
Aku merasa senang dan langsung saja masuk ke dalam hingga berlari dengan cepat ke dapur masih dengan membawa kotak obat yang di berikan oleh kak Leo kepadaku sebelumnya.
Sedang disisi lain tuan Lukas yang melihat ke arah lutut juga tangan Vivian yang sebelumnya dia tunjukkan terluka dan lecet kini dia sudah melihat bahwa semuanya sudah di obati sehingga dia bisa merasa sedikit lebih lega.
Aku merasa sangat senang saat itu dan aku segera berlari ke dapur secepatnya untuk menyiapkan makan malam untuk tuan Lukas bahkan tuan Lukas sendiri berdiri di belakangku sambil menyandarkan tubuhnya ke ujung meja dan melipatkan kedua tangannya di dada, dia terus memperhatikan aku dengan wajahnya yang menatap dengan lekat dan tajam kepadaku.
Itu sangat mengganggu konsentrasi aku yang tengah memasak tapi tidak ada pilihan lain lagi yang bisa aku lakukan selain terus memasak seperti biasanya meski merasa sangat gugup sekali saat itu.
"Astaga... Apa yang tengah tuan Lukas lakukan? Kenapa dia malah memperhatikan aku terus seperti itu?" Batinku merasa sangat tidak tenang.
Tanganku begitu gemetar merasakan perasaan yang sangat gugup, aku begitu takut dan ragu saat aku hendak meraih wadah bumbu yang ada di atas rak bumbu itu aku benar-benar merasa sangat gemetar, aku ingin berusaha untuk menenangkan diriku tetapi tatapan dari tuan Lukas sangatlah tajam aku tidak bisa terus bekerja jika dia menatapku setajam itu.
Karena gemetar aku bahkan benar-benar tidak fokus saat melakukan apapun sehingga aku tidak sengaja malah menjatuhkan wadah bumbu yang terbuat dari kaca itu sampai akhirnya botolnya pecah berhamburan di lantai, aku sangat kaget dan berteriak sangat kencang, hampir saja botol itu mengenai kakiku tapi tuan Lukas dengan cepat menari tanganku sampai aku bisa menghindari kecelakaan tersebut.
"Aaahhhhh....." Teriakku begitu kencang karena sangat kaget dan panik,
"Vivian awas....." Ujar tuan Lukas sambil dengan cepat menarik tanganku hingga aku benar-benar berpelukan dengannya saat itu.
Aku menelan salivaku dengan susah payah ketika bisa melihat dengan jelas dan begitu dekat wajah seorang tuan Lukas kala itu, di tambah aku benar-benar bisa merasakan pelukan darinya, walaupun sebenarnya itu bukan pelukan penuh cinta tetapi dia hanya menolongku saja, aku tetap senang dan merasa tuan Lukas mulai perduli denganku.
Aku tidak bisa menahan kebahagiaan yang timbul dalam diriku saat itu, hingga sebuah senyum muncul di wajahku secara pelan, sampai tuan Lukas mulai menyadarkan aku dan menyuruh aku untuk segera melepaskan pelukan padanya saat itu.
"Heh...sampai kapan kau akan memelukku seperti itu, lepaskan tubuhku dan cepat bereskan kekacauan yang kau buat!" Bentak dia dengan cukup keras saat itu.
Aku yang tersadar segera saja aku melepaskan pelukannya dengan suasan yang canggung aku juga berniat untuk segera merapihkan dan membereskan semua kekacauan yang aku buat tadi, namun di saat aku baru saja hendak mengambil alat pembersih tuan Lukas justru malah hendak pergi dari sana sehingga aku langsung menghadang jalannya dan berusaha menghentikan dia saat itu.
