Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Mimpi


__ADS_3

"Hiks....hiks... bagaimana lagi cara aku membuktikan kepadamu kalau semua yang aku katakan adalah kebenaran dan aku memang menyukaimu tuan Lukas" ucapku menangis terisak sendiri disana.


Aku segera pergi berlari ke kamarku dan menangis seorang diri di atas ranjang dengan di tutupi selimut yang tebal aku benci menangis karena sejak kecil meski mendapatkan banyak hal buruk dari ibu dan Cecil aku selalu bisa menahan air mataku, tetapi hanya karena seorang pria asing itu aku bisa menangis sesedih ini dan sulit untuk menghentikannya.


Disisi lain sebenarnya saat itu tuan Lukas sendiri merasa terpikirkan dengan semua ucapan yang di lontarkan oleh Vivian kepada dia sebelumnya, dia juga mulai merasakan ada sedikit hal yang ganjal mengenai ucapan yang di katakan dari Vivian kepadanya, kini dia terus memikirkan semua ucapan Vivian itu berkali-kali di dalam kepalanya sendiri.


"Ahhhh..... bagaimana dia bisa memanggil aku pria buta, apa dia sungguh tahu bahwa dulu aku seorang pria yang buta? Ataukah apa dia memang benar-benar gadis yang aku cari?" Ujar tuan Lukas mulai memikirkannya saat itu.


Tapi meski dia sudah sampai kepada pikirannya dia sama sekali tidak percaya bahwa Vivian adalah gadis yang dia cari sebab yang dia tahu gadis tersebut memilik rambut yang hitam dan lebat mengkilap, sedangkan rambut Vivian berwarna pirang dan kekuningan, itu sama sekali berbeda dengan rambut asli gadis yang dia cari selema ini, meski semua gadis pada umumnya memiliki rambut berwarna hitam namun dia juga tidak akan mungkin mengira Vivian sebagai gadis tersebut sebab semua ciri-cirinya yang dia kumpulkan tidak ada yang cocok sedikitpun dengan Vivian meski Vivian adalah satu-satunya wanita yang tahu bahwa dia pernah menjadi buta ketika dia kecil.


Tuan Lukas terus saja mengesampingkan kecurigaannya tersebut, dia seakan memang tidak menginginkan bahwa gadis itu adalah Vivian.


"Aaarrkkkhh...tidak...tidak mungkin dia adalah gadis kecilku, gadis ceria itu tidak mungkin bersikap konyol seperti si Vivian yang terlihat pendiam dan penakut" ucap tuan Lukas yang terus saja mengesampingkan kebenarannya.


Tapi walau begitu dia masih saja tidak bisa benar-benar mengabaikan Vivian, dia masih tetap terlikirkan masalah tersebut bahkan hingga dia tidur dia bermimpi mengenai kenangannya bersama dengan gadis berambut hitam yang panjang itu.


****


"Heyy..... akhirnya kamu tiba juga, aku sudah menunggumu cukup lama" ucap Vivian kecil kepada tuan Lukas saat itu.


"Aku sibuk, makanya baru bisa datang kesini, apakah kau tidak marah denganku" balas tuan Lukas,


"Tentu saja tidak, kau adalah sahabat terbaikku aku tidak akan marah denganmu, dan akan selalu memaklumi dirimu, ayo kita duduk pria buta" ucap Vivian sambil menarik tangan tuan Lukas.


Mereka duduk bersampingan di kursi sebuah taman yang sangat indah, dan saat itu Vivian kecil di beri sebuah es krim potong kesukaannya yang bisa di belah menjadi dua bagian oleh bi Ida, dia selalu terlihat ceria setiap kali menyiram semua bunga yang setengah mekar di taman itu, juga selalu saja mempermainkan air yang dia pakai untuk menyiram bunga ke arah tuan Lukas sebab dia tidak bisa melihat.


Hingga ketika Vivian menikmati es krim potong tersebut, dia melirik ke arah tuan Lukas yang hanya duduk di bangku taman dengan memegangi sebuah tongkat miliknya juga wajahnya yang terlihat murung saat itu, padahal biasanya tuan Lukas kecil selalu terlihat gembira dan tersenyum lebar setiap kali bertemu dengan Vivian di taman itu.


Vivian yang merasa aneh dia segera menggeser duduknya dan memberikan sepotong es yang dia miliki kepada tuan Lukas salah satunya.


"Hey...pria buta apa yang kamu pikirkan wajahmu terlihat sedih apa ada masalah di rumahmu?" Tanya Vivian kepadanya,


"Aku tidak memiliki rumah, tapi aku akan melakukan operasi mata besok, aku sangat cemas dan takut" ujar tuan Lukas kecil mengatakan ketakutannya.


