
"Beneran nggak mau ikut ke kantor aja?" Tanya Daven kepada Sandra.
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Enggak, aku di rumah aja." Jawab Sandra.
Daven menganggukkan kepalanya, tapi setelah. itu...
"Yakin? Emangnya nggak bosen kalau di rumah aja?" Tanya Daven.
Sandra tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya lagi.
"Enggak Bang. Aku yakin aku nggak bosen. Kalaupun nanti bosen, aku bisa main ke rumah Aleera. Kan dari sini ke rumah Aleera deket." Jawab Sandra.
"Kalau boleh kenapa malah main di rumah Aleera? Kenapa nggak main ke kantor aja? Nanti kalau bosen, bilang aku aja. Biar aku jemput kamu." Ujar Daven.
Sungguh, Sandra tidak tau kenapa Daven terkesan ingin agar Sandra ikut ke kantor. Masalahnya Sandra justru akan sangat bosan kalau dia di kantor Daven. Apalagi tidak ada yang bisa Sandra lakukan disana. Membantu Daven mengerjakan pekerjaannya tidak boleh. Mau main ke ruangan Beni atau Marcel, Daven juga tidak memberinya izin. Daven hanya memperbolehkan Sandra untuk duduk di ruangannya sembari menonton, makan, atau kalau tidak duduk dipangkuan laki-laki itu. Kalau begitu, wajar Sandra jadi bosan kan? Dan kalau di kantor pun yang sebagian besar Sandra lakukan hanya menonton atau tidur.
Tapi karena Sandra tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini, jadi Sandra mengiyakan ucapan Daven.
"Nanti kalau aku pengen ke kantor, aku pasti bakalan kasih tau Bang Cio." Ujar Sandra kepada Daven.
Dan jawaban Sandra ini berhasil membuat sebuah senyum tipis terbit dibibir Daven.
Benar kata Sandra, jawaban yang dia katakan berhasil membuat Daven menyudahi bujuk dan rayunya agar Sandra mau ikut ke kantor.
Sebelum Sandra dan Daven keluar dari kamar, terlebih dahulu Daven memberikan ciuman di dahi dan juga bibir Sandra. Hal ini agar saat di bawah nanti, Sandra hanya tinggal mencium tangannya saja.
Karena jujur saja, Daven masih merasa malu kalau dia harus menunjukkan kemesraan dirinya dan Sandra di hadapan orang lain. Apalagi dihadapan Ayah Radit dan Bunda Sya.
Saat ini Daven sudah sampai di kantor. Dan dia sedang duduk sembari mendengarkan jadwal yang sedang Beni bacakan.
Selesai membacakan jadwal Daven, Beni langsung undur diri untuk kembali ke ruangannya.
Sementara Daven langsung mengambil ponselnya. Hal yang sebenarnya belum pernah terjadi. Karena biasanya, jika jadwal pekerjaannya sudah dibacakan, maka Daven akan langsung fokus dengan pekerjaannya. Tapi saat ini fokus Daven justru kepada Sandra yang saat ini sedang ada di rumah.
__ADS_1
Tanpa bisa dikendalikan cegah, Daven seolah kehilangan kontrol dirinya. Padahal baru 30 menit dia duduk di kursinya, tapi Daven sudah mengirimkan pesan kepada Sandra.
to Wife
Gimana? Bosen nggak di rumah? Mau aku jemput?
Wife? Benar, kalian tidak salah baca. Daven memang sudah mengganti nama kontak Sandra di ponselnya. Bukankah ini terlihat sangat romantis?
Tidak lama kemudian ponsel Daven berdenting karena ada pesan masuk.
from Wife
Begitu pesan balasan dari Sandra.
Dan itu membuat Daven mendesah kecewa. Daven sudah berharap kalau Sandra akan membalas dengan mengatakan kalau istrinya itu bosan. Karena dengan begitu Daven jadi ada alasan untuk menjemput Sandra dan membawanya ke kantor.
Kenapa sih Daven pengen banget Sandra ikut dia ke kantor? Daven sendiri tidak tau dengan pasti apa alasannya. Hanya saja Daven merasa kalau dia ingin selalu Sandra berada di dekatnya. Karena kalau jauh dari Sandra seperti ini, Daven jadi sangat merindukan Sandra.
to Wife
Ya udah kalau gitu.
