Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Dia Masih Membenciku


__ADS_3

Setelah mendengar itu akhirnya Elis bisa sedikit tenang dan dia segera duduk kembali di samping Bimo dan dia hanya bisa melampiaskan emosinya ke kasur di sebelahnya yang kosong dan memukul kasur itu bak seperti samsak baginya.


"Eughh...buk...buk...buk.... Kaylo sialan, pria menjengkelkan, arghhhh" teriak Elis sangat keras dan terus memukul ranjang itu dengan kuat.


Meski Bimo sudah menahannya namun tenaga Elis jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaga Bimo, maka dari itu tentu saja Bimo tidak dapat menahannya hingga akhirnya keributan yang dibuat oleh Elis membuat aku tersadar.


Saat aku membuka mataku kulihat Bimo yang tengah tarik menarik dengan Elis dan aku berusaha menghentikan keributan mereka berdua.


"Bimo.... Elis apa yang kalian lakukan, apa kalian bertengkar?" Ucapku bertanya.


Seketika mereka berdua langsung berhenti dan segera menatap ke padaku dengan wajah mereka yang terperangah satu sama lain.


"Ahh...Vivian akhirnya kau bangun, apa masih ada yang sakit, atau kepalamu pusing, cepat katakan pada kami bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Bimo bertubi-tubi membuat aku tidak bisa menahan senyum saat itu.


Sementara Bimo dan Elis semakin menatap heran padaku karena kau justru malah tersenyum disaat Bimo bertanya dengan panik mengenai keadaanku seperti itu dan aku justru malah membalasnya dengan senyuman sekilas.


"Eh....Vivian apa kau sehat, kenapa mah tersenyum disaat orang lain mengkhawatirkanmu?" Tanya Elis sedikit meninggikan suaranya kepadaku,


"Tidak Eli aku hanya senang karena ternyata masih ada kalian yang mencemaskanku, terimakasih sudah membantuku ya, dan terimakasih juga untuk pakaiannya. Aku janji akan segera mengganti uang kalian secepatnya" balasku kepada mereka,


"Ayolah Vivian kita ini kan sahabat jadi kau tidak perlu memikirkan masalah uang pakaian tersebut, anggap saja itu sebagai Hadian perkenalan kita, jadi kau tidak perlu mengembalikan uang kami" balas Bimo dengan tegas,


"Si bodoh ini betul, lagi pula seragam itu tidak seberapa" Tambah Elis menimpali untuk sekian lama.


"Tetap saja Elisa kalian menggunakan uang kalian sendiri untuk membelikan aku seragam baru aku tentu harus membalas kebaikan kalian ini setidaknya dengan mengembalikan uang yang kalian yang sudah terpakai" balasku tetap merasa tidak enak hati.


"Ya sudah kamu bisa mengembalikan uang itu padaku dan Elis kapan saja tapi sekarang sebaiknya kamu beristirahat dahulu" ucap Bimo sambil menepuk pundakku pelan.


Aku tersenyum pada mereka dan aku pun juga menolak untuk beristirahat di UKS, aku pergi ke kelas meski semua orang di perjalanan memandang aku dengan tatapan yang aneh banyak juga dari mereka yang dengan tidak segan berbicara menghina aku begitu lantang.


Sakit memang ketika mendengar hinaan dari mereka, namun aku tidak bisa melakukan apapun sehingga aku hanya bisa terus berjalan tertunduk hingga sampai di depan kelas dan melihat meja tempat belajarku sudah di coret-coret dengan kalimat yang menyakitkan dan kasar.


"Pergi kau dari sekolah ini, pengacau, wanita hina, sialan, *******!" Tulisan yang dibaca oleh Bimo dengan polosnya dan langsung saja mendapatkan gertakan dari Elis sangat keras.


"Buk...." Suara tepukan tangan Elis yang mengenai kepala Bimo cukup keras,


"Aduhh...Elis apa-apaan sih kau ini" ucap Bimo merasakan sakit di kepalanya,


"Apa kau bodoh kenapa kau membacanya dengan keras, lihat itu membuat Vivian merasa sakit" ucap Elis menyadarkan Bimo.


Dia pun merasa sangat bersalah kepada Vivian dan segera meminta maaf kepada Vivian saat itu juga, aku juga tidak masalah jika Bimo membacanya sekeras tapi karena dia membaca atau tidak aku tetap sakit karena membacanya sendiri, tapi walau begitu aku tetap harus menerimanya dan duduk di kursi itu dengan wajah yang ceria dan berusaha menutupi rasa sedih di dalam hatiku.


