Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Menonton Film


__ADS_3

"Tuan untuk apa kau menyuruh aku duduk di sampingmu, memangnya kau menyukai aku hah?" Balasku kepadanya saat itu.


"Duduk atau aku akan menarikmu sampai kau mau duduk!" Ancam tuan Lukas yang menatapku cukup sinis.


Aku pun segera duduk di sampingnya dan dia mulai menyalakan televisi saat itu lalu menaruh bukunya di meja, dia langsung berbalik menatap ke arahku dan menaruh tangannya ke belakang tubuhku begitu saja, aku tentu merasa sangat heran dan aneh, apalagi kini jarak antara dia dan aku sangatlah dekat aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku sendiri padanya.


Melihat dia yang tiba-tiba saja bersikap seperti itu kepadaku dengan tatapan wajahnya yang terlihat menatap begitu lekat juga tajam padaku aku sungguh merasa gugup dan aneh ketika melihatnya sehingga aku juga segera memalingkan pandanganku ke depan menatap ke arah televisi saat itu.


"Tuan apa yang kau lakukan sana lihat ke depan bukankah kau sedang memutar film ya" ucapku kepadanya sengaja menghindari tatapan darinya.


Jantungku sebenarnya saat itu sangat berdetak kencang dan aku sungguh tidak bisa merasa tenang saat di samping dia, tentu saja wanita mana yang akan terlihat tenang ketika berada duduk di samping pria yang sangat dia cintai apalagi posisinya mereka sangat dekat saat itu.


Dan tuan Lukas sengaja melakukan itu hanya demi mencari tahu apakah Vivian benar sudah tidak mencintainya lagi atau dia hanya membohongi dirinya sendiri, dan setelah lihat wajah juga sikap Vivian saat itu akhirnya tuan Lukas bisa mengetahuinya sekarang bahwa memang Vivian sebenarnya masih menyukainya walau tuan Lukas sendiri tidak tahu dengan pasti seberapa besar lagi perasaan Vivian terhadap dirinya saat itu.


"Heh....kenapa kau menghindari tatapanku, apa kau takut untuk jatuh cinta lagi denganku?" Ucap tuan Lukas begitu saja membuat aku kaget mendengarnya dan refleks langsung menoleh ke arahnya hingga wajah kami saling bertemu begitu dekat saat itu.


Aku yang tadinya hendak membalas ucapannya menjadi tidak berani berbicara apapun lagi dan hanya bisa termenung diam menatap wajah tuan Lukas yang terlihat begitu tampan walau dalam jarak pandang yang sedekat itu.


"Dug ...dug...dug...." Detak jantungku yang terasa semakin keras juga sulit untuk aku kendalikan saat itu.


Hingga tiba-tiba saja tuan Lukas langsung menyentil keningku cukup keras membuat aku meringis kesakitan merasakannya saat itu.

__ADS_1


"Aishh peletak....kau bilang sudah tidak menyukai aku lagi tapi kau malah menikmati menatap wajahku seperti itu, kau memang pandai dalam berbohong" ucap tuan Lukas sambil menyentil dahiku cukup keras.


"Aduhh....tuan apa yang kau lakukan? Kenapa malah menyentil dahiku kau pikir dahiku ini bermasalah apa?" Balasku merasa sangat kesal padanya saat itu.


Hingga dia justru malah menyuruh aku untuk memasang film horor saat itu juga secara tiba-tiba, padahal aku sama sekali tidak menyukai film horor dan sejak kecil tidak pernah menontonnya aku memang penakut dan selalu tidak berani untuk menonton film menakutkan seperti itu, sebab kehidupan diriku sendiri sudah cukup menyeramkan.


"Sudah jangan cemberut seperti itu, ayo pasangkan film horornya malam ini kita akan menonton film bersama di rumah" ucap tuan Lukas begitu saja.


Aku langsung membelalakkan mata dengan sangat lebar ketika mendengarnya, sama sekali tidak pernah aku duga jika seorang tuan Lukas bisa mengajak aku untuk menonton film secara tiba-tiba seperti itu, walaupun dia hanya mengajak aku menonton film di rumah saja tetapi ini adalah sebuah pencapaian yang cukup besar untuk yang selama ini selalu gagal untuk membuat tuan Lukas melirik ke arahku.


"Tuan apa kau tidak sedang mengigau, atau kau yakin ini menonton film dengan mengajak aku?" Ucapku bertanya lagi kepada dia untuk memastikan.


