Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Sebuah keinginan


__ADS_3

Setelah melihat keadaan Aleera dan juga mengucapkan selamat. Tidak lama kemudian Sandra dan Daven langsung kembali ke kantor. Karena biar bagaimanapun saat ini masih ada banyak pekerjaan yang harus keduanya selesaikan.


Dan sekarang Sandra sedang ada di ruangannya duduk sendirian. Kemana Beni? Laki-laki itu sedang menemani Daven rapat.


Mendadak Sandra mengelus perutnya. Sandra tersenyum simpul.


"Kapan ya aku bisa hamil kaya Aleera? Kira-kira masih lama nggak ya?" Ujar Sandra kepada dirinya sendiri. "Kayanya aku nggak bakal bisa hamil kalau aku nggak ambil start duluan. Apa aku harus agresif godain Bang Cio ya? Secara, laki-laki mana sih yang kuat dengan godaan seorang perempuan. Apalagi perempuannya kaya aku. Selain cantik, badan aku juga cukup seksi kok. Badan aku kan ideal walaupun ini nya nggak terlalu besar." Ujar Sandra yang mulai memuji dirinya sendiri.


Hening...


"Gila-gila ... Kamu bener-bener udah gila Sandra. Bisa-bisanya kamu punya pikiran mesum kaya gini? Apa kata orang nanti kalau mereka tau kamu ini ternyata mesum." Ujar Sandra seraya menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Sandra heran kenapa dia bisa memiliki pemikiran gila seperti ini.


"Aileen masih kecil Sandra, belum waktunya dia kamu kasih adek. Masalah itu nanti ajalah," Ujar Sandra kepada dirinya sendiri.


Memikirkan Aileen membuat Sandra seketika merasa bersalah karena dia tiba-tiba memiliki pikiran untuk memberi balita cantik berusia 2 tahun itu seorang adik. Padahal tujuan Sandra menikah dengan Daven adalah untuk menjadi ibu untuk Aileen. Tapi belum juga sampai 3 bulan lamanya dia menikah dan menjadi istri sekaligus ibu, Sandra malah sudah berpikiran untuk hamil. Bagaimana kalau Sandra hamil dan nantinya dia malah justru jadi mengabaikan Aileen? Tidak-tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk Sandra hamil.



"Sayangnya Bunda..." Sandra langsung heboh saat melihat Aileen yang saat ini sedang bermain di taman depan rumah bersama dengan suster Ati.



Melihat Aileen membuat rasa lelah setelah bekerja yang Sandra rasakan seketika langsung hilang. Ya, Aileen memang pengobat lelah Sandra selama ini. Sandra sangat bersyukur memiliki Aileen sebagai putrinya. Meskipun hanya putri tiri, tapi Sandra tidak pernah berpikir begitu. Bagi Sandra, anak tetaplah anak. Entah dia yang melahirkan atau bukan, Sandra tidak peduli. Yang jelas saat ini Aileen adalah putrinya dan dia adalah ibu Aileen.



"Enda..." Aileen hendak berlari kearah Sandra. Gadis cantik itu ingin Sandra menggendongnya. Tapi...



"No... Bunda mandi dulu sayang. Badan Bunda banyak kumannya. Bunda nggak mau Aileen terkena kuman yang Bunda bawa. Sekarang Aileen main sama sus dulu ya? Bunda bakalan mandi dengan cepat, habis itu langsung kesini lagi." Ujar Sandra memberikan pengertian kepada Aileen.


__ADS_1


Aileen yang pada dasarnya memang pintar untuk anak seusia dirinya pun paham dengan ucapan Sandra. Dengan senyum dibibirnya, Aileen mengangguk patuh setelah mendengar ucapan Sandra.



"Ilin unggu Enda cini?" Tanya Aileen dengan bibir tersenyum.



Kini Sandra yang menganggukkan kepalanya.


"Iya, Aileen tunggu disini ya. Bunda mandi sebentar." Jawab Sandra.



Setelah Aileen menganggukkan kepalanya lagi, Sandra bergegas masuk dan langsung menuju kamar untuk mandi. Kamar yang Sandra masuki ini adalah kamar Daven. Karena memang barang-barang Sandra ada dikamar itu.