"Eh...sudah aku baik-baik saja kok, lagi pula semua ini tidak akan bisa membuatku sedih, aku memiliki kalian berdua, sahabat yang baik kepadaku jadi aku tidak keberatan memiliki banyak orang yang membenciku selama kalian masih baik dan ada di sisiku untuk mendukung aku" ucapku sambil tersenyum lebar kepada Elis dan Bimo.


"Vivian apa kamu baik-baik saja?" Tanya Elis kembali bertanya.


Aku segera mengangguk dan meyakinkan mereka hingga mereka mulai percaya, aku sengaja berpura-pura seperti itu karena aku tidak ingin membuat mereka khawatir denganku, aku hanya tidak mau membebani mereka lagi.


Hingga pulang sekaloh aku kembali berpapasan dengan Cecil dan dia memalingkan pandangan kepadaku dengan sorot mata yang sepertinya semakin membenci aku dia juga pergi dengan Kaylo, aku hanya bisa menunduk dan segera pergi dari sana dengan cepat, rasanya sakit sekali melihat Cecil yang membenciku sebesar itu, padahal sebelumnya aku sudah sangat senang karena berpikir dia sudah bisa merubah kebenciannya kepadaku.


"Hanya karena sebuah kesalahan kecil, kenapa dia langsung membenciku seperti itu?" Gerutuku pelan.

__ADS_1


Bahkan saat aku berjalan keluar dari gerbang sekolah ada beberapa anak-anak lain yang melemparkan tomat busuk kepadaku lagi, namun untungnya aku bisa menghindari semua itu dan aku membentak mereka dengan keras karena aku sudah sangat jengkel dan tidak tahan lagi dengan perlakuan mereka kepadaku yang semena-mena.


"Ahh....hampir saja, tapi siapa yang melempari aku dengan tomat busuk itu?" Ucapku keheranan.


Aku berusaha mencari dimana asal tomat itu melayang sebelumnya dan aku melihat ada dua orang di balik pohon yang bersembunyi, aku bergegas ke sana dengan perasaan kesal dan berjalan dengan cepat.


"Kau! ....berani sekali kau melemparkan tomat busuk tadi kepadaku, hey....keluar kalian aku tahu kalian ada di balik pohon ini!" Bentakku kepada mereka dengan keras.


Akhirnya mereka juga keluar dan menampakkan diri padaku ternyata itu adalah Cecil dan satu teman perempuannya.


Aku sungguh tidak menyangka jika itu sungguh dia, semua kebaikan yang aku berikan kepadanya semua sia-sia dan seakan tidak ada artinya bagi dia, aku langsung menanyakan semuanya dengan jelas kepada Cecil.


"CECIL? ja...jadi itu kau?" Ucapku kaget dan tidak menyangka,


"Iya...itu aku dan aku benci padamu!" Bentak Cecil sambil menyenggol aku dengan keras.


Aku segera menahan tangannya sekuat tenaga hingga membuat Cecil segera berbalik dan meminta aku untuk melepaskan tangannya namun aku tetap tidak melepaskannya.


"Eughh....lepaskan, beraninya kau menahan tanganku, lepaskan dasar pengemis!" Bentak dia padaku dan terus berusaha melepaskan tangannya dariku,


"Cecil aku akan melepaskanmu jika kau menjawab satu pertanyaanku ini" ucapku kepadanya.


Aku berusaha memberikan dia sedikit kesempatan kali ini karena aku masih merasa ada kebaikan di sorot matanya itu.


"Cecil apakah kau pernah menyukaiku? Apakah kau pernah tidak membenciku walau hanya satu detik saja?" Tanyaku kepadanya dengan penuh harapan.


"Tidak.... Sejak dulu aku membencimu dan aku hanya bersikap sedikit baik kepadamu hanya karena kau telah membantu aku mendapatkan Kaylo, tapi kau... Kau malah membuat membuat dia sangat marah dan malu saat di lapangan siang tadi, apa kau pikir kau ini sama denganku hah!" Bentaknya sangat keras dan aku langsung melepaskan genggaman tangannya dariku.


Saat pulang aku pergi menemui ayah dengan segera dan meminta kepadanya untuk berhenti sekolah, aku tahu Cecil tidak akan pernah suka selama aku tetap bersekolah di tempat yang sama dengannya.


Seburuk apapun aku dia selalu merasa bahwa aku adalah saingan baginya padahal aku sudah banyak mengalah untuknya sehingga tidak ada jalan lain lagi selain berhenti sekolah.


"Ayah aku ingin berhenti sekolah, aku tidak ingin sekolah lagi di tempat itu" ucapku mengatakannya.


Ayah langsung kaget dan berdiri dari meja kerjanya lalu dia langsung menghampiriku dan memeluk aku dengan erat.


