
Hanya Bimo memang yang paling mengerti keadaanku dia juga sahabat sekaligus teman pria terbaik yang pertama kali aku temui, ya meskipun penampilannya cukup membosankan dan membuat mata sedikit sakit sebab dia selalu memakai kacamata bulat dan pakaian yang di masukkan kedalam padahal Elis sudah selalu menyuruh dia untuk tidak berpakaian seperti itu karena membuat banyak orang memperhatikan dia dan terkadang mengejeknya dengan perkataan yang cukup menyakitkan untuk di dengar, namun Bimo selalu saja tidak mendengarkan ucapan Elis, bahkan disaat Elis mau me make over dia dan membantu dia untuk memperbaiki gaya berpakaiannya dia tetap tidak mau.
"Bimo bisa tidak sih kau itu ganti cara berpakaiannya itu, lepas kacamata mu aku tahu kau masih bisa melihat meski tanpa kaca, minusmu kan sama denganku, hanya minus satu saja kok lebay sekali sih, dan itu keluarkan seragamnya jangan menaikkan celanaku seperti itu, membuat aku jengkel saja saat melihatnya" ucap Elis yang selalu merasa heran dengan penampilan Bimo,
"Elis kau kan tahu sendiri aku bisa saja menjadi tampan jika aku ingin, tapi aku tidak mau menjadi tampan itu merepotkan kau tahu itu juga kan" balas dia yang terlihat sedikit sensitif jika mengenai penampilannya.
Aku pun segera menenangkan mereka sebelum semuanya lebih membesar.
"Eh... Sudah sudah jangan ribut hanya karena hal yang sepele, Elis seharusnya kamu menghargai keputusan Bimo, menurutku tidak ada salahnya jika kita berdandan sesuai dengan apa yang nyaman di tubuh kita, dan kita bebas untuk mengekspresikan diri kita, selama itu tidak membuatnya risih atau terganggu" ucapku memberikan pengertian pada Elis terlebih dahulu,
"Dan kau Bimo, seharusnya kau juga mendengarkan pendapat dan masukan dari Elis bukannya membalas dia dengan bentakkan seperti itu, wajar bukan jika seorang sahabat yang menyayangi sahabatnya memberikan solusi, itu karena Elis merasa khawatir denganmu dia tidak ingin kau menerima hinaan dari orang lain, jadi cobalah memahami niat baiknya itu" tambahku memberikan penjelasan juga kepada Bimo
Untungnya mereka berdua mau mendengarkan ucapanku tanpa memotongnya dan mereka berdua yang tadinya saling memalingkan wajah, kini perlahan menatap lagi satu sama lain, dan aku segera meraih tangan Elis dan juga tangan Bimo lalu aku menyatukan mereka dan menyuruh mereka untuk bersalaman juga meminta maaf satu sama lain agar hubungan diantara kami bisa terus terjaga dengan baik.
"Jadi.... Kalian berdua ayo saling meminta maaf dan memaafkan satu sama lain" ucapku kepada mereka dengan lembut.
"Elis ayo bersalaman" ucapku kepada Elis.
Hingga akhirnya mereka pun mau bersalaman satu sama lain dan kembali tersenyum bersama.
"Nah, kalau begini kan rasanya enak, melihatnya juga membuat hati terasa damai" ucapku merasa senang karena mereka sudah berbaikan,
Ketika pulang sekolah aku diajak oleh Bimo dan Elis untuk pergi sebuah mall dan mereka mengajak aku untuk berbelanja kostum helloween, untuk perayaan festival nanti di sekolah.
"Vivian ayo kita berbelanja kostum helloween bersama, aku ingin mencari kostum hantu yang paling menyeramkan agar bisa mengagetkan semua orang" ucap Bimo mengajakku dengan sangat antusias,
"Iya Vivian ayo kita pergi bersama" tambah Elis kepadaku.
Aku sebenarnya sangat ingin ikut dengan mereka saat itu namun sayangnya aku ingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan di rumah dan aku takut aku tidak akan bisa menyelesaikan tugas rumahku jika tidak pulang saat ini juga, terlebih rumah itu sangat luas tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkannya, sehingga dengan berat hati aku pun harus menolak ajakan dari mereka.