"Ehh....tunggu tuan, kau mau kemana makanannya belum matang" ucapku kepada dia,
"Sudah pasti makananmu itu tidak akan enak dan kau terlalu lambat, apa kau pikir aku harus terus menunggu masakanmu matang bahkan kau saja harus membereskan kekacauan itu dahulu, aku akan makan di luar disana lebih enak dan cepat" ujar tuan Lukas sambil langsung menyingkirkan aku dari jalannya dan dia pergi ke luar begitu saja.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas yang lesu sambil menatap kepergiannya yang begitu di penuhi dengan kekesalan dan amarah kepadaku, aku menunduk lesu dan segera kembali membereskan semua pecahan kaca yang ada di bawah sana.
"Benar-benar.... Aku menjatuhkan semua ini juga karena dia, untuk apa dia menatap aku selekat itu dan memperhatikan aku ketika tengah memasak, aku kan jadi gugup, bayangan saja siapa yang tidak akan gugup jika dia di tatap seperti itu oleh pria yang dia suka, semua orang juga akan merasakan kegugupan yang sama denganku bukan?" Gerutuku terus bicara sendiri meluapkan kekesalan dalam diriku.
Aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun selain membersihkan semuanya dan lanjut memasak lagi untuk aku makan sendiri.
__ADS_1
Aku sudah tidak perduli lagi dengan tuan Lukas dia selalu saja menolak apa yang aku berikan kepadanya, bahkan dia sama sekali tidak merasa bersalah di saat tadi siang sudah mempermalukan aku di depan banyak orang dengan tidak mengakui aku sebagai tunangannya, aku sungguh tidak bisa memahami pola pikirnya yang sangat sulit di tebak.
"Apa dia menyukai aku atau tidak? Kenapa dia selalu bersikap semuanya dan dia selalu saja bisa melakukan semua yang dia inginkan sedangkan aku selalu tidak mendapatkan apapun" gerutuku semakin kesal ketika mengingat semuanya.
Aku menikmati makanan buatanku sendiri yang ternyata aku lupa memasukkan garamnya ke dalam sup tersebut dan rasanya benar-benar hambar.
"Ehh.....kenapa hambar begitu, aishh....aku lupa tidak memasukkan garamnya karena pecah, hmmm... Kenapa penderitaan aku sangat kumplit sekali sih, bahkan aku tidak bisa menikmati makanan buatanku sendiri hiks...hiks...sangat menyedihkan" ucapku merasa sangat sial hari ini.
Aku segera menyudahi makan malamku dan duduk di sofa menunggu kepulangan tuan Lukas, entah kenapa aku merasa sangat penasaran saja dengannya dan aku sangat ingin mihat wajahnya sebelum aku tidur, dia sama sekali tidak berubah sejak aku bertemu dengannya untuk pertama kali ketika usiaku lima tahun saat itu, aku bisa mengingat wajahnya dengan jelas tetapi sayangnya dia belum bisa melihat wajahku saat itu.
Aku sangat ingin sekali mengingatkan dia akan kenangan-kenangan kita di masa lalu, aku sangat berharap dia bisa mengingat aku kembali, dan aku pikir jika saja dia mengingat siapa aku sebenarnya mungkin sikapnya kepadaku tidak akan sedingin ini lagi.
"Tuan Lukas kapan kau akan mengingatku, apa lagi yang harus aku lakukan dan cara seperti apa yang harus aku berikan kepadamu agar kau bisa mengingat aku, bahwa aku adalah gadis yang tenggelam di kolam saat itu, aku lah gadisnya, kenapa kau tidak mengingat namamu" ucapku terus menatap ke arah pintu masuk.
Sampai tidak lama tuan Lukas sudah kembali aku langsung berjalan menghampiri dia dan menanyakan basa basi hanya untuk menahannya agar tidak langsung naik ke lantai atas, aku ingin mencoba semua hal yang aku bisa untuk membuat dia mengingatku.
"Ehhh....tuan kau sudah pulang, bagaimana apakah kau pergi ke restoran mewah, apa makanan disana sangat lezat?" Tanyaku kepadanya sambil berjalan mundur dengan pelan di hadapannya saat itu,
"Minggir untuk apa kau berjalan mundur seperti itu" ucap tuan Lukas yang akhirnya berhenti berjalan juga.
