Mengejar Cinta Duda Baru

Mengejar Cinta Duda Baru
Sampai kapan?


__ADS_3

Hari ini Sandra sedang berada di kediaman keluarga Persada. Dan tentu saja Sandra tidak sendiri, sudah pasti dia bersama dengan Daven dan juga Aileen. Memang sudah menjadi sebuah rutinitas kalau setiap weekend secara bergantian Sandra akan menginap di rumah keluarga Persada atau keluarga Santoso. Dan weekend kali ini giliran Sandra dan Daven menginap di rumah keluarga Persada, karena weekend kemarin Sandra sudah menginap di rumah keluarga Santoso.


Saat ini Sandra sedang membantu Mama Laras memasak makan malam bersama dengan Della. Tentu saja, membantu memasak yang Sandra lakukan hanya sekedar membantu potong-potong bahan masakan saja. Sandra belum bisa kalau harus memasak, kalau dipaksakan nanti yang ada mereka malah tidak jadi makan malam karena rasa makanannya sudah pasti tidak enak.


"Maaf ya Ma, Sandra nggak bisa bantu Mama masak, Sandra bisanya cuma bantu potong-potong kaya gini doang." Ujar Sandra sembari memotong bawang-bawangan.


Tapi kalau urusan potong memotong bahan, Sandra sudah jago kok. Hasilnya sudah lebih rapi dibandingkan sebelumnya.


Mama Laras dan Della yang mendengar itu tersenyum.


"Nggak masalah kalau kamu nggak bisa masak San. Jaman sekarang gampang kok, kalau pengen makan delivery order juga bisa, banyak kok diluaran sana yang jual makanan rumahan yang juga sehat. Namanya manusia pasti ada kekurangan dan kelebihannya sayang. Walaupun kamu nggak bisa masak, tapi banyak hal lainnya yang bisa kamu lakukan dengan sangat baik." Jawab Mama Laras berusaha membesarkan hati Sandra.


Menurut Mama Laras, di zaman yang sudah maju dan serba mudah seperti ini, memasak bukan suatu keahlian yang benar-benar sangat dibutuhkan. Lagi pula meskipun Sandra tidak bisa memasak, kalau untuk sekedar mengolah makanan instan seperti mie, telur, memasak nasi, Sandra sudah bisa melakukannya kok, dan itu sudah lebih dari cukup. Mama Laras sendiri tidak pernah menuntut orang lain bisa memasak sama seperti dirinya. Seperti Della, Mama Laras juga tidak pernah memaksa Della untuk belajar memasak. Dan itu membuat Della pun juga tidak terlalu pandai memasak, tapi kemampuan memasak Della pastinya lebih baik dari Sandra.


Lagi pula Mama Laras juga tidak menetapkan syarat kepada menantunya untuk bisa memasak. Baik Daven maupun Davian, mereka juga sepertinya tidak terlalu mementingkan kemampuan memasak pasangannya.


"Iya bener kata Mama, San. Sekarang mah gampang, kalau laper dan kita nggak bisa masak ya tinggal delivery order aja. Kemampuan memasak aku juga nggak jauh beda dari kamu San, bisanya cuma masak makanan yang simpel-simpel doang." Ujar Della.


Sandra tersenyum mendengar ucapan Mama Laras dan Della. Sedikit banyak itu membuat Sandra tidak terlalu berkecil hati.


"Tapi kalau kapan-kapan Sandra minta diajarin masak, Mama mau ajarin Sandra kan?" Tanya Sandra kepada Mama Laras.


"Iya dong sayang, apa sih yang enggak buat putri Mama ini." Jawab Mama Laras seraya menatap Sandra dengan sayang.


Sandra bisa merasakan kalau dimana pun dia berada, orang-orang menyayanginya. Namun meski begitu Sandra merasa masih ada yang kurang kalau Daven belum menyayanginya juga.

__ADS_1




Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Semua orang sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Begitu juga dengan Daven dan Sandra, saat ini mereka sudah berada di kamar. Aileen? Gadis kecil itu saat ini tidur bersama dengan Mama Laras dan Daddy Dani.



"Bang..." Sandra memanggil Daven yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya.



Seperti biasa, jika tidur dikamar yang sama, maka Sandra akan tidur di ranjang sementara Daven tidur di sofa.




