Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Makam Larisa


__ADS_3

Esok paginya Daven benar-benar membawa Sandra dan Aileen serta untuk berziarah ke makam Larisa. Dan sekarang mereka sudah dalam perjalanan kesana. Biasanya setiap beberapa bulan sekali Daven akan datang ke makam Larisa sendirian. Selama ini Daven juga tidak pernah membawa Aileen sekalipun kesana. Bahkan sebagai seorang Daddy, Daven juga tidak pernah memperkenalkan Larisa kepada Aileen. Selama ini Daven rasanya tidak sanggup kalau harus menceritakan bagaimana sosok Larisa kepada Aileen.


Aileen sendiri terlihat sangat excited. Selama ini dia tau bagaimana sosok seorang Larisa berdasarkan foto yang sering Mama Laras tunjukkan kepada dirinya. Selain itu, di kamar Aileen juga terdapat foto Larisa.


Apa Sandra tidak apa-apa dengan adanya foto Larisa di kamar Aileen? Iya, tentu saja tidak apa-apa. Sandra tidak masalah sama sekali. Hanya saja karena memang Aileen tidak pernah menanyakan perihal Larisa kepada Sandra, jadi Sandra memang tidak pernah membahasnya.


"Aileen seneng bentar lagi ketemu sama Mommy?" Tanya Sandra kepada Aileen.


Aileen menganggukkan kepalanya.


"Iya, Ilin seneng. Tapi kata Oma Lalas, Mommy udah ada di sulga. Jadi sekalang kita mau ke sulga ya?" Tanya Aileen dengan polosnya.


Sandra tersenyum.


"Bukan sayang, sekarang kita ke tempat Mommy bobok." Jawab Sandra.


Sementara Daven, dia hanya menyimak pembicaraan antara Sandra dan Aileen saja. Karena sejujurnya Daven sendiri tidak tau harus mengatakan apa.


"Lumah Mommy?" Tanya Aileen.


Dalam bayangan Aileen, seseorang tidur pastilah di sebuah rumah yang mana di dalamnya terdapat kamar. Aileen belum tau makan itu seperti apa. Karena ini akan menjadi kali pertama Aileen datang kesana.


"Iya, rumah Mommy." Jawab Sandra.


Setelahnya, Aileen mulai asik dengan dunianya sendiri. Aileen tidak lagi bertanya soal Mommy-nya.



__ADS_1


30 menit perjalanan, akhirnya Daven, Sandra, dan Aileen sampai juga di pemakaman tempat Larisa di makamkan.



Begitu turun, Aileen seolah takut. Gadis cilik itu mendadak rewel. Karena biar bagaimanapun ini adalah kali pertama dirinya datang ke tempat seperti ini.



Tapi setelah beberapa kali Sandra mencoba untuk menenangkan, akhirnya Aileen pun mulai tenang. Sandra bilang rumah Mommy Larisa ada disini, dan Aileen tidak perlu takut.



Tapi meski sudah tenang, Aileen tidak mau jalan kaki sendiri. Awalnya Aileen ingin Sandra yang menggendong, padahal sebelumnya sudah tidak pernah meminta lagi. Tapi saat Daven mengatakan kalau di dalam perut Sandra ada adik-adiknya, akhirnya Aileen setuju untuk digendong Daven.




"Ini Mommy sayang... Aileen nggak mau say hai sama Mommy?" Tanya Sandra kepada Aileen.



Aileen tampak menyusupkan wajahnya di leher Daven. Gadis cilik itu menolak untuk melihat ke nisan Larisa ataupun nisan lainnya.



Tidak ingin memaksa, Sandra dan Daven berjongkok di samping makam Larisa. Langsung saja mereka mengirimkan doa dan juga membacakan surat Al-fatihah untuk Larisa.


__ADS_1


"Larisa... perkenalkan, perempuan yang ada di samping aku ini adalah istri aku, namanya Sandra. Kamu pasti udah tau kan? Kamu juga pasti udah kenal kan? Maaf sebelumnya karena aku baru bisa memperkenalkan Sandra secara resmi sama kamu." Ujar Daven membuka obrolannya dengan Larisa. "Sama seperti kamu, Sandra juga perempuan yang hebat. Dia sangat sabar menghadapi sifat aku yang sangat egois ini. Dan yang terpenting, dia sangat menyayangi anak kita.--- Sekarang aku sangat mencintai Sandra, Sa. Dan kamu pasti juga sangat tau akan hal ini. Tapi meski begitu, nama kamu akan tetap berada di ruangan tersendiri di dalam hati aku." Tambah Daven.



Sandra yang mendengar Daven mengungkapkan rasa cinta kepada dirinya di depan makam Larisa tentu saja merasa sangat tersentuh. Secara tidak langsung, Sandra semakin yakin kalau Daven memang benar-benar sudah mencintainya.



Setelah Daven menyapa Larisa, kini giliran Sandra menyapanya.



"Haii Kak... Aku Sandra. Tadi Bang Cio udah memperkenalkan aku ke kakak. Kak Larisa apa kabar? Pasti disana nyaman banget ya Kak. Aku doakan semoga Kak Larisa tenang didalam sana. Oo iya, sekarang Aileen udah besar Kak. Aileen udah sekolah, Aileen udah pinter. Dan sebentar lagi, Aileen bakalan punya adek. Doakan semoga adek-adek Aileen ini bisa lahir dalam keadaan sehat ya, Kak." Ujar Sandra. "Oo iya, Kak Larisa nggak usah khawatir soal Aileen. Karena Bang Cio merawat dan menyayangi Aileen dengan sepenuh hati. Dan sekarang pun ada aku sebagai ibu sambungnya. Jadi akan aku pastikan kalau Aileen akan selalu mendapatkan limpahan kasih sayang. Aku sangat menyayangi Aileen Kak. Kak Larisa percaya itu kan?"



Sandra mengobrol dengan nisan Larisa seolah dia sedang mengobrol secara langsung dengan Larisa.



Melihat itu, dan mendengar apa yang Sandra ucapkan, Daven benar-benar merasa sangat terharu.



Tidak terasa sudah lebih dari 30 menit Daven dan Sandra berada di makam Larisa. Sebenarnya masih cukup sebentar, hanya saja saat ini matahari sudah semakin tinggi. Jadi Daven segera mengajak Sandra untuk pulang. Apalagi saat ini ternyata Aileen tertidur dalam gendongan Daven.



"Kita pamit ya Sa, lain waktu aku bakal ajak Sandra dan Aileen datang kesini lagi buat ketemu sama kamu." Ujar Daven.

__ADS_1


__ADS_2