Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Tersinggung


__ADS_3

Tapi ketika dia mengamati wajah Vivian yang tertidur entah apa yang dia pikirkan hingga dia malah menutupi semua tubuh Vivian bahkan hingga kepalanya pun dia tutupi dengan selimut itu.


"Aishh.... Dia masih menyebalkan bahkan saat tidur seperti ini, aaarggghhh aku tidak bisa melihat wajahnya itu, sudah begini lebih baik" ucap tuan Lukas sambil menarik selimutnya itu dan menutupi sampai kepala Vivian saat itu.


Tuan Lukas menutupi seluruh bagian tubuh Vivian bahkan dengan wajahnya juga dan dia langsung pergi menaiki tangga meninggalkan Vivian namun di saat dia sudah sampai di atas dia kembali menoleh ke bawah melihat Vivian yang masih tertidur di sana namun dia memiliki perasaan yang tidak biasa dia rasakan ketika melihat Vivian, rasa kasihan yang tiba-tiba saja muncul dalam perasaannya.


"Aish....kenapa aku merasa kasihan dan tidak tega kepada wanita bodoh itu, aarrgghhh...masa bodoh lah" gerutu tuan Lukas sambil melanjutkan langkahnya.


Tetapi dia justru malah melakukan hal yang bertolak belakang dengan ucapannya sendiri, bukannya masuk ke dalam kamar lalu beristirahat, tuan Lukas justru kembali ke bawah dan dia membuka selimut yang tadinya dia tutupi hingga wajah Vivian, kini tuan Lukas membenarkan posisi selimutnya barulah dia bisa merasa sedikit tenang dan kembali ke kamarnya.


Hingga ke esokan paginya aku mulai bangun dan merasa kaget ketika melihat selimut tebal yang cukup wangi dan lembut menutupi tubuhku.


"Hoaammm... Ah kenapa malam berlalu sangat cepat, aduhh badanku masih terasa ringsek semua" gerutuku sambil merentangkan kedua tangan,


"Ehhh.... Selimut siapa ini, aku tidak ingat membawa selimut ke sini?" Gerutuku merasa aneh ketika melihat ada selimut yang menutupi badanku.


Aku segera bangkit terduduk dan merapihkan selimut itu lalu aku membawa selimut itu ke kamarku karena aku pikir itu adalah selimut milikku yang aku ambil dari kamar ketika mengigau semalam.


Setelah itu segera aku menyiapkan masakan untuk tuan Lukas dan segera pergi membersihkan diri juga bersiap-siap untuk pergi ke kampus, saat aku keluar dari kamar ku lihat tuan Lukas sudah berada di dapur dan dia tengah menikmati menu sarapan yang sudah aku buatkan untuknya, aku harus menunggu hingga dia selesai menikmati sarapannya barulah aku bisa mulai makan.


Saat aku sampai di sana tiba-tiba saja tuan Lukas langsung bangkit berdiri padahal aku tahu dia belum menyelesaikan sarapannya, aku pun merasa sedikit tersinggung karena dia begitu cepat pergi ketika aku baru sampai di sana.

__ADS_1


"Apa dia sebenci itu kepadaku, tapi kenapa dia harus menyuruh aku untuk tinggal dengannya jika memang sangat membenciku? Dia juga bisa menyewa pelayan lain yang lebih baik dan tidak perlu memperbudak aku seperti ini" gerutuku membicarakan dia.


Aku segera duduk di depan meja dan mengambil makanan dengan perasaan yang kesal dan wajah yang cemberut terus menerus, aku bahkan memakan makanan dengan terburu buru dan segera pergi ke sekolah.


Sebelum itu aku juga sudah memeriksa semua bagian di rumah ini sudah aman dan aku sudah membersihkannya, aku segera pergi ke sekolah memakai seragam yang sangat aku sukai ini, meski pun roknya agak pendek untukku sebab itu adalah seragam bekas yang di berikan oleh Cecil kepadaku sebelumnya karena seragam yang satunya masih tidak bisa di pakai sebab aku baru saja mencucinya.


Tapi aku tidak masalah dengan seragam ini yang terpenting aku masih bisa menggunakannya untuk sekolah, hari ini meski sangat lah dan seluruh badanku terasa sakit semua karena harus terus membersihkan rumah yang sangat luas dan mewah itu, aku tetap mengubah ekspresi wajahku ketika bertemu dengan kedua sahabatku yang begitu ceria dan menyenangkan.


Saat tiba di sekolah Bimo langsung datang menghampiriku dan dia berlari cepat sambil memelukku segera, itu membuat aku harus menahan sakit di pinggangku karena dia memelukku secara tiba-tiba seperti itu.


"Aaaa... Vivian kau tahu apa yang sudah aku beli dengan Elis, kostum helloween yang kami beli sangat bagus dan aku sangat menyukainya" ucap Bimo menceritakan apa yang dia lakukan kemarin bersama Elis.


