Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Daven, suami jail!


__ADS_3

Nyatanya menjadi seorang ibu adalah salah satu anugerah terbesar yang Sandra rasakan. Rasanya Sandra sangat tidak menyangka saat ini dia sudah menjadi seorang ibu dengan 3 malaikat kecil yang sangat luar biasa.


Aileen, gadis kecil itu semakin hari semakin pintar dan juga mandiri. Aileen benar-benar memposisikan dirinya sebagai seorang kakak yang baik untuk Saga dan Dewa. Saat Sandra sedang sibuk, Aileen akan dengan senang hati membantu Sandra menjagakan dan juga mengajak bermain adik-adiknya. Meskipun Saga dan Dewa sebenarnya memiliki baby sitter masing-masing.


Sementara itu, Saga dan Dewa yang saat ini sudah menginjak usia 8 bulan juga semakin menggemaskan. Percayalah, kedua bayi itu amat sangat jarang menangis. Sandra sendiri sampai heran kenapa kedua putranya itu hampir tidak pernah menangis. Pernah suatu ketika Saga dan Dewa demam setelah imunisasi, tapi keduanya sama sekali tidak rewel. Seolah mereka memang tidak ingin membuat Sandra dan yang lainnya menjadi repot.


"Sayang..."


Sandra mendengar suara Daven yang memanggilnya dari arah kamar mandi.


"Iya, Bang... Ada apa?" Jawab Sandra.


Saat ini Sandra baru saja selesai menyusui Saga. Sementara Dewa yang memang lebih dulu disusui saat ini sudah tertidur pulas di box bayinya.


"Tolong ambilkan handuk, Yang. Aku tadi lupa bawa handuk." Ujar Daven.


Hem... sudah bukan hal yang aneh lagi kalau Daven lupa membawa handuk ke kamar mandi.


"Iya sebentar." Jawab Sandra.


Setelah menidurkan Saga di box bayinya, Sandra segera beranjak dari sana untuk mengambilkan handuk. Padahal biasanya selalu ada handuk bersih di lemari kamar mandi, tapi sepertinya saat ini tidak ada. Buktinya Daven meminta tolong Della untuk mengambilkan handuk.


Tok... tok... tok...


"Abang, ini handuknya." Ujar Sandra.


Ceklek...


Tidak menunggu lama, pintu kamar mandi terbuka. Hal ini membuat Sandra refleks langsung memejamkan matanya. Bagaimana tidak? Dalam keadaan tanpa busana dan air yang masih menetes dari tubuhnya, Daven membuka pintu kamar mandi dengan lebar. Tidak ada sedikitpun terbesit rasa malu yang Daven rasakan meskipun dirinya dalam keadaan tanpa busana.

__ADS_1


"Kenapa tutup mata?" Tanya Daven kepada Sandra.


Daven cukup heran kenapa Sandra masih saja belum juga terbiasa meskipun sudah sangat sering melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.


"Ya itu... Bang Cio kan enggak pakai baju." Jawab Sandra masih dengan mata yang tertutup.


Daven yang mendengar ucapan Sandra tampak tersenyum smirk. Kalau seperti ini, rasanya Daven ingin sekali semakin menggoda Sandra.


"Ini handuknya Bang..."


Masih dengan mata tertutup, Sandra menyodorkan handuk kepada Daven. Rasanya Sandra ingin segera berlalu darisana, tapi Daven tidak kunjung mengambil handuk yang Sandra bawa.


Tanpa Sandra duga, Daven justru menarik tubuhnya masuk. Apa yang Daven lakukan ini membuat Sandra refleks langsung memekik.


"Abanggg...." Teriak Sandra.


Bukannya merasa bersalah, Daven justru tertawa setelah mendengar teriakan Sandra. Tidak menunggu lama, Daven langsung memeluk tubuh Sandra.


Posisi Daven saat ini dia tengah memeluk Sandra tanpa ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Apakah Daven tidak merasa malu? Tentu saja tidak. Tidak ada rasa malu sedikitpun yang Daven rasakan setiap kali dia mempertontonkan tubuhnya dihadapan Sandra. Lagi pula untuk apa Daven merasa malu? Tubuhnya sempurna, tinggi, sixpack dengan kulit kecoklatan. Ditambah Daven memiliki barang berharga yang bisa dikatakan waow. Jadi untuk apa juga Daven merasa malu coba? Apalagi Sandra adalah istrinya sendiri.


"Abang... ini pakai dulu handuknya." Ujar Sandra kepada Daven.


Tapi Daven tetap mengidahkan perintah Sandra.


"Enggak usah lah, aku pengen peluk kamu dulu." Jawab Daven santai.


"Bang Cio enggak merasa dingin emangnya?" Tanya Sandra.


Saat ini Sandra sudah membuka matanya. Mengingat posisi dirinya saat ini tidak langsung melihat kearah tubuh bagian bawah Daven. Ya walaupun sekarang ini Sandra bisa merasakan dengan jelas sesuatu milik Daven yang sukses membuat dirinya hamil Saga dan Dewa itu.

__ADS_1


"Enggak, kan sambil peluk kamu. Jadi rasanya tetap hangat." Jawab Daven.


Sandra menghela nafas pelan.


"Abang.. pakai dulu handuknya. Ini baju aku jadi ikutan basah loh." Ujar Sandra.


Ingat kan kalau tubuh Daven memang masih basah? Dan sekarang Daven malah memeluk tubuh Sandra. Secara otomatis baju Sandra juga ikut basah karena menempel pada tubuh Daven.


Memilih untuk menurut, Daven melepaskan pelukannya pada Sandra. Sandra yang tidak menyangka kalau Daven akan menuruti ucapannya, tidak sempat memejamkan matanya. Kini tatapan Sandra tertuju kearah barang yang menjadi kebanggaan Daven.


Terpukau? Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Sandra saat ini. Sandra bahkan sampai tidak bisa berkutik.


"Kenapa? Pengen ya?" Tanya Daven dengan nada percaya diri. Jangan lupakan juga senyum smirk yang tersungging dibibir Daven. "Ini punya kamu kok, jadi kalau emang kamu pengen, kamu bisa minta sama aku kapan aja." Sambung Daven.


Tidak kuat hanya berdua saja di kamar mandi bersama dengan Daven, Sandra memutuskan untuk langsung keluar dari kamar mandi sebelum Daven menahannya lagi. Percayalah, wajah Sandra saat ini sudah semerah tomat karena sejak tadi sudah menahan malu.


Untung saja lantai kamar mandi tidak licin, jadi Sandra bisa langsung berlari keluar. Sementara Daven, dia mengambil handuk yang Sandra jatuhnya seraya tertawa puas. Rasanya Daven benar-benar gemas melihat reaksi Sandra.


Dengan santai Daven membalutkan handuk ke tubuhnya yang sudah setengah kering, lalu keluar dari kamar mandi untuk menemui Sandra yang mungkin saja saat ini sudah bersembunyi dibalik selimut.


.


.


.


Akhirnya aku bisa lanjutin cerita ini lagiπŸ’ƒ


Maaf ya karena udah bikin temen-temen nunggu lama. Cerita ini tetap bakal aku selesaikan sampai tamat kok😁

__ADS_1


Jangan lupa kritik dan sarannya 😍


Terima Kasih 😘😍


__ADS_2