
Setelah Aileen tidur, Sandra masuk ke kamar dimana Daven juga ada disana. Seperti biasa, jam segini pasti Daven sedang sibuk dengan laptop dan pekerjaannya. Tidak ingin mengganggu, Sandra memilih untuk duduk di depan Daven. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Sandra bahas dengan laki-laki itu. Seperti kata Aleera tadi siang, permasalahan yang ada di rumah tangga Sandra dan Daven harus segera di selesaikan. Ya, Sandra akan mencoba untuk menyelesaikannya.
Daven yang sadar kalau saat ini Sandra sedang menatapnya, kemudian menghentikan aktivitas yang sedang dia lakukan. Daven meletakkan laptopnya diatas meja.
"Ada apa? Ada yang mau kamu omongin sama aku?" Tanya Daven kepada Sandra.
Ternyata Daven langsung peka kalau Sandra ingin berbicara dengannya.
"Iya, ada yang mau aku bicarakan sama Bang Cio." Jawab Sandra. "Tentang anak." Tambahnya lagi.
Mendengar itu, Daven seketika menghela nafas. Sebenarnya Daven tidak suka pembahasan mengenai hal ini. Tapi Daven memilih untuk tidak mengatakannya kepada Sandra.
"Ada apa dengan anak?" Tanya Daven berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Jujur aja sampai sekarang aku belum paham kenapa Bang Cio tidak ingin memiliki anak lagi dari aku. Bisa tolong Bang Cio jelaskan apa alasannya?" Tanya Sandra kepada Daven.
Sorot mata Sandra memancarkan dengan jelas kalau dia sangat butuh dan juga menuntut kepastian dari penjelasan Daven. Jiwa pemberani dan tegas yang Ayah Radit turunkan sepertinya sedang muncul pada diri Sandra.
"Tidak ada alasan pastinya. Aku hanya tidak ingin, itu saja." Jawab Daven.
Jawaban itu tentu saja bukan jawaban yang Sandra inginkan. Sandra ingin penjelasan yang jelas sejelas-jelasnya.
"Bang Cio bohong. Jelasin yang sebenarnya Bang. Kita ini suami istri loh. Tidak ada yang salah kalau kita saling terbuka satu sama lain. Aku tau kalau alasan Bang Cio tidak ingin memiliki anak lagi bukanlah tanpa alasan." Ujar Sandra. Sandra menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya "Bang Cio bukan nggak pengen punya anak lagi. Bang Cio hanya nggak pengen aku hamil kan?"
Daven sendiri hanya diam saat mendengar rentetan kalimat yang Sandra ucapkan. Entah apa yang saat ini sedang Daven pikirkan.
"Bang Cio trauma dengan kehamilan karena Kak Larisa meninggal setelah melahirkan Aileen kan?" Ujar Sandra langsung pada intinya.
Terlihat kalau wajah Daven seketika mengeras saat mendengar ucapan Sandra. Matanya memancarkan sorot marah, takut sekaligus sedih. Ya, Sandra bisa melihat itu semua pada sorot mata Daven. Mendadak Sandra merasa jahat begitu melihat ekspresi wajah Daven yang terlihat seperti orang yang sedang menahan sesuatu.
"Bukan." Jawab Daven singkat.
__ADS_1
Sandra tau kalau lagi-lagi Daven berbohong. Dan sekarang meskipun sebenarnya Sandra tidak tega melanjutkan pembicaraan ini, tapi Sandra harus melakukannya. Masalah ini harus segera mereka selesaikan.
"Bang aku tau kalau memang itu alasan Bang Cio tidak ingin aku hamil." Ucap Sandra dengan nada lembut. "Tapi yang harus Abang tau, tidak semua perempuan yang melahirkan akan berakhir meninggal seperti Kak Larisa. Contohnya Mama Laras dan Aleera, mereka bahkan melahirkan anak lebih dari satu diwaktu yang bersamaan, dan mereka selamat sampai sekarang, itu karena takdir mereka memang memiliki umur panjang. Dan untuk Kak Larisa, aku paham bagaimana sedihnya Bang Cio saat Kak Larisa harus meninggal karena melahirkan. Tapi itu memang sudah menjadi takdir Kak Larisa, Bang. Kalaupun saat itu Kak Larisa tidak hamil Aileen, jika Allah sudah menetapkan umur Kak Larisa hanya sampai itu, maka Kak Larisa juga akan tetap meninggal meskipun dengan cara yang berbeda. Ab..." Ucapan Sandra terhenti karena Daven memotongnya.
