
Harusnya hari ini Sandra makan siang bersama Davian dan Marcel karena tidak ada Daven di kantor. Tapi sepertinya rencana itu harus gagal karena mendadak Davian harus ikut Daddy Dani rapat. Dan tentu saja Marcel sebagai sekretaris Daddy Dani juga ikut. Jadilah akhirnya Sandra harus makan siang sendiri.
Dengan berbekalkan dompet yang berisi uang tunai dan juga ponsel, Sandra keluar dari ruangannya dan turun menuju cafetaria kantor untuk makan siang.
Dan kebetulan sekali, setelah sekian lama Sandra bertemu dengan Daniel di lift. Sebenarnya kalau melihat sekilas-sekilas sering, tapi Daniel memilih untuk menghindar setiap melihat Sandra.
Daniel tersenyum canggung saat melihat Sandra.
"Mau ke Cafetaria, Mas?" Tanya Sandra kepada Daniel.
Terlihat meski mereka sudah lama tidak bertemu ataupun berinteraksi, tapi Sandra terlihat sama sekali tidak canggung. Tidak seperti Daniel.
"Eehh, iya nih San. Kamu sendiri mau kemana?" Tanya Daniel mencoba untuk terlihat santai.
"Sama, mau ke Cafetaria juga. Mending kita makan siang bareng aja gimana Mas?" Ujar Sandra to the point.
Sandra merasa tidak enak kalau harus makan sendiri. Dan kebetulan dia dan Daniel sudah lama kenal meskipun sebenarnya sangat jarang berinteraksi, apalagi setelah Sandra menikah dengan Daven. Jadi tidak ada salahnya kalau Sandra mengajak Daniel makan siang bersama kan?
"Eehh? Bukannya aku bermaksud mau nolak. Tapi... Ehhmm, apa nggak papa kalau aku makan siang sama kamu? Apa nggak bakal jadi masalah?" Tanya Daniel.
Sandra tertawa kecil.
"Ya nggak papa, kan kita cuma makan siang. Lagi pula di Cafetaria pasti rame. Emang bakal jadi masalah apa sih kalau makan siang bareng?"
"Ya bukan gitu San. Takutnya orang jadi sala paham aja." Jawab Daniel
"Enggak, Mas Daniel tenang aja. Cuma makan siang enggak akan jadi masalah kok." Ujar Sandra santai.
Dan sekarang disinilah Sandra dan Daniel, duduk disalah satu kursi yang ada di Cafetaria sembari menunggu makanan pesanan mereka datang.
"Udah lama ya Mas kita nggak makan bareng kaya gini." Ujar Sandra membuka pembicaraan.
Sungguh Sandra tidak bermaksud apa-apa dengan mengajak Daniel makan siang bersama. Sandra hanya butuh teman untuk menemaninya makan, itu saja. Dan kebetulan sekali tadi Sandra bertemu dengan Daniel. Laki-laki yang sudah Sandra anggap sebagai teman. Dan hubungan mereka juga awalnya bisa dikatakan cukup dekat, meskipun setelah Sandra menikah mereka jadi jauh. Secara jika Daven ada di kantor maka secara otomatis Sandra akan menemani suaminya itu untuk makan siang di ruang kerjanya. Hal ini membuat Sandra jadi jarang keluar. Dan kalau Daven sedang di luar kota biasanya Sandra makan bersama Davian dan Marcel. Sementara Daniel tidak pernah mau ikut bergabung karena... Entah karena apa, Sandra sendiri tidak tau. Mungkin karena Daniel hanya akrab dengan Sandra, makanya tidak enak kalau ikut bergabung disaat ada Davian dan Marcel. Lagi pula di Cafetaria kan ramai, jadi tidak masalah dong?
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Daniel tidak banyak bicara. Justru Sandra-lah yang seringkali membuka topi pembicaraan.
"Mas Daniel sekarang jadi beda banget deh kayanya. Biasanya banyak bicara, kok sekarang diem aja sih? Mas Daniel nggak nyaman ya makan siang sama aku?" Tanya Sandra tanpa tedeng aling-aling.
Hal ini membuat Daniel tersenyum tipis
"Bukan enggak nyaman San. Tapi rasanya gimana ya, soalnya kan kita udah lebih dari satu tahun nggak pernah makan bareng kaya gini. Jadi agak merasa agak canggung aja. Tapi aku nyaman-nyaman aja kok." Jawab Daniel.
"Syukurlah, aku kira Mas Daniel enggak nyaman." Ujar Sandra.