"Vivian...ayah tahu apa yang kamu derita, tolong maafkan ayah karena tidak bisa membelamu disaat kamu membutuhkan bantuan, maafkan ayah Vivian, tapi ayah mohon jangan berhenti sekolah kau butuh pendidikan dan kau harus tetap sekolah disana" ucap ayah kepadaku,


"Maaf ayah tapi aku tidak bisa, keputusanku untuk berhenti sekolah sudah sangat bulat, aku tidak bisa meneruskan pendidikanku lagi disana, aku tidak ingin membuat Cecil merasa tersaingi dengan adanya aku" ucapku dengan jujur.


Ataupun menunduk mengeri dan dia akhirnya mau mengijinka aku untuk berhenti sekolah dan aku juga memilih untuk keluar dari rumah itu.


"Baiklah Vivian jika itu sudah menjadi keputusanmu ayah tidak bisa menahan atau melarang kamu lagi" ucap ayah pasrah dengan keputusanku,


"Aku juga ingin keluar dari rumah ini, dan izinkan aku membawa bi Ida bersamaku juga" ucapku dengan tegas dan menahan air mata di pelupuk mataku dengan kuat.


"Tidak.... Vivian jika itu ayah tidak akan mengijinkannya padamu,.kau harus tetap tinggal di rumah ini, jika kau pergi dari sini kau akan tinggal dimana Vivian?" Ucap ayahku sambil memegangi kedua bahuku dengan erat.


Aku langsung menghempaskan tangan ayah yang menahan bahu ku dengan erat, aku tidak bisa mengalah lagi atau menjadi lemah hanya dengan melihat wajah ayah yang aku cintai, aku juga berhak bahagia dan keluar dari penderitaan yang ada di dalam rumah ini tapi sayang nya ayah menahan ku lagi.


"Vivian ayah mohon kepadamu untuk tidak pergi dari rumah ini, ayah janji tidak akan membuatmu merasa di anggap seperti pelayan lagi oleh Cecil dan ibu angkat mu itu" ujar ayah yang masih berusaha menahan niat ku

__ADS_1


"Maafkan aku ayah meski kau berusaha menahanku seperti ini aku tetap akan pergi bahkan jika kau terus memohon kepadaku" balasku dengan tegas.


Aku pun segera pergi dari ruangan itu dan segera pergi ke kamarku mengambil koper dan memasukan semua pakaian yang ada di dalam lemariku ke dalam koper tersebut lalu aku pergi menuruni tangga dengan membawa koper itu menuju kamar pelayan di mana bi Ida berada, ku ketuk pintu kamar bi Ida beberapa kali hingga dia membukakan pintu dan menghampiriku dengan wajah yang kebingungan.


Saat itu aku berusaha untuk tidak menahan air mata yang sudah menumpuk di dalam pelupuk mataku namun sayangnya di saat bi Ida mulai bertanya kepadaku mengenai keadaan diriku aku sungguh tidak bisa menahannya lagi dan langsung ku peluk dirinya dengan erat sampai air mata mulai menerobos keluar dari mataku.


"Nona ada apa dengan mu?" Tanya Bi Ida dengan heran padaku.


Saat itu aku langsung menangis dalam pelukan bi Ida dan bi Ida sama sekali tidak berkata apapun lagi saat melihatku menangis dalam pelukannya, mungkin dia sudah mengerti bahwa ku sedang tidak baik baik saja saat itu dia hanya mengelus pundakku beberapa saat hingga aku merasa jauh lebih baik.


Akupun melepaskan pelukanku padanya dan langsung mengajak dia untuk pergi dari rumah itu bersamaku.


"Bi ayo ikut denganku, aku akan membawamu ke tempat yang jauh lebih baik di banding rumah ini" ungkapku padanya,


"Nona Vivian ada apa denganmu sebenarnya, kenapa tiba-tiba mengajak bibi pergi dari rumah ini, apa tuan besar tahu tentang ini dan kenapa nona Vivian membawa koper sebesar itu" balas bi Ida dengan wajah kebingungan.


"Ayah mengetahui nya dan aku tidak butuh lagi persetujuan atau pun izin darinya, karena dia bukan ayah ku bi!" Balasku padanya,


Bi Ida pun hanya terdiam saja selama beberapa saat dan tidak membalas perkataanku lagi hingga tiba-tiba saja ayah datang menghampiriku begitu juga dengan ibu angkat ku, ayah langsung menarik tangan ku dengan kuat dan membawaku pergi ke gudang yang ada di belakang rumah itu bahkan dia tidak menghiraukan ringisan ku yang merasakan sakit di bagian pergelangan tangan karena dia menggenggamnya terlalu kuat.


