
Saat ini Sandra dan Daven sedang menemani Aileen bermain. Setelah tidur siang selama 2 jam lamanya, kini Aileen sudah kembali aktif karena tenaganya yang sudah terisi full. Namun, saat tiba-tiba TV menampilkan iklan sebuah shampo bayi, Aileen berjalan menghampiri Daven.
"Eddy... Ilin au adek..." Ujar Aileen kepada Daven. Matanya memunculkan ekspresi penuh harap menandakan bahwa balita cantik itu benar-benar ingin mempunyai seorang adik.
Sandra menghela nafas mendengar permintaan Aileen. Sandra pikir Aileen sudah lupa akan hal itu. Tapi ternyata Aileen masih ingat saja.
Dan kini Sandra dan Daven saling bertatapan. Daven mengangkat satu alisnya seolah bertanya "Kenapa Aileen bisa tiba-tiba meminta adik?"
"Kemarin aku sama Aileen ke rumah Aleera, Bang. Disana Aidan sama Ariel kasih tau ke Aileen kalau didalam perut Mamanya ada adek mereka. Jadi ya gitu, Aileen juga ngerengek pengen punya adek juga." Tanpa ditanya, Sandra langsung menjelaskan kepada Daven.
"Kenapa Aileen pengen punya adek? Aileen kan masih kecil." Ujar Daven kepada Aileen.
Mendengar daddy-nya mengatakan kalau dirinya masih kecil, Aileen terlihat tidak terima. Menurut Aileen, diusianya saat ini dia sudah besar. Padahal usianya belum genap 3 tahun.
"Ilin udah besyal Eddy... Ilin au adek kicil." Aileen tetap kekeh dengan keinginannya.
Sandra sendiri memutuskan menyerahkan semua ini kepada Daven. Karena Sandra sejak kemarin masih tidak tau harus menjawab apa jika Aileen terus meminta adik kepadanya.
Daven menghela nafas. Kalau Sandra lihat dari ekspresi Daven saat ini, sepertinya ide memiliki anak lagi adalah hal yang buruk. Terlihat kalau Daven sama sekali tidak suka dengan permintaan Aileen. Sandra sendiri sangat paham. Hubungan mereka saja baru membaik selama semingguan ini. Masa iya Daven langsung mau membuat Sandra hamil. Rasanya akan sangat mustahil.
"Emang Aileen tau adek itu apa?" Tanya Daven kepada Aileen.
Mendapat pertanyaan itu, Aileen dengan semangat menganggukkan kepalanya.
"Adek kicil yang disyini Eddy... didayam peyut Enda." Jawab Aileen sembari mengusap-usap dengan lembut perut rata Sandra.
Daven terdiam, awalnya Daven pikir Aileen tidak paham dengan konsep adik. Tapi ternyata putrinya ini sudah paham apa itu adik. Sementara itu, kalau boleh jujur, meskipun Daven sudah mulai menerima Sandra sebagai istrinya, tapi Daven sama sekali tidak berpikiran kalau dia akan memiliki anak bersama Sandra. Daven pikir kehadiran Aileen diantara mereka sudah lebih dari cukup.
Melihat Daven yang terlihat kebingungan menjawab keinginan Aileen, akhirnya Sandra pun memutuskan untuk membantu.
"Nanti kan adek Abang Ai sama Kakak Iyel juga jadi adeknya Aileen, sayang." Ujar Sandra kepada Aileen.
Aileen menggelengkan kepalanya keras.
"No... Itu adek Aban Ai cama kakak Iyel. Butan adek Ilin." Jawab Aileen menolak ucapan Sandra.
Kini gantian Sandra yang menghela nafas.
"Ya udah, nanti ya kalau Aileen udah lebih besar. Baru Bunda kasih Aileen adek." Ujar Sandra pada akhirnya.
Sandra hanya ingin pembahasan mengenai adik bayi ini segera selesai. Karena Sandra bisa melihat kalau Daven terlihat sangat tidak nyaman dengan pembahasan ini. Apalagi, kini tatapan Daven mulai terlihat seperti... sulit untuk Sandra jelaskan.
"Aku ke kamar dulu, San." Ujar Daven yang tiba-tiba beranjak dari sofa.
Tanpa menunggu jawaban dari Sandra, Daven berlalu begitu saja.