"Gini, menurut aku sofa itu terlalu sempit deh buat Abang. Dan itu pasti bakalan bikin badan Bang Cio pegel-pegel kalau bangun. Jadi, mending kita tukeran aja, aku yang tidur di sofa dan Abang tidur di ranjang. Kayanya sofa itu bakalan lebih pas kalau buat aku." Jawab Sandra.



Biasanya Sandra akan diam saja kalau Daven tidur di sofa, tapi kali ini Sandra merasa kasihan. Karena sofa dikamar Daven ini ukurannya tidak terlalu besar, jadi pastinya itu akan membuat Daven tidak bisa tidur dengan nyaman.


__ADS_1


"Nggak usah, aku nyaman kok tidur disini." Ujar Daven. " Lagi pula aku nggak akan biarin kamu sampai tidur di sofa, Sandra." tambahnya lagi.



Sandra menghela nafas mendengarnya.



"Ya udah kalau gitu mending kita tidur satu ranjang aja, biar sama-sama enak. Aku janji nggak bakal ngapa-ngapain Bang Cio kok." Ujar Sandra yang kini mulai kehilangan kesabarannya. Jangan lupakan kalau Sandra adalah anak bungsu yang biasanya selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan juga fakta bahwa sebenarnya Sandra adalah perempuan yang tidak sabaran dan terkadang juga agak keras kepala. Sandra merasa kesal karena Daven memperlakukan Sandra seolah dirinya adalah perempuan yang memiliki penyakit menular, sehingga tidak boleh terlalu dekat dengannya. Sikap Daven yang selalu menghindarinya ini dirasa Sandra sangat berlebihan..



"Bukan gitu maksudnya San. Aku han..." Ucapan Daven dipotong oleh Sandra.



"Hanya takut kalau dengan tidur satu ranjang sama aku itu akan membuat Bang Cio menghianati Kak Larisa kan? Kalau itu alasannya, Bang Cio tinggal bilang aja ke Kak Larisa kalau hubungan aku sama Bang Cio nggak lebih dari kakak adik. Itu kan yang selalu Bang Cio bilang sama aku? kalau aku ini adik Abang? Jadi dengan begini Kak Larisa nggak bakal salah paham lagi. Kita cuma tidur satu ranjang Bang, kita nggak akan melakukan sesuatu yang membuat Bang Cio menjadi seorang penghianat untuk Kak Larisa. Abang tenang aja, nanti dua bantal guling ini bakal aku taruh ditengah, jadi aku nggak bakalan bisa deket-deket sama Abang." Ucap Sandra dengan nafas memburu. Sandra saat ini sedang berusaha dengan keras untuk tidak terpancing emosi sendiri.



Daven menghela nafas pelan. Daven sangat sadar kalau apa yang dia lakukan ini mungkin saja sudah sangat melukai Sandra. Tapi, jika Daven tidak tegas dengan dirinya sendiri, yang ada dia malah melukai Larisa. Itulah yang Daven pikirkan saat ini. Daven selalu meyakini kalau Larisa pasti mengamatinya dari atas sana. Jadi, Daven tidak mau membuat Larisa sampai merasa kalau dia menduakan istrinya itu. Katakanlah Daven gila, maka iya, Daven akan menjawab kalau dirinya itu gila.



Sementara itu, Sandra yang melihat Daven hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun untuk menjawab ucapannya, kembali dilanda rasa kecewa. Sandra tau kalau dia akan menangis karena hal ini. Maka dengan cepat Sandra langsung mematikan lampu kamar dan menutup tubuhnya dengan selimut. Meninggalkan Daven yang masih terdiam dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1



Dalam diamnya, air mata menetes dari pelupuk mata Sandra. Kalau diingat-ingat lagi, menikah dengan Daven adalah keputusannya sendiri. Sandra bahkan sudah memikirkan segala konsekuensinya. Tapi hanya karena masalah ranjang seperti ini saja Sandra sudah menangis dan merasa hatinya sangat sakit. Lalu bisakah Sandra menjalani rumah tangganya ini? Sandra selalu mengatakan kalau dia bisa meskipun menikah tanpa adanya cinta dari Daven. Tapi nyatanya ini sangat berat, bahkan terlalu berat. Bersaing dengan seseorang yang bahkan raganya sudah tidak ada nyata memang benar-benar sangat sulit. Sandra tidak tau sampai kapan dia bertahan dan kuat bersaing dengan mendiang Larisa untuk mendapatkan hati seorang Daven.


__ADS_2