"Maafkan aku teman-teman sebenarnya aku sangat ingin pergi dengan kalian tapi...." Ucapku tertahan karena Elis sudah langsung memotong ucapanku,
"Aahhh... Iya iya aku mengerti, sudahlah kita pergi saja, nanti biar kita pergi berbelanja lain hari lagi pula acara helloweennya masih satu Minggu lagi kan, jadi kita masih memiliki banyak waktu" ucap Elis sambil merangkul Bimo,
"Ta..tapi Elis promonya kan hari ini, jika kita tidak pergi membelinya kita akan menghabiskan banyak uang" ucap Bimo merengek sendiri.
Aku mengerti apa yang di khawatirkan orang seperti Bimo, dia pasti akan kesulitan jika tidak mendapatkan kostum yang dia inginkan hari ini, dia juga mungkin tidak memiliki uang yang banyak sehingga harus menunggu kesempatan promosi seperti ini untuk mendapatkannya dengan harga yang lebih murah.
Karena aku merasa tidak tega aku pun menghentikan Elis dengan cepat dan menyuruh mereka untuk tidak membatalkan rencananya dan tetap menyuruh mereka pergi berbelanja lebih dulu meskipun tanpa aku.
"Tunggu Elis!" Teriakku menghentikannya.
Aku langsung berlari kecil menghampirinya dan mencoba mengungkapkan isi dari pikiranku sebelumnya.
"Elis sebaiknya kau pergi sekarang saja untuk berbelanja dengan Bimo, mungkin sekarang lagi promo kan, sayang sekali jika kalian lewatkan" ucapku mengatakannya,
__ADS_1
"Tapi Vivian bagaimana denganmu?" Tanya Elis balik,
"Aahhh... Itu hal kecil untukku, jangan mengkhawatirkanku aku, aku bisa membelinya sendiri nanti, lagi pula aku bisa mendapatkan kostum itu dengan mudah, ayo kalian pergi saja, aku bisa membeli kostum itu nanti" balasku kepada Elis dan segera menyuruh mereka untuk pergi.
Bimo terlihat senang dan nampak sangat antusias, aku merasa senang ketika melihat Bimo sebahagianitu ketika aku menyuruhnya mereka untuk segera pergi, sampai akhirnya Elis pun menurutinya dan mereka langsung pergi ke sana dengan segera.
Aku juga pergi ke halte bus untuk menunggu bus menuju daerah kediaman tuan Lukas dengan memegangi kartu bus itu aku berdiri di halte bus menunggu bus jurusanku tiba hingga akhirnya aku bus tiba dan di saat aku hendak naik aku tidak sengaja melihat sebuah mobil yang melaju cukup kencang dari arah yang berlawanan dan aku segera berlari menghindar ke belakang karena takut dan berteriak cukup keras.
"Arrrkkhhh..." Teriakku sangat kaget.
Seketika mobil itu seperti kehilangan kendali dan menabrak bus yang sebelumnya hendak aku naiki, mobil itu menabrak bus dengan cukup keras hingga bagian depan mobil mewah tersebut penyok parah dan bos juga sampai mundur ke belakang dalam jarak beberapa meter. Aku dan orang-orang yang ada disana sangat panik ketika melihat kecelakaan sebesar itu di depan mata.
Namun untungnya tidak ada yang terluka semua orang yang berada di dalam bus keluar dengan cepat dan menenangkan diri mereka sedangkan yang lainnya berkerumun melihat kondisi pengemudi mobil mewah itu dan karena aku merasa penasaran aku mencoba melihatnya namun yang terjadi ku lihat kepala seorang pria terkulai lemah dengan darah yang mengalir dari jidatnya, kepalanya itu tersanggah pada jendela kaca mobil yang pecah, aku sangat ngilu sekali ketika melihatnya.
Sekaligus merasa tidak tega dengan keadaan pria itu, namun anehnya tidak ada satupun orang yang mau memeriksa dia ataupun menolong dia, mereka hany menonton dan mengerumuni pria malang itu tanpa melakukan apapun dan itu sungguh membuat aku sangat geram di buatnya.
"Aishh.. apa mereka tidak memiliki hati nurani sedikitpun?" Gerutuku sangat kesal,
"Hey... Apa kalian tidak punya hati! Kenapa kalian diam saja dan hanya menonton, telpon polisi atau ambulance! Setidaknya tolong dia dahulu!" Bentakku kepada orang-orang yang ada disana.