Apa pembahasan seperti ini membuat Daven sangat tidak nyaman? Awalnya Sandra berpikir wajar kalau Daven terlihat agak sedikit tidak nyaman. Tapi, sikap yang Daven tunjukkan saat ini menurut Sandra cukup berlebihan. Daven bersikap seolah-olah kalau dengan memberi Aileen adik itu adalah keputusan yang sangat buruk.
"Apakah setelah ini hubungan aku dan Bang Daven akan kembali memburuk?" Ujar Sandra dalam hati.
Setelah menidurkan Aileen, Sandra keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Daven. Seperti biasa, Sandra bukanlah orang yang suka mendiamkan masalah. Jadi, Sandra pikir dia harus kembali membahas soal adik yang Aileen inginkan dengan Daven. Karena Sandra sadar, kalau pembahasan ini harus diselesaikan dan ditemukan titik terangnya. Agar nantinya tidak akan menjadi masalah untuk kedepannya.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Seolah tau siapa yang mengetuk pintu kamarnya, Daven langsung mempersilahkan Sandra masuk.
"Masuk, San." Ujar Daven.
Ceklek...
Terlihat Daven sedang sibuk dengan laptopnya.
"Aku ganggu nggak? Ada yang mau aku bicarakan sama Bang Cio." Ujar Sandra kepada Daven.
"Enggak, mau bicara apa?" Daven langsung meletakkan laptopnya ke meja dan melepas kacamata bacanya.
"Aku mau bahas masalah yang tadi." Ujar Sandra kepada Daven.
"Yang mana?"
"Mengenai adek yang menjadi permintaan Aileen." Jawab Sandra.
Dan... Benar bukan, Daven langsung terlihat tidak nyaman saat Sandra mengajaknya membahas masalah ini.
"Apa yang mau dibahas, Sandra?" Tanya Daven dengan suara datarnya.
Sandra menghela nafas sebentar.
"Sepertinya Bang Cio sangat tidak nyaman dengan pembahasan ini. Apa..."
__ADS_1
"Apapun yang kamu pikirkan, itu benar. Sejujurnya aku tidak berniat untuk memiliki anak lagi San." Ujar Daven memotong ucapan Sandra.
Sandra terdiam, tidak menyangka kalau Daven akan langsung berterus terang seperti ini.
"Kenapa? Apa karena aku yang akan menjadi ibunya? Abang hanya ingin memiliki anak dari Kak Larisa?" Tanya Sandra.
"Bukan, bukan itu alasannya. Untuk sekarang, aku tidak bisa memberitahu kamu Sandra." Jawab Daven dengan tenang. "Bukankah kamu sudah menganggap Aileen sebagai anak kamu?"
Mendapatkan pertanyaan itu, Sandra langsung menganggukkan kepalanya.
"Benar, Aileen adalah anak aku." Jawab Sandra dengan tegas. Tidak peduli apapun yang Daven pikirkan, namun bagi Sandra, Aileen adalah putrinya.
"Apakah dengan kehadiran Aileen masih kurang di pernikahan kita ini?"
Kini Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak, kehadiran Aileen sudah membuat pernikahan kita sempurna."
"Apa kamu bersedia hanya memiliki Aileen sebagai satu-satunya anak kamu?" Tanya Daven lagi.
Meski ragu, namun Sandra menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, itu berarti kita tidak usah menambah anak lagi. Kehadiran Aileen sudah lebih dari cukup kan?" Ucap Daven tanpa ekspresi.
Daven, setelah pembicaraan dirinya dengan Sandra tadi, kini dia hanya bisa terdiam sembari menatap langit malam.
Daven bukan tidak sadar kalau keputusannya untuk tidak memiliki anak adalah keputusan yang egois. Daven meminta Sandra untuk tidak memiliki anak, sementara dirinya saja sudah memiliki Aileen, putri hasil dari perjuangan Larisa.
Daven paham sekali, biar bagaimanapun Sandra adalah seorang perempuan yang kemungkinan besar sangat ingin memiliki anak yang terlahir dari rahimnya sendiri. Tapi, selama Sandra adalah istrinya, Daven tidak ingin Sandra sampai hamil. Daven tidak ingin Sandra melahirkan anaknya seperti yang Larisa lakukan. Daven tidak ingin.... Arghh.. Rasanya Daven seperti akan gila jika memikirkan hal ini.
"Maafkan aku Sandra, tapi ini sudah menjadi keputusan final yang aku ambil." Gumam Daven.
__ADS_1