Aku harus bertanya seperti itu untuk membuat diriku yang penuh keraguan ini merasa yakin, sebab hal tersebut sangatlah aneh bagiku dan sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku bahwa tuan Lukas yang selama ini hanya menganggap aku sebagai bayangannya Cecil dia kini mulai melihat aku dan benar-benar mengajak aku secara langsung seperti ini.


Dengan cepat aku segera bangkit dan mencari film horor mana yang akan dia pilih sebab terdapat banyak sekali kaset film horor yang ada di rak bawah televisi saat itu.


"Ahhhh...iya...iya....aku akan melakukannya, ayo pilihlah tuan kau mau menonton yang mana?" Tanyaku kepadanya sambil memperlihatkan semua kaset tersebut.


"Yang di tangan kirimi saja, ayo cepat nyalakan dan jangan lupa kau matikan lampunya" ujar tuan Lukas kembali membuat aku kaget sampai menaikkan kedua alisku bersamaan dengan cepat.


"Ha??..." Ucapku yang kaget dan linglung mendengar perintah aneh darinya seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa lagi? Cepat lakukan kau ini lambat sekali sih" balas tuan Lukas padaku.


Aku segera berlari kecil mematikan lampu disana tepat setelah aku sudah memasang kasetnya dan segera aku kembali duduk di samping tuan Lukas tetapi saat itu aku juga masih menjaga jarak aman dengannya karena aku takut dia tidak mungkin mau berdekatan dengan wanita seperti aku, apalagi dia sangat membenciku sejak lama.


Hingga filmnya segera di mulai dan aku langsung saja mengambil bantal kecil di sofa lalu memeluknya dengan erat aku sungguh orang yang penakut dan tidak bisa tahan dengan suara yang di timbulkan dari film yang kami tonton saat itu.


Berkali kali aku menutup wajahku dengan bantal kecil yang aku peluk dan aku juga terkadang menutup wajahku dengan tangan tidak berani melihat ke depan menyaksikan filmnya secara langsung sampai tuan Lukas justru malah menarik tanganku dan dia menyuruh aku untuk melihat filmnya dengan benar saat itu.


"Hey....apa yang kau lakukan mana mungkin bisa menikmati filmnya jika kau terus saja menutup matamu seperti itu, ayo lihat secara langsung ke depan filmnya sangat bagus, apa kau sungguh tidak tertarik untuk melihatnya" ujar tuan Lukas yang seakan tengah sengaja mengerjai aku saat itu.


Aku berusaha menarik nafas dalam dan mengangguk menanggapi ucapan dari tuan Lukas lalu secara perlahan aku mulai melirik ke arah televisi dan melihat film tersebut, tetapi sialnya di saat aku menoleh untuk pertama kalinya mencoba menonton film itu dengan pelan, justru hantunya malah menampakkan diri dengan sangat jelas dan suara yang mengagetkan diriku sampai membuat aku terperanjat langsung loncat menaikkan kedua kakiku ke atas sofa sambil memeluk tuan Lukas dengan erat.


"Aarrrkkkkkk...." Teriakku yang sangat kaget dan ketakutan saat itu.


Tuan Lukas sendiri justru mah menahan senyum melihat aku yang ketakutan sambil memeluknya dengan erat saat itu.


"Fffttt ..ternyata kau memang benar-benar penakut ya, haha...konyol sekali kau ini" ucap tuan Lukas malah mengatai aku konyol,


"Aaaahhh....tuan aku tidak sanggup lagi, tolong matikan saja filmnya aku tidak bisa menontonnya, aku tidak akan bisa tidur nanti" ucapku sambil terus memeluk dia dan memejamkan mataku sedari tadi.


Tuan Lukas yang merasa pelukanku terhadapnya semakin erat dia pun mulai merasa sedikit tidak nyaman walau sebenarnya itu sangat lucu dan begitu menghibur bagi dirinya selain itu di sisi lain dia juga merasa senang bisa di peluk oleh Vivian seperti itu, dan entah kenapa dia seperti mengenali pelukan tersebut.

__ADS_1


"Hey.....hey...hey...lepaskan aku, kau mau membunuh aku dengan memelukku se erat itu yah?" Ucap tuan Lukas menepuk pelan tanganku dan menyuruh aku untuk melepaskan pelukan darinya.


Namun sayangnya aku tidak ingin melepaskan pelukan itu karena aku benar-benar sangat takut bahkan tidak berani lagi bergerak sedikitpun dari tempat tersebut saking merasa takutnya.


__ADS_2