
Nampak ibunya itu langsung saja memberikan tatapan yang tajam kepada Cecil dan seakan memberikan kode lewat tatapan matanya, tapi sayangnya Cecil justru tidak menangkap kode tersebut dan dia malah tetap mengabaikan kode yang berusaha ibunya berikan saat itu sehingga membuat nyonya Wheeler tersebut kesal di buatnya.
"Aishh... Dasar anak ini, dia tidak bisa melihat situasi dan bicara seenaknya saja dasar anak bodoh!" Gumam nyonya Wheeler tersebut.
Tuan Lukas hanya menatap mereka berdua dengan tatapan yang sinis dan dia hendak meninggalkan mereka berdua karena dia rasa semuanya sudah beres dan tidak ada yang perlu di bicarakan lagi oleh dia dengan kedua orang licik tersebut.
Sebab sebenarnya tuan Lukas sudah mengetahui sejak awal bahwa Cecil dan ibunya menyewa seorang mata-mata bayaran untuk mengikuti dia dengan Vivian selama ini sehingga tentu mereka mengetahui semuanya, itulah alasan mengapa tuan Lukas tidak mengijinkan Vivian untuk menggunakan kartu ATM yang dia berikan untuk keperluannya sebab dia tidak ingin membuat keluarganya yang gila harta itu akan mengganggu hidupnya lagi.
Dan secara tidak langsung tuan Lukas justru memberikan perhatian-perhatian kecil terhadap Vivian tanpa dirinya sadari sejak lama.
"Baik ini semua sudah cukup aku tahu dengan jelas bahwa kau menyewa seseorang untuk memata-matai aku nyonya Wheeler dan kau tidak perlu memaksakan putrimu yang sudah menolak aku ini untuk membuat kebohongan sepertimu, aku sudah mengetahuinya sejak lama, dan aku juga tahu bahwa kau membohongiku, Cecil bukan wanita yang aku cari sebab dia berusia 18 tahun saat ini bukan?" Ujar tuan Lukas dengan tatapan tajam dan wajah datarnya itu.
Seketika Cecil dan ibunya langsung terperangah kaget, mereka tidak menduga bahwa tuan Lukas sudah mengetahui banyak sekali kebohongan yang mereka lakukan selama ini, dan mereka mulai mencari alasan untuk membela diri mereka saat itu.
"AA..AA..a.. begini tuan Lukas semuanya tidak seperti yang kau pikir aku hanya menebak saja saat itu karena semua ciri-cirinya ada pada putriku Cecil sehingga aku tidak berpikir tentang usianya karena aku takut saat kecil Cecil salah mengatakan usianya padamu saat itu" ucap ibunya membela diri,
"Aku rasa itu hanya alasanmu karena aku tahu pesta yang aku hadiri saat usiaku sepuluh tahun kala itu adalah pesta seorang anak bernama Cecil Wheeler, berarti itu sudah menunjukkan bahwa gadis kecil yang aku cari bukanlah putrimu, bukankah begitu nyonya Wheeler?" Balas tuan Lukas yang terus membongkar kebohongan mereka berdua sedikit demi sedikit karena sudah berani membohonginya sebesar itu.
Seketika mereka berdua menjadi gugup dan saling pandang satu sama lain karena takut dengan tuan Lukas.
"Kalian tahu apa yang akan aku lakukan kepada mereka yang mempermainkan aku bukan" tambah tuan Lukas lagi,
"Tunggu tuan Lukas, kami akui memang semua itu salah tetapi kau juga sudah bertunangan dengan adiknya Cecil, Vivian sehingga kau harus menghargai aku yang sudah merawatnya sejak kecil, setidaknya tolong maafkan kami untuknya, dia pasti akan merasa sedih jika melihat kami menderita, tolong maafkan saja semuanya tuan Lukas" balas nyonya Wheeler dengan beralasan dan dengan sengaja memakai nama Vivian sebagai tamengnya.
Disisi lain Vivian yang melihat itu dia sungguh merasa sangat kesal dan ingin sekali rasanya dia datang menghampiri mereka, lalu menampar kedua pipi mereka dengan keras dan membalas semua yang sudah mereka lakukan kepada bi Ida juga diriku kala itu, namun aku tidak bisa menampakkan diri saat ini, karena aku sudah mengikuti tuan Lukas secara diam-diam dan aku tidak ingin terbongkar olehnya.
