
Dia terlihat tampan dan bersahaja ketika di foto dan selama aku tinggal di rumahnya tidak ada satu foto kecilnya ataupun foto dia dengan anggota keluarganya di rumah ini, hanya ada beberapa foto penghargaan dia dalam berbisnis dan juga foto-foto dia saat masa Sekolah menengah hingga saat ini.
Sedangkan aku sangat penasaran sekali dengan wajahnya ketika masih sekolah dasar atau kelas TK. Karena aku masih berharap bahwa dia adalah pria yang memiliki tongkat itu.
Saat itu aku sudah bangun dari tidur dan melihat tuan Lukas yang baru saja kembali ke rumah tepat di tengah malam, mungkin pekerjaannya tengah banyak hari itu karena sebelumnya aku juga belum pernah melihat dia pulang selarut ini, aku menunggu dia di dapur sambil memanaskan semua makanan dan sudah menyajikannya.
Kemudian aku berbalik ke kamarku dan membiarkan makanan itu terus berada di dalam meja karena aku pikir dia akan turun ke sana untuk menikmati makan malamnya lalu membiarkan sisanya begitu saja hingga ke esokan paginya aku yang akan membereskan semua itu sebab aku tahu dia tidak ingin melihat wajahku dalam waktu yang lama.
Sedangkan aku juga tidak ingin membuat hatiku terluka sendiri, setiap kali melihat wajah tuan Lukas aku selalu yakin bahwa dia adalah pria yang menolong aku dua belas tahun yang lalu namun dia tidak pernah mengakui itu dan tetap saja mengabaikan aku.
"Bagaimana caranya aku memastikan apakah dia pria itu atau bukan yah?" Gerutuku terus memikirkannya.
Aku tetap tidak mendapatkan solusi untuk hal tersebut sehingga hanya bisa mbaringkan tubuhku ke ranjang dan menatap langit-langit rumah itu dengan tatapan yang kosong dan tidak menentu.
Aku terus saja berpikir akan semua hal yang aku lalui di dunia ini, aku mulai bertanya-tanya mengenai siapa kedua orangtuaku, dan dimana pria yang aku cari itu, aku merasa haus saat itu dan mengintip ke luar sedikit dan ketika melihat tuan Lukas tidak ada disana segera aku pergi ke luar dan masuk ke dapur untuk mengambil air.
Namun disaat aku melihat makanan yang terlihat masih untuh di atas meja aku mulai merasa aneh dan mencemaskannya karena dia ternyata belum memakan makanannya itu.
"Ehh....tumben sekali dia mengabaikan masakanku? Ada apa dengannya ya, apa jangan-jangan dia sakit?" Gerutuku memikirkan.
Karena aku cemas dan berpikir tuan Lukas sakit, aku segera mengambil piring dan menyiapkan makan untuk dia, aku membawa makan dan segelas minum untuk tuan Lukas ke lantai atas dan berniat membawanya sampai ke depan kamarnya.
__ADS_1
Namun disaat aku sudah berada di depan kamarnya aku mulai merasa ragu dan takut untuk mengetuk pintu sampai tiba-tiba saja tuan Lukas keluar dari kamarnya dan dia menatap aku yang membawa baki di tangan bersisi seporsi makanan dan minuman yang aku bawa.
Aku kaget dan membuka kedua mataku dengan lebar, aku takut dan tidak tahu harus melakukan apa saat ini, aku sudah terlanjur ketahuan dan tidak bisa menghindarinya.
"Heh, sedang apa kau berdiri di depan kamarku, minggir kau menghalangi jalanku" bentak dia dengan tatapan yang serius kepadaku seperti sebelumnya,
Mendengar dia yang mengatakan itu kepadaku dengan kasar aku merasa sangat kesal dengannya dan aku akhirnya tidak bisa menahan emosiku lagi saat itu, dengan berani aku mulai menjawab ucapannya dan membalas dia dengan lantang saat itu juga.
"Tuan aku kemari untuk mengantarkan makanan, karena kau tidak turun ke bawah untuk memakannya maka dari itu aku sengaja membawakannya kemari untukmu, aku....aku hanya mengkhawatirkan dirimu, jadi tolong ambilah makanan ini" ucapku sambil memberikan makanan itu ke padanya.
Aku pikir dia akan menerima makanan dariku itu namun ternyata tidak dia justru malah menepis baki yang aku bawa tersebut hingga membuat piring dan semua makanannya jatuh berserakan bahkan piring dan gelas itu pecah berhamburan di bawah kakiku.
Untungnya aku cepat menghindar sehingga pecahannya tidak mengenai kakiku saat itu, tidak tahu apa yang akan terjadi di seandainya aku telah sedetik saja untuk menghindar mungkin kakiku sudah tertusuk oleh pecahan kaca itu.