"Tuan aku hanya ingin menanyakan saja, apa yang kamu makan disana dan apakah makanannya enak? Ayo jawab saja tuan aku hanya penasaran" ucapku kepadanya.
Dia menatapku dengan tatapan yang sangat aneh juga kedua alis yang dia kerutkan begitu tajam kepadaku, aku merasa sedikit takut saat dia lagi-lagi malah memberikan tatapan menusuk seperti itu, padahal aku rasa kali ini aku tidak membuat masalah apapun atau bertanya hal sensitif kepadanya yang bisa memicu dia menatap aku seperti itu.
"Kenapa aku perlu menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu darimu? Sudahlah sana kau pergi aku akan naik ke lantai atas" ujar tuan Lukas yang malah menyuruh aku untuk pergi.
Aku tidak ingin pergi dan aku masih ingin membuat dia mengingatku sehingga aku langsung saja mengungkapkan perasaanku kepadanya begitu lantang dan tegas sambil memberanikan diriku dengan menatap luhur dan lekat kepada matanya saat itu.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu tuan Lukas, sejak aku berusia lima tahun aku senang kau menyelamatkan aku dari kolam renang di acara ulang tahun Cecil, apakah kau bisa bersikap lebih baik kepadaku?" Ucapku kepadanya.
Meski aku mengungkapkan perasaanku dengan begitu lantang kepadanya, tetapi sebentar di dalam hatiku saat itu aku sungguh sangat takut bahkan tanganku bergetar cukup kuat sampai aku sendiri harus mengepalkan kedua tanganku sekuat yang aku bisa agar tidak memperlihatkan gemetaran itu.
"Ya tuhan apa yang aku katakan barusan dia malah semakin menyipitkan matanya aahh apa sebaiknya aku pergi saja sekarang, aku ingin menghilang dari hadapannya jika aku bisa" batinku merasa sangat tidak nyaman saat itu.
Tatapannya itu sungguh sangat mengganggu aku dan aku langsung saja tertunduk setelah mengungkapkan perasaanku kepadanya aku tidak sanggup lagi menatap wajahnya yang sudah bisa di pastikan bahwa dia akan menyepelekan aku atau bahkan akan mengusir aku dari sana saat itu juga.
__ADS_1
"Heh....kenapa kau malah menunduk, lihat wajahku jika kau memang menyukaiku" ucapnya yang membuat aku sangat kaget sampai terperangah membuka kedua mataku dengan lebar.
Aku juga refleks langsung mengangkat kepalaku dan menatap matanya dengan begitu jelas dimana ternyata dia tidak menatapku dengan tatapan tajam seperti biasanya tetapi raut wajahnya itu tetap saja terlihat begitu datar dan mengeluarkan aura yang dingin.
"Tu...tu...tuan....aku mengantuk..hoaamm...aku akan pergi saja" ucapku sambil berpura-pura menguap dan hendak pergi dari sana,
Aku pikir hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa menghindari suasana kecanggungan ini dan aku memang harus menghindari dia sebelum aku tidak bisa menahan diriku lagi padanya, namun sialnya di saat aku hendak pergi tuan Lukas justru malah menahan tanganku dan dia tetap menyuruh aku untuk kembali menatapnya.
Padahal sudah jelas aku tidak bisa menatap dia sebab aku sangat takut dengan sorot matanya yang tajam juga penolakkan darinya.
"Heh...kenapa kau malah pergi aku menyuruhmu untuk menatapku lihatlah kesini, jika kau bahkan tidak berani menatapku, itu berarti kau tidak benar-benar mencintaiku" ujarnya begitu saja.
Aku sungguh kebingungan dan sangat dilema saat itu, jika aku benar-benar pergi dari sana lalu menghempaskan tangan tuan Lukas maka dia akan mengira bahwa ucapanku yang mengutarakan perasaan kepadanya adalah suatu kebohongan saja, tetapi jika aku berbalik lalu menatap matanya dengan lekat, akan sulit bagiku untuk mengontrol diri agar tidak mengatakannya lagi atau berbuat sesuatu di luar batas.