"Jadi kesimpulannya apa? Kamu ingin punya anak lagi atau ingin hamil?" Tanya Daven dengan suara datar.
Sandra terdiam sejenak, terlalu terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba Daven ajukan kepadanya.
"Aku ingin punya anak, dan tidak dipungkiri kalau aku juga ingin merasakan hamil dan melahirkan anak yang aku kandung sendiri." Jawab Sandra.
Mendengar itu Daven menghela nafas.
"Kalau kamu mau punya anak lagi, kita bisa adopsi. Tapi kalau kamu ingin hamil, aku tidak mengizinkannya." Ujar Daven. "Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai disini. Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi."
Setelah mengatakan itu Daven langsung naik keatas ranjang meninggalkan Sandra yang masih terduduk di sofa seorang diri.
Sandra yang melihat itu hanya bisa diam. Ucapan Daven tadi adalah final dari pembicaraan mereka. Lagi-lagi tidak ada penyelesaian dari pembahasan ini. Daven masih saja menghindar dan tidak ingin memberitahu Sandra. Tapi meski begitu, Sandra sudah menemukan jawabannya. Ya, benar sekali. Seperti kata Aleera, Daven memang memiliki trauma akan kehamilan dan melahirkan. Daven tidak ingin Sandra hamil karena dia tidak ingin Sandra juga mengalami hal yang sama seperti Larisa.
Sandra beranjak dari sofa, kemudian ikut naik keatas ranjang. Dengan berani Sandra memeluk tubuh Daven dari belakang.
Seperti tadi, Daven memilih untuk tetap diam. Dia sama sekali tidak menanggapi ucapan Sandra. Dan kini keduanya hanya terdiam dengan posisi Sandra yang masih memeluk Daven dari belakang.
Daven sejak tadi sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih tertuju dengan pembahasan yang tadi dia dan Sandra lakukan.
Tidak tahan terus berdiam diri seperti ini, Daven memutuskan untuk keluar menuju balkon. Daven melangkahkan kakinya dengan hati-hati agar Sandra tidak ikut terbangun juga.
__ADS_1
Begitu sudah berada balkon, Daven menutup pintunya. Tujuan Daven adalah untuk merokok, dan dia tidak mau kalau asap rokoknya sampai masuk ke kamar dan mengganggu tidur Sandra.
"*Benar... Kamu memang benar Sandra. Aku trauma. Aku tidak ingin kamu hamil karena aku tidak mau kamu sampai bernasib sama seperti Larisa. Aku tidak mau kamu sampai meninggalkan aku dan mempertaruhkan nyawa kamu hanya karena untuk melahirkan anak aku. Aku tidak butuh itu semua, Sandra. Kehadiran Aileen sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin lagi merasakan penderitaan yang sama dengan yang namanya di tinggalkan. Aku tidak mau Sandra." Ujar Daven dalam hati. "Tidak bisakah kamu sadar kalau aku melakukan ini karena aku sudah mencintai kamu?" Lagi-lagi kalimat itu hanya terucap didalam hati Daven*.
Sementara itu, tanpa Daven ketahui saat dia beranjak dari ranjang Sandra juga ikut terbangun. Dan saat ini Sandra sedang berdiri di balik jendela sembari menatap Daven yang sedang menghisap batang rokoknya.
"Kamu benar-benar butuh bantuan Bang. Kamu butuh seseorang untuk membantu kamu menghilangkan trauma itu." Ucap Sandra lirih.
.
.
.
*Daven tetaplah seorang laki-laki yang berkepala batuπ€£*
**Dan ya**, *Daven masih belum sadar kalau apa yang dia lakukan ini suatu saat jadi boomerang buat kedepannya*.π
*Jangan lupa kritik dan sarannya π*
__ADS_1
***Terima Kasih ππ₯°***