"Bisa bisanya mereka menjadikan aku tumbalnya dan sekarang mereka memohon pada tuan Lukas atas namaku apa yang sebenarnya mereka rencanakan, aku sangat membenci mereka berdua" gerutuku sangat kesal sambil menatap dari kejauhan.
Tuan Lukas cukup lama terdiam tidak membalas ucapan dari nyonya Wheeler hingga dia mulai berbicara lagi kepada kedua orang yang ada di hadapannya itu.
"Baiklah aku akan memaafkan kalian namun kalian harus menandatangani sebuah perjanjian denganku" balas tuan Lukas membuat sebuah kesepakatan dengan mereka.
__ADS_1
Mendengar itu aku sangat penasaran dan berusaha keras untuk bisa melihatnusi dari perjanjian tersebut namun sayangnya aku tetap tidak bisa melihat hal itu karena aku berada di belakang tuan Lukas.
Padahal saat itu aku sangat penasaran karena mendengar Cecil dan ibunya berteriak cukup keras setelah mereka membaca isi dari perjanjian tersebut.
"Apa? Tuan Lukas apa kamu tidak salah melakukan hal ini?" Tanya Cecil terlihat begitu marah.
Aku semakin penasaran sebab mereka berdua terdengar sangat kesal, bahkan Cecil menolak untuk menandatangani surat perjanjian kesepakatan tersebut.
"Bu kita lebih baik jangan menandatanganinya, kita juga membutuhkan dia Bu, dia adalah kesayangan ayah, ayah akan marah besar jika mengetahui tentang semua ini" ucap Cecil berusaha menahan ibunya.
Namun nyonya Wheeler tidak memiliki pilihan lain sebab dia mengetahui dengan jelas seberapa kejamnya tuan Lukas dimana dia akan selalu menghalalkan segala cara untuk membalas dendam pada orang yang berurusan dengannya.
Terlebih lagi dia sadar akan kesalahan yang dia lakukan bahwa semua itu cukup fatal sampai harus membuat seorang tuan Lukas menyuruhnya menandatangani sebuah perjanjian kesepakatan seperti itu.
Sehingga saat itu nyonya Wheeler tidak bisa melakukan apapun lagi dan dia terpaksa melepaskan tangan Cecil yang memegangi tangannya dan menahan dia untuk tidak menyetujui semua itu.
"Maafkan ibu Cecil tetapi kita harus melakukan ini jika kamu ingin selamat" ucap nyonya Wheeler dan langsung menandatangani perjanjian kesepakatan tersebut dengan tangannya yang gemetar cukup kuat.
"Aahhh.... Ibu kau benar-benar sudah gila, aku tidak setuju apapun yang kau lakukan hari ini dan kau harus menanggungnya sendiri nanti" ucap Cecil sambil langsung bangkit dari kursinya dan dia segera pergi dari tempat itu dengan cepat.
"Maafkan saya tuan Lukas, tapi saya harus segera mengejar putri saya, dan saya sudah menandatangani semuanya sesuai dengan keinginanmu" ucap nyonya Wheeler lalu segera pergi dari sana dengan cepat.
Di sisi lain tuan Lukas hanya tersenyum kecil dan segera melihat surat kesepakatan itu, dan dia tersenyum kecil dengan sinis lalu segera pergi dari tempat itu.
Untungnya aku rasa saat itu dia tidak mengetahui keberadaanku sehingga setelah dia keluar dari restoran tersebut aku langsung bergegas secepat yang aku bisa agar bisa sampai di rumah lebih awal.
Untungnya saat itu aku bisa mendapatkan taxi dengan cepat sehingga masih memiliki sedikit waktu untuk sampai di rumah lebih awal daripada tuan Lukas, aku segera masuk ke dalam kamar dan berpura-pura tidur disana dengan cepat.
Ku tarik selimutku dan aku langsung menutup mataku dengan cepat sampai tidak lama suara pintu terbuka terdengar dan aku tahu bahwa itu adalah tuan Lukas yang baru sampai di rumah, aku terus saja tertidur dengan tenang meski sebenarnya pikiranku terus saja tidak bisa berhenti memikirkan mengenai surat perjanjian antara tuan Lukas dan nyonya Wheeler sebelumnya.
Hingga ke esokan paginya aku benar-benar tidak tidur semalaman dan mendapatkan kantung mata yang menghitam juga besar bak seperti seekor panda, ku lihat wajahku di cermin dan itu cukup buruk bagiku.
__ADS_1
"Wahhh... Mataku sudah sama persis dengan seekor panda, apa yang harus aku lakukan, tidak mungkin aku ke sekolah dengan mata seperti ini" gerutuku memikirkan.