__ADS_1
Balas Daven.
Setelah membala pesan dari Sandra, Daven mulai mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya. Karena biar bagaimanapun Daven harus profesional. Dia memiliki tanggungjawab kepada perusahaan ini. Kalau saja Daven tidak mengingat itu, mungkin saat ini Daven sudah memilih untuk kembali pulang ke rumah dan menghabiskan waktunya bersama dengan Sandra.
Sementara di rumah, Rendra sudah bersiap untuk pergi ke rumah Viola. Namun lagi-lagi harus gagal karena Bunda Sya meminta Rendra untuk mengantarkan dirinya ke Mall. Katanya ada sesuatu yang harus di beli.
"Kita ke Mall yang deket rumah Viola aja ya, Bun. Biar bisa sekalian ajak dia juga." Ujar Rendra kepada Bunda Sya.
Bunda Sya menggelengkan kepalanya.
"Enggak ah, barang yang mau Bunda beli soalnya nggak ada di Mall sana. Kita ke Mall yang biasa aja." Jawab Bunda.
Mall yang Bunda Sya maksud adalah Mall yang memang biasa mereka datangi. Mall ini jauh lebih besar daripada Mall yang berada di dekat rumah Viola.
Dan sebagai anak yang baik juga berbakti, Rendra tentu saja hanya bisa menuruti keinginan Bunda Sya. Meskipun sebenarnya ingin sekali Rendra mengatakan 'Kenapa Bunda nggak pergi ke Mall dan cari barang itu sama Ayah? Kan Ayah juga ada di rumah.' Tapi Rendra mengurungkan niatnya. Karena Rendra tidak ingin menjadi anak yang durhaka.
Melihat itu, Sandra sendiri hanya bisa menahan tawanya. Sebenarnya Sandra juga kasihan kepada Rendra karena mereka semua terus menghalangi-halangi dia agar tidak sampai bertemu dengan Viola. Tapi ya mau gimana lagi, kan ini juga permintaan Viola.
Sementara Rendra dan Bunda Sya pergi ke Mall. Maka di rumah hanya ada Sandra dan Ayah Radit. Tapi nyatanya tidak lama kemudian Ayah Radit harus ke kantor karena dia berencana untuk mengontrol kondisi kantor. Jadi, hanya ada Sandra di rumah sendirian bersama dengan beberapa asisten rumah tangganya.
Kalau sudah sendiri seperti ini, tentu saja Sandra langsung merasa bosan. Dan untuk mengusir rasa bosannya ini, apa yang harus Sandra lakukan?
Tadi Daven bilang kalau Sandra bosan di rumah, dia diminta untuk menghubungi Daven agar nantinya di jemput dan di ajak ke kantor bukan? Mengingat itu, Sandra jadi terpikirkan akan sesuatu.
"Gimana kalau aku masakin Bang Cio makan siang aja? Terus aku bawa ke kantor deh. Selain kasih kejutan buat Bang Cio." Ujar Sandra bergumam seorang diri.
Sebuah senyum tersungging di wajah Sandra. Meskipun hanya sebentar, karena nyatanya setelah itu senyumnya langsung lenyap begitu saja.
"Tapi masak apa? Aku aja nggak bisa masak. Nanti kalau masakan aku nggak enak gimana?" Gumam Sandra lagi.
Berhubung Sandra tidak bisa masak, jadi akhirnya Sandra memutuskan untuk membuat puding.
Membuat puding sangat mudah bukan? Sebelumnya Sandra pernah melihat Bunda Sya dan juga Aleera beberapa kali membuat itu. Dan sepertinya bahan-bahan yang diperlukan juga tidak banyak. Dan Sandra yakin, Bunda Sya memiliki bahan-bahan itu di dapur.
Dengan semangat 45, Sandra berjalan masuk ke dapur. Setelah sebelumnya Sandra searching dulu mengenai resep untuk membuat puding, barulah Sandra mencari bahan-bahan. Dengan bantuan embak, Sandra berhasil menemukan bahan-bahan yang dia butuhkan.
"Oke, mari kita mulai." Ujar Sandra dengan senyum cerahnya.
__ADS_1