radit memperlihatkan diri dari tempat persembunyiannya.
Sandra yang melihat itu langsung beranjak dari sofa dan memeluk Ayah Radit. Air mata yang sejak tadi Sandra tahan luruh begitu saja. Sandra bukan tidak tau kalau Ayah Radit sejak tadi menguping pembicaraan dirinya dengan Daven. Darimana Sandra tau? Dari aroma parfum yang Ayah Radit pakai. Sandra sangat hafal dengan aroma ini. Karena itu Sandra langsung tau kalau Ayah Radit berada disekitar dirinya.
"Ayah... Apa adek udah mengambil keputusan yang tepat? Apa tidak apa-apa memberikan Bang Cio kesempatan lagi?" Tanya Sandra seraya terisak lirih.
__ADS_1
Ayah Radit dengan lembut mengusap puncak kepala Sandra yang saat ini tengah bersandar di dadanya. Tidak dipungkiri kalau Ayah Radit juga sangat sedih melihat Sandra menangis seperti ini. Tapi dibalik itu semua, Ayah Radit merasa bangga kepada Sandra.
"Benar, adek sudah mengambil keputusan yang tepat." Jawab Ayah Radit. "Ayah nggak nyangka kalau adek bakal sedewasa ini. Apa mungkin ini karena pengaruh dari kehamilan adek?" Tanya Ayah Radit dengan senyum dibibirnya. Ayah Radit sama sekali tidak menyangka kalau putrinya ini akan memiliki pikiran sedewasa ini. Ayah Radit juga baru sadsr kalau semakin Sandra dewasa, pola pikir Sandra benar-benar mirip dengan Bunda Sya. Tegas dan bijaksana.