Aku menghembuskan nafas dengan lesu dan aku tidak tahu lagi harus melakukan apa, aku segera keluar dan berniat meminjam kacamata hitam kepada, aku keluar dengan sebelah tangan yang ku pakai untuk menutupi mata panda ku itu.
Bahkan saat tengah menyajikan makanan di meja makan dan tuan Lukas tiba disana, aku tidak berani untuk melihatnya karena aku terlalu malu untuk menampakkan mata panda yang sangat memalukan ini, hingga tuan Lukas mulai bertanya kepadaku mengenai aku yang terus menutupi wajahku dengan tangan saat itu.
"Heh, bodoh kenapa kau sedari tadi menutupi wajahmu seperti itu, apa kau membenciku sebegitu nya yah?" Tanya tuan Lukas kepadaku,
"A...a..ahhh tidak tuan bukan begitu aku hanya merasa malu karena mataku sedikit bermasalah saat ini" ucapku mengatakan yang sebenarnya,
"Buka tanganmu itu!" ucap tuan Lukas dengan tegas saat itu.
Aku sangat bingung sehingga aku tetap tidak mau membuka tanganku meski dia mendesak aku dan membentakku cukup keras saat itu, aku sungguh tidak mau melakukannya jadi aku menahan diri untuk melawan dia, bukan karena aku tidak takut ataupun menantang dia, namun aku sungguh merasa sangat malu dan tidak ingin memperlihatkan wajahku yang seperti ini di hadapan pria yang aku sukai.
Aku terus menggelengkan kepalaku dan meminta maaf kepadanya karena aku tidak bisa melakukan apa yang dia perintahkan untuk membuka tanganku saat itu.
"Ma..ma... maafkan aku tuan, tapi aku sungguh tidak ingin kau melihat aku dalam keadaan seperti ini" ujarku kepadanya sambil sedikit menjauh darinya untuk berjaga-jaga,
"Aishh.. kau sangat menguji kesabaranku, cepat lepaskan tanganmu itu...." Ucap tuan Lukas sampai tiba-tiba saja menari tanganku yang aku pakai untuk menutupi wajahku saat itu.
Hingga tanganku berhasil dia tarik dan aku dengan cepat langsung memalingkan pandanganku ke samping, karena aku tidak ingin membuat dia melihat wajahku seperti itu, dan tuan Lukas terdengar berdecak kesal kepadaku saat itu.
"CK.... Kau masih menghindariku rupanya, oke jangan salahkan aku jika akan berbuat kasar padamu" ucapnya langsung menarik tanganku lebih kuat.
Hingga aku kehilangan keseimbanganku dan langsung jatuh menabrak tubuhny dan aku tidak sengaja menengadahkan kepalaku menatapnya sampai tuan Lukas langsung menertawakan aku melihat mataku yang memiliki kantung mata besar juga menghitam.
"Wahh.... Ahahaha... Apa yang terjadi dengan matamu itu, ahahah.... Kau benar-benar seperti kembaran panda sekarang, ahaha.. sangat jelak kau sangat jelek sekali" ucap tuan Lukas yang dengan puas terus menertawakan aku.
Aku sangat malu saat itu dan langsung menundukkan kepalaku ke bawah dengan perasaan sangat malu, lalu aku memberanikan diri untuk meminjam kacamata hitam kepadanya sebab aku tidak mungkin pergi ke sekolah dengan kantung mata yang hitam seperti ini.
"Tu....tuan karena kau sudah melihatnya bisakah kau meminjamkan aku kacamata hitam milikmu, aku tidak mungkin ke sekolah dengan mata seperti ini" ujarku memberanikan diri berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Apa?... Kau masih mau pergi ke sekolah meski mataku sudah seperti mata panda seperti itu?" Ucap tuan Lukas menatapku dengan tatapan mata yang tajam dan kedua alisnya yang dinaikkan bersamaan.
Aku langsung mengangguk kepadanya dengan pelan dan dia kembali malam menertawakan aku dengan puas itu sungguh membuat aku sangat kesal dan rasanya aku ingin marah pada dia, namun mengingat siapa aku di rumah ini aku tidak berani melakukan itu terhadapnya karena aku tahu jika aku marah sekalipun kepadanya aku tetap tidak akan mendapatkan apapun dan aku yakin justru malah tuan Lukas yang akan memberikan tambahan hukuman kepadaku nantinya.