Lalu dimana Daven sekarang? Apa Daven tidak ikut pulang bersama dengan Sandra? Jawabannya tidak. Saat ini Daven masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi laki-laki itu harus lembur. Sandra sendiri tadi pulang naik taksi. Karena tidak mungkin dia membawa mobil Daven. Kalau Sandra pulang membawa mobil Daven, nanti suaminya itu harus pulang naik apa coba?



Tanpa menimbulkan suara bising, Daven berjalan menuju ruang keluarga. Dan ya, lagi-lagi Daven mendapati Sandra yang sudah terlelap di sofa. Tubuhnya meringkuk seperti janin.


Daven sudah hafal dengan kebiasaan Sandra yang satu ini. Jika Daven lembur, Sandra akan menunggu dirinya pulang bahkan sampai ketiduran di sofa. Padahal Daven sudah mengatakan kepada Sandra supaya gadis itu tidak perlu menunggunya. Tapi Sandra tetaplah Sandra yang keras kepala. Karena Sandra masih tetap menunggub Daven pulang kalau laki-laki itu lembur.


Daven meraih remot TV yang tergeletak dibawah kaki Sandra. Dengan segera Daven mematikan TVnya.


Kemudian Daven berjongkok tepat di hadapan Sandra.


"Seperti biasa kamu memang selalu keras kepala Sandra." Ujar Daven berbisik.


Untuk sejenak, Daven menatap wajah lelap Sandra. Wajah Sandra saat tidur benar-benar terlihat sangat cantik. Tidak ada yang namanya mulut menganga atau bahkan air liur yang menetes. Benar-benar sangat cantik.

__ADS_1


Apalagi, bibir pink alami milik Sandra yang selama ini benar-benar menarik perhatian Daven. Daven tidak akan menyangkal kalau dia selalu terpesona dengan bibir Sandra tanpa polesan lipstik.


Dengan cepat Daven langsung menggelengkan kepalanya.


"Dasar otak kotor." Ujar Daven memaki dirinya sendiri.


"San..." Daven memanggil Sandra.


Tidak ada reaksi apapun dari gadis itu. Memang agak sedikit sulit membangunkan Sandra yang kalau sudah tidur akan lupa dengan sekitarnya.


"Sandra... bangun."


Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Sandra membuka matanya.


"Bang Cio udah pulang?" Tanya Sandra masih dengan wajah mengantuknya.


Daven menganggukkan kepalanya.


"Iya." Jawab Daven. "Pindah ke kamar, tidur disini dingin." Ujar Daven sebelum akhirnya langsung beranjak dari sana dan naik ketangga menuju kamarnya.


Sandra menatap punggung Daven yang berjalan menjauh. Setelah menghela nafas sebentar, Sandra beranjak dari sofa dan mengikuti langkah Daven naik ke tangga.


Tentu saja tujuan Sandra dan Daven berbeda. Kalau Daven ke kamarnya sendiri, maka Sandra ke kamar Aileen.




Daven baru selesai mandi saat jam sudah hampir pukul setengah 12. Tubuhnya yang tadi terasa lengket kini sudah kembali segar.



Daven keluar dari kamar karena dia butuh kopi untuk menemani waktu tengah malamnya. Namun, saat baru keluar dari kamar perhatian Daven langsung tertuju ke pintu kamar putrinya. Seharian ini Daven belum bertemu dengan Aileen sama sekali. Saat berangkat ke kantor tadi, Aileen belum bangun. Dan sekarang karena dia harus lembur, Daven juga tidak bertemu dengan Aileen karena putrinya itu sudah tidur.

__ADS_1



Sebenarnya bisa saja Daven masuk untuk sekedar melihat Aileen. Hanya saja Daven khawatir kalau kedatangannya nanti malah mengganggu tidur Sandra juga. Walaupun Daven tau kalau sudah tidur Sandra akan sulit bangun, tapi tetap saja kemungkinan Sandra tiba-tiba bangun karena terganggu oleh dirinya itu bisa saja.


__ADS_2