"Kenapa kau diam, tatap aku atau kau bisa pergi dan memang kau hanya bicara omong kosong sebelumnya" ucapnya lagi yang seakan tengah mendesak aku.
Ini sungguh pilihan yang sulit untukku, aku menarik nafasku dengan dalam dan langsung saja aku berbalik menatap mata tuan Lukas dengan begitu lekat sambil mengutarakan lagi perasaanku kepadanya.
"Aku benar-benar mencintaimu tuan, aku menyukaimu meskipun kau tidak bisa melihat saat itu" ucapku mengatakannya lagi.
Tuan Lukas nampak termenung dan dia membelalakkan matanya lagi sambil tangannya yang tadi menahan tanganku tiba-tiba saja terlepas secara perlahan dan dia mundur sedikit demi sedikit menjauhiku.
"Kenapa? Apakah kamu kaget tuan, aku adalah wanita yang kau cari, aku juga sudah lama menunggumu kenapa kau tidak mempercayai aku?" Ucapku lagi berusaha meyakinkan dirinya.
Bukannya sadar dan memikirkan semua yang aku katakan sebab aku sudah memberitahu dia semuanya, tapi dia justru malah menggelengkan kepalanya dengan kuat kepadaku seakan dia menyangkal semua ucapan yang aku katakan kepadanya, padahal semua itu memang benar, aku mengatakan semua kebenarannya dan aku sama sekali tidak pernah berbohong kepadanya, entah kenapa dia tetap saja tidak mempercayai aku.
"Haha....jangan menipuku, jika kau memang benar gadis yang aku cari, maka buktikan...buktikan kepadaku jika memang kau mencintaiku dan kau adalah gadis yang aku cari, sebab aku tidak akan pernah mempercayai siapapun yang membual dengan omong kosong saja" ucapnya sambil langsung pergi dari sana meninggalkan aku sendirian.
Lagi-lagi hatiku hancur dan terluka karenanya, entah sudah berapa kali aku merasakan hatiku di hancurkan olehnya tapi aku masih tetap menyukainya hanya karena sebuah ucapan darinya yang pernah mengikat janji kelingking denganku disaat aku kecil.
"Kenapa kamu tidak mempercayai aku pria buta, kamu sudah bisa melihat tapi kamu malah menjadi lebih buta dari sebelumnya, aku tidak menyukai kamu yang seperti saat ini, aku mencintai dirimu yang dulu, pria yang menyelamatkan aku dan menyayangi aku, bukan pria yang membenci aku sepertimu" ucapku pelan sambil meremas dadaku dengan kuat menahan sesak yang teramat dalam aku rasakan.
Terkadang aku sungguh merasa menjadi wanita yang sangat bodoh, karena masih tetap saja mencintai orang sepertinya, dan dia malah meminta aku untuk membuktikan kepadanya bahwa aku benar-benar mencintainya, padahal semua yang aku lakukan selama ini kepadanya adalah bukti nyata bahwa aku benar-benar mencintai dia, hanya saja dia sendiri yang tidak pernah mihat semua kebaikanku terhadapnya.
"Hiks....hiks... bagaimana lagi cara aku membuktikan kepadamu kalau semua yang aku katakan adalah kebenaran dan aku memang menyukaimu tuan Lukas" ucapku menangis terisak sendiri disana.
__ADS_1
Aku segera pergi berlari ke kamarku dan menangis seorang diri di atas ranjang dengan di tutupi selimut yang tebal aku benci menangis karena sejak kecil meski mendapatkan banyak hal buruk dari ibu dan Cecil aku selalu bisa menahan air mataku, tetapi hanya karena seorang pria asing itu aku bisa menangis sesedih ini dan sulit untuk menghentikannya.