Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Album foto


__ADS_3

"Ibu ini buahnya, apa aku boleh kembali ke kamarku sekarang?" Ucapku menyimpan buah itu diatas meja,


"Tidak! Cuci pakaian Cecil dahulu setelah itu bersihkan kolam baru kau boleh istirahat" ucap ibuku memerintah,


Aku pun hanya mengangguk patuh dan segera pergi ke belakang namun disaat aku melangkahkan kaki tanganku ditahan oleh Cecil dan lagi-lagi dia memberikan aku sebuah ancaman.


"Tunggu! Vivian dengar ini baik-baik, jika kau menjadi pintar dan menonjol di kelas, aku akan mencelakai bi Ida!" Ancaman yang dia berikan kepadaku.


"Tenang saja Cecil, aku tidak akan menjadi lebih pintar darimu aku hanya ingin belajar saja" balasku kepadanya.


Dia menepuk pundakku sekali lalu akhirnya membiarkan aku untuk pergi, aku pun segera pergi mengambil pakaian kotor milik Cecil di kamarnya dan saat aku masuk ke kamarnya tidak sengaja aku melihat sebuah album foto milik Cecil yang tergeletak di tepat tidurnya.


Aku berniat membereskan album foto itu tapi aku justru malah melihat sosok pria yang aku dambakan, iya. Di dalam album foto itu terdapat banyak sekali foto Lukas Pramudya seorang pria yang aku duga adalah pria di 12 tahun silam, pria yang aku curigai sebagai penolongku di kola berenang saat itu. Aku juga melihat beberapa coretan tulisan disana, dimana Cecil sepertinya menyukai Lukas, tetapi selain itu ada juga foto laki-laki lain di dalam sana.


Karena penasaran aku segera mengambil salah satu foto pria yang tidak aku kenal ini.


"Pria ini, sepertinya wajahnya begitu familiar untukku, tapi dimana aku pernah melihatnya ya?" Gerutuku memikirkan.


Saat aku memegangi foto itu dan memikirkannya dengan pelan, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan aku yakin itu pasti Cecil yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


Aku segera mengambil satu foto itu dan menyembunyikannya ke dalam pakaianku lalu aku buru-buru mengambil pakaian kotor milik Cecil dan menaruh kembali album foto itu seperti semula.


"Cklek...." Suara pintu di buka oleh Cecil,


"Vivian jangan berlama-lama di dalam kamarku jika kau selesai mengambil pakaian kotor, cepatlah keluar. Aku tidak Sudi kau menginjak lantai kamarku terlalu lama" ucapnya dengan sinis,

__ADS_1


"Iya Cecil aku mengerti, ini juga sudah selesai" balasku dan segera keluar dengan membawa pakaian kotor miliknya.


Cecil langsung masuk telat setelah aku keluar, dia sempat menahanku sebelum membiarkan aku benar-benar pergi, sehingga aku mengira dia mengetahui bahwa aku mengambil salah satu foto dari album tersebut.


"Eh...tunggu, apa kau tidak menyentuh barang-barang milikku?" Tanyanya membuat jantungku berdetak kencang dan ketakutan.


Aku merasa sangat cemas dan takut dia akan mengetahui apa yang aku sembunyikan darinya, namun dengan mengontrol diriku aku segera berbalik kepadanya dan berusaha bersikap seperti biasa.


"Tidak Cecil, aku tidak berani" balasku menatapnya datar seperti biasa.


"CK ....aku benci wajah datar dan menyedihkan itu, awas saja jika kau berani menyentuh barang milikku, walau kau tidak sengaja aku akan menginjak tanganmu lagi!" Bentaknya melemparkan ancaman untuk ke sekian kalinya padaku.


Bahkan saking seringnya Cecil memberiku ancaman, aku tidak lagi takut dengan semua gertakan yang dia berikan, sekalipun dia melakukan ancamannya itu, aku juga sudah kebal dengan semua penderitaan di dalam rumah ini.


Aku pergi mencuci pakaian Cecil dan lagi-lagi tidak sengaja menemukan sebuah surat yang mungkin di buat oleh Cecil untuk seseorang, aku penasaran lagi dan membacanya saat itu juga.