Dia langsung menyeretku masuk ke dalam gudang kumuh itu dan melemparkanku hingga aku jatuh tersungkur pada lantai yang penuh dengan debu, tanganku bahkan terluka akibat tergores di tanah saat menahan diriku yang terjatuh saat itu.


"Aaa... Bruk!" Suara aku yang jatuh ke dalam gudang yang terbengkalai itu.


"Ayah apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku kemari, aku ingin pergi!" Ucapku meninggikan suara,


"Kau sudah menguji kesabaranku Vivian, aku sudah berusaha bersikap baik kepadamu bahkan memberikan kau kamar yang lebih layak dari pada sebelumnya, tapi apa yang kau berikan? Kau malah ngelunjak dan semakin berani melawanku juga tidak mendengarkan ucapanku untuk tetap tinggal di rumah ini apapun yang terjadi!" Bentak ayah dengan mata yang merah dan terbuka sempurna.


Aku kaget melihat ayah dengan emosinya yang begitu besar juga bentakannya yang sangat keras kepadaku, ini adalah pertama kalinya aku melihat ayah memarahiku dan membentak aku dengan emosi di dalam dirinya yang begitu menggebu, aku seperti tidak melihat sosok ayahku di dalam dirinya saat ini dia seperti orang lain sekarang.


"A...ayah apa ini sifatmu yang sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini padaku ayah?" Bentakku kepadanya dengan air mata yang kembali jatuh membasahi pipiku,


"Iya ini adalah wujud asli dari ayah yang kau idamkan itu, kau pikir dia mengambilnya dari jalanan karena benar-benar perduli padamu, haha... Tentu saja tidak Vivian kau harus memberikan manfaat dahulu bagi keluarga ini baru kau boleh pergi!" Ucap ibu angkatku dengan sinis dan mereka langsung menutup pintu gudang itu.


"Bu...tidak... Ayah...tolong jangan kurung aku disini, ayah tolong aku mohon ayah, disini sangat gelap, tolong keluarkan aku!" Teriakku memohon dan meminta tolong kepadanya namun dia tidak mendengarkan jeritanku itu.


Dia terus pergi meninggalkanku yang dia kurung di dalam gudang kumuh tersebut, hingga malam tiba aku hanya bisa duduk tertunduk lesu dengan memeluk kakiku yang aku tekuk bersamaan, rasa dingin mulai menusuk tubuhku dan rasa lapar yang menggerumuh dalam perutku, aku hampir kehabisa energi di dalam tubuhku hingga lama-kelamaan mataku mulai tidak bisa melihat dengan benar, hingga perlahan aku kehilangan kesadaran dan jatuh tergeletak di lantai yang penuh debu itu.


Sampai ketika aku bangun tiba-tiba saja aku sudah berada di kamar tempatku tidur sebelumnya, aku segera bangkit berdiri dan pergi mencari bi Ida untuk menanyakan apa yang terjadi kepadaku setelah aku di kurung di gudang malam tadi.


Saat aku mencari bi Ida aku tidak menemukannya bahkan ketika aku berkeliling mencari nya ke segala tempat yang ada di rumah itu, aku sudah mencari nya ke kolam renang, kamar pelayan, bahkan ke taman belakang rumah, namun aku tetap tidak berhasil menemukannya hinggak Cecil dan ibu angkat ku memanggilku dengan keras dari belakan. Aku langsung membalikkan badan saat mereka memanggilku.


"Vivian kemari kau!" Teriak ibu memanggilku dengan suara yang lantang,


"Heh kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mendengar kalau ibu memanggilmu" tambah Cecil ikut membentakku.


Saat melihat wajah mereka aku mau merasa curiga karena tidak kunjung menemukan keberadaan bi Ida di rumah itu, akupun langsung menghampiri mereka dengan perasaan marah, saat sudah berhadapan dekat dengan Cecil dan ibu aku langsung bertanya kepada mereka mengenai bi Ida.


"Ibu, Cecil.... Dimana kalian sembunyikan bi Ida?" Tanyaku dengan serius dan tangan yang aku kepalkan dengan kuat dan sedikit bergetar saking kuatnya menahan emosi,


"Ahaha.... Kau mencarinya, harus ya kau tahu sendiri dia sudah aku pecat!" Ucap ibu dengan mata yang sinis kepadaku.

__ADS_1


Kakiku terasa lemas hingga aku tidak tahan lagi untuk berdiri, aku langsung jatuh ambruk ke tanah dengan lesu dan tidak menyangka bahwa bi Ida sudah di pecat oleh ibuku tanpa sepengetahuan aku.


__ADS_2