Itu adalah hari terakhir tuan Lukas bisa bertemu dan mengunjungi Vivian sebab ke esokan paginya dia harus mendapatkan operasi mata bagi dirinya sebab sebagai seorang penerus perusahaan tentu saja dia harus bisa melihat dan normal meski otaknya sudah sangat jenius, tetapi melihat adalah hal yang penting baginya.


Sehingga dia harus melakukan operasi tersebut meski usianya masih sepuluh tahun saat itu, dan dia meras cemas sehingga terus terlihat murung dan sedih seharian.


Vivian tersenyum dan dia langsung mengalengkan sebelah tangannya kepada tuan Lukas dia berusaha meyakinkan tuan Lukas untuk membuat dia tidak takut lagi, dan mengatakan beberapa hal-hal baik yang bisa di dapatkan oleh tuan Lukas ketika dia bisa melihat nantinya.


"Aishhh....kenapa kau harus resah dan sedih karena hal yang membahagiakan seperti itu, jika kau akan melakukan operasi mata maka kau bisa melihat lagi, kau bisa melihat wajahku yang cantik ini juga bisa mihat warna rambutku yang hitam dan kau selalu mengatakan bahwa rambutku halus dan harum, kau bisa melihatnya nanti, jadi kau harus melakukan operasi itu dengan penuh keberanian, apa kau mengerti" balas Vivian yang membuat tuan Lukas tersenyum dan dia menjadi lebih semangat untuk melakukan operasi tersebut.


"Eum...aku akan lebih semangat, tapi kau janji yah kau harus menjadi orang pertama yang menungguku di sini setelah aku selesai operasi nanti" balas tuan Lukas menjadi lebih ceria dari sebelumnya,

__ADS_1


"Tentu saja, sudah ini makan es krim potong ini, itu akan memberikan kekuatan kepadamu, anggap saja hadiah operasi dariku padamu" balas Vivian sambil memberikan sepotong es krim itu kepadanya.


Karena saat itu Vivian memberikan es krim kepada tuan Lukas, akhirnya tuan Lukas juga memberikan tongkat miliknya yang ada pada Vivian untuk tidak mengembalikannya saat itu, dan menjadikan tongkat itu sebagai bentuk hadiah darinya.


"Jika kau memberiku hadiah es krim ini, kau juga boleh menyimpan tongkatku itu, aku berikan tongkat itu padamu karena aku akan segera bisa melihat lagi nanti" balas tuan Lukas kepada Vivian.


Vivian sangat senang karena dia bisa memiliki sebuah hadiah dari orang lain selain bi Ida, dia terus berjingkrak kegirangan dan sangat senang, meski itu adalah pertemuan kedua mereka karena sebelumnya tuan Lukas tidak datang menepati janjinya untuk bertemu di taman tersebut dengan Vivian, saat itu Vivian pikir mereka akan bertemu kembali untuk yang ke tiga kalinya setelah tuan Lukas berhasil melakukan operasi dan bisa melihatnya lalu mengenali wajahnya.


Namun sayangnya sebelum waktu itu tiba dan Vivian terus menunggu kedatangan tuan Lukas di taman itu setiap sore, dia sama sekali tidak pernah melihat tuan Lukas kembali untuk menemuinya sampai keluarga Wheeler membawa dia untuk pergi ke luar negeri sebab pekerjaan ayahnya di alihkan kesana.


Dan dengan terpaksa juga berat hati Vivian harus menerima semua keputusan keluarganya tersebut, sampai dia pergi ke luar negeri dan tidak berhasil bertemu dengan tuan Lukas kecil lagi.


Tuan Lukas juga seperti itu, saat dia datang dia sudah terlambat karena taman itu sudah berubah menjadi lapangan basket anak-anak juga rumah di samping taman itu sudah di tinggalin oleh orang lain.


Tuan Lukas menangis meraung-raung dan merasa sangat sedih ketika mengetahuinya, saat itu dia sudah berusaha lima belas tahun dan dia telah menyia-nyiakan banyak waktu karena selalu sibuk dengan pekerjaan yang dia miliki di perusahaan, sampai dia melupakan janjinya kepada gadis kecil tersebut.


Tuan Lukas menangis dalam tidurnya ketika mengingat semua kenangan menyedihkan yang panjang itu, dan dia langsung saja terbangun dengan menangis terisak dan air mata sudah membasahi seluruh pipinya.


Dia juga terlihat kaget dan kebingungan ketika bangun dari tidurnya dia masih saja merasa sedih dan kecewa dia merasa sangat kesal dan marah pada dirinya sendiri sejak dulu hingga sekarang karena tidak bisa menepati janjinya kepada orang yang menjadi alasan mengapa dia berani makukan operasi tersebut dan bisa memiliki mata itu sekarang.