Mereka hanya menatapku dengan sinis dan malah membubarkan diri tanpa melakukan apapun lagi.
Dan itu sangat membuat aku jengkel di buatnya, aku pun segera turun tangan dan membantu dia dengan tanganku sendiri.
"Aish sialan dasar manusia tidak bermoral, kalian semua aarrgghhhhhkkkk aku juga yang harus turun tangan" ucapku sambil segera mendekati pria itu.
Aku juga mencoba untuk mengeluarkan pria itu dari dalam mobilnya tersebut dengan semua kekuatan dan tenaga yang aku milikku, pria itu memiliki tubuh yang tinggi dan badan yang cukup baik, sedangkan aku yang bertubuh kecil dan pendek tentu saja akan sangat kesulitan menggotong dia sendirian.
"E..euhhhh.....hey... Bangun, apa kau baik-baik saja, bangun ayo bangun" ucapku berusaha membangunkan pria itu.
Hingga akhirnya pria itu bisa mulai membuka matanya dan aku mulai membantu menyanggah kepalanya dengan kedua tanganku, meskipun matanya setengah terbuka namun aku yakin dia masih memiliki kesempatan untuk hidup.
"A..ahhh... akhirnya kau sadar, tolong bertahanlah aku akan mencari bantuan dan segera membawamu ke rumah sakit terdekat, aku mohon padamu demi keluargamu demi apapun yang kamu cintai di dunia ini, tolong bertahanlah oke!" Ucapku memperingatinya agar dia memiliki keinginan untuk bertahan hidup.
Saat itu aku menggeletakkan dia di pinggir jalan dan segera bangkit berniat mencari pertolongan dari orang lain karena aku tidak akan bisa membawa dia sendiri ke rumah sakit dalam keadaannya yang parah seperti itu.
Aku langsung berlari mencari pertolongan tapi sialnya orang-orang malah mengabaikan aku meski aku sudah meminta tolong dan memohon pada mereka hingga tidak ada pilihan lain aku memutuskan untuk menghentikan taxi dan segera membawa pria itu masuk ke dalamnya aku juga terpaksa menggunakan uang tuan Lukas untuk membayar taxi itu.
Aku tidak perduli apa yang akan aku terima dari tuan Lukas nantinya karena telah menggunakan uang miliknya tanpa izin dan bukan untuk biaya kebutuhan dirinya, aku langsung membawa pria itu dengan secapat yang aku bisa dan dia akhirnya sampai di rumah sakit, dokter juga segera memeriksa keadaan pria itu namun dokter juga meminta aku untuk membayar tagihan rumah sakitnya terlebih dahulu dan mereka menanyakan walinya aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu sehingga.
Lagi dan lagi aku berbohong dan mengaku bahwa aku adalah adik pria itu juga memutuskan untuk membayar biaya rumah sakit tersebut dengan uang milik tuan Lukas lagi.
"Maafkan aku tuan Lukas aku harus melakukan ini untuk menolong nyawa seseorang" ucapku sambil memegangi kartu ATM itu dengan erat dan segera memasukannya kembali ke dalam tas.
Aku menunggu dokter yang tengah memeriksa pria itu namun prosesnya terlalu lama sehingga aku tidak bisa terus menunggui dia di rumah sakit dan aku hanya bisa menuliskan sebuah surat sebagai pesan untuk pria itu lalu aku titipkan pada suster.
__ADS_1
"Sis...bisa aku meminta bantuanmu?" Ucapku meminta bantuan salah satu suster yang juga menangani pria itu,
"Silahkan dek katakan saja" balas sang suster yang ramah,
"Tolong berikan surat ini kepada pria yang tengah di obati itu, aku tidak bisa menunggui dia terus disini dan suster bisa menghubungi keluarganya mungkin dia memegangi dompet di saku pakaian atau celananya dan disana pasti ada informasi tentangnya, tolong yah suster saya merepotkan anda" ucapku kepadanya,
"Baik dek akan saya sampaikan ketika pasien sudah bangun" balas suster tersebut.
Untungnya suster itu tidak tahu kalau sebelumnya aku sudah berbohong pada dokter bahwa aku adalah wali dan adil dari pria itu.