"Vivian bagaimana denganmu, kostum apa yang akan kau pakai nanti?" Tanya Elis kepadaku.


Aku gugup dan bingung untuk menjawabnya karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku pakai untuk hadir di festival helloween tersebut, bahkan aku tidak memiliki kostum semacam itu dan aku juga tidak bisa membelinya sebab tidak memiliki uang.


"A...aku....aku belum tahu, karena belum memikirkannya sa sekali" balasku menjawabnya dengan jujur,


"Loh, Vivian caranyakan sudah hampir tiba, kau harus cepat mempersiapkan semuanya, apa kau mengerti! Awas saja jika kau tidak hadir karena tidak memiliki kostum nanti" ucap Bimo mengancamku.


Aku hanya bisa membalas dia dengan anggukan segera padahal di dalam.hatiku aku sendiri masih merasa bingung dengan nasibku, bahkan aku juga belum meminta izin kepada tuan Lukas mengenai hal ini, seandainya aku memiliki kostum untuk di pakai aku juga tidak yakin apakah tuan Lukas bisa mengijinkan aku untuk hadir di acara tersebut atau tidak, karena dia terlihat selalu dingin dan membenciku meski aku berusaha baik kepadanya.

__ADS_1


Aku hanya bisa menunduk lesu ketika Bimo dan Elis sibuk dengan candaan dan pembicaraan mereka, hingga sepulang sekolah aku terus memikirkan masalah acara festival tersebut aku bahkan melamun saat di dalam bus hingga ketika berjalan menuju kediaman tuan Lukas aku tidak sengaja tersandung di tangga dan membuat lututku terluka.


"Brukkk....aduhh" suaraku yang tersandung di tangga dan jatuh,


Ku lihat lututku terluka dan aku segera mencari obat luka di sekitar sana namun tidak berhasil menemukannya sehingga aku membiarkannya begitu saja dan berharap luka itu akan segera menghilang dengan sendirinya.


Aku mengabaikan rasa sakit itu dan segera membereskan rumah lagi sekilas dan aku juga sudah membuatkan makan malam untuk tuan Lukas sehingga nantinhanya perlu memanaskannya saja, aku merasa sangat lelah hari ini sehingga memilih untuk tidur beristirahat di kamar lebih dulu, tidak lupa aku juga sudah memasang alarm di ponselku karena takut tertidur ke bablasan.


Setidaknya aku harus memanfaatkan waktu luang yang aku miliki saat ini sebelum tuan Lukas kembali dan aku harus bekerja lagi, aku masih harus membawa pakaian kotornya dan mengirimkan itu ke loudry atau sekretaris nya sendiri yang akan mengambil pakaiannya itu secara khusus, dia memang selalu terlihat aneh dan membuat aku selalu merasa sebal dengannya


Tentu saja bagaimana aku tidak kesal kepadanya, aku harus bekerja keras di rumahnya tanpa bayaran sedikitpun, harus makan setelah dia selesai makan dan aku masih harus mengantarkan pakaiannya untuk di cuci jika sekretaris nya itu terlambat, belum lagi aku juga masih sekolah dan aku harus mengurusi kebutuhanku sendiri juga sedangkan dia sudah menghabiskan semua waktuku dengan banyak tugas yang dia berikan kepadaku.


Dia selalu menyuruhku banyak hal bahkan dengan sesuatu yang sangat aku benci, seperti harus menyiram tanaman kesukaannya di taman dan mencukur rerumputan yang sudah mulai tinggi aku juga masih harus membersihkan debu-debu kecil di sana, itu sangat membuatku jengkel dan menguras banyak sekali energi di dalam tubuhku.


"Aaaartghhhh...ini menyebalkan aku sangat kesal... Aaarrkkk... Kapan aku akan bebas!" Bentakku berteriak sangat kencang.


Aku baru bisa melupakan emosiku itu ketika tuan Lukas tidak ada karena jika dia ada tentu saja aku sangat tidak berani, meski aku selalu kesal kepadanya atas semua perbuatan yang dia lakukan kepadaku tapi aku tetap menyukainya aku masih saja selalu memandangi fotonya yang terpajang di samping televisi saat aku membersihkan tempat itu dari debu.


Dia terlihat tampan dan bersahaja ketika di foto dan selama aku tinggal di rumahnya tidak ada satu foto kecilnya ataupun foto dia dengan anggota keluarganya di rumah ini, hanya ada beberapa foto penghargaan dia dalam berbisnis dan juga foto-foto dia saat masa Sekolah menengah hingga saat ini.


Sedangkan aku sangat penasaran sekali dengan wajahnya ketika masih sekolah dasar atau kelas TK. Karena aku masih berharap bahwa dia adalah pria yang memiliki tongkat itu.

__ADS_1


__ADS_2