"Hiks....hiks...maafkan aku gadis kecil, maafkan aku karena aku gagal untuk menepati semua janjiku kepadamu, aku akan terus mencari mu dan aku tahu kau juga pasti masih menungguku" ucap tuan Lukas sambil menenangkan dirinya sendiri.


Sampai ke esokan paginya, seperti biasa Vivian sudah memasakkan sarapan untuk tuan Lukas dan kali ini dia sudah menyiapkan strategi jitu untuk membuat tuan Lukas mempercayai dirinya bahwa dia benar-benar menyukai tuan Lukas juga dirinya adalah gadis kecil yang di cari tuan Lukas selama ini.


"Ahhhh...selamat pagi tuan ayo sarapannya sudah siap, sini biar aku saja yang membawa tasmu" ucapku kepadanya sambil terus memasang senyum yang cerah.


Aku sudah berjanji kepadanya dulu bahwa aku hanya akan menunggunya dan menerima dia untuk menjadi suamiku, meski awalnya aku sempat merasa putus asa dan ragu untuk mencari dia dan menemukannya di tengah kota yang begitu besar dan semua yang sudah berubah setelah bertahun-tahun lamanya, namun semenjak aku melihat tuan Lukas benar-benar ada di depan mataku tekatki menjadi semakin kuat.


Dan aku ingin terus mengejar dia juga menyadarkan dirinya bahwa aku adalah orang yang dia cari selama ini, aku tahu dia masih mencariku dan bahkan tidak menikah sampai sekarang meski usianya sudah cukup matang untuk menikah, aku juga tahu banyak wanita cantik dan pandai di luar sana yang bisa dengan mudahnya dia dapatkan tapi dia tidak melakukan itu karena dia tahu masih memiliki janji dengan seorang gadis kecil.


Itulah yang membuat aku tidak menyerah lagi untuk mengingatkan dia tentang semua yang aku punya.


Maka dari itulah saat itu aku langsung bersikap baik kepadanya dan terus memperlakukan dia dengan sepenuh hatiku, aku masih berharap harinya bisa tersentuh dengan kebaikan yang aku berikan kepadanya, aku ingin dia mencintai aku yang dulu sampai aku yang sekarang meski dia sendiri tetap saja tidak mengetahui siapa aku sebenarnya.


"Mari tuan aku ambilkan makanannya untukmu" ucapku berniat meladeni dia saat itu.


Namun dengan cepat dia langsung saja merampas mangkuk miliknya dan dia berkata dengan dingin juga datar kepadaku.


"Aku bisa sendiri, kau duduk dan makan makanamu" balas tuan Lukas kepadaku saat itu.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan menuruti ucapannya, segara saja aku duduk di hadapan dia dan mulai menikmati sarapanku sendiri saat itu, hingga ketika kami berdua sudah selesai menikmati sarapan dan tuan Lukas juga langsung pergi keluar dari rumah begitu saja sedangkan aku masih harus membereskan bekas sarapan kami.


Barulah setelah itu aku bisa berangkat ke sekolah dengan berlari sekuat tenagaku, saat aku berlari keluar dari gerbang rumah tuan Lukas aku lihat saat itu mobil tuan Lukas ternyata belum keluar dari gerbang dan dia masih terlihat membenarkan kaca bagian depan di dalam mobilnya, aku tidak ada waktu lagi untuk menyapanya kali ini, sehingga aku langsung saja melewati dia begitu saja dengan berlari secepat yang aku bisa karena aku takut ketinggalan bus hari ini.

__ADS_1


"Aaahhh...aku harus buru-buru sebelum busnya benar-benar akan meninggalkan aku saat ini" ucapku sambil terus saja berlari secepat yang aku bisa.


Meski saat itu lututku masih terasa sakit tapi aku masih harus tetap memaksakan dirimu untuk berlari menuju halte bus yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman tuan Lukas, aku tidak bisa mengendarai apapun bahkan sepeda saja aku tidak bisa jadi hanya bisa mengandalkan kakiku sendiri dan sekarang lututku justru malah terluka sehingga lariku sedikit pincang dan tidak bisa secepat biasanya.


Aku berlari sambil terus saja memegangi sebelah kakiku yang terasa nyeri sekali karena aku juga lupa belum mengganti perban di lututku saat itu.


"Aahhh....kenapa lututku malah terasa lebih sakit sekarang di bandingkan kemari, sial sekali aku akan kesiangan jika sampai ketinggalan bus itu" ucapku merasa sangat kesal.