Aku segera pergi selagi ada kesempatan dan langsung pulang dengan berlari ke halte bus dan kembali berlari lagi untuk sampai di kediaman tuan Lukas.
Hari terlalu cepat berlalu dan saat aku tiba ini sudah gelap, aku sangat takut untuk pulang ke rumah itu dengan pakaian yang berantakan, kotor dan penuh dengan bercak darah milik pria asing tadi, aku sangat gugup dan ketakutan ketika berdiri di depan pintu hingga tidak lama pintu itu justru malah terbuka dengan sendirinya.
Dan aku pun terpaksa masuk ke dalam karena melihat tuan Lukas yang sudah berdiri di dalam rumah menatap kepadaku dengan tatapan yang tajam menusuk juga kedua tangan yang dia lipat di dadanya.
"Kenapa kau berdiri disitu, masuk dan menghadap kepadaku!" Ucap dia mendominasi.
Aku segera berjalan masuk menghampirinya dengan perlahan sambil menunduk untuk menghindari tatapannya yang menyeramkan itu.
"Kau tahu apa kesalahanmu hah!" Bentak tuan Lukas kepadaku,
"A...aku minta maaf tuan, aku sudah memakai uangmu tanpa izin dan itu jumlahnya sangat banyak tapi aku janji aku akan membayarnya aku akan mengembalikan semua uang itu jika aku sudah bekerja nanti" ucapku menatapnya dengan penuh kesungguhan,
Tuan Lukas terlihat mengerutkan kedua alisnya dan dia terlihat seperti kebingungan untuk beberapa detik hingga dia mulai kembali melanjutkan ucapannya.
"Apa yang dia bicarakan, aku bahkan sama sekali tidak tahu jika dia menggunakan uangku" gumam tuan Lukas memikirkan.
"Kau melakukan banyak kesalahan hari ini, memakai uangku tanpa izin dalam jumlah yang banyak dan kau tidak membersihkan rumah seperti seharusnya, kau juga tidak menyiapkan aku makan malam dan malah pulang terlambat, apa kau ini sangat bodoh sampai tidak memahami ucapanku padamu sebelumnya hah?, Atau aku terlalu baik memperlakukanmu?" Bentak dia terlihat sangat marah.
Aku pun segera meminta maaf dan dengan cepat berusaha menebus semua kesalahan yang sudah aku perbuat itu.
"Ma...maafkan aku tuan, kalau begitu aku akan memasarkan makanan untukmu sekarang, dan aku akan membersihkan rumah juga, kau tidak perlu khawatir" ucapku kepadanya,
"Bagus memang itu yang harus kau lakukan, kau tidak boleh tidur sebelum membereskan semua tugasmu dengan benar, apa kau mengerti!" Bentak dia lagi sangat menyeramkan.
Aku langsung mengangguk patuh.
"Heh apa lagi yang kau tunggu, cepat pergi memasak!" Teriak dia kepadaku.
Aku segera berlari ke dapur dan justru malah tersandung hingga jatuh tersungkur namun aku langsung segera bangkit dengan cepat lalu kembali berlari ke dapur secepatnya.
Disisi lain tuan Lukas sebenarnya menahan tawa saat melihat wajah panik Vivian yang cukup lucu untuknya apalagi ketika melihat Vivian berlari hingga terjatuh di depan matanya, itu membuat dia tidak bisa menahan senyum di bibirnya.
Namun ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya, dia merasa aneh dan curiga ketika mendengar Vivian menggunakan uangnya dan melihat pakaian Vivian yang di penuhi bercak merah, dia juga terlihat kelelahan dan sangat berantakan.
__ADS_1
Karena penasaran, tuan Lukas segera memeriksa daftar pengeluaran dari kartu yang dia berikan kepada Vivian sebelumnya hingga dia menemukan bahwa Vivian mengeluarkan uang dari kartu itu dalam jumlah yang memang tidak sedikit namun tidak terlalu banyak juga menurutnya, uang itu juga di salurkan pada sebuah rumah sakit sehingga dia mulai mencurigainya.
"Apa dia terluka saat di perjalanan pulang, ke apa dia tidak memberitahuku apapun, apa dia sangat bodoh!" Gerutu tuan Lukas memikirkan dan terlihat cukup kesal.