"Tuan apa yang kau lakukan kenapa kau tega seperti ini kepadaku, setidaknya jika kau tidak mau menerima makanan itu, kau tidak perlu menjatuhkannya seperti ini" ucapku sangat kesal dan tidak bisa menahan diri kepadanya,
"CK... Siapa kau berani bicara selantang itu kepadaku, semua ini salah dirimu sendiri, siapa yang menyuruhmu melakukan itu, aku bahkan benci melihatmu naik ke lantai atas padahal aku sudah melarangmu, dasar bodoh!" Bentak dia lalu langsung kembali masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
"Brakk....." Suara pintu yang dia tutup dengan keras.
Aku tersentak kaget mendengar bunyinya yang sangat keras dan begitu dekat dengan telingaku, aku benar-benar merasa sakit hati atas perbuatannya itu, tapi aku berusaha untuk tetap menahannya karena aku tahu ini memang kesalahanku, aku sudah membuat keputusan yang salah karena telah mengkhawatirkan pria kejam sepertinya.
__ADS_1
Aku berjongkok memunguti semua pecahan kaca itu satu per satu dengan tanganku tanpa alas apapun, aku terus membersihkan lantai itu dan baru bisa kembali ke kamarku dengan terus menggerutu kesal.
"Aaarrgghhh....dasar pria sialan, dia sangat menjengkelkan dan beban! Aku menyukaimu tapi kenapa kau tidak bisa memperlakukan aku sedikit baik" ucapku terus menggerutu dengan tiasa habisnya.
Rasanya aku ingin menghajar dia meski aku menyukainya, namun entah kenapa perasaanku ini terasa sangat aneh, aku sudah tahu dia seperti itu kepadaku tapi aku tetap menyukainya. Bahkan setelah melihat dia dari dekat barusan aku semakin yakin bahwa dia adalah pria buta itu.
"Apa mungkin dia kehilangan ingatannya sehingga melupakan aku?, Tapi dia memang tidak bisa melihat saat itu, pantas saja jika dia tidak mengenali aku bukan? Tapi seharusnya dia mengenali suaraku atau bisa mempercayai aku ketika aku pertama kali menemuinya dan mengatakan semua padanya" gerutuku lagi terus memikirkan tanpa henti.
Melihat dia melawan seperti itu membuat aku semakin bersemangat dan bertekad untuk membuat dia mencintaiku dan membuat dia sadar tentang aku, aku juga akan terus berusaha mencari tahu tentangnya dan wajah dia saat kecil.
"Aaahhh... Aku tidak bisa diam saja aku harus mencari tahu tentang dia, saat dia tidak ada besok, aku akan menggeledah seisi rumah ini, huuuh aku tidak akan menurut lagi dan lemah dengannya" ujarku sudah meyakinkan diriku sendiri, setelah itu barulah aku bisa tertidur.
Meski ada sedikit pikiran yang terus memikirkan tuan Lukas dan tidak sabar untuk melancarkan aksiku besok.
Aku sudah membuat keputusan dan aku tidak akan mengubah keputusanku itu, apapun yang terjadi aku tetap akan terus menggeledah rumah ini karena aku sangat yakin sekali bahwa dia adalah pria yang benar sebab aku tahu perasaanku tidak akan bohong maka dari itu aku akan mengikuti kata hatiku dengan penuh keyakinan.
Dan dengan segela usaha aku akan memperjuangkannya jika dia memang benar-benar pria yang aku cari selama ini namun jika dia terbukti bukan pria buta itu maka aku akan kembali menurut dan menjaga jarak darinya hingga aku terbebas dari tempat ini dan keluar dari penjaranya yang sangat membuat diriku sesak jika harus terus tinggal dengan orang sepertinya.
Malam ini barulah aku bisa tidur dengan nyenyak setelah mengalami banyak peristiwa dalam hidupku seharian ini, dan aku sudah menguras kekuatan di tubuhku hanya untuk menyiapkan makanan bagi tuan Lukas sejak awal tapi hasilnya dia justru malah menepis makanan itu dengan sangat mudah dan wajahnya tidak sedikitpun memperlihatkan penyesalan.
Bahkan jangankan penyesalan rasa bersalah atau meminta maaf pun dia tidak melakukan itu dan justru melah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang jelas-jelas dirinya perbuat.
__ADS_1
Jika ditanya apakah aku kesal? Tentu saja aku sangat kesal dan ingin marah kepadanya namun karena kedudukan dia dan aku tahu diri sebab masih tinggal menumpang di kediaman dia sehingga aku berusaha keras untuk menahan semua perasaan itu karena mau bagaimanapun pun disisi lain aku juga masih sangat penasaran dan menduga bahwa dia adalah pria yang aku tunggu selama bertahun tahun ini dan aku tidak ingin kehilangannya jika saja dia sungguh pria tersebut.