Sembari menikmati makan siang mereka, Sandra dan Daniel mengobrolkan banyak hal random. Dan itu membuat kecanggungan yang awalnya sangat terasa lama kelamaan menjadi memudar.
Dilain tempat, Daven saat ini sedang melonggarkan dasi yang terpasang di kerah kemejanya. Kemudian membuka 2 kancing teratasnya.
"Hufftt..." Daven menghela nafas pelan. Tubuhnya terasa lelah karena selama 2 jam dia duduk di ruang rapat.
__ADS_1
Teringat akan sesuatu, Daven mengambil ponselnya. Tidak ada notif pesan atau panggilan apapun dari Sandra. Padahal tadi pagi Daven sudah bilang kalau Sandra boleh menghubungi dirinya kapan saja. Tapi apa ini? Sandra sama sekali tidak menghubunginya.
"Sandra menghubungi kamu nggak Ben?" Tanya Daven kepada Beni.
Dengan segera Beni mengecek ponselnya. Kemudian menggelengkan kepalanya.
"Enggak Pak. Sandra sama sekali tidak menghubungi saya." Jawab Beni.
Lagi-lagi Daven menghela nafas.
Berbagai pertanyaan kenapa saat ini sedang berputar diotaknya.
"Kamu boleh keluar, Ben. Saya mau istirahat." Ujar Daven kepada Beni.
"Sebelumnya mau saya pesankan makan siang apa, Pak?" Tanya Beni kepada Daven.
"Apa aja, terserah kamu. Apa aja saya makan." Jawab Daven.
Jawaban yang sebenarnya sangat sulit untuk Beni. Karena dengan Daven menjawab terserah, itu membuat Beni harus memutar otak untuk berpikir kira-kira makanan apa yang cocok untuk Daven. Akan lebih mudah kalau Daven mengatakan secara spesifik mengenai makanan yang ingin bos-nya itu makan.
Namun meski begitu Beni tidak mengatakan apa-apa. Dia segera keluar sesaat setelah Daven mengatakan terserah.
Dan kini, disinilah Daven sendirian. Tangannya dengan cepat mencari nama Sandra di kontaknya. Daven akan menghubungi Sandra melalui panggilan video call. Entah kenapa Daven sangat ingin melihat wajah Sandra. Atau dengan kata lain... Daven merindukan Sandra.
Tutt... Tutt... Tutt...
Pada dering ke 3 akhirnya Sandra mengangkat panggilan video call dari diri sendiri. Dan kini layar ponsel Daven dipenuhi oleh wajah Sandra.
__ADS_1
"Lagi makan siang?" Tanya Daven membuka pembicaraan.
Daven langsung mengetahui kalau saat ini Sandra sedang berada di Cafetaria. Meskipun Daven sangat jarang makan disana, tapi Daven hafal setiap sudut Cafetaria di kantornya.
Sandra menganggukkan kepalanya.
"Iya, ini lagi makan. Pakai ayam goreng." Jawab Sandra seraya tersenyum. "Bang Cio udah makan?"
Daven menggelengkan kepalanya.
"Belum..." Jawab Daven singkat
Daven pikir Sandra akan langsung menceramahi dirinya dengan mengatakan bahwa seharusnya Daven tidak boleh sampai telat makan dan lain sebagainya. Tapi ternyata...
"Kenapa belum makan?"
Hanya itu respon Sandra. Padahal Daven sudah sangat menantikan suara Sandra yang akan menceramahi dirinya. Kalau sebelumnya terkadang Daven malas mendengar ceramah Sandra, kini Daven dibuat kecewa karena Sandra tidak melakukan itu. Padahal Daven sudah sangat ingin mendengar Sandra menceramahi dirinya.
"Nunggu Beni beli makanannya." Jawab Daven singkat. Entah kenapa Daven jadi kehilangan selera makannya.
Dan lihat... Sandra hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kamu makan sama Davian dan Marcel?" Tanya Daven mengubah topik pembicaraan. Karena biasanya jika tidak ada dirinya, Sandra akan makan bersama 2 laki-laki itu.
Tapi ternyata Sandra menggelengkan kepalanya.
"Bukan, Kak Davian sama Mas Marcel lagi ada rapat sama Daddy. Jadi aku makan siang sama Mas Daniel." Jawab Sandra jujur.
"Daniel? Daniel siapa?" Tanya Daven.
Mendadak Daven merasakan sesak entah karena apa. Yang jelas Daven sangat tidak suka saat mendengar Sandra makan siang bersama dengan laki-laki lain. Mungkinkah Daven cemburu?
__ADS_1