Aku bingung dan berpikir siapa pria bernama Kaylo itu, tapi meski aku sudah mencoba untuk mengingatnya, tetap saja otakku ini tidak bisa diajak bekerja sama sehingga aku kembali memasukkan surat itu ke dalam amplopnya dan berniat untuk mengembalikannya pada Cecil seperti keadaan semula.


Aku sengaja melakukan itu karena jika aku membuang atau mengamb surat tersebut, Cecil pasti akan mencarinya dan dia pasti tidak akan mengampuniku, aku melanjutkan pekerjaanku dan segera pergi menemui Cecil untuk memberikan surat itu kepadanya lagi.


"Tok....tok...tok..." Suara ketukan pintu yang aku ketuk beberapa kali,


"Aishh....siapa sih yang menggangguku!" Suara Cecil di dalam sana.


Dia datang membuka pintu dan langsung membentakku sangat keras, terlihat sekali dia sangat membenciku, bahkan saat melihat wajahku saja dia langsung memarahiku tanpa sebab.

__ADS_1


"Aishh...ternyata kau!, berani sekali kau mengganggu aku, dasar pelayan tidak tahu waktu, ada apa kau mencariku hah?" Bentaknya dengan tatapan yang bengis,


"Ini aku tidak sengaja menemukannya di saku pakaianmu, ku pikir ini penting bagimu maka dari itu aku menyimpannya" ucapku jujur,


"Aahh....surat itu, untung saja tidak hilang, sini berikan padaku, tapi kau tidak mengintip kan?" Ucapnya langsung merampas dari tanganku dengan kasar.


"Apa menurutmu aku berani?" Balasku padanya.


Dia pun langsung menutup pintu kamarnya lagi dan aku merasa lega karena dia tidak mencurigai aku.


"Apa dia tidak bisa menyukaiku sedikit saja, aku juga ingin dicintai oleh kakakku" gerutuku pelan dengan berjalan lesu menuruni tangga.


Tidak bisa aku pungkiri sejahat apapun Cecil dan ibu kepadaku, aku tetap menyayangi mereka, karena mereka satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini meskipun hanya keluarga angkat, namun setidaknya mereka sudah mau menampungku walau aku harus membalasnya kembali dan menderita banyak tekanan di dalam rumah ini.


Aku bisa menerima semua hal jahat dan kasar yang mereka berikan kepadaku, tetapi hatiku tetap sakit mengingat mereka sangat membenciku dan tidak ada rasa cinta sedikitpun di dalam hati mereka berdua untukku.


"Aku tidak seharusnya mengharapkan cinta dari mereka" tambahku lagi mulai menerima keadaan.


Aku segera pergi ke kolam renang dan membersihkan beberapa dedaunan kering yang ada di dalam kolam tersebut, aku juga membersihkan lumut kecil yang bersarang pada temboknya, aku menggosok pinggiran kolam itu dengan tanganku sendiri dan hanya menggunakan sebuah sikat saja.


Keringat mulai bercucuran di dahiku namun aku mengabaikannya dan terus saja sibuk membersihkan kolam dengan penuh kehati-hatian.


Sampai sebesar ini aku masih tidak bisa berenang dan takut dengan air yang dalam ataupun berarus, meski sebenarnya aku sangat ingin bisa berenang agar aku tidak akan tenggelam lagi, namun tidak ada yang bisa mengajariku berenang.


Sejak kecil ibu sering mengajari Cecil caranya berenang bahkan dia menyewa seorang ahli untuk mengajarinya berlatih berenang dan memainkan biola, sedangkan aku tidak pernah bisa menyentuh biola tersebut, apalagi memainkannya. Aku hanya selalu menonton di pojokan secara diam-diam dan mendengarkan pembelajaran yang diberikan pelatih kepada Cecil.

__ADS_1


Disaat Cecil bermalas-malasan aku justru bekerja keras untuk berlatih seorang diri, aku sering kabur dari rumah secara diam-diam ketika aku masih di sekolah dasar, aku pergi berlatih ke tempat pelatihan bakat yang ada di dekat sana, aku bermain piano bersama anak-anak tidak mampu lainnya dan aku menyukai permainan piano, meski sangat ingin bermain biola.


Karena di tempat pelatihan itu hanya ada piano, drum dan gitar sehingga tidak ada alat lain yang bisa aku pilih selain piano.


__ADS_2