Sampai tiba-tiba saja mobil tuan Lukas menyalakan klakson yang cukup keras beberapa kali kepadaku saat itu.


Aku berbalik karena suara klakson itu terdengar begitu nyaring sekali di telingaku dan aku sangat emosi mendengarnya saat itu.


"Tid....tid....tid..." Suara klakson mobil tersebut yang sangat kencang.


"Aishh....siapa sih yang terus menekan klakson seperti itu membuat telingaku tuli saja" bentakku menggerutu kesal sendiri saat itu.


Aku membalikkan badan dan sangat kaget ketika melihat ternyata ada mobil tuan Lukas di belakang tubuhku saat itu, dan jarak mobilnya dengan ku sangatlah dekat sekali saat itu membuat aku terperanjat ke belakang dengan kaget.


"Astaga.....hah? Bukankah ini mobil tuan Lukas kenapa dia malah berhenti di bakangku dan membunyikan klakson seperti itu?" Ucapku bertanya-tanya dengan heran.


Aku terus saja menatap dengan penuh keheranan sendiri dan meresa sangat bingung saat itu, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan ketika melihatnya seperti itu, sampai tidak lama tuan Lukas keluar dari mobilnya dan dia berjalan menghampiri aku dengan sorot mata yang tajam juga terlihat menyulitkan matanya.


"Ya ampun apa yang mau dia lakukan kepadaku sekarang, kenapa dia malah turun dari mobilnya dan menatap seperti akan memakan aku saja" batinku merasa sangat cemas saat itu.


Aku benar-benar gemetar ketakutan ketika melihat dia terus melangkah pelan dengan langkah kakinya yang sangat besar, aku merasa takut sampai ketika dia sudah berada di dekatku aku langsung saja memejamkan mataku dengan ketakutan dan meminta maaf kepadanya saat itu juga, meski aku tidak tahu kesalahan apa yang aku buat kepadanya.


"A..a...ahhh..tuan maafkan aku, maafkan aku apapun itu tolong maafkan aku jangan mem*kul aku aku mohon" ucapku sambil menahan dia dan memejamkan mataku ketakutan saat itu.


Di sisi lain tuan Lukas sendiri justru malah menahan senyum ketika melihat Vivian yang ketakutan dengan dirinya, dia mihat wajah ketakutan dan tangan gemetar Vivian sangat lucu ketika di lihatnya.


"Heh...siapa yang akan melakukan itu kepadamu, dasar konyol aku cepat masuk ke mobilku" ujar tuan Lukas begitu saja membuat aku sangat kaget dan refleks langsung saja aku membelalakkan mataku dengan kaget kepadanya.


"A..a...apa? Kenapa kau meminta aku untuk masuk ke dalam mobilmu, aku mau berangkat ke sekolah tuan" balasku kepadanya.


Dia kembali berbalik menatap dengan tatapan tajam dan menyeramkan kepadaku mirip seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya, aku langsung saja menjadi ciut dan merasa takut dengannya sehingga aku langsung saja berjalan secepat yang aku bisa untuk masuk ke dalam mobilnya saat itu aku hendak membuka pintu mobil belakang miliknya tetapi dia langsung membentak aku lagi dengan suara yang lebih keras.


"Heh...heh...siapa yang menyuruhmu untuk duduk di belakang memangnya kau pikir aku ini sulit pribadimu!" Bentak tuan Lukas kepadaku.


Aku langsung mengerutkan kedua alisku dengan heran saat melihatnya dan aku pikir pada awalnya dia tidak akan memperbolehkan aku untuk duduk di sampingnya di bagian depan, aku merasa sangat heran dengan sikapnya pagi ini tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun hanya bisa menggerutu kesal sendirian sambil segera masuk ke dalam mobilnya di bagian depan.


"Ehhh....kenapa dia harus semarah itu dan membentak aku dengan kencang, jika mau aku duduk di depan tinggal bicara baik-baik kan bisa, dasar manusia es balok" gerutuku merasa sangat kesal saat itu.


Aku segera masuk dengan perasaan yang kesal sampai tidak sengaja aku langsung membanting pintu mobilku dengan terlalu kuat saat itu sampai membuat suara yang sangat keras sekali dan tuan Lukas langsung saja menatap ke arahku dengan kejam di saat aku hendak memasang sabuk pengaman di tubuhku.

__ADS_1


"A .a...aaahhh.. maaf tuan aku tidak sengaja membanting pintu mobilku, aku sungguh tidak bermaksud melakukannya dengan sengaja aku sungguh-sungguh" ucapku kepadanya sambil mengangkat dua jariku agar dia bisa percaya dengan ucapanku.


__ADS_2